Wednesday, February 13, 2013

Menghilangkan Diskriminasi Ras China dan Indonesia

Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan mengikuti sebuah konfrensi mahasiswa Kristen di Singapura. Karena keterbatasan dana, maka kami akhirnya menempuh perjalanan via Kuala Lumpur Malaysia. Karena ongkos bus Kuala Lumpur - Singapura sangat terjangkau maka akhirnya kami mengikuti rute itu. Namun ternyata rute tersebut membuat pihak imigrasi Singapura sangat selektif dan sangat berhati-hati memeriksa berkas, tujuan, uang, sebelum kami diizinkan masuk ke Singapura.

Karena kondisi itulah, akhirnya seorang teman kami sempat ditahan di imigrasi Singapura. Penahanan itu tentu saja berujung kepada keterlambatan untuk mengikuti acara konfrensi. Sehingga panitia harus menjemput kami dan menjelaskan tujuan dan maksud kami ke Singapura. Setelah menunjukkan berbagai surat-surat, akhirnya kamipun dapat keluar dari imigrasi Singapura dan tiba diacara konfrensi.

Rupanya, pada saat kami tertahan diimigrasi, saat pembukaan acara konfrensi, panitia mengumumkan, bahwa peserta dari Medan (Indonesia) terlambat karena tertahan di imigrasi, sehingga panitia meminta dukungan doa agar masalah keimigrasian dapat segera selesai.

Karena pengumuman itulah, keesokan harinya, kami dijumpai beberapa mahasiswa Singapura keturunan Tionghoa. Mereka langsung menyapa dan menyalam kami dengan sangat ramah. Mereka memperkenalkan diri mereka satu per satu dan ternyata mereka adalah orang Indonesia asal Medan yang sedang kuliah di Singapura. Mereka berkata, tadi malam kami mendengar ada rombongan dari Medan, dan kami sangat senang mengetahui bahwa ada peserta konfrensi dari Medan.

Sebagian kita mungkin bertanya, apa yang menarik dari cerita ini. Bagi saya dan teman-teman yang semuanya adalah orang Batak, tentu hal ini bukanlah hal biasa. Banyak pesan yang tersirat dari ‘sapaan’ dan ungkapan ‘perasaan senang’ yang mereka nyatakan kepada kami.

Jujur saja, secara pribadi saya sungguh terkagum, dan tidak menyangka hal itu. Dalam bayangan, pola pikir, dan realitas yang saya alami selama ini adalah ada keterpisahan, ada sekat-sekat, atau barangkali lebih tepat ada jarak, antara orang Batak, orang Jawa (atau kita sebutlah pribumi) dengan orang keturunan Tionghoa.

Sekitar sepuluh tahun tinggal di Medan, saya rasa-rasanya bersentuhan dengan keturunan Tingohoa Medan, ketika makan pansit (atau sering disebut mie china), atau sedang berbelanja kebutuhan bangunan atau elektronik. Di dalam kehidupan sehari-hari, kebersamaan itu rasa-rasanya tidak ada, yang besar kemungkinan juga besar pengaruhnya karena lingkungan tempat tinggal yang terpisah. Bila kita petakan secara umum, orang Karo tinggal di Padang Bulan, orang Batak banyak di daerah Mandala, orang Melayu di Kampung Lalang, orang Tionghoa di daerah Sambu, orang Jawa di daerah Belawan. Meskipun demikian, benar bahwa hampir di semua dareah itu etnis mayoritas, Jawa, Batak, Melayu, Tionghoa, Padang, Aceh, tersebar. Tapi harus kita akui, meski tersebar, di dalam kompleks-kompleks pemukiman, perumahan, biasanya tetap saja satu etnis dengan etnis lain ada ‘keterpisahan’ satu dengan yang lain.

Pengalaman berbeda, saya alami ketika setahun terakhir melanjutkan studi di Pulau Jawa. Di Jawa, keberadaan penduduk jauh lebih menyatu, berbaur, bahkan hampir tidak ada ‘jarak’ khususnya antara orang pribumi dengan keturunan Tionghoa. Saya sendiri di tempat kuliah, ada orang Jawa, orang Batak, dan keturuan Tionghoa, dan lain-lain, namun tidak ada perasaan disitu ada perbedaan ‘pribumi’ dan ‘keturunan’. Bahkan meskipun saya orang Karo, namun diterima tinggal bersama dengan keluarga keturunan Tionghoa.

Hal ini tentu satu tantangan (challenge) bagi penduduk Kota Medan khususnya, atau Sumatera Utara secara umum. Bagaimana kita bersama-sama menciptakan sebuah kesatuan, kebersaman, tanpa sekat, tanpa jarak satu dengan yang lain. Bila di Jawa hal itu dapat tercipta, tentu sangat mungkin, hal ini juga dapat kita bangun di Kota Medan.

Komunikasi Menjadi Kunci

Untuk membangun kebersatuan itu, yang dibutuhkan adalah komunikasi atau dialog untuk mengikis jurang yang memicu keterpisahan itu. Bila ada komunikasi atau dialog, akhirnya bisa membuat kita saling mengerti dan saling menghargai. Seraya dengan itu, akhirnya kita bisa meluruskan pola pikir, argumentasi, atau pandangan yang keliru mengenai satu suku dengan yang lain.

Kembali kepada cerita saya di Singapura tadi. Selama di konfrensi akhirnya kami banyak bercerita, bertukar pikiran, satu dengan yang lain. Saya akhirnya tahu bahwa saudara-saudara kita keturunan Tionghoa sangat tidak menyukai sebutan ‘China’ kepada mereka. Padahal selama ini, saya menyebut sebutan itu, untuk keturunan Tionghoa. Ini adalah hal sepele namun akan sangat berarti untuk membangun kebersamaan. Sama halnya, sebutan ‘kau’ bagi orang Karo, jelas merupakan bukan sebutan persahabatan, padahal bagi orang Batak Toba khususnya, hal itu barangkali biasa saja.

Selain itu, perlu digalakkan dan digagas di mana ada penyatuan tempat tinggal atau komunitas. Sebagai contoh misalnya sekolah. Kita tahu, bahwa ada sekolah yang mayoritas siswanya keturunan Tionghoa, bahkan hampir semua, dan ada sekolah di mana mayoritas pribumi. Nah, kalau ini terus berkembang, tidak heran, jurang pemisah itu akan semakin jauh. Begitu juga tempat tinggal, kita harus membudayakan hidup berdampingan dengan segala macam etnis atau agama, agar lingkungan itu mendukung pembangunan kebersamaan itu.

Karena apapun ceritanya, kita sekarang (baik orang Batak, Jawa, Tionghoa, Nias, India, dan lain-lain) adalah satu bangsa dan tanah air yakni Indonesia, dan lebih spesifik lagi, yakni satu kota, Kota Medan tercinta ini. Bila kebersamaan terbangun di dalam kehidupan sehari-hari, tentu rasa nasionalisme itu dapat bertumbuh. Akhirnya kita merasa bahwa orang yang berbeda secara suku, golongan, agama, maupun warna kulit sebagai saudara di dalam kesatuan. Barangkali semakin meningkatnya, konflik antara suku, antara daerah, antar agama, merupakan letupan keterpisahan yang tidak kita sadari selama ini.

Kedepan, akan sangat mengkhawatirkan bila sekat dan sifat individualisme, kesukuan, golongan, pribumi-keturunan, terus melebar. Bila jarak itu terus melebar, maka ini akan menjadi bom waktu, kapan ledakan itu terjadi. Perlu kita sadari, kalau itu terjadi, maka kita semua juga yang merasakan dampaknya. Biar itu tidak terjadi, mulailah memberi sapaan, salam, senyum, kepada etnis yang berbeda dengan kita. Karena kebersamaan itu adalah sebuah keindahan. ***

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog