Tuesday, February 19, 2013

Apakah Pemimpin dilahirkan atau dibentuk?

Alkisah seorang raja yang sudah lanjut usia, tengah mencari calon pewaris tahtanya. Beliau berputera kembar, keduanya laki-laki. Sama gagah, sama kesatria dan sama bijaksana. Keduanya pantas jadi raja, tetapi sayang kursi tahta hanya diperuntukkan untuk satu calon. Akhirnya sayembara pun digelar.

Raja memberikan keduanya teka-teki. Dia yang sanggup menjawab dan membuktikan jawabnyalah yang akan duduk sebagai raja. Demikian bunyi teka-teki tersebut : Apakah seorang kesatria sejati dilahirkan ataukah
dibentuk ? Putera kedua lebih dulu menjawab. Ia berpendapat bahwa kesatria sejati dilahirkan bukan dibentuk. Ternyata putera pertama berpendapat lain, ia yakin bahwa kesatria sejati itu dapat dibentuk.

Sang Ayahanda tersenyum bijak. "Anakku, kata beliau,"Aku memberikan kalian kesempatan selama 40 hari untuk membuktikan jawaban kalian. Tepat satu hari menjelang bulan purnama, kalian harus berkumpul di alun-alun istana dan membawa bukti-bukti yang memadai sesuai pendapat kalian."

Putera pertama segera bergegas pergi ke sebuah desa. Ia mengumpulkan 10 ekor kucing kampung dan tanpa buang-buang waktu segera melatih kucing-kucing itu. Mereka diajari berbagai hal yang mustahil dikerjakan
oleh seekor kucing sebelumnya, yaitu berdiri diatas kedua kaki, menari, bersolek, berenang, bahkan bermain kecapi. Siang dan malam dilalui tanpa kenal lelah melatih kucing-kucingnya. Akhirnya dari sepuluh ekor itu
terpilihlah satu ekor yang terbaik. Binatang itu kini telah menjelma menjadi mahluk yang luar biasa. Betapa tidak, kucing itu sekarang sudah bertingkah seperti layaknya manusia biasa. Tak ayal, kucing miliknya kini
jadi pusat perhatian seluruh negeri. Semua bibir bergunjing tentang kehebatan kucing, putera pertama. Kabar itupun akhirnya terbawa angin dan sampai ketelinga raja dan putera kedua. Walau belum dapat mengumpulkan bukti apapun, sang putera kedua, tetap tinggal tenang di istana.

Hari yang ditunggu-tunggu tibalah sudah. Alun-alun sedari pagi tadi sudah penuh sesak dijejali ribuan rakyat. Mereka semua seakan tak sabar ingin menyaksikan akhir sayembara itu. Sang Raja muncul kemuka memberi kesempatan putera pertama untuk tampil.

"Wahai baginda,", seru putera pertama, "Ayahanda tercinta. Seperti yang sudah ananda utarakan 40 hari yang lalu, bahwa seorang kesatria itu dapat dibentuk dan tidak dilahirkan. Kini ananda membawa buktinya."

Maka mulailah kucing miliknya beraksi. Tepuk tangan, dan sorak sorai, riuh rendah memenuhi udara. Sejenak putera pertama memberi aba-aba, dan si kucing pun menghentikan akrobatnya. "Wahai baginda dan rakyat kerajaan ini seluruhnya. Apa yang kalian saksikan belumlah seberapa, sekarang kucing milik ku akan berkata-kata seperti layaknya seorang manusia". Semua orang di alun-alun itu terdiam menahan napas. Mereka tampak saling berpandangan satu sama lain. Apa ? Berkata-kata ? Mustahil. Sang putera pertama pun berdiri sambil mengangkat tangannya sementara kucing itu terlihat bersia sedia, berdiri dengan kedua kaki belakang sembari membusungkan dada. "Ehm..ehm..ehm… ",beberapa dehem kecil terdengar dari mulut binatang berkumis jarang itu membuat ribuan pasang mata terbelalak dengan mulut ternganga.

"Tunggu !" Tiba-tiba putera kedua berdiri mengalihkan perhatian. Ia tampil kedepan sambil mengacungkan bungkusan plastik yang telah dipegangnya sedari tadi. Seluruh hadirin, tak terkecuali si kucing pun menoleh kearah putera kedua.

"Aku punya sesuatu untuk mu !", teriak putera kedua.

Tangan kanannya tampak membuka bungkusan itu dan sekonyong-konyong sepuluh ekor tikus berlompatan keluar. Melihat santapan lezat didepan mata, karuan saja si kucing menyeringai ganas. Tanpa babibu, ia segera melompat kalap, memburu tikus-tikus itu. Mereka terlibat kejar-kejaran seru disela-sela kaki para penonton. Segera saja suasana berubah jadi kacau balau. Sekumpulan pedagang makanan menjadi korban. Seekor tikus lari kearah dagangannya, diikuti si kucing. Seolah tak peduli mereka mengacak-ngacak makanan yang ada, kemudian melompat berlari kearah lain.

Keadaan semakin bertambah gaduh ditambah teriakan geli bercampur ngeri para wanita yang panik berlarian kesana-kemari. Putera pertama tampak tak bisa berbuat apa-apa. Ia lebih sering menggaruk-garuk rambut dikepala dan sesekali menutup wajah dengan kedua tangannya.

Sementara Raja, putera kedua dan para punggawa kerajaan tampak terpingkal-pingkal menyaksikan semuanya. Akrobat yang tadinya spektakuler, sekonyong-konyong berubah jadi tontonan konyol. Rusuh namun menggelikan. Mirip pasar malam yang kedatangan perampok tepat pada saat lampu padam. Kejar-kejaran itu berakhirnya disebuah tumpukan sampah dekat sebuah selokan. Dengan baju compang-camping dan bulu-bulu dan wajah hitan belepotan lumpur Si kucing akhirnya keluar dengan membawa tikus diantara gigi-giginya. Tanpa peduli dengan ribuan pasang mata yang memelotinya, si kucing pun berlalu. Seolah ingin menyantap makananya tanpa diganggu siapapun juga.

"Wahai baginda, ayahanda tercinta dan rakyat seluruh negeri", tiba-tiba terdengar teriakan lantang dari putera kedua "Ananda rasa apa yang ananda sampaikan pada baginda 40 hari yang lalu adalah benar. Sekarang kita sama-sama menyaksikan bahwa kesatria sejati itu tidak sekedar dibuat tetapi harus dilahirkan ! Ya seorang kesatria sejati itu pertama-tama harus dilahirkan terlebih dahulu."

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog