Saturday, December 8, 2012

Capre Diem, Capailah Target Tertinggi.

Diantara jutaan pegawai yang kerja banting tulang untuk sekedar menghasilkan beberapa juta rupiah per bulan, kita mengenal beberapa orang yang sedemikian cepatnya sampai ditempat dimana mereka bisa mendapatkan beberapa puluh kali lipatnya. Dengan apa yang didapat,
mereka tidak lagi mudah tergoda untuk belok kiri, atau putar kanan. Apalagi melakukan sesuatu yang mengganggu stabilitas perusahaan. Mogok kerja. Demo, ataupun bentuk tindakan kontra produktif lainnya. Jangankan tindakan berat begitu. Sekedar mengeluhkan pekerjaannya saja mereka tidak lagi tertarik. Karena mereka, sudah berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dalam pekerjaannya. Sehingga dalam bekerja, mereka tenteram dan tenang. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah sampai di tingkatan seperti itu?
 
Tubuh kita, dirancang untuk memenuhi sasaran-sasaran yang ditetapkan untuk dicapai. Termasuk urusan karir. Misalnya saja para pekerja biasa di pabrik. 'Mimpi' mereka adalah mendapatkan upah dua setengah juta rupiah. Sekujur tubuh mereka pun 'menyetel' sasarannya dengan dua setengah juta itu. Makanya, kebanyakan pekerja pabrik 'berperilaku' setara dengan angka itu. Nanti kalau biaya hidup sudah membumbung tinggi lagi,  mereka baru akan 'bergerak' lagi. Berbeda dengan Anda yang mentargetkan penghasilan 10 juta sebulan. Seluruh sel didalam tubuh Anda 'menyetel' angka 4 kali lipat dari mereka. Dan pada saat itu, sekujur tubuh Anda sudah berancang-ancang untuk 'melakukan sesuatu' agar bisa mencapai sasarannya. Anda, tidak akan berhenti berusaha kalau baru mencapai 2,5 juta bukan? Jelas sekali jika kita mesti 'menyetel' sasaran yang tepat bagi tubuh kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar 'menyetel' sasaran untuk dicapai oleh setiap sel dalam tubuh kita, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:
 
1.      Gaji dan fasilitas lainnya. "Saya bekerja bukan karena uang," demikian seorang teman berkata. Saya bertanya lagi;"Emang kalau elo nggak digaji, mau kerja disitu?" "Ya kagaklah!" katanya spontan. Jangan malu, untuk bekerja demi uang. Faktanya memang demikian kok. Justru, kita mesti mengajari sekujur tubuh ini untuk bekerja demi mendapatkan uang. Tahu kenapa? Karena uang tidak datang dengan sendirinya. Butuh usaha untuk mendapatkannya. Tapi. Ini ada tapinya. Ya jangan jadi mata duitan dong. Belum apa-apa sudah bertanya berapa upahnya. Bukan begitu. Melainkan, ajari tubuh Anda untuk memahami bahwa setiap energy yang dikeluarkannya untuk melakukan sesuatu itu bernilai uang. Sehingga nanti tubuh kita terbiasa untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, tidak asal-asalan. Tubuh kita juga akan berespon positif terhadap setiap pekerjaan yang diberikan kepada kita. Tidak menolak. Karena tubuh kita tahu bahwa; pekerjaan, bernilai uang. Lama kelamaan, kita akan terbiasa bekerja lebih baik, lebih efektif, dan lebih berkualitas. Inilah yang membuka peluang menuju kepada penghasilan, gaji dan perolehan fasilitas yang lebih baik.
 
2.      Jabatan tinggi. "Hati-hati dengan orang itu. Dia itu orangnya ambisius!"  Kalau ada orang yang gigih mengejar jabatan, kita biasanya bilang begitu. Padahal, kita sendiri juga kepingin sekali untuk mendapatkan jabatan itu kan? Kita sama ngebetnya dengan orang lain terhadap jabatan. Tapi, kita sering kalah ulet, kalah gigih, dan kalau terbuka oleh mereka. Makanya, kita sering kalah cepat. Lalu,   jadi sensi kalau kesalip sedikit oleh orang lain. Mari ajari tubuh kita untuk menjadikan 'jabatan tinggi' sebagai sasaran yang harus dicapainya dalam hidup. Nah, biar tidak dicap sebagai orang ambisius, tinggal memoles cara meraihnya saja dengan perilaku, sikap dan tindakan yang baik dan terhormat. Ingatlah; menginginkan jabatan tinggi itu baik. Biarkan sekujur tubuh Anda memahami itu. Lalu jaga perilaku agar tetap positif. Insya Allah, tanpa terasa deh. Anda bakal naik tahap demi tahap. So…, jangan jaim lagi sok tidak butuh jabatan ya. Karena jabatan adalah sasaran yang wajib Anda berikan kepada sel tubuh Anda untuk dicapainya. Dengan begitu, system tubuh Anda akan mengejarnya terus sampai dapat.
 
3.      Menyalurkan stress. Kantor Anda adalah tempat yang sangat tepat untuk menyalurkan stress. Lho, kok begitu? Kita, justru membutuhkan stress untuk bisa bekerja dan berkarya secara optimal. Semakin besar stressnya, semakin keras usaha kita mengatasinya. Itu adalah bagian dari hukum aksi dan reaksi. Tapi, mengapa banyak orang yang stress malah jadi tidak produktif? Oh, itu hanya berlaku pada orang-orang yang tidak bisa menangani pekerjaannya dengan baik. Beda, jika kita bisa mengatasi tekanan apapun ditempat kerja. Boss yang
pemarah. Anak buah yang ndablek. Pelanggan yang rese. Semuanya itu sumber stress; bagi mereka yang tidak bisa mengatasi. Tapi, justru menjadi tempat penyaluran stress bagi mereka yang bisa mengelolanya. Caranya? Tingkatkan kompetensi kerja kita. Kalau sudah terbiasa, kita bukannya jadi stress gara-gara terlalu banyak pekerjaan sulit. Tapi, kita justru jadi stress karena pekerjaan itu kok jadi terlalu cetek. Nah, saat itulah sel-sel tubuh kita mulai berkreasi melampaui tuntutan kolektif atau jobdesc. Dengan begitu, kita bisa mempersembahkan kualitas pekerjaan yang jauh lebih tinggi dibanding orang lain. Maka, pencapaian kita pun pasti lebih tinggi dari mereka. Dan kita, merasa puas karenanya.
 
4.      Kesempatan membantu orang lain. Anda pasti punya banyak ilmu. Kemampuan. Dan keterampilan. Sayang sekali jika semua kebaikan itu tersia-siakan. Anda harus menggunakannya untuk membantu orang lain. Pertanyaanya; dimana Anda bisa melakukannya jika tidak ditempat kerja? Kenyataannya, status kita sebagai pegawai di kantor ini memberi kita akses besar terhadap orang-orang yang terlayani. Misalnya, Anda bekerja di pabrik sabun cuci. Maka Anda punya kesempatan untuk membuat sabun cuci terbaik, hingga ibu-ibu selalu dipuji oleh suami yang mendapati pakaian kesayangannya selalu bersih dan wangi. Anda, bisa begitu; jika berstatus sebagai pegawai pabrik sabun cuci seperti saat ini. Sekarang bayangkan, jika Anda bukan karyawan disitu; masih bisa membantu ibu rumah tangga itu tidak? Ini contoh sederhana. Tapi, menunjukkan bahwa sekecil apapun peran kita dikantor merupakan kesempatan besar untuk membantu orang lain. Jadi, biasakan tubuh Anda untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Agar selama bekerja, Anda bisa memberikan bantuan terbaik kepada orang lain yang menikmati hasil karya Anda.
 
5.      Amal salih. Kalau yang ini, khusus bagi siapa saja yang meyakini bahwa nilai dirinya melampaui nilai binatang dan mahluk lain dimuka bumi. Kalau hewan mati, ya mati saja. Membusuk. Lalu berubah kembali menjadi tanah. Begitu juga tetumbuhan dan benda lainnya. Kita yang mahluk istimewa ini beda. Setelah mati, ada kehidupan berikutnya setelah kematian itu. Hebatnya lagi, kualitas kehidupan kedua kita sangat ditentukan oleh amal dan perbuatan kita pada kehidupan sekarang. Padahal, setiap hari kita menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk urusan kantor. Solat hanya 5 kali masing-masing 10 menit. Sisanya, tidur, makan dan lain-lain. Betapa sedikitnya porsi ibadah yang kita lakukan dalam hidup. Nah, karena itu kita mesti sedikit lebih cerdas lagi. Memikirkan bagaimana caranya supaya porsi waktu dan tenaga kita untuk beribadah bisa lebih banyak. Caranya ternyata sederhana sekali, yaitu; meniatkan setiap tindakan dalam pekerjaan kita hari ini, untuk beribadah. Dengan demikian, segala hal baik yang kita lakukan dikantor akan bernilai amal salih. Kalau sudah terbiasa begitu, sekukur tubuh kita akan senang bekerja sebaik-baiknya. Dan tidak tertarik lagi dengan tindakan buruk yang bisa menodai nilai ibadah pekerjaannya. Nilai pekerjaan ini terlalu mulia, untuk kita kotori. Maka kita pun bisa meraih pencapaian yang tinggi.
 
Sebenarnya, kalau kita bekerja itu lebih banyak menguntungkan pemilik perusahaan. Itu kalau kita bekerja hanya demi mendapatkan bayaran barupa materi atau fasilitas-fasilitas lainnya. Tetapi, justru keuntungan kita sebagai pegawai akan lebih banyak daripada keuntungan yang dimiliki oleh perusahaan, jika dalam bekerja kita membawa misi pribadi yang kita canangkan sebagai sasaran bagi setiap sel dalam tubuh kita untuk dicapainya. Apalagi jika kita bisa sampai pada tingkatan ke-5, dengan menjadikan pekerjaan sebagai sarana untuk menabur amal soleh. Insya Allah, Tuhan tidak hanya sekedar memberi kenikmatan duniawi berupa gaji dan peroleh materi. Melainkan juga menjadikan pekerjaan kita itu sebagai sarana menuju kepada kehidupan yang menyenagkan kelak, setelah kita melintasi jembatan kematian. Itulah pencapain tertinggi yang bisa kita raih dalam pekerjaan. Ayo. Semangat lagi.   

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog