Monday, January 10, 2011

Syekh Siti Jenar Manunggaling Kawula Gusti

Syahdan di tepi jalan perkampungan Negeri Demak, seorang lelaki paruh baya
berjalan dengan tenang.

Wajahnya putih memancarkan cahaya, janggut serta cambang
berwarna kebiruan. Rambut dikepalanya tertutup blangkon berwarna hitam garis
pinggir merah menyala, begitu juga sorban, gamis dan jubahnya dengan latar hitam
bercorak merah.

Lelaki paruh baya itu bertubuh sedang, berjalan tenang, lengan kanannya
menggenggam tasbih seraya mulutnya komat-kamit mengumandangkan dzikir.

Pada kelokan jalan sunyi yang dihiasi semak belukar dan pepohonan kanan kirinya,
tiba-tiba muncul tiga orang lelaki berpakaian serba hitam dengan ikat kepala,
bertubuh kekar seraya menghadang.

“Berhenti kisanak!” Lelaki bertubuh kekar dan berkumis tebal menyilangkan golok
didepan dadanya.

“Mengapa saya harus berhenti? Bukankah jalan ini milik Allah? Siapapun punya hak
untuk menggunakannya.” ujar lelaki berjubah.

“Saya tidak mengerti Allah! Pokoknya kamu harus berhenti,” ujarnya lagi.

“Saya sekarang sudah berhenti. Apa yang akan kisanak lakukan pada saya? Apakah
akan menebas batang leher saya dengan golok itu?” tanya lelaki berjubah dengan
tenang.

“Benar, saya akan menebas batang leher kisanak jika tidak menyerahkan uang dan
emas yang kisanak miliki.” ancam lelaki berkumis.

“Kenapa, kisanak mesti berbuat seperti itu jika hanya menginginkan uang dan
emas. Tidakkah uang dan emas itu hanya hiasan dunia yang tidak memiliki arti
hakiki bagi kisanak.” ujar lelaki berjubah.

“Jangan banyak bicara, kisanak! Ayo serahkan uang dan emas pada kami, jika leher
kisanak tidak mau kami penggal! Rupanya ki sanak belum mengenal saya Ki Kebo
Benowo, rampok hebat di dusun ini!” ucapnya.

“Saya tidak mengenal, kisanak. Bukankah kita baru hari ini bertemu? Lalu kisanak
mengancam saya untuk memenggal leher dan meminta uang dan emas. Maka untuk itu
saya persilahkan jika itu keinginan kisanak. Penggalah leher saya dan …” ujar
lelaki berjubah tetap tenang.

“Keparat! Mampus kau!” Ki Kebo Benowo bersama ketiga temannya menerjang lelaki
berjubah seraya membabatkan golok ke leher, pinggang, dan dada lawan.

Lelaki berjubah tidak bergeming melihat sambaran golok yang akan mencincang
tubuhnya, tetap berdiri pada tempatnya dengan dzikir dari mulutnya terdengar
pelan.
Ketiga golok tidak pelak lagi menghantam sasaran. Namun tidak meninggalkan bekas
sedikit pun. Golok yang dihunjamkan ke tiga rampok laksana membabat angin, tidak
bisa melukai, bahkan menyentuh.

“Aneh…manusiakah?” Ki Kebo Benowo, menghentikan serangan. Seraya berdiri tegak,
matanya terbelalak heran, napasnya tersengal-sengal berat. Kedua temannya
melongo.

“Di dunia ini tidak ada yang aneh kisanak. Bukakankah Hyiang Widi itu telah
menyatu dengan kita?” ujar lelaki berjubah.

“Hyiang Widi?” Ki Kebo Benowo paham. Sebab pernah mengenal agama Hindu
sebelumnya. “Lalu siapakah nama kisanak?”

“Saya, Syekh Siti Jenar. Kisanak, keinginan yang pertama telah saya penuhi,
memenggal. Keinginan kedua uang dan emas menengoklah ke sebrang jalan. Saya
permisi.” Syekh Siti Jenar membalikan tubuhnya dan meneruskan langkah.

Ki Kebo Benowo beserta ketiga temanya, lalu melirik ke sebrang jalan. Betapa
tercengangnya mereka, karena melihat pohon emas dan uang.

“Emas dan uang, ayo kita ambil!” ketiganya bersorak, lalu memburu sebrang jalan.
-------------------

Kebo Benowo dan kedua temannya sibuk memunguti daun emas. Seluruhnya diambil dan
dibungkus dengan kain.

“Hahaha, kita pasti kaya dalam waktu singkat.” tawa Kebo Benowo.

“Ki, tidakkah kita aneh pada kejadian ini?” tanya Loro Gempol.

“Benar juga? Dia bisa menciptakan emas dan uang juga memiliki kesaktian yang
sangat hebat.” Kebo Benowo membalikan tubuhnya, matanya mengintai ke tempat Syeh
Siti Jenar berdiri. “E,eh, kemana orang tadi?”

“O, ya? Masa dia bisa menghilang?” Loro Gempol mengerutkan dahi, tangannya
garuk-garuk kepala.

“Manusiakah dia? Makhluk halus?” Kebo Benowo menarik napas dalam-dalam. “Aku
rasa dia manusia sakti mandraguna. Sebaiknya kita berguru padanya agar memiliki
kesaktian.”

“Benar, Ki. Jika kita sudah sakti bisa menundukan semua rampok dan berada dalam
perintah kita. Kalau kita sudah menguasai para rampok tentu tidak akan capek
tinggal menunggu setoran.” tambah Loro Gempol.

“Namun Syehk Siti Jenar menghilang? Kemana kita mesti mencari?” Lego Benongo
ikut bertanya. Sedari tadi dia hanya mematung belum hilang rasa kagumnya
terhadap Syeh Siti Jenar.

“Kita telusuri saja jalan ini. Kemungkinan dia menuju ke pusat Kerajaan Demak,”
Kebo Benowo menduga-duga.

***

Syehk Siti Jenar, telah sampai ke pusat Kerajaan Demak. Langkahnya yang tenang
serta penuh wibawa tidak lolos dari pandangan para prajurit penjaga keamanan.
“Siapakah lelaki itu?” tanya prajurit kerempeng pada temannya yang bertubuh
tambun.

“Wali,” jawab si Tambun tenang.

“Pakaiannya mirip wali songo, tapi saya baru kali ini melihatnya. Kita perlu
menanyai dan memeriksa orang yang tidak dikenal, mungkin saja dia pemberontak
yang lagi menyamar.” ucap si Kerempeng penuh curiga.

“Biarkan saja, siapa tahu dia sahabatnya para wali. Buktinya dia berjalan menuju
mesjid.” si Tambun tetap tenang.

“Meskipun demikian kita tetap harus menjalankan tugas. Ayo kita hadang dia dan
tanya maksud kedatangannya!” si Kerempeng bergegas menenteng tombak dan tameng,
mengejar langkah Syekh Siti Jenar.

-------------------

“Berhenti, Kisanak!” teriak si Kerempeng, seraya menghadang langkah Siti Jenar
dengan gagang tombak.

“Kenapa kisanak menghadang saya? Bukankah saya tidak pernah mengganggu
ketenangan kisanak?” tanya Syekh Siti Jenar tenang.

“Meskipun demikian itu adalah tugas saya selaku prajurit Demak.” jawab si
Kerempeng.

“Kisanak hanyalah seorang prajurit Demak, tidak lebih hebat dari prajurit Allah.
Bukakah prajurit Allah itu ada empat?” urai Syekh Siti Jenar dengan pandangan
mata sejuk.

“Saya tidak mengerti dengan perkataan, Kisanak?”

“Bukankah jika Kisanak tidak paham akan sesuatu diharuskan bertanya. Namun tidak
semestinya kisanak menunjukan kesombongan, menepuk dada karena berkasta
prajurit, dan berlaku kasar terhadap

rakyat seperti saya. Padahal kisanak hanyalah prajurit biasa yang lemah tidak
sehebat prajurit Allah yang empat tadi.” jelas Sekh Siti Jenar.

“Perkataan kisanak semakin membingungkan saya?” si Kerempeng geleng-gelengkan
kepala. “Terdengarnya kisanak semakin melantur saja. Mana ada prajurit Allah
empat, para Wali di sini tidak pernah mengajarkan seperti itu.” si Kerempeng
semakin mengerutkan dahinya.

“Jika para wali tidak mengajarkan, maka saya akan memberitahu kisanak…” ujar
Syehk Siti Jenar tersenyum.

“Saya tidak mungkin mempercai kisanak, kenal juga baru sekarang. Saya lebih
percaya kepada para wali yang telah mengajarkan agama dengan baik dan bisa
dipahami.” si Kerempeng garuk-garuk kepala, lalu keningnya mengkerut lagi.

“Apakah kisanak mesti belajar pada orang yang sudah dikenal saja? Padahal
kebenaran bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja, baik yang sudah
dikenal atau pun tidak dikenal oleh kisanak.

Karena ilmu Allah sangatlah luas, meski seluruh pohon yang ada didunia ini
dijadikan penanya serta laut sebagai tintanya, tidak akan sanggup mencatat ilmu
Allah. Sebab itu ilmu yang dimiliki manusia hanyalah sedikit. Seandainya kisanak
berada di tepi samudra, lalu mencelupkan jari telunjuk, setelah itu diangkat
kembali, maka tetes air yang menempel di ujung telunjuk itulah ilmu yang
dimiliki kisanak.” terang Syekh Siti Jenar, seraya menatap si Kerempeng.

“Jika demikian berarti kisanak sudah meremehkan saya. Padahal saya tidak bisa
diremehkan oleh rakyat seperti kisanak, saya prajurit Demak sudah diberi ilmu
oleh para wali. Kisanak beraninya menyebut-nyebut prajurit Allah, yang tidak
pernah para wali ajarkan. Kisanak telah menciptakan ajaran yang keliru!” si

Kerempeng berbicara agak keras, seraya keningnya semakin mengerut kebingungan
menanggapi perkataan Syeh Siti Jenar.

“Kisanak tidak bisa menganggap saya keliru, jika belum paham pada perkataan
tadi.” Syekh siti Jenar tetap tenang. “Ketidak pahaman kisanak yang memicu
kesombongan dan kedengkian akan sesuatu.

Padahal apa pun yang saya katakan bisa dibuktikan. Prajurit Allah yang empat
bisa saya datangkan dihadapan kisanak dengan keperkasaannya.” ujar Syekh Siti
Jenar tersenyum tipis.

“Omong kosong! Coba mana prajurit Allah yang empat tadi, buktikan jika memang
ada!” si Kerempeng semakin pusing dan jengkel, giginya menggeretak.

“Kisanak tidak akan kuat menghadapi empat prajurit sekaligus. Maka saya cukup
datangkan satu saja, itu pun hanya sebuah pelajaran untuk kisanak.” Syekh Siti
Jenar mengangkat tangan kanannya ke atas.

-------------------

“Mana! Ayo datangkan!” tantang si Kerempeng.

“Datanglah prajurit Allah yang bernama angin, berilah dia pelajaran agar tidak
angkuh dan sombong.” itulah ucapan Syekh Siti Jenar.

“Akhhhh! Tolonnnggg!” si Kerempeng berteriak, seraya tubuhnya melayang di udara
diterpa angin yang sangat kencang, lalu jatuh di atas semak-semak.

“Itulah salah satu prajurit Allah dari empat prajurit yang lebih dahsyat.” Syehk
Siti Jenar masih berdiri dengan tenang, matanya yang sejuk dan tajam memandang
si Kerempeng yang kepayahan dan terbaring di atas semak.

“Maafkan teman saya, Kisanak.” si Tambun mendekat penuh hormat.

“Sejak tadi pun saya memaafkan teman kisanak. Namun dia tetap berlaku sombong
dan menantang pada kekuasaan Allah. Sudah selayaknya diberi pelajaran agar
menyadari kekeliruan.” terang Syekh Siti Jenar seraya melirik ke arah si Tambun.

“Terimakasih, kisanak telah memaafkan teman saya. Bolehkah saya tahu nama
kisanak?” si Tambun bertanya.

“Kenapa tidak. Karena nama itu hanya sebuah sebutan, asma, dan bukan af’al.
Orang menyebut saya Syekh Siti Jenar,” terang Syekh Siti Jenar tenang.

“O, ya…” si Tambun mengerutkan kening mendengar ucapan yang kurang dipahaminya.

“Gendut, tangkap lelaki asing itu! Dia memiliki ilmu sihir.” teriak si Kerempeng
seraya bangkit dari semak-semak.

“Kisanak sangat keliru jika menuduh ilmu yang saya miliki sihir. Padahal sihir
itu bukanlah ilmu yang patut dipelajari oleh orang yang beragama islam. Kisanak
masih belum paham, bahwa yang melempar tadi adalah prajurit Allah.” Syekh Siti
Jenar menatap tajam ke arah si Kerempeng yang menghunus pedang.

“Omong kosong! Kisanak datang ke Demak sudah jelas berniat menciptakan
kekacauan, ditambah lagi dengan ucapan melantur dan mengada-ngada. Selayaknya
kisanak kami tangkap!” si Kerempeng mendekat, ujung pedang yang terhunus
ditujukan ke leher Syekh Siti Jenar.

“Jika ingin menangkap tangkaplah saya. Janganlah sekali-kali kisanak mengancam
saya dengan ujung pedang, karena pedang hanyalah buatan manusia yang tidak
berdaya. Berbeda dengan wujud

kita yang diciptakan Allah….” Syekh Siti Jenar tetap berdiri tenang, meski ujung
pedang yang tajam berjarak sejengkal lagi menuju leher.

“Pedang ini jangan kisanak remehkan! Tidakkah takut seandainya pedang ini
memenggal leher kisanak? Satu kali tebasan saja, leher kisanak sudah putus.”
ancam si Kerempeng.

“Tidak mungkin kisanak. Sebab pedang bukan prajurit Allah, hanyalah sebuah benda
mati.” Sekh Siti Jenar tetap tidak bergeming.

“Keparat, lihat saja!” si Kerempeng mengayunkan pedang dibarengi dengan emosi,
pedang tidak pelak lagi menghantam sasaran, sebab Syekh Siti Jenar tidak
menghindar sedikit pun.

-------------------

“Hentikan!” si Tambun berteriak, matanya terbelalak.

“Diam kamu prajurit!” tiba-tiba terdengar suara yang menggetarkan, beberapa saat
kemudian muncul sosok lelaki berjubah hitam, mengenakan blangkon.

“Kanjeng Sunan Kalijaga,” si Tambun menahan kedip. Kemunculan Sunan Kalijaga
yang baru keluar dari mesjid Demak sangat mengagetkan. Padahal Sunan Kalijaga
tidak berbuat apa-apa hanya berteriak tidak terlalu keras, tapi si Kerempeng
mematung sambil mengayunkan pedang. “Hebat Kanjeng Sunan…” si Tambun
menggeleng-gelengan kepala seraya menarik nafas dalam-dalam.

“Selamat datang saudaraku, maafkan kelancangan prajurit Demak yang kurang
memahami sopan-santun.” Sunan Kalijaga menatap Syekh Siti Jenar yang tidak
bergeming. “Tidak memilikinya sopan-santun karena keterbatasan ilmu dan
kedangkalan pengetahuan.”

“Benar, Sunan.” tatapan Syekh Siti Jenar beradu dengan mata Sunan Kalijaga yang
sejuk dan berwibawa, lalu menembus ke dalam batin. Maka berbincanglah mereka
melalui batin.

Sejenak keduanya saling tatap, lantas terlihat ada senyum tipis yang
tersungging. Lalu saling peluk dan saling tepuk bahu. Setelah itu terlihat
gerakan tangan Sunan Kalijaga mempersilahkan tamunya untuk menuju masjid.

Prajurit Tambun mengerutkan dahi, “Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa
berbincang-bincang tanpa suara? Mungkinkah dengan saling menatap saja bisa
berbincang-bincang?”

“Sudahlah Saudaraku sesama muslim, kita berbicara secara lahiryah saja, sebab
akan membingungkan orang yang melihat.” ujar Sunan Kalijaga, seraya berjalan
berdampingan menuju masjid Demak.

“Baiklah, Sunan.” Syekh Siti Jenar mengamini.

“Ilmu apa yang mereka miliki?” si Tambun mengikuti langkah keduanya dengan
tatapan mata, hingga menghilang di balik pintu gerbang masjid Demak. Lalu
tatapan matanya berputar ke arah temannya yang baru saja bisa menggerakan
tubuhnya.

“Gendut, kenapa aku tidak bisa bergerak waktu terjadi pertemuan antara Kanjeng
Sunan dan tukang sihir.” si Kerempeng mengelus dada, sambil menyarungkan lagi
pedang ditempatnya. Kemudian duduk, setengah menjatuhkan pantatnya di atas ruput
hijau, kakinya dilentangkan, nafasnya ditarik dalam-dalam.

“Itu semua pengaruh ilmu yang mereka miliki. Kita sebagai prajurit biasa tidak
mungkin bisa mencapai ilmu para wali. Berbincang-bincang juga cukup dengan
tatapan mata, orang lain tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Sangat hebat.” si Tambun garuk-garuk kepala. Otaknya tidak sanggup memikirkan,
apalagi menganalisis perilaku Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga.

“Gendut, sebenarnya apa yang tadi terjadi ketika saya jadi patung?” si
Kerempeng masih belum paham. “Kenapa si tukang sihir itu disambut baik oleh
Kanjeng Sunan Kalijaga? Bukakah kita tidak boleh mempelajari apalagi mengamlakan
ilmu sihir, hukumnya musrik!” si Kerempeng memijit-mijit keningnya.

“Tentu saja, sihir itu musrik dan tidak boleh dipelajari. Hanya saya tidak yakin
kalau yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar itu ilmu sihir.” jawab si Tambun,
mencoba memprediksi.

“Lantas ilmu apalagi kalau bukan sihir? Lagi pula pembicaraannya melantur. Dia
bilang Allah saja punya prajurit, itu aneh. Para Wali saja tidak pernah
mengajarkan.” si Kerempeng garuk-garuk kepala.

“Sudahlah, kita tidak boleh berburuk sangka! Mungkin ilmu yang kita miliki belum
cukup untuk memahami Syekh Siti Jenar.” terang si Tambun, seakan tidak peduli.

***

“Silahkan masuk saudaraku, inilah masjid tempat kami berkumpul dan beribadah.”
ujar Sunan Kalijaga, seraya mendapingi Syekh Siti Jenar memasuki masjid Demak.

-------------------

“Terimakasih,” Syehk Siti Jenar berjalan berdampingan dengan Sunan Kalijaga
menuju ruangan tengah masjid, menghampiri wali delapan yang sedang berkumpul.

“Selamat datang, Syekh.” sambut Sunan Bonang, menyodorkan kedua tangannya
menyalami. “Silahkan,”

“Siapakah Syekh ini?” tanya Sunan Muria.

Syekh Siti Jenar tidak menjawab, lalu menatap mata Sunan Kalijaga, menembus
batinnya, seraya berbincang dengan batin.

‘Syekh, tidak seharusnya kisanak berbicara pada wali yang lain menggunakan
batin. Pergunakanlah lahiryah kisanak, karena mereka bukan saya.’ ujar batin
Sunan Kalijaga.

‘Saya kira mereka sama dengan kisanak. Jika demikian berarti mata batin mereka
tuli dan buta. Hanya saudara Sunan yang paham batin saya. Baiklah jika saya
harus berujar secara lahiryah, laksana orang-orang yang tidak paham pada dirinya
dan….’

‘Sudahlah, Syekh saudaraku. Batin kita tidak harus berbicara seperti itu. Karena
mereka bukan kita, kita bukan mereka. Punya cara masing-masing untuk memahami
tentang wujud, maujud dan Allah. Mereka berlaku layaknya orang kebanyakan.’

“Apa yang sedang saudara bicarakan Sunan Kalijaga dan Syehk Siti Jenar?
Sebaiknya kita kembali pada alam lahiriyah.” Sunan Bonang memecah keheningan.
“Sebab yang hadir disini bukan hanya saudara berdua, ada yang lainnya.”

“Baiklah Kanjeng Sunan Bonang.” ujar Syekh Siti Jenar. Lalu dia duduk bersila
disamping Sunan Kalijaga.

“Siapakah sebenarnnya Syekh ini? Apakah termasuk para wali seperti kita-kita
ini?” tanya Sunan Gunung Jati.

“Saya Syekh Siti Jenar…” lalu melirik ke arah Sunan Kalijaga, seraya kembali
ingin berbincang menggunakan batin.

‘Jangan, berbicaralah secara lahiryah.’ itu jawaban batin Sunan Kalijaga.

Syekh Siti Jenar mengangguk, seraya meneruskan perkataannya,”..saya hanya
manusia biasa dan rakyat jelata. Namun saya secara tidak sengaja mendengar
perbincangan Kanjeng Sunan Bonang dan Kanjeng Sunan Kalijaga ketika di atas
perahu. Waktu itu Kanjeng Sunan Bonang sedang mengamalkan ilmu ’saciduh metu
saucaping nyata’…”

“Ilmu apa itu Kanjeng Sunan Bonang?” tanya Sunan Gunung Jati, melirik ke arah
Sunan Bonang.

“Ilmu ‘kun payakun’, jadilah, maka jadi. Apa pun yang diucapkan akan mewujud
atau jadi.” terang Sunan Bonang.

“…benar. Ketika itu wujud saya berupa seekor cacing tanah. Setelah mendengar
wirid ilmu tadi,lalu saya amalkan, seketika wujud saya berubah menjadi sekarang
ini. Maka wajar jika saya pun disebut Syekh Lemah Abang. Cacing tadi terbungkus
tanah berwarna merah, hingga saat ini saya pun masih memiliki ilmu tadi serta
sekaligus mempelajari Islam secara mendalam. Ilmu Islam yang saya pelajari sudah
diluar dugaan, mencapai tahap ma’rifat, tidak terduga. Namun saya tetap bukan
seorang wali seperti saudara-saudaraku yang berkumpul hari ini. Saya hanyalah
rakyat jelata dari pedesaan yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan Demak
Bintoro.” Syekh Siti Jenar menerangkan.

“Andika tidak dianggap sebagai seorang wali karena asal-usul yang kurang jelas.”
ucap Sunan Giri.

“Saya bukan orang yang memiliki ambisi dan gila gelar, hanya untuk mendapat
sebutan wali. Hingga saya pun menganggap bahwa diri saya hanyalah manusia biasa
dan lahir sebagai rakyat kebanyakan. Namun kisanak menyebutkan tanpa asal-usul
yang jelas. Padahal yang namanya manusia jelas memiliki asal-usul, jika
menganggap bahwa manusia ada yang tidak memili asal-usul berarti kisanak tidak
memahami siapa diri kisanak sebenarnya? Dari mana asal kisanak?” ujar Sekh Siti
Jenar.

“Andika jangan memutar balikan ucapan dan bermain kata-kata!” suara Sunan Giri
meninggi.

‘Syekh,’ Sunan Kalijaga menatap Syekh Siti Jenar, seraya berbicara dengan batin.
‘Saudaraku sebaiknya memaklumi keadaan secara lahiryah yang terjadi sekarang
ini…’

‘Baiklah,’ batin Syekh Siti Jenar memberi jawaban.

“Kanjeng Sunan Giri, sudahlah! Kita tidak harus memperbincangkan asal-usul.”
Sunan Bonang memahami pembicaraan batin Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga.
“Sebaiknya kita berbincang tentang upaya penyebaran agama Islam di tanah Jawa
ini.”

“Baiklah, Kanjeng Sunan Bonang.” Sunan Giri menyetujui.

“Bukannya saya tidak ingin lama-lama berbincang-bincang dengan para wali yang
agung di sini. Namun saya masih ada keperluan lain, disamping akan berusaha
membantu para wali untuk menyebarkan ajaran Islam. Izinkanlah saya untuk
berpamitan,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya.

“Andika mesti ingat ketika menyebarkan agama Islam yang agung ini jangan sampai
keluar dari aturan para wali.” ujar Sunan Giri.

“Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri. Karena saya bukan wali, tentunya tidak terikat
dengan aturan wali. Mungkin saya akan mengajarkan dan menyebarluaskan agama
Islam dengan cara saya sendiri.” Syekh

Siti Jenar seraya menyalami semuanya, lalu Sunan Bonang dan yang terakhir Sunan
Kalijaga.

‘Saudaraku selamat berjuang, mungkin pada akhirnya kita harus bertabrakan. Namun
itu secara lahiryah….’ batin Sunan Kalijaga.

‘Tidak mengapa saudaraku Kanjeng Sunan Kalijaga…itulah tujuan menuju Allah dan
jalan yang berlainan.’ Syekh Siti Jenar melepaskan tangan Sunan Kalijaga, seraya
membalikan tubuhnya dan keluar dari masjid Demak diantar oleh tatapan para wali
yang masih berdiri.

“Kanjeng Sunan Kalijaga, benar tadi batinmu berujar pada Syekh Siti Jenar.”
Sunan Bonang menatap Sunan Kalijaga.

“Tinggal menunggu waktu, Kanjeng. Itu semua kehendaknya..” jawab Sunan Kalijaga.

“Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kalijaga, apa maksud pembicaran andika
berdua?” tanya Sunan Giri.

-------------------

Keduanya tidak berbicara lagi, karena sudah terdengar bunyi adzan Magrib, mereka
menjawab, Allahu Akbar. Diikuti yang lainnya, meski dalam hati mereka menyimpan
rasa penasaran dan keingin tahuan mengenai ucapan kedua wali tadi, untuk
sementara disimpanya dalam hati masing-masing.

***

“Kanjeng Sunan Bonang, kayaknya kita agak kesulitan untuk menyebarkan Islam
disini.” Sunan Kalijaga memandang kerumunan orang.

“Kayaknya mereka lebih menyukai hura-hura dan gamelan, Kanjeng Sunan Kalijaga.”
tambah Sunan Bonang, matanya memperhatikan orang yang berkerumun menju pasar
seni.

“Kita pun tidak perlu kalah, Kanjeng Sunan Bonang. Jika hanya mendengar kita
berceramah kayaknya kurang tertarik, alangkah lebih baiknya kita pun harus
mengadakan pendekatan budaya.” Sunan Kalijaga tidak melepaskan pandanganya dari
kerumunan orang, lalu duduk di tepi jalan di atas batang kayu yang lapuk.

“Pendekatan budaya?” Sunan Bonang mengerutkan dahinya.

“Benar, pertama kita melihat sesuatu yang mereka sukai. Kedua, kita harus masuk
ke dalam sistem budaya masyarakat.” Sunan Kalijaga bangkit dan membalikan
tubuhnya ke arah Sunan Bonang. “Seperti yang kita perhatikan, masyarakat Jawa
sangat menyukai gamelan. Untuk itu kita turuti kesenangan mereka, tidak ada
salahnya membuat gamelan…”

“Membuat gamelan? Maksud Kanjeng Sunan supaya mereka mengerumuni gamelan yang
kita tabuh. Upaya untuk mengumpulkan orang…” ujar Sunan Bonang.

“Ya, setelah mereka berkerumun karena tertarik dengan irama gamelan yang kita
tabuh, disitulah kita berdakwah.”lanjut Sunan Kalijaga.

“Berdakwah, orang akan bubar. Lantas mereka tidak akan pernah berkerumun lagi
karena tertipu,” Sunan Bonang mengerutkan dahinya sejenak. “…maksud saya gamelan
itu hanya penarik dan pembuka acara dakwah kita. Setelah itu tidak mengalun
lagi….berarti selesai pertunjukan.”

“O, tidak seperti itu, Kanjeng Sunan Bonang. Gamelan harus terus mengalun,
ketika kita menyampaikan pesan dakwah. Caranya juga bukan seperti yang biasa
dilakukan para wali sebelumnya, namun ada canda dan filsafat.” terang Sunan
Kalijaga.

“Maksud, Kanjeng? Jika demikian gamelan itu dijadikan sarana dakwah, bukankah
itu seperti lakon, yang didalamnya diselipi pesan-pesan.”

“Begitulah, Kanjeng Sunan Bonang. Namun sarana kita adalah wayang kulit.
Karakter wayang yang kita ciptakan harus mencerminkan sosok orang baik, jahat,
kejam, ulama, dan sebagainya. Karakter yang kita ciptakan adalah cermin lelaku
kehidupan manusia.” Sunan Kalijaga, sejenak menatap awan yang melingkari puncak
gunung, lalu kembali menatap lawan bicaranya. “Lelaku manusia yang berbuat baik
akan menerima pahala baik, jahat pun sebaliknya. Setelah itu mereka bercermin,
dalam karakter itu munculah sosok yang diteladani, yaitu karakter Kanjeng Nabi
Muhammad dan para Sahabatnya.”

“Tapi kita tidak boleh mencipta Kanjeng Nabi dan para sahabat agung dalam sebuah
bentuk ukiran..” sela Sunan Bonang.

“Tentu, dan kita tidak akan berbuat seperti itu. Namun kita akan menciptakan
karakter wayang yang memiliki lelaku Islam. Rukun Islam itu ada lima, maka
ciptakan lima sosok wayang berkarakter cerminan muslim. Kanjeng Nabi itu punya
empat sahabat terbaik,

hingga menjadi lima dengan Junjunan Alam Rasulullah. Bentuklah Pandawa Lima,
cerminan dari lelaku Kanjeng Nabi dan keempat sahabat terbaiknya. Lalu karakter
jahatnya kita bentuk juga dari cerminan orang-orang jahat…” ujar Sunan Kalijaga.

-------------------

“Benar…” Sunan Bonang mengamini. Hingga keduanya berbicara panjang lebar
membahas metode berdakwah dengan menggunakan gamelan sebagai pemikat dan wayang
kulit sebagai medianya.

***

Matahari mulai menyelinap dibalik bukit, kirimkan sinar keemasan di langit
sebelah barat. Awan berubah menjadi jingga, mengitari puncak pegunungan. Masa
keemasan akan tiba seiring dengan perputaran roda kehidupan dan waktu.

Lagu Ilir-ilir bergema sebelum waktu Magrib tiba, nyanyian bermakna mendalam
ciptaan para wali. Rakyat menyanyikannya dengan gembira, ada yang memahmi akan
makna dan maksudnya, ada pula yang masih buta akan isinya, ada pula yang hanya
menikmati lirik dan syairnya saja.

Bedug Magrib tiba, mereka berbondong-bondong menuju masjid Demak Bintoro untuk
shalat berjamaah. Shalat Isya pun tidak mau mereka lewatkan, meski ajaran Islam
belum diterima secara merata.

Dakwah yang dilakukan sebagain Wali melalui media wayang kulit dan tabuhan
gamelan sebagai daya tarik. Cara seperti itu benar-benar efektif bisa mengikat
banyak orang berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Sunan Kalijaga melepas jubah kewalian, mengenakan pakaian serba hitam ala
petani, rakyat jelata. Hingga tidak ada antara dirinya dengan rakyat. Rakyat
lebih mudah didekati tanpa rasa curiga, karena Sunan Kalijaga berbaur
didalamnnya.

***

“Kita belum juga menemukan jejak Syekh Siti Jenar,” ujar Loro Gempol. “Bukankah
dia ke arah sini?”

“Tidak mungkin, saya punya keyakinan jika Syekh Siti Jenar menuju pusat Kota
Demak Bintoro.” potong Kebobenowo.

“Kalau betul dia menuju Kota Demak, sangatlah sulit untuk menemukannya.” Lego
Benongo menghentikan langkah, lalu duduk di atas batu di tepi jalan.

“Benar juga, Benongo.” Kebo Benowo mengerutkan keningnya, langkah pun terhenti
sejenak, matanya menatap jalan yang masih panjang. Menarik napas dalam-dalam.
“Sebaiknya kita duduk-duduk disini sambil cari makan, menunggu Syekh Siti Jenar
pulang. Jika memang dia dari pusat Kota Demak Bintoro, tentulah pulangnya akan
melewati jalan ini.”

“Itu baru benar,” sahut Lego Benongo, langsung saja merebahkan tubuhnya di atas
rumput hijau di bawah rindangnya pohon jalan.

Sayap malam mulai mengembang, matahari telah menyelinap di balik bukit.
Kelelawar beterbangan keluar dari sarangnya, bergembiraria menyambut datangnya
malam.

“Ki Benowo, hari sudah malam. Apakah kita mau tetap disini menunggu Syekh Siti
Jenar?” tanya Loro Gempol bangkit dari duduknya. Kepalanya mendongak ke atas
menatap langit yang mulai tampak dihiasi gemintang.

“Benar juga, Gempol.” Kebo Benowo berdiri, menatap jalan yang terbentang panjang
menuju pusat Kerajaan Demak Bintoro. “Lihat! Mungkinkah dia yang kita tunggu?”

“Syekh Siti Jenar?” timpal Lego Benongo.

“Kelihatannya Syekh Siti Jenar, Ki Benowo.” ujar Loro Gempol gembira. “Hebat,
wajahnya memancarkan cahaya terang, padahal dia tidak membawa obor atau lampu.”

“Saya rasa itulah kehebatan ilmu yang dimilikinya.” duga Kebo Benowo. “Kita
sudah benar menemukan seorang guru.”

“Tapi apa mau Syekh Siti Jenar mengangkat kita sebagai muridnya?” Loro Benongo
meragukan.

“Kalau tidak mau kita bunuh saja!” geram Loro Gempol.

“Kamu seperti tidak ingat saja, Gempol. Bukankah Syekh Siti Jenar itu sangat
sulit dilukai?” Kebo Benowo mengingatkan. “Mana mungkin kita bisa membunuh,
apalagi mengancamnya agar diagkat jadi murid. Sebaiknya kita bersikap lunak pada
orang yang memiliki ilmu tinggi seperti dia.”

“Benar juga, Ki Benowo.” Loro Gempol mengagukan kepala. “Jika tetap tidak mau
menerima kita sebagai muridnya?”

“Kita coba saja dulu,” ujar Kebo Benowo.

Syekh Siti Jenar telah mendekat, lalu melintas dihadapan Kebo Benowo dan kedua
temannya. Syekh Siti Jenar sedikit pun tidak menyapa apalagi meliriknya, terus
melangkah ke depan dengan tenang.

“Syekh,” Kebo Benowo mengerjanya. “Bolehkah saya berguru?”

“Mengapa mesti berguru? Kepada siapa kisanak akan berguru?” Syekh Siti Jenar
tidak menghentikan langkahnya, dan tidak melirik.

“Karena saya ingin memiliki ilmu. Tentu saja saya ingin berguru pada Syekh Siti
Jenar.” jawab Kebo Benowo.

“Mengapa harus kepada saya? Ilmu apa pula yang kisanak inginkan dari saya.” ucap
Syekh Siti Jenar. “Padahal saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik
ilmu dan tidak memiliki ilmu apa pun. Baik kisanak atau pun ilmu ada yang
memilikinya.”

“Saya tidak mengerti pada ucapan, Syekh?” Kebo Benowo mengerutkan keningnya.

“Kenapa jawaban Syekh membingunkan kami?” timpal Loro Gempol.

-------------------

“Apanya yang membuat kisanak pada kebingungan? Saya tidak pernah membuat
bingung orang lain apalagi menyusahkan orang.” Syekh Siti Jenar menghentikan
langkahnya, lalu menatap ke tiga rampok tersebut. “Hanya kisanaklah yang ingin
membuat susah dan menyusahkan diri sendiri.”

“Apa maksud ucapan, Syekh?” ke tiga rampok hampir serempak menepuk dahinya
masing-masing. Kepala seakan-akan mau pecah ketika mendengar setiap perkataan
Syekh Siti Jenar.

“Saya manusia biasa seperti kisanak, bukan pemilik ilmu. Bukankah kisanak
sendiri dan ilmu itu ada pemiliknya? Itukah yang membuat kisanak bingung?”
tatap Syekh Siti Jenar, mengulang ucapannya.

“Itulah yang tidak kami pahami. Karena kami orang awam, tidak tahu segala hal
yang Syekh ucapkan.” Kebo Benowo berusaha mencerna ucapan Syekh Siti Jenar.
“Syekh tadi mengatakan, kalau diri Syekh adalah manusia biasa seperti saya,”

“Ya,”

”Bukankah Syekh memiliki ilmu yang hebat? Sedangkan kami tidak bisa apa-apa?”
ujar Kebo Benowo.

”Saya tidak memiliki ilmu yang hebat. Kisanak mengaggap tidak bisa apa-apa,
itu merupakan pernyataan yang sangat keliru.” Syekh Siti Jenar diam sejenak,
matanya menatap satu persatu wajah orang yang diajak bicaranya.

“Kenapa tidak mau mengakui kalau diri Syekh memiliki ilmu yang hebat.” sela
Kebo Benowo. Pikirannya semakin sumpek mendengar setiap perkataan Syekh Siti
Jenar yang bersebrangan dengan realita yang dia pahami. “Malah pengakuan saya
dianggap keliru,”

“Memang benar kisanak sangat keliru.” Syekh Siti Jenar, mendongak ke atas
langit, “Tataplah bintang gemintang yang ada di atas kepala kisanak nun jauh di
langit.”

“Apakah ada yang aneh dengan bintang-gemintang di langit?” tanya Kebo Benowo.
Belum menemukan celah terang atas segala perkataan Syekh Siti Jenar, pikirannya
semakin ngejelimet.

“Bukan ada yang aneh atau tidak. Perhatikanlah bintang-bintang? Kenapa tidak
jatuh ke bumi dan menimpa kepala kita? Pernahkah terpikir dalam benak kisanak,
siapa yang menahannya di langit?” Syekh Siti Jenar kembali menatap ke tiga
rampok tadi.

“Benar juga. Tidak tahu. Mungkinkah kekuatan yang tidak nampak?”

“Kenapa kekuatannya tidak nampak? Siapa pula yang memiliki kekuatan yang tidak
nampak itu?” tanya Syekh Siti Jenar.

“Saya tidak mengerti Syekh? Jika memang ada kekuatan siapa pemiliknya?”

“Dialah Allah. Allah itu penguasa semesta alam. Penggenggam setiap jiwa
makhluknya.” ujar Syekh Siti Jenar. “Kita kembali pada ucapan saya semula.
Maksud saya itulah tadi.”

“O…ya.” Kebo Benowo mengangguk-anggukan kepala, rupanya mulai ada titik terang
di benaknya.

“Jika demikian saya mulai terbuka dengan apa yang Syekh Siti Jenar uraikan tadi.
Namun yang masih membingungkan, mengapa dianggap keliru jika saya mengatakan
tidak bisa apa-apa di banding kisanak.”

“Jika kisanak mengatakan tidak bisa apa-apa, tentu saja mati. Hanya orang
matilah yang tidak bisa apa-apa.” terang Syekh Siti Jenar.

“Benar perkataan kisanak, Syekh.” Kebo Benowo mengagguk. “Namun maksud tidak
bisa apa-apa disini bahwa ilmu yang saya miliki jauh dibawah kehebatan ilmu
Syekh.”

“Ya,” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Itu bukan berarti bahwa saya lebih hebat
dari kisanak. Hanya kisanak belum menemukan ilmu yang saya miliki.”

“Itulah yang saya inginkan dari Syekh. Beritahu saya cara menemukan ilmu tadi.”
ucap Kebo Benowo.

“Akan saya tunjukan. Ikutlah kisanak ke padepokan saya!” Syekh Siti Jenar
membalikan tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya dengan tenang.

“Terimaksih, Syekh.” Kebo Benowo dan kedua temannya sangat senang akan diberi
ilmu hebat yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar. ***

Walisongo terus menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sunan Kalijaga berbeda
cara dengan wali lainnya. Lebih menyukai berbaur dengan rakyat kebanyakan, tanpa
mengenakan pakaian serba putih seperti yang lainnya.

“Kanjeng Sunan Kalijaga, ternyata pendekatan budaya lebih bisa diterima
ketimbang hanya membawa pesan belaka.” ujar Sunan Bonang.

-------------------

“Karena antara kita dengan mereka nyaris tidak ada jarak pemisah.” jawab Sunan
Kalijaga. “Ternyata hanya dengan cara berpakaian saja, mereka sudah sulit
didekati.”

“Benar,” Sunan Bonang memaksakan tersenyum. “Namun dibalik keberhasilan andika
ternyata menuai protes dari sebagian wali, terutama Kanjeng Sunan Giri. Hingga
pada hari ini andika harus menghadap mereka dipersidangan para wali.” tambah
Sunan Bonang.

“Tidak mengapa Kanjeng Sunan Bonang. Itulah resiko yang harus saya tanggung.
Asalkan saya tidak menyimpang dari ajaran Islam,” Sunan Kalijaga menghela napas,
seraya kakinya tetap melangkah beriringan dengan Sunan Bonang. “Saya menyimpang
hanya dalam soal budaya, yang semestinya tidak harus terjadi perbedaan paham
seperti sekarang.”

“Mungkin salah satunya itu.” Sunan Bonang mulai menginjakan kaki di gerbang
masjid Demak. “Kita sudah sampai, Kanjeng.”

“Silakan Kanjeng Sunan Bonang duluan,” Sunan Kalijaga memasuki masjid Demak
beriringan dengan Sunan Bonang yang sudah terlebih dahulu masuk.

“Selamat datang, Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Bonang.” ujar Sunan
Muria. “Silahkan duduk, Sunan Giri dan para wali sudah menunggu.”

Keadaan hening sejenak. Para wali saling tatap satu sama lainnya, tatapan Sunan
Kalijaga beradu dengan Sunan Giri, lalu beralih ke Sunan Muria, Sunan Kudus,
Sunan Gunung Jati, dan terakhir Sunan Bonang.

Sunan Kalijaga masih beradu tatap dengan Sunan Bonang, saling menembus batin,
saling bercakap. Sementara percakapan batin mereka tidak bisa ditembus oleh
sebagian wali.

“Pahamkah Kanjeng Sunan Kalijaga pada hari ini sidang para wali mengundang?”
Sunan Giri membuka pembicaraan.

“Daripada saya menduga-duga, alangkah lebih baiknya jika Kanjeng Sunan Giri
menjelaskan.” ujar Sunan Kalijaga tenang.

“Tidakah andika menyadari akan tindakan yang dilakukan?” Sunan Giri melanjutkan.
“Haruskah andika mengganti pakaian dengan mengenakan pakaian rakyat kebanyakan?”

“Itukah yang ingin Kanjeng Sunan Giri persoalkan?” tatap Sunan Kalijaga.

“Benar, karena tidak selayaknya seorang wali mengenakan pakaian serba hitam
seperti halnya rakyat kebanyakan. Sudah semestinya seorang ulama atau wali
memiliki ciri dengan mengenakan pakaian kebesaran yang serba putih, bersorban,
dan lainnya.” urai Sunan Giri.

“Apakah setiap orang yang mengaku muslim akan batal keislamannya jika seandainya
tidak berpakaian serba putih dan mengenakan sorban serta jubah?” tanya Sunan
Kalijaga.

“Tentu tidak. Selama dia tidak murtad atau keluar dari agama Islam.” jawab Sunan
Giri.

“Lalu apakah yang salah pada diri saya?” kembali Sunan Kalijaga bertanya.

“Karena andika tidak mengenakan pakaian seperti halnya wali lain. Bukankah
pakaian itu cermin dari seseorang yang mengenakannya? Juga pakaian serba putih
itu ciri para wali?” ujar Sunan Giri.

”Saya tidak bisa disebut seorang ulama atau wali karena tidak mengenakan sorban
dan pakaian serba putih? Jika hal itu alasannya maka saya tidak keberatan meski
tidak disebut seorang ulama atau pun wali. Karena tujuan saya bukanlah ingin
mendapat julukan dan dielu-elukan banyak orang. Namun tujuan utama saya adalah
berdakwah di tanah Jawa ini agar orang mau berbondong-bondong masuk Islam, tanpa
harus dibatasi oleh cara berpakaian dan latar belakang budaya yang mereka anggap
asing.” urai Sunan Kalijaga. “Untuk keberhasilan dakwah saya rela menanggalkan
jubah putih, serta berbaur dengan rakyat jelata. Itu cara saya. Jika cara saya
berbeda dengan Kanjeng Sunan Giri itu hanyalah masalah teknis, bukankah aqidah
kita tetap sama?”

Sunan Giri sejenak terdiam. Dahinya tampak dikerutkan, seakan-akan merenungi
ucapan Sunan Kalijaga. Belum juga dia berbicara, Sunan Kalijaga melanjutkan
perkataannya.

“Bukankah rakyat kebanyakan berbondong-bondong masuk Islam, mereka tidak segan
lagi bersama-sama saya untuk melakukan shalat berjamaah? Lantas sasaran Kanjeng
Sunan Giri sangatlah terbatas, dengan hitungan tidak terlalu banyak dan
ekslusif. Karena Kanjeng Sunan Giri menerapkan metode dakwah serta sasaran
tertentu menurut Kanjeng.” ujar Sunan Kalijaga.

“Setelah saya renungkan dan saya pikirkan, baiklah kita tidak harus saling
memaksaan dalam urusan metode dakwah.” Sunan Giri mencair. “Saya kira andika
telah menyimpang dari Islam seiring dengan ditanggalkannya jubah putih, ternyata
hanya cara yang berbeda.”

-------------------

“Kenapa saya harus mengingkari ajaran Islam? Padahal dengan susah payah saya
meraihnya. Tidak mungkin saya melepaskan ajaran Islam dari diri saya seperti
halnya saya menanggalkan jubah putih. Itu berbeda, Kanjeng Sunan Giri.” tukas
Sunan Kalijaga. “Saya lebih memilih melakukan pendekatan budaya, ketimbang
menggunakan tata cara yang bersipat asing bagi mereka.”

Masjid Demak Bintoro sejenak dalam keadaan hening. Tidak terdengar lagi suara
yang bercakap-cakap, selain bergeraknya tasbih di tangan para wali.

***

“Inilah padepokanku, Kisanak!” ucap Syekh Siti Jenar.

“Indah dan asri pemandangannya, Syekh.” Kebo Benowo tercengang melihat keindahan
Padepokan Syekh Siti Jenar. Udaranya sejuk, keadaannya tenang, pohon hijau
berselang dengan tanaman hias memagari jalan setapak yang sedikit menanjak
menuju gerbang padepokan.

“Tentu saja harus indah dan asri, karena Allah itu Maha Indah. Kita selaku
umatnya sudah seharusnya menciptakan suatu keindahan, agar kita mudah menyatukan
diri dengannya. Kita berdialog dengan Allah, yang memiliki segala hal dan
menciptakan segala makhluk.” terang Syekh Siti Jenar. “Masuklah kisanak!”

“Terimakasih, Syekh.” Kebo Benowo, masuk lebih dulu diikuti kedua teamnnya.

“Sebab jika kita merasa tertarik pada sesuatu, tentu saja kita akan selalu ingin
memandangnya dan merasa kerasan untuk menikmatinya.” Syekh Siti Jenar duduk
bersila di atas tikar pandan. Dihadapannya Kebo Benowo dan kedua temannya.

“Sungguh benar yang Syekh katakan.” ucap Kebo Benowo datar.

“Namun ruangan ini cukup luas, banyakkah orang yang berkumpul disini dan berguru
pada, Syekh?” matanya mengitari seluruh ruangan.

“Untuk apa saya membuat ruangan sebesar ini jika tidak ada orang yang mau
menempatinya.” Syekh Siti Jenar melirik ke arah gerbang padepokan. “Lihatlah
disana!”

“Banyak sekali orang yang sedang menju ke padepokan ini?” Kebo Benowo dan dua
temannya tercengang, melihat rombongan orang yang berduyun-duyun memasuki
gerbang padepokan. “Jika demikian, bukanlah kami ini murid Syekh yang pertama.”

“Itulah sebuah kenyataan.” ujar Syekh Siti Jenar tenang.

“Jika demikian saya tidak akan bisa berkonsentrasi menyerap ilmu yang akan
diajarkan Syekh?” wajah Kebo Benowo menggambarkan kekhawatiran.

“Mengapa tidak, Kisanak? Sebab saya tidak memiliki ilmu apa pun, dan tidak pula
menganggap istimewa satu sama lainnya. Karena mereka memiliki asal yang sama dan
kembali pada tempat yang sama.” terang Syekh Siti Jenar.

“O,…” Kebo Benowo dan temannya mengangguk-anggukan kepala. Namun tetap dalam
hatinya merasa keberatan jika harus berjubel dan belajar dengan banyak orang.
Karena tujuan mereka berguru ingin memiliki ilmu lebih dibandingkan dengan orang
lain, tujuannya pun untuk menguasai orang lain.

-------------------

Pengikut dan murid Syekh Siti Jenar yang jumlahnya cukup banyak mulai memasuki
ruang padepokan. Satu persatu mulai mengambil tempat duduknya masing-masing.
Duduk bersila, berjejer memadati ruangan, pandangannya luru ke depan, memandang
Syekh Siti Jenar dengan takjub.

“Baiklah, jika semuanya sudah berkumpul kita mulai pelajaran ini.” Syekh Siti
Jenar mulai mengajarkan ilmunya. “Saya akan memulai dengan pertanyaan.
Darimanakah asalnya manusia?” matanya mulai memandang muridnya satu persatu.

“Tentu saja manusia berasal dari kedua orang tuanya.” jawab Loro Gempol.
“Terutama sekali ibunya yang melahirkan. Saya rasa semua orang juga tahu,
Syekh.” urainya sangat percaya diri.

“Jika jawabannya seperti itu, semua orang tahu. Maka saya tidak perlu
memberitahukannya lagi.” terang Syekh Siti Jenar.

“Lalu bagaimana menurut, Syekh?” Kebo Benowo menindaklanjuti pertanyaan
temannya. “Secara lahiryah, manusia dilahirkan oleh seorang ibu. Ibu pun tidak
akan bisa melahirkan tanpa pasangannya yang bernama suami.” sejenak
menghentikan ucapannya. Matanya mulai menyisir wajah para muridnya yang dengan
khusu memperhatikannya.

“Ya, kami tahu.” Loro Gempol yang tidak sabaran selalu menyela. “Syekh,
kedatangan kami kesini bukan untuk mempelajari ilmu seperti itu. Tapi kami
meminta kesaktian yang Syekh punyai.” Loro Gempol seraya bangkit dari duduknya,
tabiat rampoknya mulai tumbuh kembali.

Andika terlalu tergesa-gesa, Kisanak.” Syekh Siti Jenar mengayunkan telunjuk
dari tempat duduknya.

”Akkkhhhhh! Tolong!” tiba-tiba Loro Gempol terbanting, dan roboh di atas
lantai.

“Bukankah saya belum selesai berbicara?” Syekh Siti Jenar tidak mengubah posisi
duduknya, “Mana bisa orang mendapatkan ilmu ma’rifatullah jika tidak bisa
mengendalikan emosi.”

“Aduhhhh…” Loro Gempol memijat-mijat bokongnya yang terasa sakit akibat
benturan. “Maafkan saya, Syekh.”

“Kembalilah andika ke tempat duduk!” perintah Syekh Siti Jenar.

Sementara yang lainnya tidak ada yang berani menentang, apalagi berujar yang
tidak karuan di depan orang yang memiliki tingkat kesaktian tinggi. Mereka
termasuk para murid yang taat, karena sudah mulai mendalami sebagian ilmu yang
diajarkannya.

“Kenapa andika ceroboh, Gempol?” Kebo Benowo berbisik pada Loro Gempol yang
telah duduk kembali disampingnya. “Bukankah andika sudah tahu, bagaimana
kehebatan Syekh Siti Jenar ketika kita rampok. Masih untung andika tidak diusir
dari padepokan ini.”

“Memang saya ceroboh, Ki Benowo. Tapi saya tidak akan mengulang kesalahan ini,”
bisik Loro Gempol. “Jika andika mengulang kesalahan, kemungkinan besar kita
akan ditolak menjadi murid beliau.” Kebo Benowo merasa khawatir kalau tidak
memperoleh kesaktian yang dimiliki Syekh Siti Jenar.

”Lupakanlah peristiwa tadi.” Syekh Siti Jenar menghela napasnya. ”Kita kembali
pada pertanyaan semula. Darimana asalnya manusia?”

“Darimanakah itu Syekh? Saya kira Syekhlah yang lebih tahu.” ujar Kebo Benowo.

“Manusia berasal dari Allah. Dari dzat Allah yang menciptakannya. Seluruh
manusia yang belum lahir kedunia ini berada pada suatu tempat yang bernama
‘bahrul hayat’.” berhenti sejenak.

“Apakah itu, Syekh?” tanya Kebo Benowo.

“Yaitu tempat hidup dan kehidupan. Disitu manusia merasakan kenikmatan yang
tidak ada taranya. Manusia tidak pernah merasakan lapar, sakit, sedih, duka,
lara, bahkan bahagia. Itu karena sangking nikmatnya kehidupan sebelum lahir ke
dunia. Kita merasakan penderitaan, kesedihan, kemiskinan dan sebangsanya
karena telah terlahir ke dunia ini. Bukankah sebelumnya kita tidak pernah
merasakan penderitaan dan kemiskinan…” urai Syekh Siti Jenar.

Para murid Syekh Siti Jenar sejenak merenungkan uraian gurunya. Mereka ada yang
bisa mencerna dan memikirnnya, namun ada juga yang belum memahami maksud uraian
tadi.

“Jadi dunia ini tempatnya kita menjalani kesedihan, kemiskinan, kemelaratan,
penderitaan, tertawa, bergembira. Setelah semuanya secara berurutan atau tidak
kita alami, maka kembali berputar. Setelah sedih kita akan bahagia, setelah
bergembira kita akan menangis….dan seterusnya.” Syekh Siti Jenar memandang ke
setiap sudut.

-------------------

“Jika demikian kehidupan dunia ini berbeda dengan alam asal muasal kita, yang
didalamnya tidak pernah terasa kesedihan, tidak pernah pula setelah bergembira
kemudian bersedih. Bukankah disana nyaris kita tidak pernah merasakan apa pun,
Syekh?” ujar Kebo Benowo, seraya menatap wajah Syekh Siti Jenar yang memancarkan
cahaya.

“Benar. Alam asal muasal manusia adalah alam milik dzatnya. Sehingga kita pun
berada didalam kenikmatannya. Berbeda dengan alam yang sedang kita jalani
sekarang.” lanjut Syekh Siti Jenar, tangan kanannya tetap memegang tasbih,
sementara tatapan matanya terus berputar.

Waktu terus merangkak pelan, menggiring para murid Syekh Siti Jenar pada
ajarannya. Mereka semakin khusuk mendengarkan, hati mulai terbuka akan segala
hal yang sebelumnya tidak diketahui.

***

“Syekh, andika membawa ajaran Islam. Padahal agama yang saya kenal sebelumnya
adalah Hindu dan Budha.” ujar Kebo Kenongo. “Namun stelah saya perhatikan
ternyata inti dari ke tiga agama tersebut memiliki kesaamaan.”

“Benar, Ki Ageng Pengging.” ucap Syekh Siti Jenar, matanya menatap tajam wajah
lelaki yang masih keturunan Majapahit. “Semua agama sebenarnya dari asal yang
satu. Itulah tadi yang saya uraikan.”

“Saya paham dan tertarik untuk mengambil kesamaan dari ke tiga ajaran tadi.”
tambah Kebo Kenongo. “Hanya yang membedakan agama-agama tadi adalah lelaku
lahiryahnya saja.”

“Benar, Ki Ageng Pengging. Sebab hakikatnya sama, mencari yang namanya Sang
Pencipta, Sang Pemilik, Sang Maha Perkasa.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya jari
jemari tangannya memberi gambaran simbol pada Kebo Kenongo. “Kita hanya bisa
merasakan nikmat saat bergumul dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Mungkin syariat dari
ajaran Hindu dan Budha bersemadi, mungkin orang Islam dengan tata cara
berdzikir, berdoa, dan Shalat. Tapi semua itu hanyalah bentuk pendekatan secara
jasadiah saja, sedangkan batinnnya tertuju pada Yang Maha Segalanya.” urai Syekh
Siti Jenar.

“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo sejenak memandang ke arah puncak gunung,
“Kenikmatan kita saat bersemadi ketika wujud kita telah menyatu dengannya.”

“Itulah Manunggaling Kawula Gusti.” terang Syekh Siti Jenar pelan. Lalu bangkit
dari duduknya, melangkah pelan menyusuri jalan setapak di ikuti Kebo Kenongo
menuju padepokan.

“Mereka sedang memperbincangkan apa di atas sana?” Loro Gempol melirik ke arah
Kebo Benowo yang sedang berdiri di halaman padepokan. “Kelihatannya sangat
serius.”

“Apalagi yang mereka perbincangkan kalau bukan masyalah ilmu.” jawab Kebo Benowo
datar.

“Mengapa mereka kelihatannya khusuk dan serius. Mungkinkah karena Syekh Siti
Jenar berbincang-bincang dengan keturunan Majapahit? Sehingga dia memperlakukan
Ki Ageng Pengging lebih istimewa dibandingkan dengan kita, mantan rampok.”
tatapan mata Loro Gempol tertuju kembali pada Syekh Siti Jenar dan Kebo Kenongo,
mereka sedang menuruni bukit menuju padepokan.

“Andika jangan berprasangka buruk, Gempol!” Kebo Benowo memberi apalagi
mengistimewakan satu dengan lainnya. Hanya Syekh Siti Jenar akan mudah diajak
berbincang-bincang jika kita memahami yang dibicarakannya. Kita belum bisa
dianggap selevel dengan Ki Ageng Pengging. Karena kita latar belakangnya rampok
dan tidak pernah mengenal ajaran agama apalagi filsafat, sedangkan Ki Ageng
Pengging sudah mengenal agama-agama sebelum datang ajaran Syekh Siti Jenar,
ditambah lagi dia orang cerdas.” urai Kebo Benowo.

“Mungkin ya…mungkin tidak?” Loro Gempol menghentikan pembicaraannya, karena
mereka sudah mendekat.

“Andika berdua memperbincangkan saya?” Syekh Siti Jenar menatap Kebo Benowo dan
Loro Gempol.

Keduanya hanya mengangguk dan selanjutnya menundukan kepala. Karena mereka baru
menyadari kalau Syekh Siti Jenar memiliki ilmu batin yang sangat hebat.

“Tidak mengapa, jika memang pertemuan saya dengan Ki Ageng Pengging menjadi
bahan perbincangan andika berdua.” ujar Syekh Siti Jenar enteng. “Andika pun
hendaknya bisa mencapai tahapan yang sedang kami perbincangkan.” melanjutkan
langkahnya, di belakangnya Kebo Kenongo mengiringi.

“Inti dari ajaran Manunggaling Kawula Gusti?” Kebo Kenongo memulai lagi
perbincangan, setelah beberapa langkah jauh dari Loro Gempol dan Kebo Benowo.

“Ya, ketika kita menyatu dengan Dzat Sang Pencipta, Allah.” terang Syekh Siti
Jenar. “Disitu terjadi penyatuan antara Gusti dan abdinya. Setelah kita menyatu
dengannya, apa masih perlu yang namanya dzikir, shalat, ritual?”

-------------------

“Bukankah tujuan dari dzikir, shalat, dan ritual itu untuk mendekatkan diri
kita dengan Yang Maha Agung?” timpal Kebo Kenongo.

“Benar sekali Ki Ageng Pengging.” langkahnya terhenti di tepi jalan, sejenak,
lalu memandang awan yang berserak di langit biru. “Jika kita sudah dekat
apalagi menyatu dengannya masihkah kita perlu melakukan upaya dan tata cara
pendekatan?”

“Tentu saja jawabnya tidak.” Kebo Kenongo menatap keagungan sinar yang
terpancar dari wajah Syekh Siti Jenar.

“Upaya pendekatan apalagi yang harus kita lakukan, jika kita sudah melebihi
dari dekat. Apa pun yang kita inginkan bisa terwujud hanya dengan kalimatnya.
Kun, jadi. Maka terjadilah!” tambah Syekh Siti Jenar. “Namun ketika kita sudah
berada pada tahapan tadi, mana mungkin akan tertarik pula dengan urusan dunia
dan seisinya. Karena lebih nikmat didalam kemanunggalan tadi dibandingkan
dengan dunia dan segala isinya.”

“Mungkin juga, Syekh.” Kebo Kenongo mengerutkan dahinya, mencoba mencerna
uraian Syekh Siti Jenar.

“Untuk meyakinkan segala hal yang saya katakan sebaiknya Ki Ageng Pengging
mencobanya.” saran Syekh Siti Jenar.

“Saya sering melakukan semedi dan tapabrata, Syekh. Namun yang dikatakan
kemanunggalan kita dengan Sang Pencipta itu di sisi mana?” tanya Kebo Kenongo.

“Ketika wah’datul wujud.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam- dalam. “Saya
baru bisa menjelaskan lebih mendalam jika Ki Ageng Pengging mencoba, lalu ada
perbedaan dari sebelumnya. Maka hal itu baru saya uraikan kembali menuju
Manunggaling Kawula Gusti. Sebab tidak mungkin saya mengurai sebuah persoalan
jika seandainya Ki Ageng tidak menjelaskan terlebih dahulu hal yang mesti
dibahas.”

Saya paham maksud, Syekh.” Kebo Kenongo menganggukan kepala.

***

“Saya mendapat kabar tentang pesatnya ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti
Jenar.” ujar Sunan Bonang, duduk bersila di hadapan Sunan Kalijaga.

“Saya juga demikian, Kanjeng.” Sunan Kalijaga mengamini.

“Kenapa dia bisa berhasil dengan pesat dalam penyebaran agama Islam di tanah
Jawa. Padahal dia bukanlah seorang wali?” Sunan Giri menyela.

”Benar, Kanjeng. Penyebaran ajaran dengan pesat di sini bukan berarti
mayoritas, sebab Kanjeng Sunan Kalijaga pun cukup berhasil dalam upaya ini.”
terang Sunan Bonang.

“Tidak lupa pula para wali yang lain.”

”Bukankah kita pun sebagai para wali telah menyisir seluruh pulau Jawa dalam
upaya penyebaran ajaran Islam?” ujar Sunan Giri. Sunan Bonang menatap Sunan
Kalijaga, berbicara melalui batinnya.

’Bukankah maksud kita bukan urusan pesatnya penyebaran yang akan dibicarakan.
Tetapi tentang isi ajaran yang disampaikannya.’

‘Itulah yang membuat saya khawatir, Kanjeng Sunan Bonang. Namun mudah-mudahan
yang kita khawatirkan itu tidak..’

“Kenapa andika berdua terdiam?” Sunan Giri menatap Sunan Bonang dan Sunan
Kalijaga.

“Ada apa?”

”Tidak, Kanjeng Sunan Giri. Kita hanya memaklumi saja kemampuan seorang rakyat
jelata seperti Syekh Siti Jenar mampu mengembangkan dan menyebar luaskan
ajarannya. Itu yang sedang kami renungkan.” terang Sunan Bonang.

“Tetap saja pesatnya ajaran yang dia bawa penyebarannya tidak akan seluas para
wali, termasuk pengaruh dan wibawanya. Mungkin hanya sekelompok kecil saja yang
kemungkinan terserak di pelosok Negeri Demak Bintoro.” ujar Sunan Giri. “Namun
itu bukan sebuah persoalan selama dia tidak menyimpang dari aturan para wali.”

‘Apa boleh buat, justru itulah nantinya akan menuai persoalan.’ batin Sunan
Bonang.

-------------------

‘Namun biarlah waktu yang menjawab, Kanjeng. Sebab kita tidak mungkin bisa
merubah alur kehidupan yang akan terjadi. Bukankah kita hanya sebatas mengetahui
dengan keterbatasan ilmu kita, Kanjeng.’ urai Sunan Kalijaga dengan bahasa
batinnya.

***

Prajurit Demak yang pernah berhadapan dengan Syekh Siti Jenar, si Kerempeng dan
si Tambun sedang berbincang-bincang di bawah pohon beringin menunggu giliran
berjaga di gerbang alun-alun Demak Bintoro.

“Syekh Siti Jenar ternyata temannya para wali.” ujar si Tambun. “Namun apakah
dia juga termasuk salah seorang wali di antara wali songo?” matanya menatap si
Kerempeng.

“Tanyakan saja pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Jangan pada saya!” jawab si
Kerempeng tinggi.

“Tapi jika melihat kesaktian dan kehebatan ilmunya saya yakin bahwa dia masih
termasuk wali.” si Tambun mengerutkan dahinya, coba menebak-nebak. “Buktinya
dengan Sunan Kalijaga sangat akrab, terkadang bicara melalui tatapan matanya.
Tentang pembicaraannya tidak kita pahami.”

“Andika sepertinya tertarik oleh Syekh Siti Jenar, Gendut?” si Kerempeng
berdiri.

“Benar,” jawab si Tambun tenang. “Saya jadi ingin memiliki ilmunya.”

“Kenapa mesti berguru pada Syekh Siti Jenar yang tidak jelas asal usulnya?
Bukankah Kanjeng Sunan Kalijaga juga sangat sakti dan beliau jelas asal
usulnya.” terang si Kerempeng.

“Ya, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan ilmu dari para wali tanpa melalui
tahapan-tahapan yang berat.” ujar si Tambun.

“Apa bedanya dengan Syekh Siti Jenar?” si Kerempeng menyandarkan punggung ke
pohon beringin.

“Jelas beda. Kalau Syekh Siti Jenar sangat mudah memberikan ilmu,” tambah si
Tambun.

“Tahu dari mana?” si Kerempeng penasaran.

“Itu dugaan saya.” jawab si Tambun.

“Lha, baru menduga-duga. Saya kira sudah tahu dan yakin.” ucap si Kerempeng.

“Meskipun hanya berupa dugaan tapi saya yakin.” si Tambun membetulkan penutup
kepalanya. “Jika Syekh Siti Jenar sangat mudah memberikan ilmu. Makanya ingin
membuktikannya, kalau tahu tempat tinggalnya atau padepokannya akan saya
datangi.” jelas si Tambun seraya mengangkat tombak, langkah kakinya pelan menuju
gerbang alun-alun Demak Bintoro untuk melaksanakan tugas mengganti yang lain.

“Cari saja kalau mau!” ujar si Kerempeng melangkah dibelakangnya. “Saya rasa
mudah mencari tempat tinggal orang sakti seperti Syekh Siti Jenar. Tentu
orang-orang Demak Bintoro pada kenal seperti halnya para wali.” sama-sama menuju
gerbang alun-alun.

“Pasti.” si Tambun mengangguk-anggukan kepala. “Karena dia salah seorang dari
wali, hanya saja tidak termasuk wali sembilan. Mungkin karena tidak tinggal di
pusat kota Demak Bintoro. Mungkin juga dia punya tugas lain di pedesaan dalam
penyebaran agama Islam?” langkahnnya terhenti tepat di depan gerbang alun-alun
Demak Bintoro.

“Kenapa andika punya dugaan, bahwa Syekh Siti Jenar seolah-olah ditugaskan
menyebarkan ajaran Islam di Pedesaan?” tanya Si Kerempeng.

“Pertama karena dia jarang berkumpul di dalam masjid Demak. Keduanya dia sangat
terlihat akrab dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang memilki kesaktian seimbang
dengannya.” terang si Tambun.

“Bisa jadi?” si Kerempeng mengerutkan dahinya. “Namun meskipun Kanjeng Sunan
Kalijaga orang sakti tapi pembicaraannya tentang agama bisa dipahami oleh kita,
berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang kadang-kadang ucapannya membingungkan
kita?”

-------------------

“Itulah bedanya Kanjeng Sunan Kalijaga dengan Syekh Siti Jenar.” ujar si Tambun,
berdiri tegak sambil memegang tombak.

“Maksud andika?”

“Kalau belajar dengan Kanjeng Sunan Kalijaga untuk sampai pada tahap atas harus
bertahap, tidak bisa langsung. Sedangkan Syekh Siti Jenar bisa loncat pada
tingkatan yang kita inginkan, buktinya dia berbicara yang tidak bisa kita
pahami, berarti sudah bisa loncat.” si Tambun mencoba menerangkan.

“Cerdas juga andika, Gendut.” ujar si Kerempeng. “Saya yakin Kanjeng Sunan
Kalijaga mengajarkan dengan bertahap karena beliau melihat kemampuan orang yang
menerima. Sedangkan Syekh Siti Jenar tidak, makanya pembicaraannya kadang-kadang
melantur.”

“Melantur itu menurut kita, karena kita ilmunya masih rendah. Coba saja jika
kita sudah berada pada tahapan atas mungkin sangat paham pada setiap ucapan
Syekh Siti Jenar.” bela si Tambun.

“Tida mungkin,” si Kerempeng mengerutkan dahinya. “Masa dia pernah bilang kalau
Allah itu punya empat prajurit? Bukankah Allah itu punya para Malaikat? Kenapa
mesti ada lagi prajurit, aneh bukan?” tambahnya.
“Justru itulah, kisanak.” si Tambun tersenyum. “Saya penasaran dengan yang
disebut empat prajurit Allah oleh Syekh Siti Jenar. Siapakah itu? Dan mengapa
prajurit Allah bisa diperintah juga oleh Syekh Siti Jenar. Kalau saya memiliki
ilmu seperti itu dan menguasai prajurit Allah seperti dia tentu pangkat akan
naik. Tdak lagi jadi prajurit tapi jadi Raja…hahaha.”

“Mengkhayal,” si Kerempeng mencibir.

***

“Syekh, saya telah mencoba untuk menuju ‘manunggaling kawula gusti’.” Kebo
Kenongo menghampar serban di depannya. Lalu berdiri.

“Andika sekarang akan shalat?” Syekh Siti Jenar duduk bersila di sampingnya.
“Bukankah andika telah mencoba menuju maunggaling kawula gusti?”

“Benar, namun saya belum sampai. Sekarang saya akan shalat.” terang Kebo
Kenongo.

“Tujuan andika shalat?” Syekh Siti Jenar tersenyum.

“Bukankah shalat jalan kita untuk menuju manunggaling kawula gusti, Syekh?” Kebo
Kenongo mengerutkan dahinya.

“Bukan.” ujarnya pendek. Syekh Siti Jenar memutar tasbih seraya mulutnya
komat-kamit berdzikir.

“Apakah harus berdzikir menuju maunggaling kawula gusti, Syekh?” tanyanya
kemudian.

“Tidak juga.” jawab Syekh Siti Jenar pendek.

“Lantas, untuk apa shalat dan berdzikir?” kerutnya. “Bukankah Syekh pernah
mengatakan kalau semua itu upaya untuk mendekatkan diri dengan Allah?”

“Jika itu jawaban Ki Ageng Pengging benar adanya.” Syekh Siti Jenar sejenak
memejamkan mata, kemudian membukanya lagi dan menatap Kebo Kenongo yang masih
berdiri hendak shalat.

“Bukankah mendekatkan diri kepada Allah sama saja dengan menuju manunggaling
kawula gusti?” tanya Kebo Kenongo selanjutnya.

“Tidak juga, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar.

“Lantas?”

“Manunggaling kawula gusti sangat berbeda dengan mendekatkan diri kepada Allah.”
terang Syekh Siti Jenar.

“Perbedaannya?” keningnya semakin berkerut.

“Karena yang namanya dekat berbeda dengan manunggal. Manunggal bukanlah dekat.
Dekat bukanlah manunggal.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Namun sekarang
sebaiknya Ki Ageng Pengging shalatlah dulu, berceritalah setelah selesai
mendirikannya.” tambahnya.

“Baiklah, Syekh.”

Keadaan di padepokan Syekh Siti Jenar sore itu terasa segar. Panas matahari
tidak menyengat seiring dengan bayang-bayang manusia yang kian meninggi.

-------------------

Udara pegunungan terasa sejuk, pepohonan dan tumbuhan berdaun lebat menambah
suasana asri. Padepokan yang ditata sedemikian rupa menambah khusuk para pencari
ilmu.

“Syekh…” Kebo Kenongo mendekat, “Shalat saya sudah selesai.”

“Baiklah,” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, “Apa yang andika rasakan saat
shalat?”

“Tidak ada.”

“Tidakah merasakan sejuknya udara pegunungan? Tidakkah andika melihat kain
serban yang terhampar di tempat sujud?” lanjut Syekh Siti Jenar.

“Tidak,” jawab Kebo Kenongo.

“Tidakkah andika mendekati Allah?” tanyanya kemudian.

“Saya tidak merasakannya. Tidak pula menjumpainya.” ujar Kebo Kenongo. “Mungkin
shalat saya terlalu khusuk.”

Syekh Siti Jenar menengadah ke langit, lalu duduk bersila di atas rumput hijau
yang dihampari tikar pandan. Gerak-geriknya tidak luput dari pandangan Kebo
Kenongo.

“Lihatlah!” kedua tangannya ditumpuk di bawah dada. Tiba-tiba tubuhnya
mengangkat dari tikar yang didudukinya dengan jarak satu jengkal, dua jengkal,
satu hasta, dua depa.

“Apa yang terjadi, Syekh?” Kebo Kenongo garuk-garuk kepala, keningnya
berkerut-kerut.

“Ini hanyalah bagian terkecil akibat dari pendekatan dengan Allah…” dalam
keadaan melayang, matanya menatap tajam ke arah Kebo Kenongo.

“Hasil pendekatan? Jadi bukan manunggaling kawula gusti?” dengan menahan kedip
Kebo Kenongo bertanya.

“Saya belum menerangkan tentang manunggaling kawula gusti. Namun kita tadi
berbicara tentang upaya pendekatan…” terang Syekh Siti Jenar, perlahan menurukan
kaki satu persatu hingga akhirnya kembali menyentuh tanah.

“Dengan jalan shalatkah?” tanya Kebo Kenongo. “Bukankah saya tadi waktu shalat
tidak menemukan apa pun, bahkan tidak bisa melakukan seperti yang Syekh
perlihatkan.”

“Jangan salah ini bukan shalat! Namun shalat adalah salah satu upaya untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Shalat tadi merupakan syari’at bagi pemeluk
Islam, juga ibadah bagi hamba atau abdi Allah. Maka hukumnya wajib.” urai Syekh
Siti Jenar, “Namun ketika orang belum lagi menemukan hakikat dari shalat, itulah
seperti yang Ki Ageng Pengging rasakan.”

“Hampa.” desis Kebo Kenongo, seraya menatap Syekh Siti Jenar dengan penuh
kekaguman.

“Kebanyakan orang adalah seperti itu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar
melangkah pelan.

“Jika demikian saya baru berada pada tahapan syari’at. Bisakah saya menemukan
hakikat yang dimaksud oleh Syekh Siti Jenar?” Kebo Kenongo seakan-akan
kehilangan gairah.

“Hakikat menuju pada pendekatan sebelum manunggaling kawula gusti, maka seperti
yang pernah saya jelaskan pada Ki Ageng. Kita meski berbeda agama namun bukanlah
andika harus memaksakan syari’at ajaran yang saya miliki untuk Ki Ageng
kerjakan. Karena kebiasaan andika adalah bersemadi. Bukankah dengan cara itu
andika merasakan hal yang berbeda, terutama dalam upaya pendekatan.” Syekh Siti
Jenar kembali mengurainya.

-------------------

“Benar, Syekh.” sejenak Kebo Kenongo merenung.

***

“Syekh, maafkan kami menghadap.” ujar Kebo Benowo dan dua temannya.

“Katakanlah!” Syekh Siti Jenar menatap Kebo Benowo dan teman-temannya.

“Kalau boleh, saya menginginkan ilmu yang Syekh miliki. Namun hendaknya Syekh
tidak marah terhadap permintaan saya.” Kebo Benowo dengan nada pelan.

“Jika seandainya saya memiliki ilmu maka tidaklah keberatan untuk memberikan.
Sudah sepatutnya ilmu itu diamalkan.” jawab Syekh Siti Jenar. “Ilmu jika semakin
sering diamalkan dan diajarkan maka akan semakin bertambah. Namun sebaliknya
jika ilmu itu tidak pernah diamalkan (dibagikan) apalagi kikir untuk
mengajarkannya, secara perlahan akan hilang dari diri kita. Hendaklah tidak
ditukar dengan emas atau uang, apalagi dijual belikan, kalau tidak ingin hilang
hakikatnya.” urainya kemudian.

“Ya, Syekh. Jadi kalau begitu saya bisa memohon kepada Syekh untuk diajari
ilmu.” Kebo Benowo semeringah kegirangan. “Ternyata Syekh sangatlah baik,
berbeda dengan orang-orang yang memiliki ilmu tinggi lainnya. Mereka selalu
meminta imbalan, kalau tidak berupa tumbal.”

“Apa yang andika inginkan dari ketidaktahuan saya?” tanya Syekh Siti Jenar.

“Syekh selalu merendah. Saya menginginkan ilmu untuk bertarung, dan ilmu untuk
mengubah daun menjadi emas.” ujar Kebo Benowo.

“Bukankah andika sudah jago bertarung? Mengapa mesti saya yang mengajari?” Syekh
Siti Jenar membetulkan duduknya. “Untuk apa bisa mengubah daun menjadi emas?”

“Dalam urusan bertarung secara fisik saya bisa. Namun saya masih kalah dengan
ilmu Syekh waktu bertarung saat itu.” Kebo Benowo menelan ludah. “Juga jika saya
bisa mengubah daun menjadi emasmaka saya akan menjadi orang kaya raya seantero
negeri Demak Bintoro.”

“Baiklah, pelajarilah itu.” ujar Syekh Siti Jenar.

“Bagaimana cara mempelajarinya?” tanya Kebo Benowo mengerutkan keningnya.

“Dekatkanlah diri andika pada Sang Pencipta, niscaya apa pun yang andika
inginkan akan terkabul. Karena Sang Penciptalah yang memiliki segalanya.” terang
Syekh Siti Jenar.

“Caranya itu yang susah, Syekh. Harus bagaimana?”

-------------------

“Banyak cara untuk menuju Allah. Laksanakanlah itu, baru andika akan bisa.
Mintalah apa yang andika inginkan.” terang Syekh Siti Jenar.

“Saya tidak mengerti dan paham, Syekh.” Kebo Benowo garuk-garuk kepala. “Saya
ingin langsung bisa tanpa harus melalui tahapan rumit yang Syekh sebutkan.
Mustahil Syekh tidak bisa memberikannya.”

“Tidak mustahil bagi Allah. Jika memang Dia menghendaki. Jadi, maka jadilah.”
ujar Syekh Siti Jenar.

“Saya sudah bisa?” Kebo Benowo bangkit dari duduknya, lalu memetik selembar daun
basah dan diusapnya dengan kedua telapak tangan. “Wahhh…benar-benar hebat ilmu
yang Syekh berikan. Saya sudah bisa mengubah daun menjadi emas. Terimakasih
Syekh!” berjingkrak-jingkrak kegirangan.

“Saya juga, Syekh?” Loro Gempol bangkit dan mencabut golok dari sarungnya, “Lego
Benongo, babatlah tubuh saya dengan golok ini. Cepat!” menyodorkan golok pada
temannya.

“Baik, bersiaplah!” tanpa ragu-ragu lagi Lego Benongo membabatkan golok pada
Loro Gempol yang berdiri tegak. “Hiaaaaaaattttt….!!!”

“Hebat, benar-benar hebat.” Loro Gempol ternyenyum bahagia, ketika tubuhnya
dibabat oleh Lego Benongo tidak merasakan apa pun bahkan seperti membabat angin.
“Sudah, Benongo. Cukup!” lalu duduk bersila dihadapan Syekh Siti Jenar.

“Itu yang kalian inginkan. Sudah saya berikan.” Syekh Siti Jenar menggenggam
tasbih dengan tangan kirinya.

“Terimakasih, Syekh. Syekh telah mengajarkan dan mengamalkan ilmu kepada kami
semua dengan satu kalimat, hingga keinginan kami tercapai.” Kebo Benowo tampak
senang, begitu juga temannya. “Kami tidak akan pernah melupakan jasa baik Syekh,
yang telah kami anggap sebagai guru. Untuk itu izinkanlah kami pulang kampung.”

“Kembalilah, karena hanya itu yang kalian ingin raih.” Syekh Siti Jenar masih
dalam keadaan bersila, terdengar mulutnya komat-kamit membacakan dzikir, sambil
memutar tasbih. Perlahan-lahan tubuhnya samar dari pandangan Kebo Benowo dan
temannya. Hingga akhirnya tidak terlihat.

“E..eh, menghilang!” Kebo Benowo menggosok-gosok kedua matanya, begitu juga ke
dua temannya. “Aneh, kemana beliau?”

“Ya, hebat.” Loro Gempol memutar matanya menatap ke segala arah, menyisir
keberadaan Syekh Siti Jenar, “Benar-benar lenyap.”

“Tidak jadi soal. Karena apa yang kita inginkan telah kita peroleh. Disamping
itu kita pun sudah meminta izin untuk kembali ke kampung. Menghilangnya Syekh
Siti Jenar berarti merestui kita semua. Mari kita turun dari padepokan ini!”
Kebo Benowo bangkit dari duduknya, diikuti temannya. Mereka pun turun dari
padepokan menuju kampungnya.

***

“Kalian orang-orang miskin! Sebaiknya tunduk dan takluk pada saya.” Loro Gempol
berkacak pinggang di hadapan orang-orang yang berbondong-bondong menuju tempa
sabung ayam.

“Keparat! Apa maumu?” Joyo Dento pemimpin kelompok sabung ayam “Masa andika
tidak mendengar? Bukankah saya menyuruh andika dan kawan-kawan agar tunduk!?”
Loro Gempol dengan sorot mata meremehkan.

“Tunduk? Jangan harap, keparat!” Joyo Dento mencabut keris dari sarungnya.
“Memangnya andika seorang senapati? Enak saja.”

“Hahaha…ternyata andika punya keberanian Joyo Dento?” Loro Gempol tidak
bergeming melihat ketajaman ujung keris yang terhunus.

“Kawan-kawan, habisi dia!” perintah Joyo Dento pada temannya.

“Majulah kalian semua! Buktikan kehebatan kalian jika memang sanggup
membunuhku…hahaha!” Loro Gempol tertawa renyah.

“Matilah andika keparat!” Joyo dento menyodokan keris ke arah uluhati. Diikuti
empat orang temannya, menyodok perut, membabat leher, punggung, kepala, dan
kaki.

“Hahahaha….hanya ini kemampuan kalian!” Loro Gempol menanatang. “Ayo
teruskan…hahaha!” sedikit pun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Membiarkan
lawan melakukan serangan.

“Gila?” Joyo Dento menghentikan gerakan, tenaganya merasa terkuras. Begitu pula
teman-temannya. “Ilmu apa yang dimiliki si Loro Gempol? Rampok kampungan ini
mendadak punya kesaktian yang luar biasa. Seluruh senjata yang kita gunakan
untuk mecabik-cabik tubuhnya, laksana menghantam angin?” mengerutkan keningnya.

“Percaya kalian sekarang dengan kesaktian saya?” Loro Gempol dengan tangan kiri
berkacak pingging, tangan kanannya memutar kumis.

“Darimana andika punya ilmu sihir?” tanya Joyo Dento.

-------------------

“Hahaha…ini bukan ilmu sihir bodoh! Tapi ilmu miliknya orang sakti yang berasal
dari Sang Pencipta Alam Semesta.” ujar Loro Gempol. “Percaya kalian sekarang
pada saya? Jika percaya dan tidak punya lagi keberanian sebaiknya jadi pengikut
saya! Tunduk pada saya!”

“Mana mungkin saya harus tunduk pada andika? Sedangkan saya belum andika
kalahkan.” tantang Joyo Dento.

“Jadi kalian mau saya musnahkan ketimbang tunduk pada saya?” Loro Gempol
menghunus goloknya.

“Sebaiknya kita ikuti saja keinginannya.” ujar teman Joyo Dento, meringis
ketakutan.

“Benar, Kang. Sebaiknya kita jadi pengikutnya saja ketimbang dihabisi.” bisik
yang lainnya.

“Benar juga. Ketimbang kita mati mengenaskan.” jawab Joyo Dento, seraya kakinya
mundur beberaba langkah.

“Ayo pikirkan sekali lagi! Saya masih memberi kesempatan pada kalian. Pilih mati
atau jadi pengikut saya?” ujar Loro Gempol sembari menyilangkan golok di depana
dadanya.

“Kami menyerah saja, Ki.” ujar Joyo Dento serempak.

“Hahaha…bagus. Kenapa tidak dari tadi kalau mau menyerah, untung saja golok ini
belum bersarang pada leher kalian.” Loro Gempol kembali menyarungkan goloknya.
“Ikutlah kalian ke tempat saya.”

***

“Syekh, ternyata saya lebih bisa merasakan mendekati Sang Pencipta dengan cara
bersemadi.” Kebo Kenongo melangkah pelan di samping Syekh Siti Jenar.

“Karena Ki Ageng Pengging sudah terbiasa dengan cara itu.” ujar Syekh Siti Jenar
pandangannya tertunduk ke ujung kaki.

“Benar, seperti Syekh sampaikan. Cara pendekatan dan kebiasaan ternyata tidak
mudah untuk dirubah. Namun ketika kita menggunakan jalan yang berbeda ternyata
memiliki tujuan sama.” Kebo Kenongo menghela napas dalam-dalam.

“Kenapa? Ya, karena itulah yang disebut manunggal. Satu.” terang Syekh Siti
Jenar, menghentikan langkahnya seraya matanya menatap puncak gunung yang
berkabut.

“Benar, Syekh. Orang melakukan tata cara dan ritual dalam wujud pisik yang
berbeda namun tujuannya tetap satu. Sang Pencipta.” tambah Kebo Kenongo.

“Satu harapan untuk mendapatkannya. Mendekatkannya, meraihnya, dan manunggal.”
terang Syekh Siti Jenar. “Namun belum manunggaling kawula gusti, yang akhirnya
wahdatul wujud.”

“Lantas?”

“Mereka mendekatkan diri kepadanya bukan untuk tujuan manunggal, tetapi untuk
mengajukan berbagai macam permohonan dan keinginan. Karena mereka lebih
mencintai urusan lahiriyah yang cenderung duniawi ketimbang urusan alam kembali,
akhirat.” Syekh Siti Jenar melirik ke arah Kebo Kenongo.

“Bukankah ada juga orang yang tidak terlalu tertarik pada urusan lahiriyah saja?
Namun mereka menginginkan kesempurnaan hidup dan masuk dalam tahap akrab dengan
Sang Pencipta?” kerut Kebo Kenongo, tatapannya mendarat pada wajah Syekh Siti
Jenar yang bercahaya.

“Itulah yang jumlahnya sangat sedikit, Ki Ageng Pengging.” lalu Syekh Siti Jenar
memberi isyarat dengan jari jemari tangannya. “Kecenderungan orang melakukan
pendekatan pada Allah karena mengharapkan sesuatu, atau orang tadi dalam keadaan
susah. Ketika mereka merasa senang dan bahagia, lupalah kepadanya.”

“Mengapa, Syekh?”

-------------------

“Karena tujuan pendekatan mereka untuk meraih dan memohon kebaikan lahiriyah
saja.” terang Syekh Siti Jenar. “Ketika merasa sudah terkabul keinginannya,
kemudian melupakan Allah.”

“Bukankah tidak semua orang seperti itu, Syekh?” tanya Kebo Kenongo.

“Tidak, hanya hitungannya lebih banyak.” Syekh Siti Jenar melipat jari
jemarinya. “Sangat sedikit orang yang punya kecenderungan untuk mengikat
keakraban dengan Sang Pencipta. Padahal tahap terkabulnya permohonan mereka
bukan karena akrab, tapi dalam upaya mendekat dan kemahamurahannya saja. Jika
seandainya mereka sudah merasa akrab dan berada dalam keakraban tidak mungkin
melepas ikatannya semudah itu.” urainya.

“Jika sudah akrab saya kira tidak mungkin orang untuk menjauh. Karena untuk
mengakrabi perlu upaya mendekatan yang memerlukan waktu tidak sebentar.” Kebo
Kenongo mengangguk-anggukan kepala.

“Ya, maka tahap akrab dengan Allah itulah ketika orang dalam keadaan ma’rifat.
Ketika kita tidak memiliki lagi garis pemisah untuk saling bertemu. Kapan pun,
dimanapun, tidak ada lagi sekat-sekat dan ruang kosong sebagai jeda untuk
mengakrabinya.” Syekh Siti Jenar menghela napas dalam-dalam.

“Ya, ya, benar, Syekh.” Kebo Kenongo berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya.

“Nah, pada tahap akrab itulah kita meminta apa pun tidak mungkin tertolak. Mana
ada keakraban tanpa adanya keterikatan kasih sayang?” Syekh Siti Jenar perlahan
melangkah lagi.

“Tentu, Syekh. Saya sangat paham.” Kebo Kenongo terkagum-kagum dengan uraian
Syekh Siti Jenar.

“Keakraban dengan Allah tidak mudah. Namun ketika kita sudah berada dalam
lingkarnya tidak mudah pula untuk melepas.” Syekh Siti Jenar berdiri mematung di
bawah pohon kenanga.

“Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabinya belum
juga sampai. Karena upaya saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan
berbagai permohonan. Namun ingin mengakrabinya.” ujar Kebo Kenongo. “Jika dalam
keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan diberinya?”

“Ya,” ujar Syekh Siti Jenar. “Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika
sudah tercapai, keinginan lahiryah pun secara perlahan tidak lagi menjadi
persoalan yang sangat istimewa. Itu semua dirasakan hanyalah sebagai pelengkap
lahiryah saja. Sebagai syarat hidup.”

-------------------

“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar.
“Padahal tidak hanya Raden Patah yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi
Penguasa Demak Bintoro. Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak
punya hasrat sedikit pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya bukan itu, tetapi
seperti Syekh terangkan tadi.”

“Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma’rifat. Ruang kosong,
antara, jarak, jeda, pemisah, yang merintangi keakraban kita dengan Sang
Pencipta.” terang Syekh Siti Jenar. “Perintang tadi berupa semua keinginan
lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian, karena ingin berkuasa, ingin
kekayaan, dan banyak keinginan. Itu semua yang dinomor satukan. Lahirnya
keserakahan.”

“Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap.”
ujar Kebo Kenongo. “Mana mungkin menuju akrab untuk mendekat pun kita harus
mencari cahaya jika tidak tentu membabi buta.”

“Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah. Jernihkan
hati, tenangkan jiwa, damaikan gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka
jalan keakraban.” tambah Syekh Siti Jenar. “Manusia terkadang sangat sulit
menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam dirinya memiliki
nafsu yang sangat sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju
keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya sebatas berucap
dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam kenyataannya tidak. Lalu
mengakui bahwa saya telah ma’rifat. Sebenarnya ma’rifat bukan sebuah pengakuan,
tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelenggulah dengan ikatan kata-kata.”

“Ya.” Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar.
“Adakah perbedaan antara ma’rifat dengan akrab? Atau memang sama ma’rifat adalah
akrab, sedangkan akrab adalah ma’rifat?” tanyanya kemudian.

“Orang yang sudah ma’rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentu sudah
ma’rifat.” terang Syekh Siti Jenar, jubahnya yang berwarna hitam berlapis kain
merah tersibak angin pegunungan.

“Ma’rifat itu sendiri?” kerut Kebo Kenongo.

“Tahu, Mengetahui.” berhenti sejenak. “Namun tidak cukup itu, tentu saja harus
diurai dengan maksud dan makna yang terarah. Mengetahui tentang apa? Tahu
tentang apa? Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan
makna akrab. Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal Gustimu, Allahmu, maka
harus mengenal dirimu sendiri.” Lanjut Syekh Siti Jenar.

“Saya pernah mendengar, Syekh.” Kebo Kenongo merenung. “Bukankah Tuhan itu lebih
dekat dari pada urat leher dan lehernya, bola mata putih dengan hitamnya?”

“Tentu,” Syekh Siti Jenar melirik ke samping. “Namun itu sifatnya umum. Tidak
masuk ke dalam makna akrab. Bahkan ma’rifat juga mungkin tidak.”

“Bukankah untuk menuju ma’rifat pun tidak mudah, Syekh? Tetapi ada tahapannya,
yaitu Syariat, hakikat, tharikat, dan akhirnya ma’rifat.” ujar Kebo Kenongo.

-------------------

“Harusnya demikian.” Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan
matanya, tertuju ke puncak pegunungan. “Bukan berarti orang harus memahami
tahapan tadi. Karena tanpa memahami tahapan tadi pun orang bisa berada dalam
tingkat ma’rifat, disadari atau diluar kesadarannya. Sebab tidak semua orang
wajib tahu tentang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas
bisa merasakannya.”

“Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri.”
tambah Kebo Kenongo. “Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya
nama yang berbeda.”

“Benar,” timpal Syekh Siti Jenar. “Namun tetap maksudnya sama. Hanya sebutannya
saja yang berbeda. Sehingga saya tadi mengurai seperti itu.”

“Ya.” Kebo Kenongo menganggukkan kepala.

***

“Ki, saya sudah berhasil mengumpulkan orang-orang untuk dijadikan pengikut
kita.” ujar Loro Gempol menjatuhkan patatnya di atas kursi rotan.

“Saya juga sama, Ki.” timpal Lego Benongo. “Mau kita apakan mereka, Ki?”

“Menurut kalian?” Kebo Benowo balik bertanya.

“Ki, bukankah andika masih keturunan dari raja-raja yang ada di tanah Jawa?”
Loro Gempol menatap wajah Kebo Benowo.

“Siapa turunan raja? Raja rampok yang andika maksud?” Kebo Benowo tersenyum.
“Kenapa andika pun berbicara seperti itu, Gempol?”

“Maksud saya, tidak lain mengumpulkan banyak pengikut tidak untuk dijadikan
rampok, tapi mereka kita jadikan prajurit yang tangguh.” terang Loro Gempol.

“Jadikan prajurit? Memang andika mau mengadakan pemberontakan pada raja Demak
yang sah?” tatap Kebo Benowo.

“Benar, rajanya andika, Ki.” Loro Gempol menganggukan kepala. “Saya jadi patih,
sedangkan Lego Benongo sebagai Senapati. Joyo Dento kita angkat sebagai
Panglima.” terangnya.

“Andika ini tidakkah sedang bermimpi disiang bolong, Gempol.” Kebo Benowo
terkekeh.

“Mengapa bertanya seperti itu, Ki?” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Bukankah
andika layak menjadi seorang raja. Kita sudah banyak pengikut. Kita punya
kesaktian dan uang, yang belum kita miliki adalah kekuasaan dan wilayah, karena
saat ini sedang dikuasai Demak. Tidak ada salahnya jika Raden Patah kita
taklukan, berada dalam perintah kita.” urainya.

“Gempol, andika jangan berpikir terlampau jauh.” Kebo Benowo bangkit dari
duduknya.

“Kenapa aki selalu berbicara seperti itu. Tidakkah aki yakin pada kekuatan kita,
bukankah banyak pengikut, bisa menciptakan uang, dan ilmu yang tinggi.” Loro
Gempol meninggi.

“Bukan demikian maksud saya, Gempol.” Kebo Benowo diam sejenak. “Meski kita
punya banyak pengikut, menciptakan uang dan emas, serta ilmu tinggi, tentu saja
semuanya tidak sebanding dengan kekuatan Penguasa Demak, Raden Patah. Selain itu
mereka memiliki para wali yang selalu mendampingi dan memakmurkan masjid demak.
Mereka semua memiliki ilmu yang cukup tinggi, kita tidak ada apa-apanya
dibanding mereka.” urainya.

“Benar juga ya, Ki.” Loro Gempol mengerutkan dahinya. “Namun untuk menghadapi
para wali bukankah kita punya guru yang hebat, Syekh Siti Jenar, beliau bisa
menghadapi para wali.”

“Andika jangan berpikir seperti itu, Gempol.” Kebo Benowo bangkit dari duduknya.
“Karena Syekh Siti Jenar bukan orang yang gila kekuasaan. Mana mungkin dia mau
melakukan pemberontakan dan meraih kekuasaan. Syekh Siti Jenar adalah orang yang
sangat bersahaja, tidak tertarik pada urusan duniawi apalagi kedudukan dan
kekuasaan. Beliau adalah ulama yang telah menyatu dengan Sang Pencipta. Mustahil
tertarik dengan hal-hal yang berbau lahiryah. Karena menurut beliau kesenangan
lahiryah hanyalah sekejap, yang paling nikmat adalah ketika beliau berada dalam
tahap manunggaling kawula gusti. Bukan begitu? Tentu berbeda dengan
kecenderungan kita.” terangnya.

“Baru terpikirkan, Ki.” Loro Gempol membetulkan duduknya. “Namun aki sendiri
apakah punya keinginan untuk meraih kekuasaan dan menikmati kesenangan dunia?”

-------------------

“Tentu saja. Karena saya orang biasa dan seperti halnya orang lain, punya
ambisi. Sebab saya bukanlah Syekh Siti Jenar.” ujar Kebo Benowo. “Namun
seandainya kita memiliki keinginan seperti andika jelaskan tadi tentunya harus
dengan cara lain.”

“Cara lain?” Loro Gempol meletakan telunjuk di keningnya.

“Ya, karena jika ingin memberontak. Kita harus mengukur kekuatan pasukan kita,
lalu bandingkan dengan kekuatan Demak. Pikirkan pula tentang logistik kita
selama berperang, selain itu ilmu kadigjayaan kita sudah sejauhmana, mungkinkah
bisa mengalahkan para wali yang berilmu tinggi?” ujar Kebo Benowo.

“Benar juga, Ki.” Loro Gempol mengangguk-anggukan kepala.

“Itulah yang mesti kita pertimbangkan sebelum bertindak.” timpalnya. “Kita
haruslah berpikir matang jika tidak ingin mati sia-sia, seperti halnya anai-anai
menyambar api.”

“Jika demikian harus bagaimana caranya, Ki?” Loro Gempol menatap Kebo Benowo,
seraya dahinya mengkerut.

“Itulah yang mesti kita pikirkan…” Kebo Benowo memijit dahinya.

Keadaan hening sejenak, pikiran mereka menerawang ke alam kejadian yang akan
datang. Berbagaimacam cara mereka olah dan cerna, demi tercapainya ambisi
kekuasaan.

***

“Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?” tanya Kebo Kenongo.

“Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh.” Syekh Siti Jenar menatap
langit, “Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu
saling kejar di ketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan.”

“Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?”

“Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur
batas, menjauh dan mendekatkan.” terang Syekh Siti Jenar.

-------------------

“Maksud Syekh?” kerut Kebo Kenongo. “Samakah dengan yang saya dengar tentang
Isra Mi’rajnya Nabi Muhammad?”

“Ya, namun berbeda.”

“Maksudnya?”

“Jika Rasululah Isra Mi’raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya
tidak.” ujar Syekh Siti Jenar.

“Saya kurang paham, Syekh?” Kebo Kenongo memijit keningnya.

“Ya, saya tidak bisa seperti Rasulullah. Sebab saya bukan beliau…” terang Syekh
Siti Jenar. “Namun saya bisa menyatu dengan kekuatannya dan dzatnya. Hingga
ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri Demak dengan sekejap itu bukan
persoalan yang mustahil.” tambahnya.

“Benarkah itu, Syekh?” Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya.

“Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng
berkedip! Karena kepergian saya ke pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip,
kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti itu pula. Saya dari pusat Kota Demak
Bintoro akan membawa makanan segar.” usai berkata-kata, samarlah wujud Syekh
Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo.

“Lha,” Kebo Kenongo menggosok-gosok kedua matanya. “Benarkah yang sedang terjadi
dan kuperhatikan ini?”

“Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng.”

“Lha, aih..aih..!” Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti
Jenar sudah berdiri kembali seraya menyodorkan makanan hangat dengan bungkus
daun pisang.

“Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk
bersila di atas hamparan tikar pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus
makanan hangat yang beralaskan daun pisang. “Sekarang marilah kita makan
alakadarnya.”

“Ya,” Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan. “Saya tidak sanggup untuk
memikirkannya, Syekh? Kenapa andika hanya dalam kedip pergi ke pusat kota Demak
Bintroro untuk mendapatkan hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari
padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu satu hari satu malam?”

-------------------

“Benar, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar mengangguk. “Namun bukankah kita
tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?”

“Maksud, Syekh?”

“Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi
Sulaiman AS.?” ujar Syekh Siti Jenar.

“Yang pernah Syekh baca dari ayat suci Alquran itu? Saya agak lupa.” Kebo
Kenongo menempelkan telunjuk didahinya.

“Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk
memindahkan kursi Ratu Balqis ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan
singgasana Ratu Balqis dalam waktu yang sangat cepat, hingga jin Iprit
menyanggupi.”

“Ya, saya ingat, Syekh.” Kebo Kenongo tersenyum. “Namun bukankah Jin Iprit itu
terlalu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat
Baginda Nabi bangkit dari tempat duduk maka singgasana akan pindah…”

“Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman. Karena bangkit
dari duduk memerlukan waktu beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta
mengungkapkan kesanggupannya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng Nabi Sulaiman
berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil dia bawa. Hanya satu
kedipan.” terang Syekh Siti Jenar. “…dan terbuktilah kehebatan ulama tadi.”

“Ya, benar, Syekh.” ujar Kebo Kenongo, “Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa
dicerna dan dipahami dengan keterbatasan berpikir manusia.”

“Tidak semua manusia seperti itu, Ki Ageng.” terang Syekh Siti Jenar. “Itulah
manusia kebanyakan, terkadang perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu
dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam dirinya
mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu terjadi maka akan gelap
untuk meraba dan meraih yang saya maksud.”

-------------------

“Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan
kebodohan dan kekurangan diri kita…” timpal Kebo Kenongo. “Namun dalam uraian
tadi apa yang membedakan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?”

“Tentu saja sangat berbeda.” Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya
menatap langit. “Jin itu makhluk gaib, tidak aneh bagi bangsa mereka terbang,
melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang sekecil
lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang dikehendakinya.”

“Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?”

“Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang tertentu
saja yang bisa menembus alam jin. Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa
menampakan diri pada manusia.” terang Syekh Siti Jenar. “Sehebat apa pun bangsa
jin tentunya tidak bisa melebihi manusia.”

“Bukankah pada zaman ini banyak pula orang-orang yang memiliki ilmu jin bahkan
mengabdikan diri, karena ingin mendapat kesaktiannya.” timpal Kebo Kenongo.
“Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan kesaktian atas
bantuan bangsa jin yang dijadikan tuannya.”

“Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng. Mereka tidak melihat asal usul,
jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya. Termasuk
jin.”

“Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah
mereka dan memanpaatkan kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan
jin?”

“Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya
terdiri dari bangsa jin, selain binatang dan manusia?”

“Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka,
Syekh?”

“Tentu saja, Ki Ageng.” ujar Syekh Siti Jenar. “Namun jika kita sudah memiliki
ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin.
Karena kita bukan raja seperti Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit
dan abdi setia. Untuk dijadikan balatentara dan membangun negara, dengan
arsitek-arsitek yang kokoh. Jin dijaman Nabi Sulaiman di suruh menyelami laut
untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan kaca yang
membatasi kolam dibawahnya.”

“Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?”

“Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah
Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai
oleh Malaikat Jibril kemana pun beliau pergi.”

“Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukkan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana
dengan jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?”

“Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin. Karena yang mencabut nyawa
jin juga Malaikat seperti halnya nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak
perlu menundukan Malaikat, karena dengan sendirinya Malaikat akan di utus oleh
Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai
pembawa wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.” urai Syekh
Siti Jenar.

“Syekh sendiri siapa yang mengawal?”

“Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya
ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak
saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak dikawal oleh bangsa jin…” Syekh Siti
Jenar kembali duduk bersila.

“Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?”

-------------------

“Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin
yang mengawal saya kemana pun pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga
dengan ilmu itu saya pun bisa memanggil prajurit Allah yang empat.” tambah
Syekh Siti Jenar.

“Prajurit Allah?” kerut Kebo Kenongo. “Apakah para Malaikat? Kalau di dalam
agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka.”

”Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa.”
berhenti sejenak, lalu tatapan matanya menyapu wajah Kebo Kenongo.

“Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,”

“Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan
bangsa jin yang goib?” tanya Kebo Kenongo.

“Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita.
Hanya yang membedakan kita dengan Malaikat, dia adalah goib. Malaikat memiliki
keimanan tetap dan tidak pernah berubah, berbeda dengan bangsa manusia dan jin.
Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang paling mulia, tetapi
sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap.
Bahkan manusia akan didapati sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah
binatang.” urai Syekh Siti Jenar.

“Lalu prajurit yang dimaksud?”

”Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan
segala tugas yang diembannya.”

“Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?”

“Mungkin, Ki Ageng.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. “Sedangkan prajurit
Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak,
dengan tujuan manusia berbalik pada jalan lurus. Mengingatkan kekeliruan yang
pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya tentu saja menyadarkan,
jika yang menedapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang
tidak pernah mau bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.”

“Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?”

-------------------

“Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…” Syekh Siti Jenar melangkahkan
kakinya perlahan. “…pertama adalah angin. Lihatlah angin yang lembut dan
sepoi-sepoi, namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa
memporak-porandakan bangunan sehebat apa pun, menghancurkan pohon-pohon yang
tertancap kokoh, menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan
menghancurkan sebuah kota atau perkampungan. Lantas ketika angin mengamuk siapa
yang bisa membendung dan menghalang-halangi?”

“Tidak ada, Syekh.”

“Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia, angin pada syariatnya.
Padahal angin itu hakikatnnya membawa pesan pada manusia, pada para khalifah
bumi, agar menyadari kekeliruan yang pernah diperbuatnya. Manusia yang melakukan
keruksakan di muka bumi maka akan kembali pada perbuatannya, akibatnya. Namun
dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka
lebih banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran
semata, karena itu semua akibat dari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ilmu
yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun terbatas hanya pada
bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan
ilmu.” urai Syekh Siti Jenar, seraya langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di
tepi jalan, matanya menyapu tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih
yang berlapis-lapis.

“Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasil menangani
sedikit persoalan saja, Syekh?”

“Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang
kebanyakan. Maka jika demikian tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh
keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya.” ujar Syekh Siti Jenar.
“Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya terang. Dia tidak akan
pernah berbuat congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya.
Sehingga orang seperti itu akan selamanya sanggup memahami segala hal dengan
jernih….”

-------------------

“…sangat sulit, Syekh.” Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam. “…pantas saja
diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma’rifat, karena telah sanggup
membersihkan batin dari noda-noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai ma’rifat
tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal-hal yang membutakan,
menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan,
kesombongan, angkara, rasa iri dan dengki. Namun rasanya sulit untuk melepaskan
hal-hal tadi, Syekh. Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada
dalam hiruk pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadir di sisi kiri, kanan,
depan, dan belakang kita?”

“…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan
jasadiyah?” timpal Syekh Siti Jenar. “Duniawi adalah kebutuhan lahiriyah,
sedangkan menuju ma’rifat adalah proses perjalanan batin menuju akrab.”

“Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa
menggelapkan mata batin. Sehingga kita selalu memperjuangkan kepentingan
jasadiyah tanpa kendali dan melupakan kebutuhan batinnya. Nah, untuk
menyeimbangkan itulah yang sangat sulit.”

“Sebetulnya kita tidak perlu seimbang dulu. Namun itu terlalu berat untuk
kebanyakan orang dan tidak mungkin dapat tercapai. Sebab bagi yang telah
ma’rifat dan akrab tidak perlu jauh melangkah tinggal mengatakannya, apa yang
diinginkan akan datang atau berada dalam genggaman.” terang Syekh Siti Jenar,
lantas membuka telapak tangannya dan diacungkan ke langit, lalu dikepalkan.
“…lihatlah! Inikah yang Ki Ageng inginkan?”

“Benar, Syekh. Andika selain bisa membaca keinginan batin saya juga dapat
membuktikannya hanya dengan mengepalkan tangan.” Kebo Kenongo
menggeleng-gelengkan kepala, seraya memujinya.

***

“Sudahkah andika menemukan cara yang tepat untuk menguasai Demak?” Loro Gempol
menatap wajah Kebo Benowo.

-------------------

“Meski saya telah berkali-kali memikirkannya belum juga menemukan cara yang
tepat, Gempol.” Kebo Benowo menempelkan telunjuk dikeningnya. Lalu bangkit dari
duduknya, menggendong kedua tangannya dibelakang, dahinya berkerut-kerut,
kakinya melangkah pelan. “….bagaimana…cara termudah?”

“Bolehkah saya berbicara?” Joyo Dento mengangkat kepalanya.

“Apa yang akan andika katakan, Dento? Bantulah saya berpikir!” tatap Kebo
Benowo.

“Menurut hemat saya, negara Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram.
Namun bukan berarti ketenangan ini tidak bisa diusik.”

“Semua orang tahu! Apa maksud andika!” timpal Loro Gempol meninggi.

“Mohon maaf, Ki Gempol. Bukankah saya belum selesai bicara?”

“Lanjutkan, Dento!” ujar Kebo Benowo mengacungkan telapak tangannya, seraya
menatap Loro Ge,pol agar memberi kesempatan bicara pada Joyo Dento.

“Negeri Demak Bintoro kini dalam keadaan tenang dan tentram. Sangat sulit bagi
kita untuk melakukan pemberontakan apalagi penggulingan kekuasaan. Namun bukan
berarti suasana tenang dan tentram ini tidak bisa diubah, menjadi kacau balau
dan carut marut.” Joyo Dento berhenti sejenak, matanya merayap mengelilingi
ruang pertemuan. Kembali tatapannya tertuju pada Kebo Benowo.

“Maksud andika?” Loro Gempol tidak sabar.

“Maksud saya, untuk merubah suasana tenang dan tentram ini harus menciptakan
keadaan sebaliknya.”

“Mengacau ketenangan masyarakat?” tatap Kebo Benowo. “Jika itu dilakukan berarti
tindakan kita untuk menggulingkan Raden Patah tidak akan berhasil, bahkan akan
mendapat kecaman dari rakyat. Karena mereka tahu bahwa kita pengacau. Sedangkan
yang kita harapkan dukungan rakyat, yang membetulkan tindakan kudeta. Jadi pada
intinya tindakan kita harus mendapat simpati dari rakyat.”

“Benar, maksud saya itu.” ujar joyo Dento.

“Maksud andika jelas salah, Dento! Tidakah andika membayangkan jika kita
merampok rakyat, mengganggu rakyat, sebaliknya mereka akan lebih simpati pada
Sultan.” sela Loro Gempol.

“Tentu, jika kita salah dalam melakukan tindakan.” terang Joyo Dento. “Saya
meskipun sehari-hari berada di pasar dan melakukan perbuatan sabung ayam, hanya
untuk melampiaskan hobi saja. Andika belum paham jika saya dulu pernah mengabdi
di Kadipaten Majapahit. Bahkan saya pun banyak belajar tentang politik dan
ketatanegaraan. Namun orang-orang Majapahit kini tidak mau lagi memperlihatkan
diri dan merasa antipati terhadap Raja Demak Bintoro, karena membaca kekuatan
sendiri. Jika melakukan hal tadi berarti akan ditangkap, termasuk Ki Ageng
Pengging, beliau lebih memilih hidup menjadi seorang petani, dengan nama lain.”

Mendengar uraian Joyo Dento yang membuka jatidirinya dan mengurai keahliannya,
Kebo Benowo, Loro Gempol, Lego Benongo, juga seluruh peserta sidang pada
kesempatan itu terkagum-kagum.

“Pantas saja, andika berbeda.” Kebo Benowo menggelengkan kepala. “Jika demikian
lanjutkanlah rencana dan dasar pemikiran andika. Andika mulai hari ini saya
angkat sebagi penasehat saya dan yang lainnya.”

-------------------

“Terimakasih, Ki Benowo.” Joyo Dento menghela napas, “Saya sebetulnya sejak dulu
mencari teman dan orang yang ingin melakukan pemberontakan, sekaligus
penggulingan kekuasaan terhadap Raden Patah. Namun kini saya baru menemukan
orang yang benar-benar punya niat dan tujuan yang sama dengan saya. Jadi tidak
ada salahnya jika saya pun mendukung gerakan ini.”

“Kita tidak salah bergabung, Dento.” ujar Kebo Benowo.

“Hanya sayang, yang semestinnya Ki Ageng Pengging yang harus maju dan bergabung
dengan kita sama sekali tidak tertarik. Ki Ageng Pengging sesungguhnya memiliki
darah biru yang sangat kuat, karena beliau keturunan raja Majapahit.” Joyo
Dento berhenti sejenak, “Namun meski pun demikian andikalah yang ternyata
berani maju, Ki Benowo. Tidak ada salahnya, saya akan mendukung. Hanya dalam
hal ini kita harus punya strategi yang tepat. Seperti yang saya uraikan pertama
kali.”

”Ya, tentang pembicaraan semula. Lanjutkan apa rencana tadi?” pinta Kebo
Benowo. “Baiklah,” ujar Joyo Dento.

***

”Dengarkan para pengemis!” teriak Kebo Benowo, matanya menyapu para pengemis
yang bersila di pinggir jalan menuju pasar. “Kenapa andika semua mesti jadi
pengemis? Tidak inginkah hidup mewah seperti para penduduk kota Demak Bintoro?
Tidak inginkah kalian menjadi orang kaya, seperti para pejabat negara? Bukankah
mereka itu manusia seperti kita? Harus sadar pula bahwa kita pun memiliki hak
yang sama seperti mereka. Tidak sadarkah jika para pejabat Negeri Demak telah
mendzalimi kalian semua? Membiarkan kalian terlantar dipinggiran jalan.
Sementara mereka bersenang- senang di pusat kota Demak Bintoro. Tidak sadarkah
bahwa mereka telah melupakan kita selaku rakyat? Mereka telah menelantarkan
kita dalam lingkaran kemiskinan dan penderitaan. Kalian harus paham akan semua
itu. Sesungguhnya hak kalian telah dirampas oleh mereka.”

“Jadi kami mesti bagaimana, Ki? Sedangkan kami pun tidak ingin menjadi orang
miskin.” ujar seorang pengemis paruhbaya.

“Ingatlah, bahwa kalian memiliki hak yang sama seperti para penguasa negeri
ini. Mintalah hak kalian!” ujar Kebo Benowo.

“Tidak mungkin? Mustahil keinginan kita dikabulkan oleh para penguasa dzalim
yang tidak peduli akan nasib rakyatnya, yang miskin seperti kami.” ujar si
pengemis paruhbaya.

“Jika tidak mungkin menurut kalian, tidak perlu menyesal dengan nasib yang
dialami. Karena kehidupan dunia ini hanyalah sekejap, setelah itu kita akan
mati. Untuk itu biarkanlah mereka itu menikmati hidupnya sebagai penguasa,
karena mereka hanyalah mayat-mayat hidup yang menunggu kematian. Sedangkan
kematian merupakan pertemuan kita dengan Sang Pencipta, untuk menemui
kenikmatan yang abadi.” urai Kebo Benowo.

“Benarkah kematian itu merupakan kenikmatan yang abadi dibandingkan dengan para
penguasa yang sekarang sedang menikmati kesenangan?” kerut pengemis paruhbaya.

“Benar, karena mereka pun akan mati. Setelah mati maka ditangisi oleh
keluarganya, lalu harta yang mereka agung-agungkan ditinggalkan untuk
diperebutkan oleh keturunannya. Jadi apa artinya harta kekayaan juga kekuasaan.
Toh, kita pun akan mati dan meninggalkan semua kesenangan duniawi yang bersifat
sekejap. Bayangkanlah kesenangan setelah kematian. Bukankah nenek moyang kalian
tidak pernah ingin kembali ke dunia ini dari kuburnya? Mengapa demikian? Karena
mereka menikmati kematian yang teramat menyenangkan dan menentramkan.” Kebo
Benowo yang memahami secara dangkal ajaran Syekh Siti Jenar, mencoba mengurai
sesuka hatinya.

“Benar juga yang andika katakan, Ki.” si pengemis paruhbaya mengagguk-anggukan
kepala, begitu juga yang lainnya. “Memang kehidupan ini hanyalah samsara,
penderitaan dan kesengsaraan. Sedangkan kematian merupakan nirwana, kesenangan
yang teramat membahagiakan. Karena bisa melepaskan kita dari berbagai
penderitaan.”

”Itu benar, Kisanak.” Kebo Benowo mengacungkan jempolnya. “lihatlah mereka
yang tadinya hidup susah, lalu dalam keadaan sakit dan sekarat, akhirnya mati
tersenyum. Mereka mengakhiri segala penderitaan dengan kematian. Untuk apa kita
hidup di negeri mayat, jika itu bukan mayat yang sesungguhnya. Mereka semua
hanyalah mayat-mayat berjalan, tidak memiliki rasa dan kepekaan. Meskipun punya
jabatan dan kekayaan namun tidak bisa mereka nikmati. Maka kematianlah
sesungguhnya kenikmatan setiap manusia, yang harus kita raih dan dapatkan.”

-------------------

“Saya setuju, Ki.” pengemis paruhbaya bangkit. “Jika demikian marilah kita
songsong kematian…saya ingin mati!” teriaknya. Selanjutnya diikuti oleh para
pengemis lainnya.

Para pengemis bangkit dari duduknnya seraya berjalan-jalan keliling sambil
berteriak-teriak menyongsong kematian. Ada juga yang nekad membenturkan
kepalanya ke atas batu hingga pecah dan meninggal, ada juga yang terus berjalan
menunggu ajal tanpa makan.

“Hahahaha…mungkin itulah yang dimaksud Joyo Dento.” Kebo Benowo mengawasi para
pengemis sambil tersenyum.

***

“Hebat andika Joyo Dento.” puji Kebo Benowo seraya menepuk-nepuk bahunya.
“Sekarang keadaan negeri Demak Bintoro akan dilanda oleh kekacauan, serta krisis
kepercayaan. Itu semua alhasil dari hasutan kita agar masyarakat miskin antipati
terhadap penguasa. Benar-benar cerdik daya pemikiran andika, Dento.”

“Itulah yang harus kita ciptakan. Strategi pertama untuk menggoncang keaadaan
negara. Setelah ini berhasil dan di dengar beritannya oleh para penguasa negeri
Demak Bintoro, maka pertama-tama mereka akan mencari tahu penyebabnya.” ujar
Joyo Dento.

“Mungkinkah mereka akan menangkap kita sebagai penghasut?” tanya Loro Gempol.

“Sangat tidak mungkin, Ki.” jawab Joyo Dento yakin.

“Kenapa? Bukankah kita penghasutnya?” timpal Kebo Benowo.

“Karena kita bukan menghasut tapi berbicara berdasarkan kenyataan. Mereka pun
tidak mudah menuduh kita sebagi pengasut, dalam menciptakan kekacauan di negeri
Demak Bintoro tanpa adanya bukti yang kuat.” terang Joyo Dento.

“Benar juga, Dento.” Kebo Benowo menganggukan kepala.

“Jika keadaan negara sudah kacau balau, rakyat tidak percaya lagi pada penguasa,
maka mereka akan sibuk. Dalam keadaan seperti itulah kita mengadakan tindakan.”
Joyo Dento mengepalkan tangannya.

“Melakukan kudeta?” celetuk Loro Gempol.

“Apa mungkin kita mampuh menggulingkan kekuasaan Raden Patah?” kerut Kebo
Benowo. “Karena kekacauan seperti ini tidak seberaba, jika dibanding dengan
kekuatan negara Demak Bintoro yang sesungguhnya. Lalu kita juga harus berkaca,
apa mungkin kekuatan kita sudah cukup untuk melakukan penyerangan?”

-------------------

“Apa salahnya jika kita mencoba? Siapa tahu menang.” tambah Loro Gempol seraya
menggenggam gagang goloknya.

“Benar, kita mesti mencoba dan berusaha. Untuk mengukur kekuatan kita, sudah
semestinya begitu.” terang Joyo Dento. “Namun dalam tindakan percobaan kita
harus menciptakan strategi penyerangan yang berbeda. Agar kita pada waktunya
tidak konyol dan membahayakan diri sendiri.”

“Jika demikian ijinkan saya menyiapkan pasukan untuk menyerbu Demak Bintoro, Ki
Benowo.” Loro Gempol Bangkit dari duduknya, langkahnya berat dan pasti.

“Tunggu dulu, Gempol!” Kebo Benowo berteriak.

“Kenapa mesti menunggu lagi? Bukankah kita akan mencoba kekuatan?” langkah Loro
Gempol terhenti di depan pintu.

“Benar, Ki Gempol. Namun ingatlah yang saya katakan tadi. Meski dikalangan
rakyat miskin sedang terjadi kekacauan, namun itu belum seberapa.” terang Joyo
Dento. “Kekacauan tadi hanya bersifat lokal, sangat kurang berpengaruh terhadap
stabilitas keamanan negeri Demak Bintoro. Sebaiknya sebelum melakukan
penyerangan sebarkan dulu kekacauan tadi hingga merebak seantero negeri Demak
Bintoro.” urainya.

“Benar, Gempol. Apa yang dikatakan Joyo Dento sebaiknya diikuti, karena dia
sudah saya angkat sebagai penasihat.” ujar Kebo Benowo, seraya menepuk bahu Loro
Gempol.

“Baiklah jika itu perintah Ki Benowo.” Loro Gempol menganggukan kepalanya,
seraya kembali ke tempat duduknya.

-------------------

“Baguslah jika andika setuju.” Kebo Benowo tersenyum bahagia, lalu melirik ke
arah Joyo Dento, dalam benaknya menaruh berjuta harapan demi cita-citanya
menggenggam kekuasaan di negeri Demak Bintoro. “Apa rencana berikutnya, Dento?”

“Baiklah, kita menyusun strategi berikutnya.” Joyo Dento menempelkan jari
dikeningnya seakan-akan berpikir sangat keras.

***

“Syekh, rasanya sangat berat untuk menempuh jalan ma’rifat.” Kebo Kenongo nampak
tidak ceria.

“Ya, tentu saja.”

“Mungkinkah saya harus bertahap? Menurut tahapan ilmu, Syekh?”

“Tidak selalu, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari
duduknya. “Bukankah saya menyarankan jika seandainya andika kesulitan mengikuti
ilmu Islam, hendaknya ikutilah ajaran agama yang andika anut. Bukankah andika
tinggal satu atau dua langkah lagi menuju ma’rifat, setelah itu akrab. Orang
yang akrab dengan Allah itulah seperti yang pernah saya uraikan sebelumnya.”

“Ya,” Kebo Kenongo menggeleng, “Itu dibicarakan sangatlah mudah, Syekh. Namun
untuk melaksanakannya terasa berat, dan sulit untuk membuka tabirnya. Jika
sekali saja tabir itu sudah terbuka tentulah berikutnya akan lebih mudah.”

“Benar,” Syekh Siti Jenar terdiam sejenak, matanya yang sejuk dan tajam beradu
tatap dengan Kebo Kenongo. “Ya, hanya Sunan Kalijaga yang bisa…” gumamnya.

“Sunan Kalijaga?”

“Tidak perlu dipikirkan! Apalagi mempertanyakannya.” Syekh Siti Jenar kembali ke
tempat duduknya.

***

“Kanjeng Sunan Giri, tahukah anda tentang Syekh Siti Jenar?” tanya seorang
jemaah paruhbaya, usai melaksanakan sholat zuhur di masjid Demak.

“Ya,” Sunan Giri menatapnya, “Memang kenapa dengan Syekh Siti Jenar, Ki Demang?”

“Dia telah meresahkan.” jawab Ki Demang.

“Meresahkan?”

“Ya,”

“Memang apa yang telah dia perbuat, Ki Demang?”

“Syekh Siti Jenar telah mengacaukan keadaan rakyat negeri Demak Bintoro,
Kanjeng.”

“Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri mengerutkan dahinya.

-------------------

“Namun sebelumnya saya ingin tahu dulu.”

“Tentang apa?”

“Apakah Syekh Siti Jenar juga seorang wali seperti anda?”

“Bukan! Dia hanyalah sosok yang tidak jelas asal usulnya. Juga ilmu yang
didalaminya entah dari mana sumbernya.”

“Tapi bukankah dia juga seorang ulama yang memiliki ilmu tinggi?”

“Mungkin saja, Ki Demang. Tetapi dia bukan wali seperti saya dan yang lainnya.
Selain asal usulnya tidak jelas, dia juga mempelajari ajaran Islamnnya entah
dari mana?”

“Berkaitan dengan itulah yang kini meresahkan dikalangan rakyat negeri Demak
Bintoro, Kanjeng.”

“Maksud, Ki Demang?” Sunan Giri menatap tajam wajah Demang Bintoro, dahinya
dikerutkan. “Apakah Syekh Siti Jenar membuat ulah?”

“Kemungkinan besar itulah yang sedang terjadi, Kanjeng.”

“Tolong jelaskan, Ki Demang! Apa yang terjadi?”

“Syekh Siti jenar telah menyebarkan ajaran sesat, Kanjeng.”

“Ajaran sesat?” Sunan Giri terperanjat.

“Benar,”

“Maksud Ki Demang ajaran sesat seperti apa?”

“Kehidupan ini adalah kematian…kematian adalah keabadian….”

“Lalu?”

“Lantas mereka banyak yang melakukan bunuh diri. Karena punya anggapan bahwa
kehidupan ini adalah penderitaan. Buktinya mereka banyak yang miskin dan
menjadi gelandangan. Sedangkan kematian itu adalah indah dan menyenangkan.”
Demang Bintoro menghela napas, “Mereka punya anggapan dengan jalan kematian bisa
terlepas dari semua penderitaan dan kesengsaraan…”

“Celaka!” Sunan Giri menepuk keningnya.

“Sehingga banyak yang berteriak-teriak seperti orang gila mencari kematian dan
keindahan abadi yang diharapkannya. Lalu bunuh diri…” tambah Demang Bintoro.
“Saya pun datang ke mesjid Demak dari kademangan tidak lain hanya ingin
menyampaikan kabar ini kepada para wali.”

“Ini merupakan hal yang sangat serius yang bisa mengancam ketentraman dan
keamanan negeri Demak Bintoro.” Sunan Giri bangkit dari duduknya, lalu matanya
menatap para wali lain yang sedang melakukan wirid. Dipanggilnnya mereka untuk
berundingsejenak. “Jangan dulu pulang Ki Demang, andika harus menyampaikan
kejadian ini pada para wali.”

-------------------

“Baiklah, Kanjeng.” Demang Bintoro menganggukan kepala, seraya menatap para wali
yang mulai duduk berkeliling di tengah masjid sesuai permintaan Sunan Giri.

***

‘Bagaimana pun juga aku harus menghadap Ki Ageng Pengging. Meskipun dia tidak
berambisi untuk menjadi penguasa negeri Demak Bintoro. Namun aku tidak rela jika
bekas para abdi Majapahit berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Raden Patah.’
ujar hati Joyo Dento, seraya tangannya menggenggam tali kendali kuda yang
ditungganginya, berjalan pelan mendekati padepokan Syekh Siti Jenar.

‘Siapa tahu Ki Ageng berubah pikiran mendukung perjuangan ini, apalagi jika
Syekh Siti Jenar turun tangan untuk membantu. Aku yakin pemberontakan ini tidak
akan terlalu berat, karena mereka orang-orang sakti dan cerdas. Jauh berbeda
dibanding dengan Kebo Benowo mantan rampok bego, hanya punya ambisi semata dan
kekuatan yang belum tentu bisa menandingi para wali.’ Joyo Dento menghentikan
langkah kuda, lalu dikatnya pada sebuah pohon di tepi jalan. ‘Tunggu saja kamu
disini kuda. Karena tidak mungkin sanggup menaiki jalan yang menyerupai tangga.
Biar aku berjalan kaki saja untuk menemui mereka.

Joyo Dento meluruskan pandangannya ke depan, usai mengikat kuda tunggangannya.
Lalu melangkah pelan, menaiki jalan yang dipapas menyerupai tangga.

‘Banyak juga jumlah anak tangga ini,’ tangannya menyeka keringat yang mulai
membasahi keningnya. ‘…tapi akhirnya aku sampai juga dipuncak…eh…ternyata masih
ada jalan lurus membentang menuju padepokan.’ Joyo Dento berhenti sejenak
menikmati sejuknya udara pegunungan dan hijau ranumnnya dedaunan, serta
pemandangan puncak gunung yang tersaput mega putih.

“Indah!” gumamnya. “Tempat ini di tata sangat bagus, membuat orang kerasan.
Kanan kiri jalan dihiasi oleh pepohonan hijau, rerumputan…Syekh Siti Jenar
menyukai keindahan dan keasrian alam.”

Joyo Dento menghentikan langkahnya di depan pintu pagar padepokan, “Sampurasun!”

“Masuklah Joyo Dento!” terdengar suara yang menyebut namanya, sedangkan
wujudnnya entah dimana.

“Syekh Siti Jenarkah yang memanggil saya?” Joyo Dento memutar pandanganya, suara
itu seakan-akan datang dari segala arah. “Bukankah aku ini sedang berada di
depan pintu pagar padepokan?” gumamnnya.

“Benar,”

“Baiklah.” Joyo Dento membuka pintu pagar, seraya berdiri di depan pintu
padepokan dan mendorongnya pelan. “Kenapa didalam tidak ada orang? Lantas Syekh
Siti Jenar memanggil saya dari mana?”

“Bukalah mata hati andika, Dento!”

“Ki Agengkah itu?” Joyo Dento membelalakan matanya, menelisik ruang kosong, di
depannya hanya terdapat hamparan tikar.

“Benar, ini saya.”

“Namun Ki Ageng tidak saya temukan, begitu juga Syekh Siti Jenar? Padahal
suaranya seperti berada didepan saya.” Joyo Dento memijit-mijit dahinya.

“Tataplah dengan mata terbuka, jangan dengan mata tertutup.”

“Tapi saya sudah menatapnnya dengan mata terbuka, Ki Ageng Pengging. Namun saya
tidak bisa menemukan keberadaan andika selain suara. Dan ruangan ini kosong,
hampa, tidak ada orang?” Joyo Dento semakin kebingungan. Namun matanya merayap
dan tertuju pada dua hamparan tikar yang berada dihadapannya.

-------------------

“Bukankah saya ada dihadapan andika, Dento?” ujar Kebo Kenongo, seiring dengan
bergeraknya hamparan terusik angin sepoi tikar. Pelan-pelan wujud keduanya yang
sedang duduk bersila mulai tampak.

“Ki Ageng, terimalah sembah hormat hamba!” Joyo Dento langsung saja menekuk
lututnya seraya mengacungkan kedua tangannya menyembah. “Begitu juga pada Syekh
Siti Jenar, seorang wali yang memiliki kesaktian tinggi. Ijinkanlah hamba pada
saat ini menghadap!”

“Saya ijinkan, Dento.” Kebo Kenongo tersenyum.

“Terimakasih, Ki Ageng.” lalu melirik ke arah Syekh Siti Jenar, wajahnya tampak
memancarkan cahaya yang menyilaukan matanya, hingga tidak sanggup menatapnya.
Joyo Dento pun menunduk. “Saya mohon maaf Syekh Siti Jenar karena telah lancang
datang ke padepokan yang indah dan asri ini. Karena hamba punya maksud dan
tujuan….”

“Saya memaklumi, dan tahu akan tujuan dari kehadiran andika ke padepokan ini.
Bukankah untuk meminta restu serta bantuan kami berdua atas upaya ambisi
menggulingkan kekuasaan Raden Patah.” terang Syekh Siti Jenar.

“Duh, mohon maaf Syekh. Ternyata andika memiliki ilmu sangat tinggi. Pantas saja
Kebo Benowo dan kawan-kawannya sakti.” Joyo Dento semakin merunduk dan
tercengang, atas kehebatan Syekh Siti Jenar yang tahu akan maksud kedatangannya.
“Namun tidakah Syekh….”

“Tidak, karena saya mengajarkan ilmu pada siapa saja yang mengingkannya. Kebo
Benowo dan kawan-kawan mantan rampok yang memiliki ambisi untuk menggulingkan
kekuasaan Raden Patah serta bermimipi ingin menjadi penguasa negeri Demak
Bintoro adalah sebuah taqdir.” Syekh Siti Jenar seakan-akan sudah mengetahui
setiap rencana, bahkan yang belum terujar masih tersimpan di dalam hati pun bisa
diketahuinya. Lebih dari itu dia pun seakan-akan tahu masa depan yang akan
terjadi. “Baik saya atau pun Ki Ageng Pengging tidak akan melarang tindakan
andika, merestui pun tidak. Merestui atau pun tidak saya dan Ki Ageng Pengging
adalah bagian dari taqdir andika semua.”

“Lantas?” Joyo Dento bergumam, sudah kehabisan kata-kata. Sebab semua yang akan
diucapkannya sudah mereka ketahui. “Jika saya sudah tahu seperti ini mungkin
tidak akan berkunjung ke padepokan ini. Cukup dari kejauhan saya minta restu.”

“Andika tidak perlu menyesal datang ke padepokan ini. Karena ini adalah
perjalanan lahiriyah andika selaku manusia.” Syekh Siti Jenar menatap.
“Sedangkan keinginan andika untuk membangkitkan kembali kekuatan Majapahit yang
telah runtuh itu pun hak andika. Ki Ageng Pengging junjungan andika tidak mau
terlibat bahkan memilih sebagai petani dan hidup di pedesaan itu pun bagian dari
taqdir. Ki Ageng dan saya berbuat seperti ini karena sudah tahu apa yang akan
terjadi dan teralami berikutnya.”

“Saya tidak paham, Syekh.” Joyo Dento Semakin menunduk. “Namun meski pun kurang
paham akan semuanya. Saya tidak akan surut untuk terus berjuang bersama yang
lainnya demi kembalinya kekuasaan Majapahit. Tetapi bolehkah saya mengetahui apa
yang akan terjadi pada saya dan lainnya?”

“Tidak hanya andika yang terbunuh. Saya dan Ki Ageng Pengging pun akan mengalami
hukuman mati.” jelas Syekh Siti Jenar dengan wajah tenang.

“Kenapa? Benarkah itu? Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini, Syekh?”
Joyo Dento garuk-garuk kepala, dalam benaknya muncul pemikiran antara percaya
dan tidak terhadap ujaran Syekh Siti Jenar. “Bukankah Syekh ini orang sakti?
Tidak bisakah menghentikan taqdir itu?”

-------------------

“Sudahlah! Andika tidak perlu bertanya lagi tentang taqdir. Jalani saja ambisi
dan rencana semula. Jika ingin berhenti silahkan!”

“Tapi tidak mungkin saya menghentikan rencana ini. Sebab kesempatan dan peluang
baik seperti sekarang hanya datang satukali, mengingat dukungan penuh Kebo
Benowo juga para pejuang Majapahit yang tidak menyukai bayang-bayang kekuasaan
Raden Patah.”

“Sudah terjawab bukan? Apa yang saya maksudkan tadi?”

“Terjawab?” Joyo Dento semakin mengkerutkan dahinya.

“Dento,” ujar Kebo Kenongo lirih.

“Ya, Ki Ageng.” tatapan Joyo Dento penuh pertanyaan ke arah Kebo Kenongo. “Saya
mohon diri, juga Syekh Siti Jenar. Niat dan rencana saya sudah bulat untuk
meruntuhkan kekuasaan Raden Patah demi kembalinya kekuatan Majapahit.” lalu
perlahan bangkit dari duduknya.

Joyo Dento sudah meninggalkan padepokan Syekh Siti Jenar, langkahnya pelan mulai
menginjak tangga paling atas, lalu ujung kakinya yang tidak lepas dari
tatapannya menurun, menginjak yang berikutnya. Hingga akhirnya habis dan kembali
ke sebuah pohon yang dijadikan tempat menambat kudanya.

Sejalan dengan itu benaknya terus berpikir, mencerna setiap perkataan Syekh Siti
Jenar begitu pula Kebo Kenongo. “Mereka berdua seakan-akan sudah tidak peduli
pada urusan duniawi dan kekuasaan. Padahal mereka memiliki kemampuan dan ilmu
yang cukup tinggi. Benar benar tidak habis pikir. Masih hidup malah berpikir
dihukum mati. Kenapa bisa bilang akan kena hukuman mati? Bukankah itu ucapan
seorang pengecut? Belum bertindak sudah takut pada hukuman mati yang dicap
sebagai pemberontak dan mengganggu kesetabilan pemerintahan. Dia juga menyebut
bahwa aku akan bertemu dengan kematian artinya kegagalan. Tidak mungkin?
Bukankah aku suda memiliki strategi yang cukup hebat. Demak Bintoro sebentar
lagi akan kacau dan goncang….”

Joyo Dento telah berada di atas punggung kuda, lalu tangannya memegang tali
kekang. Kuda pun dicambuk hingga berlari kencang meninggalkan padepokan Syekh
Siti Jenar. Seiring dengan terbukanya sayap malam, yang diawali senja teramat
singkat, ditandai warna langit yang memerah laksana darah peperangan. Taubah
angkara yang mengundang banjir darah, hingga menciprat di atas lapisan awan
putih.

***

“Para wali yang saya hormati, itulah alasannya kenapa pada hari ini ada
persidangan.” ujar Sunan Giri.

“Haruskah kita melaporkan hal ini pada Sinuhun agar langsung mengirim prajurit
ke Kademangan Bintoro untuk menangkap mereka.” timpal Sunan Muria.

“Menurut hemat saya, sebaiknya kita selidiki dulu.” Sunan Kalijaga memutar
pandanganya, lalu beradu tatap dengan Sunan Bonang. ‘Kanjeng, terjadi juga hal
yang akan menyulitkan Syekh Siti Jenar. Rasanya perjalan waktu terlalu cepat
untuk hal ini.’ batinnya.

‘Benar, Kanjeng.’ Sunan Bonang membalas tatapan Sunan Kalijaga, seraya bercakap
dengan batin. ‘Cepat atau lambat itulah taqdir Syekh Siti Jenar. Namun bukan
hari ini…masih ada beberapa saat..’

“Ada apa Kanjeng Sunan Bonang dan Kanjeng Sunan Kalijaga?” tatap Sunan Giri.

“Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Saya pun sependapat dengan Kanjeng Sunan Kalijaga,
alangkah lebih baiknya sebelum bertindak dan melakukan penangkapan diadakan
penyelidikan terlebih dahulu.” ujar Sunan Bonang.

“Saya setuju, Kanjeng.” timpal Sunan Kudus. Ucapan itu diikuti oleh para wali
yang sedang bersidang.

“Ki Demang,” Sunan Giri memutar pandanganya ke arah Demang Bintoro. “Itulah
keputusan kami selaku para wali. Semoga Ki Demang memaklumi.”

“Terimakasih, Kanjeng.” Demang Bintoro mengagukan kepala, seraya menunduk
hormat. “Laporan saya telah ditanggapi dan langsung dibawa ke mahkamah
persidangan para wali. Serta kami sangat memaklumi sekali atas segala putusan
yang telah para wali ambil. Sehingga saya pun akan melakukan penyelidikan yang
lebih mendalam, mengenai ajaran Syekh Siti Jenar yang tersebar di Kademangan.
Namun dalam hal ini kami bukanlah seorang ulama dan tidak terlalu paham akan
ajaran Islam. Semoga bersedia kiranya para wali mengutus seorang ulama atau
siapa saja yang paham betul akan ajaran Islam, sehingga dalam mengukur kesesatan
ajaran yang disebarluaskan Syekh Siti Jenar tahu batasannya.”

-------------------

“Baiklah, Ki Demang.” ujar Sunan Giri, seraya memutar pandangannya pada para
wali dan ulama yang berkumpul dalam persidangan di dalam masjid Demak. “Mungkin
tidak wali yang pergi ke kademangan. Siapakah di antara ulama yang siap
melakukan tugas ini, menyertai Ki Demang?”

Keadaan hening sejenak, para wali dan ulama saling tatap satu sama lain. Etah
apa yang terbersit dalam benak dan pikiran mereka masing-masing, seraya mengelus
dada dan menarik napas dalam-dalam.

Sepertinya dalam hati mereka ada sesuatu yang mengganjal, seandainya Syekh Siti
Jenar dan pengikutnya benar-benar menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan,
tentu saja akan mendapat hukuman yang sangat berat. Lantas yang mereka pikirkan,
tegakah berbuat seperti itu? Meski disisi lain mungkin harus juga kebenaran itu
ditegakan. Lalu barometer kesalahan dan kebenaran yang berlandaskan pada apa?

“Adakah yang sanggup?” suara Sunan Giri memecah keheningan.

“Saya kira para ulama merasa berat hati untuk menyampaikannya, Kanjeng.” Sunan
Kalijaga menatap Sunan Giri. “Bagaimana jika saya saja?”

“Jangan dulu, Kanjeng!” potong Sunan Giri. “Mengapa persoalan kecil ini mesti
seorang yang berpangkat wali turun tangan? Jika yang lain tidak ada yang mampu
saya kira barulah wali turun tangan. Masa diantara para ulama yang hadir disini
tidak ada yang sanggup?”

“Mohon maaf, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Demang Bintoro. “Mungkin saya telah
merepotkan yang hadir disini. Biarlah saya saja dan ahli agama yang ada di
Kademangan melakukan penyelidikan ini. Semoga ilmu dia bisa saya andalkan,
sehingga kami tidak keliru memberikan laporan. Selanjutnya saya mohon diri.”
tanpa menunggu perkataan lebih lanjut dari Sunan Giri Demang Bintoro bangkit
dari duduknya, setelah mengucapkan salam menghilanglah dibalik pintu masjid
Demak Bintoro.

‘Bukankah tidak hari ini, Kanjeng?’ batin Sunan Bonang, matanya beradu dengan
tatapan Sunan Kalijaga.

‘Ya, itulah sebuah kenyataan. Itu juga ada rentang waktu dan perjalanan bagi
semuanya…..’ balas batin Sunan Kalijaga.

‘Bukankah Syekh Siti Jenar juga….’

‘Ya, saya sangat paham akan dia…’

“Baiklah, para wali yang saya hormati. Mungkin untuk tindakan selanjutnya kita
menunggu penyelidikan Ki Demang Bintoro.” Sunan Giri menutup persidangan.

***

“Ki Benowo,” Joyo Dento duduk di atas kursi yang berada di samping Loro Gempol,
tatapan matanya menyapu wajah Kebo Benowo. “Seperti yang saya duga, ternyata
benar.”

“Heran?” Kebo Benowo memijit keningnya. “Mengapa Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng
Pengging tidak tertarik pada kekuasaan. Padahal kalau seandainnya kita berhasil
meruntuhkan kekuasaan Raden Patah, sudah barang tentu mereka berdua akan
mendapat kedudukan yang pantas. Disamping dukungan mereka yang sangat kita
butuhkan dalam lingkaran perjuangan ini.”

“Jangankan andika, Ki Benowo. Saya sendiri sangat kaget akan prilaku junjungan
saya sendiri Ki Ageng Pengging.” ujar Joyo Dento. “Dia seakan-akan tidak peduli
lagi pada tanah leluhurnya yang telah dikuasai Raden Patah, meski hampir ada
keterkaitan darah. Namun Ki Ageng sendiri punya wewenang untuk menjadi penguasa,
mengapa beliau rela berada dibawah bayang-bayang kekuasaan Raden Patah, yang
seharusnnya kebalikannya.”

“Mungkinkah Junjunganmu itu terpengaruh oleh ilmu Syekh Siti Jenar, sehingga dia
tunduk dan setia sebagai pengikutnya?” timpal Loro Gempol.

-------------------

“Janganlah andika berkata demikian, Gempol!” tatap Kebo Benowo. “Bukankah Syekh
Siti Jenar juga guru kita dan telah mengajarkan ilmu yang kita pinta, sehingga
memiliki kesaktian tak terbatas.”

“Namun menurut hemat saya, mereka itu telah benar-benar mempelajari ilmu yang di
anut Syekh Siti Jenar?” kerut Joyo Dento.

“Bukankah kita juga mempelajari ilmu beliau?” tukas Loro Gempol, “Tapi kita
tidak berlaku seperti mereka?”

“Karena jiwa kita belum sempurna, Gempol.”

“Maksud, Ki Benowo?”

“Yang kita pelajari dari Syekh Siti Jenar bukanlah ilmu kebhatinan menuju jalan
ma’rifat. Tetapi yang kita pelajari dari beliau adalah ilmu kesaktian dan
keduniawian, bagaimana kita menjadi perkasa dan penguasa.” terang Kebo Benowo.

“Ya, benar itu, Ki Benowo.” Joyo Dento menganggukan kepala. “Meskipun saya hanya
sebentar berada di padepokan Syekh Siti Jenar, sudah paham betul keadaan di
sana. Mereka tidak memiliki ambisi untuk menjadi apa pun di dunia ini. Saya
yakin mereka punya anggapan bahwa dunia ini tidak berarti apa-apa jika
dibandingkan dengan kebahagiaan jiwa yang sedang mereka rasakan pada saat ini.”

“Tidak masuk akal!” Loro Gempol garuk-garuk kepal. “Bukankah orang menjadi sakti
dan menuntut ilmu itu demi kekuasan, harta berlimpah, dan mendapatkan
perempuan-perempuan cantik?”

“Sudahlah, Gempol! Kita tidak perlu ambil pusing dengan mereka. Karena kita
bukan mereka, mereka bukan kita. Tujuannya pun berbeda, mereka mendapatkan ilmu
demi tercapainnya ma’rifat dan kemanunggalan dengan Gusti. Sedangkan bagi kita
itu semua tidak mendapatkan tempat dihati, yang harus kita dapat adalah
kekuasaan negeri Demak Bintoro.” tandas Kebo Benowo.

“Benar, sangat jernih pemikiran andika, Ki Benowo.” Joyo Dento mengacungkan
jempolnya.

***

Matahari senja di langit sebelah barat tampak menyipratkan warna merah, mengubah
putihnya awan menjadi jingga. Seakan-akan cipratan darah di atas serpihan kain
putih.

Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, Ki Pringgoboyo, Ki Ageng Tingkir dan para
murid lainnya menyaksikan peristiwa itu dari ketinggian tangga yang menuju
padepokan Syekh Siti Jenar.

“Seperti suatu pertanda, Ki Bisono?” tatap Ki Donoboyo pada rekannya.

“Namun pertanda apakah gerangan jika memang itu sebuah pertanda?” Ki Bisono
mengerutkan dahinya.

“Saya kira itu hal biasa, Ki.” Ki Pringgoboyo seakan tidak tertarik dengan
fenomena alam tersebut.

“Benar,” Ki Ageng Tingkir menimpali, namun sejenak dahinya mengkerut. “Meskipun
ini sebuah kejadian biasa, bahwa setiap senja matahari akan menyipratkan warna
jingga? Tetapi ada hal yang aneh….”

“Maksud, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono menatap.

“Seperti sebuah pertanda.”

“Pertanda?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya, jiwa dan pikirannya
terhanyut oleh perkataan Ki Ageng Tingkir.

“Tafsirkanlah dengan batin, sahabatku.” Ki Ageng Tingkir kembali menatap langit
jingga.

Sejenak tidak lagi ada yang berbicara, lalu semuanya mengangkat kepala mendongak
ke langit. Mata dan batinnya mulai terusik untuk menoba mentafsirkan fenomena
alam yang sedang terjadi.

Raga mereka seakan-akan tidak merasakan hembusan angin senja itu, semuanya
berdiri laksana patung. Jasad mereka sama sekali tidak bergeming dari tempatnnya
berdiri, namun jiwa dan rasa menyatu bersama batin, seraya berusaha keras
membuka tabir dan membaca alam. Mereka memiliki satu tujuan mencoba menafsirkan
dan menterjemah ilmu hamamayu hayuning bawana, setelah berupaya memakmurkan
bumi, maka jiwa menyatu dengan bumi. Sukma meresap dengan alam, batin menembus
setiap serpih dan gerak, yang ada di alam raya. Pertautan antara alam raya dan
ruh.

“Ya, rasanya ini benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Bisono memecah keheningan.

“Begitu juga yang saya rasakan, Ki Bisono.” Ki Ageng Tingkir menarik napas
dalam-dalam, jasadnya mulai merasakan lagi semilir angin pegunungan. Pertautan
jiwa dengan alam telah kembali pada raganya masing-masing.

-------------------

“Meskipun kita bisa merasakan belumlah bisa mentafsirkan tentang pesan yang alam
sampaikan.” tambah Ki Ageng Tingkir.

“Benar, Ki Ageng Tingkir.” Ki Chantulo menarik napas dalam-dalam. “Meski sukma
kita sanggup berkomunikasi dengan alam, bertaut, dan bergumul. Rasanya sulit
untuk meterjemah dan menafsirkan sabda alam?”

“Padahal kita tahu maksud alam dengan kabaran dan berita yang dibawanya?” tambah
Ki Donoboyo, “…itu sebuah pertanda buruk. Namun dalam hal ini kita sangat
kesulitan untuk mengurai pesan tadi.”

“Meski kita tidak bisa mengurai pesan yang disampaikan alam, yang penting kita
paham pada pesan yang disampaikannya.” tukas Ki Bisono, “Disamping kita pun
sudah sanggup mengamalkan ilmu hamamayuning bawana yang diajarkan Syekh Siti
Jenar. Kekurangan kita kembali pada diri kita sendiri, karena tahapan kita
belumlah bisa menyamai guru kita Syekh Siti Jenar.”

“Ya, walau pun beliau sangat murah hati untuk memberikan ilmu apa saja yang kita
pinta.” tambah Ki Ageng Tingkir, mulai melangkahkan kaki pelan, disampingnya Ki
Bisono dan Ki Chantulo, yang lainnya mengikuti dibelakang. “Hanya kita yang
menerimanya ternyata berat untuk mengamalkan dan menguasainya, meski pun kita
secara bertahap dan berangsur-angsur sanggup menggenggamnya.”

“Tidak ada salah, Ki Ageng Tingkir. Jika sekalian dalam pertemuan hari ini di
aula padepokan fenomena alam yang kita lihat tadi, juga pesannya kita kemukakan
kepada Syekh Siti Jenar.” ujar Ki Donoboyo.

“Saya setuju, Ki.” Ki Chantulo mengangguk seraya mengacungkan ibu jarinya.

“Saya juga.” begitu pun Ki Pringgoboyo dan yang lainnya menyetujui, seiring
dengan langkah kakinya yang dipercepat menuju aula padepokan.

Matahari semakin merendah, perlahan menyelinap di balik punggung gunung dengan
warnanya yang semakin memerah.

Para murid Syekh Siti Jenar satu persatu mulai memasuki aula padepokan, dan
mengambil tempat duduk masing-masing bersila di atas tikar pandan yang
terhampar.

“Sebentar lagi senja berganti malam.” ujar Syekh Siti Jenar, matanya menyapu
setiap wajah yang duduk bersila memenuhi aula padepokan. “…warna jingga, merah
darah yang menciprat di antara serpihan awan pun akan hilang…semuanya ditelan
gelap malam. Tanpa cahaya, tanpa ada redup, tanpa ada remang, sama sekali dalam
gelap tidak akan pernah ada yang terlihat setitik bentuk pun. Kecuali hanya
warna pekat yang disebut gelap gulita.”

“Sungguh hebat beliau, Ki Ageng Tingkir?” Ki Bisono berbisik pada Ki Ageng
Tingkir yang duduk disampingnya.

-------------------

“Benar, Ki Bisono. Baru saja kita akan bertanya tentang sabda alam dan
pesannya, beliau sudah mengawali kalimat dengan yang akan kita tanyakan.” bisik
Ki Ageng Tingkir, “Syekh Siti Jenar benar-benar waspada permana tinggal.”
berdecak kagum.

“Hamamayu hayuning bawana, yang telah andika amalkan belumlah cukup. Sehingga
alam pun tidak utuh memberikan sabdanya, namun meskipun demikian andika telah
sanggup menyatu dengan alam meski belum sempurna.” Syekh Siti Jenar memutar
tasbih dengan tangan kirinya sambil duduk bersila, sorot matanya yang penuh
wibawa seakan-akan sanggup menembus relung hati para muridnya. Bibirnya selalu
meluncurkan dzikir, istigfar, dan takbir pada setiap sela-sela perhentian
bicara. “Namun tidaklah terlalu jauh, hanya tinggal satu tingkat lagi. Akhirnya
andika pun akan sampai pada tingkat penyatuan dengan alam. Ketika ingin menyatu
dengan setiap heningnya malam, tetesnya embun, semilirnya angin, jingganya
matahari, bukan soal yang berat. Andika semua akan bisa mencapai tahapan tadi,
hanya tinggal selangkah.”

“Benar, Syekh.” Ki Bisono menganggukan kepala. “Namun sesungguhnya kami telah
berada pada tahap rahmatan lil alaminkah atau belum, Syekh?”

“Andika sebetulnya tidak harus mendapat penilaian dariku.” tatapan Syekh Siti
Jenar menyapu wajah Ki Bisono yang langsung menunduk, tidak sanggup beradu
tatap. “Biarlah Allah SWT. yang memberikan penilaian. Namun dalam hal ini saya
hanya memberikan barometer bagi andika tentang rahmatan lil alamin atau hamamayu
hayuning bawana.”

“Saya pun berpikir, Syekh. Sudahkah saya ini menjadi manusia yang telah
memberikan rahmat bagi alam.” Ki Bisono mengerutkan dahinya, “…atau mungkin
sebaliknya hanya menjadi laknatan lil alamin. Padahal banyak orang bilang jika
dirinya sedang menebarkan rahmatan lil alamin, tetapi dalam kenyataannya mereka
malah menciptakan sebuah keruksakan dan kehancuran.”

“Benar, Syekh. Seperti yang dikatakan Ki Bisono, kebanyakan orang seperti itu,
antara ucapan dan perbuatannya kontroversi.” tambah Ki Chantulo.

“Andika tidak harus membicarakan orang lain.” Syekh Siti Jenar menghela napas
dalam-dalam, “Biarlah mereka seperti itu, karena mereka berbuat demikian maka
hasilnya pun akan mereka tuai pula. Namun sebaliknya, meski pun kita berusaha
mengamalkan hamamayu hayuning bawana, tidaklah selalu menuai hasil baik….”

“Maksud, Syekh?” para murid Syekh Siti Jenar serempak bertanya dan terkejut.

-------------------

“Tidakkah andika melihat sabda alam tadi?” Syekh Siti Jenar membelokkan
tatapannya melalui jendela padepokan ke arah mentari yang hampir menghilang di
balik punggung gunung. “Alam memberikan pesan berdarah?”

“Saya belum paham?” Ki Chantulo garuk-garuk kepala.

“Artinya berujung pada kematian. Namun andika jangan takut akan kematian, sebab
cepat atau pun lambat pasti akan datang.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah
murid-muridnya dengan tatapan mata tenang dan penuh wibawa, “Makanya saya
ajarkan hamamayu hayuning bawana, agar memudahkan jiwa ini menyatu dengan alam
dan kembali padanya. Orang takut akan kematian karena mereka menduga bahwa mati
itu sangat sakit dan mengerikan. Padahal itu semua tidak benar, mereka yang
merasakan sakit akan mati karena sebuah ketakutan dan ketidaksiapan. Padahal
kapan pun dan dimana pun kita bisa menemuinya. Tidak harus sakit atau menyakiti.
Hal mati itu sangatlah nikmat dan menyenangkan. Karena kematian itu sesungguhnya
menyatunya kembali jiwa kita pada dzat sebelumnya. Bukankah ketika kita belum
lahir ke dunia ini, apalagi belum beranjak menjadi manusia dewasa yang mengerti
baik dan buruk, ilmu dan akal, miskin dan kaya, senang dan duka, bukankah hal
itu tidak pernah kita rasakan sebelumnya? Itulah karena kita berada dalam
dzatnya, yang

teramat tentram dan tidak terusik oleh sesuatu dan apa pun.” urainya.

“Bukankah kematian itu banyak orang yang tidak mengharapkannya?” ujar Ki
Pringgoboyo.

“Ya,” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, “Karena mereka tidak paham dan mengerti
akan kematian.”

“Mungkin mereka takut mati karena terlalu sayang pada istri, anak-anak, dan
jabatannya?” Ki Bisono angkat bicara, “Sehingga dirinya diliputi rasa takut akan
meninggalkan orang-orang yang dicintainya, serta harta benda dan kedudukannya.
Akhirnya mati itu dibuatnya menjadi sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan,
Syekh.”

“Andika tidak salah, Ki Bisono.” Syekh Siti Jenar menyapa wajah Ki Bisono dengan
sorot matanya yang teduh dan tenang. “Terlalu mencintai kehidupan duniawi, yang
bersifat fana dan sejenak. Lalu mereka lupa pada kehidupan hakiki, kehidupan
yang sesungguhnya, setelah melewati pintu mati. Padahal kematian itu hanyalah
sebuah pintu menuju keabadian yang didalamnya bisa berbalut dengan kenikmatan,
penderitaan, kesedihan, tawa, duka, nestapa, itu semua tergantung kita
menanamnya pada kehidupan sebelumnya, yaitu di dunia ini. Hasil pekerjaan apa
pun yang pernah kita perbuat di dunia fana ini akan kembali kita tuai dan
nikmati di alam sana. Bisa bermacam-macam. Namun bagi kita yang mempelajari
hamamayu hayuning bawana tidaklah seperti itu. Apalagi kematian itu bukanlah
suatu hal yang menakutkan apalagi menyakitkan, tetapi kematian itu sesuatu yang
teramat indah dan menyenangkan. Jika mereka tidak bisa menemui ajal kapan pun
dan dimana pun, tetapi kita sebaliknya.”

“Bisakah kita menentukan ajal sendiri? Setidaknya mengetahui datangnya ajal?”
tanya Ki Bisono.

“Tentu saja. Karena kita berbeda dengan orang kebanyakan yang tidak mengetahui
sama sekali akan ilmu hamamayu hayuning bawana.” Syekh Siti Jenar menghela napas
sejenak, “Bukankah telah saya katakan bahwa ketika kita berada pada tahapan
ma’rifat semuanya menjadi tampak. Lalu kita berada dalam akrab. Setelah itu
barulah manunggaling kawula gusti.”

“Ya, saya telah merasakannya pada tahapan ma’rifat. Semuanya jadi tampak, tetapi
saya kesulitan menuju tahapan akrab dan manunggaling kawula gusti.” Kebo Kenongo
berucap, “Meski pun demikian saya sedang berupaya menuju ke tahap yang ingin
saya capai.”

-------------------

“Itu pasti akan tercapai, Ki Ageng Pengging. Selama kita tidak berhenti
berusaha.” terang Syekh Siti Jenar.

“Syekh, saya ingin kembali menanyakan tentang sabda alam tadi.”

“Silahkan, Ki Chantulo!”

“Maksud dari berita kematian itu seperti apa? Bukankah kita semua pasti akan
mati?”"Benar, Ki Chantulo. Namun maksudnya disini ada keterkaitan dengan
Kerajaan Demak. Kematian yang dimaksud disini terkait dengan para penguasa
negeri Demak Bintoro.” Syekh Siti Jenar menghentikan bicaranya, seraya
jari-jemari tangannya memainkan untaian mata tasbih, dari mulutnya meluncur
dzikir, istigfar, tahmid, tahlil dan tasbih. “Terkait pula dengan persoalan
keyakinan, terkait pula dengan kekacauan yang mengancam keamanan dan ketentraman
negara, terkait pula dengan banyak persoalan.”

“Kenapa mesti beritanya sampai kepada kita? Seakan-akan itu semua akan kita
alami?”

“Ya,”

“Jadi?”

“Tidak perlu takut, bukankah saya sudah membekali andika semua dengan ilmu
sehingga tidak menjadikannya aneh dan menakutkan. Sebaliknya kenikmatanlah yang
akan kita sambut.”

“Mengapa hal itu mesti harus menimpa kita, Syekh? Bukankah kita tidak melakukan
kesalahan?”

“Lupakah andika pada uraian saya tadi. Disini tidak lagi berbicara siapa yang
benar dan salah? Karena ini semua sudah menjadi kehendak alam, sunatullah.
Karena kehendak alam, makanya ilmu hamamayu hayuning bawana sebagai
penyempurnanya.”

“Saya kurang paham?” Ki Biosono memijit keningnya yang dikerutkan, lalu menatap
tikar pandan yang didudukinya.
-------------------

“Rasanya, tidak perlu dipahami untuk saat ini. Pemahaman tentang hal tadi akan
andika genggam menjelang peristiwa itu mendekat.” terang Syekh Siti Jenar
tenang. “Meski andika tahu akan hal tadi, amalkanlah hamamayu hayuning bawana.
Bertebaranlah seperti sebelumnya andika di atas tanah jawa dwipa ini untuk
menyebarluaskan ajaran agama Islam.”

“Baiklah, Syekh. Saya tetap akan menebar rahmat bagi sekalian alam. Rahmatan lil
alamin, hamamayu hayuning bawana.” ujar Ki Bisono. “Karena apa pun yang saya
lakukan dalam penyebaran agama Islam ini bukan untuk mencari popularitas,
bayaran, apalagi jabatan atau kekuasaan, serta pengaruh, namun itu semua saya
dasari dengan keikhlasan dan keridlaannya. Semoga pula Allah SWT. meridloinya.”
“Amin.”

***

“Malam ini cuaca cerah. Lihatlah bintang-gemintang berkedap-kedip di langit!”
Joyo Dento mengangkat kepalanya mendongak ke langit, ” Persiapkanlah diri
kalian, senjata, kuda, dan akal.” lalu menatap pasukan berpakaian serba hitam
yang berbaris rapih.

Mereka sejumlah pasukan pemberontak yang telah mendapat gemblengan olah
kanuragan dari para pendekar berlatar rampok, Kebo Benowo dan kawan-kawan.
Disamping ilmu keprajuritan dari Joyo Dento.

“Bagaimana kesiapan andika semua?” Kebo Benowo keluar dari sebuah pendopo yang
dijadikan markas. Tempat yang mereka diami terpencil dari penduduk, karena
berada tepat di pinggiran hutan.

“Saya kira mereka suda siap, Ki Benowo.” ujar Joyo Dento mendekat.

“Baguslah jika telah siap.” Kebo Benowo mengangguk-angukan kepala. “Sasaran
pertama?”

“Tentu saja sesuai dengan rencana.” Joyo Dento setengah berbisik, “Malam ini
kita harus bisa melumpuhkan Kademangan Bintoro. Jika sudah berhasil, langsung
kita duduki dan kuasai. Disanalah selanjutnya pusatkan sebagian kekuatan kita,
lalu perlebar sayap.”

“Hahaha….andika memang cerdas, Dento.” raut wajah Kebo Benowo berseri, “Namun
sudah memungkinkankah kita menggempur Kademangan Bintoro?”

“Saya kira mungkin, Ki Benowo. Sebab kekuatan Kademangan Bintoro sudah melemah.
Daya pikir rakyatnya sudah terpengaruh dengan ajaran hidup untuk mati. Yang
andika ajarkan dari Syekh Siti Jenar itu, sehingga mereka banyak yang bunuh diri
dan tidak semangat hidup.” terang Joyo Dento, “Apalagi membela negerinya dari
serangan kita, memikirkan diri sendiri pun sudah tidak tenang.”

“Benar, Dento.” seringai Kebo Benowo, “Hebat juga pengaruh ilmu Syekh Siti Jenar
jika demikian…terutama untuk membuat kekacauan.”

“Kapan kita akan berangkat?” Loro Gempol menyilangkan golok di dadanya, “Rasanya
saya sudah tidak sabar ingin memenggal leher penguasa Kademangan Bintoro!”

-------------------

“Kita akan melakukan penyerangan jelang tengah malam.” jawab Joyo Dento.
“Ketika mereka lengah dan baru saja menuju tempat tidur untuk bercengkrama
dengan mimpi-mimpinya.”

“Ya, saya setuju!” ujar Loro Gempol diiringi tawanya yang berderai. “Hai, para
pasukan gelap sewu! Andika dalam penyerangan nanti jangan ragu-ragu untuk
membunuh. Tidak perlu kalian mengasihani musuh sebelum mereka bertekuk lutut!”

“Siap!” jawab pasukan gelap sewu serempak.

“Hahaha…bagus jika andika semua sudah siap! Kita akan bergerak dan bertindak
sesuai rencana yang telah disusun Joyo Dento.” terang Loro Gempol. Mereka
percaya sepenuhnya pada setiap nasehat Joyo Dento.

Malam semakin larut, udara terasa semakin dingin, mengusik pori-pori kulit meski
berpakaian tebal tetap terasa. Meski berada dalam ruangan tetap angin malam
menyelinap melalui lubang-lubang angin yang membentengi pendopo Kademangan
Bintoro.

Di ruang pendopo Kademangan Bintoro tampak Ki Demang, Ki Sakawarki, ulama yang
dianggap berilmu paling tinggi di Kademangan, juga beberapa santrinya, dan
ditambah beberapa prajurit senior.

“Itulah hasil perundingan saya dengan para wali dan ulama di masjid Demak, Ki
Sakawarki.” ujar Ki Demang Bintoro.

“Jika memang demikian keputusan sidang para wali, insya Allah saya mulai besok
akan melakukan penyelidikan yang lebih mendalam tentang ajaran Syekh Siti
Jenar.” ujar Ki Sakawarki.

“Mohon maaf, Guru.” ujar Santri penuh hormat, “Menurut yang saya ketahui,
sesungguhnya bukan hanya rumor. Namun benar bahwa ajaran Syekh Siti Jenar yang
menyesatkan telah tersebar di Kademangan Bintoro.”

“Benarkah?”

“Benar, Guru. Kemarin saya melewati pasar, di sana banyak orang miskin yang
berbicara ngelantur. Serta dari mulutnya komat-kamit menyebut nama syekh Siti
Jenar.”

“Apa yang dibicarakannya?” Ki Sakarwaki menyapu wajah santri dengan tatapan
matanya, “Ngelanturnya seperti apa sehingga andika menyimpulkan sesat?”

“Mereka berbicara bahwa hidup itu lebih indah dari pada mati. Tidak ada artinya
kita hidup jika hak kita dirampas oleh penguasa Demak. Hidup untuk mati, mati
itu indah, hidup Syekh Siti Jenar!” ki santri berhenti sejenak, “Itulah yang
saya dengar dan lihat, Guru.”

“Mati itu indah? Celaka!” Ki Sakawarki terperanjat.

“Yang paling celaka, mereka telah berani mengatakan bahwa hak hidup mereka
dirampas oleh penguasa Demak.” Ki Demang tersentak, mukanya berubah angker,
“Beraninya Syekh Siti Jenar mengajari rakyat Kademangan Bintoro untuk berkata
lancang! Jelas selain menyesatkan juga punya tujuan makar terhadap pemerintahan
yang syah.”

“Benar pendapat, Ki Demang!” Ki Sakawarki menganggukkan kepala, tangannya
terkepal giginya gemeretak. “Sudah sepantasnya kita mengadakan tindakan dengan
segera!”

“Ya, Ki Sakawarki. Saya kira alasan seperti itu sudah cukup untuk melakukan
penangkapan terhadap Syekh Siti Jenar dan pengikutnya.” Ki Demang Bintoro
bangkit dari duduknya, tangannya dikepalkan sekuat tenaga. “Karena mereka telah
melakukan dua kesalahan. Pertama menyampaikan ajaran sesat, kedua telah berani
mempengaruhi rakyat untuk berbuat makar.”

“Apakah kita akan langsung menangkap Syekh Siti Jenar? Atau segera melaporkan
hal ini pada Para Wali dan Raden Patah?”

“Sebelum melaporkan ke kerajan Demak dan para Wali sebaiknya kita melakukan
penangkapan terlebih dahulu pada pengikutnya. Agar pelaporan kita disertai oleh
bukti yang meyakinkan.” ujar Ki Demang. “Besok pagi saya akan memerintahkan
beberapa orang prajurit untuk melakukan penangkapan! Saya minta agar Ki
Sakawarki beserta para santri menyertainya!”

“Baiklah, Ki Demang. Besok pagi akan saya kerahkan para santri menyertai para
prajurit kademangan untuk melakukan penangkapan.”

-------------------

“Bagus.”

“Serbuuuuuuu!!!!” tiba-tiba terdengar teriakan di halaman kademangan, dibarengi
suara benturan senjata.

“Ada apa diluar sana?” Ki Demang Bintora tersentak kaget, belum juga mulutnya
terkatup sudah diusik oleh suara yang menganggetkan.

“Sepertinya ada peretempuran, Ki Demang?” Ki Sakawarki bangkitdari duduknya
seraya menghunus keris, begitu juga para santrinya.

“Ke….” belum juga Ki Demang melanjutkan perkataannya, dengan tergesa masuklah
seorang prajurit penjaga. Langsung merunduk di hadapan Ki Demang seraya
menghaturkan sembah.

“Mohon ampun, Ki Demang.”

“Apa yang terjadi diluar sana?”

“Celaka, Ki Demang. Kademangn kita telah diserbu para murid Syekh Siti Jenar….”

“Murid Siti Jenar?” Ki Sakawarki tercengang.

“Itulah yang mereka sebut-sebut ketika melakukan penyerangan di luar sana.”
terang prajurit.

“Berarti itu bukan hanya dugaan, Ki Sakawarki. Tetapi benar yang kita simpulkan
tadi. Mau tidak mau sekarang juga harus bertindak dan mengadakan perlawanan.” Ki
Demang segera memasuki kamarnya, seraya kembali menghunus pedang dan mengenakan
pakaian perang. “Seluruh prajurit harus berperang dan menumpas antek-antek Syekh
Siti Jenar. Jangan segan-segan untuk bertindak tegas!” selanjutnya keluar dari
ruangan, diikuti Ki Sakawarki beserta para santrinya dan pasukan prajurit.

-------------------

Dalam keremangan malam yang diterangi kerlap-kerlipnya bintang di langit. Bulan
belum lagi menjadi purnama, di pelataran kademangan Bintoro tampak
berkelebatannya bayangan prajurit dan pasukan Gelap Sewu yang sedang bertarung.

“Hahaha…..jangan sisakan yang tidak mau menyerah. Ilmu Syekh Siti Jenar
menyertai kita!” teriak Loro Gempol yang berada di atas punggung kuda, menerobos
pasukan lawan sambil membabatkan goloknya.

“Tobaattttt….!” teriak seorang prajurit yang terkena sabetan golok Loro Gempol,
terhuyung dan roboh dengan luka parah di lambungnya.

“Hahaha….perlihatkanlah kehebatan kalian para prajurit dan petinggi negeri
Demak! Saya yakin ilmu para wali tidak akan bisa mengalahkan ilmu guru kita,
Syekh Siti Jenar yang agung.” Loro Gempol terus mengamuk, menerjang gelombang
pasukan prajurit Kademangan Bintoro yang berlapis-lapis.

“Ki Demang, dengarlah teriakan lelaki yang sedang mengamuk dan berusaha
menerobos lapisan prajurit kita!” bisik Ki Sakawarki.

“Benar, ternyata dia murid Syekh Siti Jenar.” Ki Demang Bintoro
menggeleng-gelengkan kepala. “Betapa angkuhnya dengan kesaktian yang
dimilikinya, Ki Sakawarki?”

“Mengagunggkan Syekh Siti Jenar dan merendahkan para wali terhormat, Ki Demang.”

“Sanggupkah kiranya kita mengalahkan mereka?”

“Tidak perlu ragu, Ki Demang. Saya punya keyakinan Allah SWT. akan melindungi
kita. Lihatlah jumlah pasukan kita lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan
pasukan musuh yang berpakaian serba hitam.”

“Saya kira pasukan mereka harus ditutup ruang geraknya. Lalu robohkan
pimpinannya yang sedang mencoba menembus lapisan pertahanan para prajurit. Jika
pimpinannya roboh mereka akan mundur.” ujar Ki Demang Bintoro.

“Biar saya yang akan loncat dan merobohkannya!” ujar Ki Sakawarki seraya
bersiap-siap untuk loncat.

“Kelihatannya dia bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Karena tebasan senjata
para prajurit seakan-akan tidak bisa melukai tubuhnya.”

“Ki Demang, saya kira di dunia ini tidak ada orang yang hebat kecuali Allah.
Tidak ada salahnya jika saya mencoba menghadapinya demi mempertahankan tanah
tercinta dari kedzaliman. Maka jihadlah jalan keluarnya.” Ki Sakawarki tanpa
menunggu ucapan Ki Demang berikutnya, seraya dirinya menghunus keris dan melesat
ke angkasa melewati barisan prajurit yang berlapis-lapis. “Hiaaaaattttt…….!!!!”

“Pasukan pemanah bersiaplah kalian di belakangku! Jika pasukan terdesak,
bertindaklah kalian!”

“Siap, Ki Demang!” pasukan pemanah bersiap, untuk melepas anak panah. Busurnya
sudah dipegang dengan kuat, talinya ditarik, anak panahnya dipasangkan, tinggal
melepas sesuai perintah.

Tubuh Ki Sakawarki yang melayang di angkasa terlihat sangat enteng dan ringan,
bagaikan burung elang dengan sorot matanya yang tajam. Lalu menukik ke bawah,
berbarengan dengan tendangan kaki kanannya yang menghantam dada Loro Gempol.

-------------------

“Aduhhhh….!!!” betapa terperanjatnya Loro Gempol, ketika ada lelaki berjubah
putih yang turun dari langit dan mengirimkan tendangan keras ke arah dadanya,
hingga dirinya terpental dan jatuh dari punggung kuda. “Makhluk apakah yang
menendang dadaku hingga terasa sesak dan panas….membakar sekujur tubuhku….”

“Bukankah andika murid Syekh Siti Jenar yang sakti?” Ki Sakawarki melayang dan
berdiri dihadapan Loro Gempol yang terhuyung, seraya tangan kirinya memegang
dada.

“Siapa andika? Mengapa bisa terbang seperti Syekh Siti Jenar guru saya?”

“Saya Sakawarki, muridnya Sunan Kalijaga. Andika mengaku muridnya Syekh Siti
Jenar dan menganggap remeh para wali. Ternyata ilmu yang andika pelajari dari
Syekh Siti Jenar tidak seberapa?” Ki Sakawarki mendekat, “Andika harus ditangkap
karena telah berani melakukan pemberontakan dan……”

Hiatttt….belum juga Ki Sakawarki selesai berbicara, Kebo Benowo dengan cepat
menyambar tubuh Loro Gempol yang terhunyung-huyung. Dinaikan ke atas kuda dan
melarikan diri dari pertempuran.

“Mundurrrrrrr!!!!” teriak Kebo Benowo, seraya memacu kudanya dengan cepat.

“Jangan lari keparat!” Ki Sakawarki bersiap untuk mengejar, namun Lego Benongo
menghadangnya.

“Kematian itu indah, kehidupan ini adalah penderitaan. Karena kematian lebih
baik dari hidup miskin dan terjajah, hamamayu hayuning bawana.” ujar Lego
Benongo, seraya menyilangkan golok di dadanya.

“Tidak salah yang andika ucapkan, Ki Sanak?” Ki Sakawarki mengurungkan gerakan
silatnya, sejenak berdiri dan mencerna ucapan Lego Benongo. “Mungkin inikah yang
dinamakan sesat?”

“Siapa yang sesat? Andikalah dan para wali, juga penguasa negeri Demak Bintoro
yang sesat?” lalu Lego Benongo menyelinap di antara lautan prajurit yang
merangsek, setelah itu melarikan diri.

“Aku jadi kehilangan kejaran.” Ki Sakawarki mengincar salah seorang pasukan
gelap sewu untuk ditangkap. Mereka terlihat berlarian dari medan tempur setelah
pimpinannya menghilang ditelan gelapnya malam. “Sulit juga menangkapnya. Mereka
pintar menyelinap!”

“Kademangan Bintoro telah terbebas dari pemberontak!” teriak para prajurit.
Sebagian berjaga-jaga, yang lainnya menolong yang terluka, serta mengangkut
korban tewas.

“Ki Sakawarki, benar bukan mereka muridnya Syekh Siti Jenar?” Ki Demang Bintoro
berdiri di samping Ki Sakawarki.

“Ya, namun mungkinkah beliau mengajarkan ajaran seperti ini?”

“Mengapa tidak mungkin?” ujar Ki Demang, “Bukankah kita sudah berhasil menangkap
hidup-hidup salah seorang muridnya yang mengaku anggota pasukan gelap sewu.
Orang ini kita bawa ke pusat kota Demak untuk memasuki persidangan para wali
sebagai saksi dan bukti.”

“Dimana dia?”

“Dia berada dalam penjagaan para prajurit.” Ki Demang menunjuk ke utara, seraya
kakinya melangkah pelan. “Mari kita tanyai!”

-------------------

“Baiklah, mudah-mudahan bisa memperkuat dugaan kita dalam persidangan di
majelis para wali.” Ki Sakawarki melangkah pelan disamping Ki Demang Bintoro.
Ketika langkah keduanya hampir mendekat, para prajurit penjaga berteriak.
Menyampaikan kabar bahwa, murid Syekh Siti Jenar bunuh diri dengan membenturkan
kepalanya ke dinding hingga kepalanya pecah.

Mendengar kabar demikian, Ki Sakawarki dan Ki Demang terkejut. Keduanya saling
tatap seraya mengurut dada dan menarik napas dalam-dalam.

“Sangat kuat pengaruh ajaran Syekh Siti Jenar, Ki Sakawarki.” Ki Demang Bintoro
menggeleng-gelengkan kepala saat melihat jasad anggota pasukan Gelap Sewu yang
terbujur kaku dengan kepala pecah, berlumuran darah. “Ajaran hidup mati, mati
hidup.”

“Ki Demang, kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa benar ajaran Syekh Siti
Jenar itu sesat dan menyesatkan.” Ki Sakawarki berjongkok disamping jasad.

“Cukup bukti kita untuk kembali melaporkan hal ini ke hadapan para wali, Ki
Sakawarki.”

“Benar, kita harus segera melapor ke pusat kota Demak!” Demang Bintoro
menganggukan kepala. “Sebagai bukti tidak ada salahnya jika jasad ini dibawa.”

“Menurut hemat saya sebaiknya jasad ini kuburkan saja di sini selayaknya.
Kasihan jika harus dibawa ke Demak, sebab perjalanan kita memakan waktu hampir
seharian. Setelah itu baru keesokan harinya kita bisa menguburkan setelah
diperiksa para wali.” terang Ki Sakawarki. “Tidak ada salahnya jika jasad ini
dikuburkan berbarengan dengan korban lainnya.”

“Tapi dia beraliran sesat, Guru?” ujar seorang santri yang berjongkok
disampingnya.

“Ajarannya yang kita anggap sesat. Bukankah jasadnya tetap perlu kita hormati
dengan penguburan yang selayaknnya.” terang Ki Sakawarki.

“Saya setuju,” Demang Bintoro menganggukan kepala, “Prajurit kuburkanlah mereka
dengan layak, begitu juga para korban tewas lainnya.” lalu memerintah.

***

Padepokan Syekh Siti Jenar yang berada di kaki bukit Desa Khendarsawa, tampak
hening. Matahari pagi mulai meninggi, kirimkan sinar terang dan kehangatannya.
Cahayanya menerobos setiap celah dan ruang yang berada di atas bumi, tidak ada
kecuali, tidak pula membeda-bedakan, seluruhnya terbagi sesuai dengan ketinggian
matahari berada.

Nun jauh di atas jalan yang terbentang panjang dan penuh kelokan, dua orang
penunggang kuda bergerak cepat. Jalan yang membelah Desa Khendarsawa akan
melintas ke arah padepokan Syekh Siti Jenar.

-------------------

Penunggang kuda yang berada disampingkanannya tampak tegap dan kuat, tangan
kirinya menuntun kuda disebelahnya, tampak terhuyung. Meringis kesakitan,
tangannya berkali-kali memijit dadanya.

“Aduhhhhh…..sakit…sesak….” keluhnya.

“Tenang, Gempol. Padepokan Syekh Siti Jenar telah dekat.” ujar Kebo Benowo,
mempercepat langkah kuda yang ditungganginya.

“Saya sudah tidak kuat lagi, Ki Benowo.” keluh Loro Gempol, “Punya ajian apa
sesungguhnya Kiai Kademangan Demak itu?”

“Saya juga tidak tahu, Gempol.” terang Kebo Benowo, “Kita tanyakan semua ini
pada guru kita di padepokan nanti. Hussss…hiahhh!”

Kuda yang ditunggangi Kebo Benowo dan Loro Gempol, berhenti di kaki bukit,
persis di depan jalan menanjak. Tanah bukit yang dipapas menyerupai anak tangga
bertingkat itu tepat berada di bawah padepokan Syekh Siti Jenar.

Kebo Benowo loncat dari atas kuda, perlahan menurunkan Loro gempol yang
terhuyung. Keduanya menaiki tangga dengan berat, setelah mengikat kedua kuda
tunggangannya di bawah pohon rindang.

“Keparat!” geram Loro Gempol, “Keterlaluan Syekh Siti Jenar ini, tinggal di
dataran tinggi…..” keningnya meneteskan keringat dingin, tangannya memijat dada,
langkahpun tidak seimbang.

“Tidak perlu bicara seperti itu, Gempol.” bisik Kebo Benowo. “Adikan masih tidak
menyadari juga kalau guru kita ini memiliki kesaktian tinggi? Apa pun yang kita
bicarakan meskipun jauh beliau bisa mendengarnya.”

“Omong kosong! Jika memang demikian tentu dia tahu ketika kita berada dalam
kesulitan….” gerutu Loro Gempol.

“Sssssssttttttt…” Kebo Benowo meletakan telunjuk dimulutnya.

“Andika belum paham juga dengan ajaran hamamayu hayuning bawana.” terdengar
suara Syekh Siti Jenar tepat ditelinga keduanya, “….bukankah kalian tidak boleh
menebar kerusakan dimuka bumi ini, justru harus sebaliknya.”

“Syekh?” Kebo Benowo terperanjat, begitu juga Loro Gempol. “Tuh, benar yang saya
katakan, Gempol?”

“Ya,…..” wajah Loro Gempol mendadak pucat dan cemas. “Maafkan saya, Syekh. Tidak
ada maksud untuk menjelekan…” lalu memutar kepalanya, mencari wujud yang
memiliki suara.

-------------------

“Andika tidak akan bisa melihat saya di sana. Karena wujud saya tidak di sana.”
suara Syekh Siti Jenar semakin menempel di dalam gendang telinga keduanya.

“Dimanakah, Syekh?” teriak Kebo Benowo, tidak menghentikan langkahnya. Hingga
keduanya telah berada di atas tangga terakhir, dalam jarak beberapa depa dari
gerbang padepokan. “Itu beliau, sedang berbincang-bincang dengan Ki Ageng
Pengging.” matanya terbelalak.

“Lalu suara tadi?” Loro Gempol menggeleng-gelengkan kepala. “Bukankah yang
berada di halaman padepokan itu Syekh Siti Jenar dan Ki Ageng pengging? Sedang
bercakap-cakap. Mengapa suaranya…..”

“Syekh, ketika saya sudah berada dalam tahapan ma’rifat, sangatlah sulit untuk
mengungkapkannya dengan kalimat.” Kebo Kenongo berdiri dihadapan Syekh Siti
Jenar. “Tadinya saya ragu, tidak bisa mencapainya.”

“Ya, itulah ma’rifat.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala, “Terasa lebih
nikmat dibanding berada pada tahapan thariqat.”

“Benar, Syekh.” Kebo Kenongo menganggukan kepala, “Kenikmatan dalam ma’rifat
sepertinya sangat indah. Dunia ini terasa sangatlah kecil dan tidak berarti….”

“Ma’rifat itu berada dalam alam jiwa, Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar
mengibaskan jubah hitam yang berlapis kain merah di dalamnya. “Sedangkan kita
sekarang berada dalam alam jiwa dan jasad. Jasad tetap harus terbungkus pakaian
dan jubah, meski bukan kepuasan, tetapi hanyalah syarat yang dinamakan kehidupan
bagi orang kebanyakan. Satukanlah jiwa dan jasad itu, maka disitulah ma’rifat
seutuhnya akan terwujud.”

“Jadi ma’rifat yang saya alami belum utuh, Syekh?”

“Tentu.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala. “Kita sebelum mengenal Gusti dan
menuju akrab, hendaklah mengenali dulu diri sendiri. Ki Ageng Pengging, saat ini
sudah masuk pada tahapan yang saya maksud.”

“Jadi saya baru mengenal diri?”

“Setelah itu kenalilah Gustimu, barulah akrab. Sebelum akrab ma’rifatlah
seutuhnya.” terang Syekh Siti Jenar, “Satukanlah yang tercabik, genapkanlah yang
ganjil, dekatkanlah yang jauh, rapatkanlah yang renggang. Hingga manunggaling
kawula wujud.”

“Manunggaling kawula wujud?”

“Maunggaling kawula wujud, ma’rifat seutuhnya. Tahapan orang yang mengenal
dirinya, hingga berikutnya manunggaling kawula gusti. Wujud adalah jiwa, jiwa
adalah jasad, jasad maujud jiwa, jiwa maujud jasad.” Syekh Siti Jenar berhenti
sejenak, perlahan tubuhnya menembus pohon, lalu mengeluarkan sebelah tanganya
dari dalam. “Saya berada dalam pohon, setelah itu kembali.”

“Ya, Allah.” Kebo Kenongo terkagum-kagum, matanya seakan-akan tidak bisa
berkedip, menyaksikan Syekh Siti Jenar yang telah keluar dari dalam batang
pohon. “Betapa hebatnya ilmu yang Syekh miliki.”

“Ilmu itu milik Allah. Saya adalah manusia biasa, itu hanya menjelaskan
manunggaling kawula wujud. Hingga wujud ini bisa menjadi halus seperti jiwa,
jiwa pun bisa keras seperti wujud.” lalu Syekh Siti Jenar duduk bersila di atas
rumput hijau, tidak bergerak. Perlahan keluar satu sosok Syekh Siti Jenar lain,
lalu melangkah mengitari yang sedang bersila. “Inilah jiwa, inilah jasad, maka
menyatu, manunggaling kawula wujud.”

-------------------

“Subhanallah…..” Kebo Kenongo terbelalak untuk kesekian kalinya, kedipun
seakan-akan hilang dari kelopak matanya.

“Itulah manunggaling kawula wujud. Dalam tahapan ma’rifat seutuhnya manusia bisa
memisahkan jiwa dengan jasad, menyatukannya kembali. Namun itu bukanlah mati,
sebab jasad yang saya lepas dalam keadaan hangat. Hanya gerak dan geriknya
berada di luar.”

“Lantas orang yang bisa meringankan tubuh dan mengeluarkan tenaga dalam, membuat
musuh terpental, berada pada tahapan apa?”

“Dalam tahapan syariat.” Syekh Siti Jenar lalu memukul batu padas seukuran
kelapa, diremasnya hingga bertebaran laksana debu. Jasadiah yang dilatih akan
menghasilkan kanuragan, dipadukan dengan batin keluar tenaga dalam.” lalu
membuka telapak tangan dan dihentakan pada batang pohon.

Krak, patah, dan jatuh di samping Kebo Kenongo. Kebo Benowo dan Loro Gempol sama
sekali tertahan menyaksikan Syekh Siti Jenar dengan ilmunya yang tinggi sangat
sulit mencari bandingannya.

“Harus selalukah mengeluarkan tenaga dalam dengan batin?”

“Maksud batin disini bukanlah ada pada tingkatan ma’rifat, tetapi pikiran dan
hati yang terfokuskan. Konsentrasi.” terang Syekh Siti Jenar, “Untuk mencapai
ilmu kanuragan dan sebangsanya yang meliputi kekuatan jasadyah, tidak perlu
mencapai ma’rifat.”

“Termasuk hakikat dan thariqatnya?”

“Benar, karena kanuragan masih berada dalam lingkar jasadyah, keangkuhan,
kesombongan, emosional, semangat untuk mencari lawan, memukul, dan amarah.”

“Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepalanya, “Meskipun
sangat hebat dan sakti orang yang berada dalam tahapan ma’rifat tidak akan
sewenang-wenang mempertontonkan kesaktiannya,

karena segala hal dalam dirinya telah terkendali termasuk nafsunya.”

“Ki Ageng Pengging, jangan melupakan kebutuhan jasad! Meski kita berasa pada
tahap ma’rifat seutuhnya.” ujar Syekh Siti Jenar, “Kebutuhan jasad adalah syarat
hidup, meski sebetulnya tidak makan pun tidak akan merasa lapar. Namun kita
makluk yang memiliki jasad, janganlah menyiksa dan memenjarakan kebutuhannya.”

“Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk. “Ma’rifat itu seakan kita berada
di atas ketinggian dan bisa mencapai ke segala arah, menyentuhnya, merubahnya,
menikmatinya, merasakannya….”

“Lanjutkanlah, sempurnakanlah ma’rifat itu…..” Syekh Siti Jenar melangkah pelan.

“Syekh,” rintih Loro Gempol, baru berani mendekat. “Sembuhkanlah dada saya yang
terasa sakit dan sesak.”

“Andika mendapat tendangan petir geni dari Ki Sakawarki. Tentu saja akan terasa
sesak dan panas….” Syekh Siti Jenar hanya dengan tatapan matanya, mengobati rasa
sakit yang di derita Loro Gempol.

“Terimakasih, Syekh.” Loro Gempol dengan penuh hormat mencium kaki Syekh Siti
Jenar. “Saya sudah kembali pulih. Syekh, benar-benar sakti. Bisakah semua ilmu
yang Syekh miliki diturunkan pada saya?”

“Jika andika mau,” Syekh Siti Jenar mengangkat bahu Loro Gempol agar tidak lagi
mencium kakinya. “….dan sanggup menjalaninya.”

“Tidak bisakah jika ilmu kesaktian Syekh langsung diturunkan pada saya?”

“Ilmu kanuragan sangat mudah diturunkan! Namun untuk mencapai tahapan ma’rifat
perdalamlah sendiri, saya hanya memberi petunjuk.”

“Baiklah, kalau ilmu ma’rifat lain kali saja. Sekarang turunkanlah ilmu
menendang yang lebih hebat dari Ki Sakawarki.”

“Pulanglah! Ilmu itu sudah andika miliki.”

“Benarkah itu, Syekh?”

“Tendanglah batu padas itu!” Syekh Siti Jenar mengarahkan telunjuknya pada batu
padas yang seukuran tubuh kerbau. Terletak di halaman padepokan.

-------------------

“Hiattttt!” Loro Gempol loncat, tendangannya menghantam batu. Tidak pelak lagi,
hancurlah berkeping-keping. “Terimaksih, Syekh. Akhirnya saya bisa mebalas Ki
Sakawarki. Sekarang juga saya mohon pamit.”

“Gempol….Gempol…” Kebo Kenongo hanya menggelengkan kepala menyaksikan Loro
Gempol dan Kebo Benowo, yang sudah turun dari padepokan Syekh Siti Jenar. Hingga
lenyap ditelan ketinggian. “Masih ada orang seperti dia? Kenapa pula Syekh
memberikan ilmu dengan mudah kepada mereka?”

“Tidak sepantasnya kita sebagai makhluk Allah menyembunyikan ilmu.” Syekh Siti
Jenar menyapu wajah Kebo Kenongo dengan tatapan matanya. “Jika itu dilakukan
maka kita bertentangan dengan sipat Allah yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan
Maha Penyayang. Kikir itu adalah sipat Syetan, menyembunyikan pun demikian.
Bergerak luruslah dengan sipat-sipat Allah, menyatulah didalamnya. Karena
sipat-sipat Allah itu bukan untuk dibicarakan dan dibahas secara panjang lebar,
tetapi harus diamalkan.”

“Mengamalkan itulah yang berat, Syekh.” ujar Kebo Kenongo. “Kebanyakan manusia
terkadang sangat keberatan jika orang lain menginginkan ilmu yang dimilikinya?”

“Tentu saja. Karena masih menyatu dengan kebalikan sipat-sipat Allah, yang saya
ungkap tadi.” Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, “Terkadang manusia berpikir,
betapa susah untuk meraih ilmu, betapa berat untuk mendapatkannya, betapa harus
berkorban tenaga dan harta untuk meraihnya, maka jika demikian haruskah
diberikandengan cuma-cuma?”

“Syekh sendiri?”

“Itulah saya seperti Ki Ageng Pengging lihat. Mengapa lagi harus menentang
sipat-sipat Allah jika kita sudah berada dalam lingkarnya, bukankah kita berada
dalam manunggalnya.”ujar Syekh Siti Jenar. “Apalagi yang saya inginkan?”

“Meski saya kurang begitu paham maksudnya, sedikit-demi sedikit akan berusaha
mencernanya.”Kebo Kenongo menempelkan telunjuk dikeningnya. “Pantas saja sangat
jarang orang pemurah semacam, Syekh. Karena mereka masih berada dalam tahap
syariat, kebutuhan jasadyahlah yang paling utama. Hingga saya berpendapat
apalagi yang tidak bisa Syekh dapatkan? Semuanya berada dalam genggaman.”

“Nafsu duniawi itu akan sirna, seperti saya uraikan sebelumnya.”

“Kenapa Sunan Kalijaga dan para wali yang setarap ilmunya dengan Syekh lebih
menyukai berada dalam lingkar kekuasaan?”

“Itu bukan tujuan mereka untuk meraih kekuasaan. Terutama Sunan Kalijaga, jika
dia ingin berkuasa tentu sudah menjadi raja. Karena dia seperti halnya Ki Ageng
Pengging keturuan darah biru.” terang Syekh Siti Jenar, “Sunan Kalijaga setelah
memperdalam ajaran Islam, melepas kekuasaan dan keduniawian, terutama sekali
setelah berada dalam tahapan seperti saya. Dia berada dalam lingkar kekuasaan
Demak, semata untuk menyebarluaskan syariat Islam. Bukan berarti gila kekuasaan
atau membuntuti penguasa untuk mendapatkan keuntungan. Dia lebih cenderung untuk
menterjemahkan, menyampaikan, mengamalkan, ajaran tadi dalam tahapan syariat,
juga ilmu politik, sosial, dan budaya.”

“Apakah dia mengajarkan pula ilmu ma’rifat?”

“Tentu saja.” terang Syekh Siti Jenar, “Namun Sunan Kalijaga tidak seperti saya
cara mengajarkannya. Lihatlah tentang gamelan dan wayangnya, lihatlah tentang
shalat yang lima waktu…..”

“Saya paham, Syekh.” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala. “Dia tidak mudah
memberikan ilmu yang lebih tinggi tahapannya….”

“Lihatlah tangga yang menuju padepokan saya, Ki Ageng Pengging!”

-------------------

“Bertahap?” gumam Kebo Kenongo, “Mengapa Syekh memberikan apa saja yang diminta
orang tanpa melalui tahapan?”

“Bukankah tadi telah saya uraikan? Kenapa tidak jika saya telah berada dalam
lingkar dzat Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Manunggaling
Kawula Gusti.”

“Hhhhhmmmmmm….” Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam, pikirannya mencoba
mencerna segala uraian yang telah disampaikan Syekh Siti Jenar. Terkadang
gampang dicerna, kadang pula sangat berat untuk dipahami. “Saya akan berusaha
sekuat tenaga untuk mencapainya. Namun yang dimaksud Manunggaling Kawula Gusti
menurut Syekh?”

“Manunggaling Kawula Gusti?” Syekh Siti Jenar lantas berdiri di atas satu kaki,
“Saya berikan dua arti; pertama manunggaling sifat, kedua manunggaling dzat.”

“Maksudnya?”

“Manunggaling sifat,” Syekh Siti Jenar kembali berdiri di atas dua kakinya, lalu
melangkah perlahan. “Sebelumnya saya akan bertanya pada, Ki Ageng Pengging. Apa
rasanya gula? Apa pula rasanya garam?”

“Tentu saja gula manis, dan garam asin.”

“Berikan pula gula dan garam ini pada seratus orang. Biarkan mereka mengecap
dengan lidahnya, lalu tanya oleh Ki Ageng Pengging.”

“Semuanya akan mengatakan sama, Syekh. Manis dan Asin. Meski dikasihkan pada
seribu orang.”

“Itulah yang dikatakan manunggaling sifat.”

“O…ya…” Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepalanya.

***

“Selamat datang di Masjid Demak, Pangeran Bayat.” ujar Sunan Giri, lalu duduk
bersila di samping Sunan Kudus, Sunan Muria, tidak ketinggalan Sunan Bonang dan
Sunan Kalijaga. “Saya kembali kedatangan Ki Sakawarki dan Ki Demang Bintoro.”
tatapan matanya menyapu wajah kedua orang yang disebutnya, duduk berhadapan.

“Terimakasih, saya mendengar kabar burung tentang ajaran sesat yang
disebarluaskan Syekh Siti Jenar.” Pangeran Bayat menatap Demang Bintoro, “Ajaran
sesat macam apa?”

“Sampaikanlah kabar terbaru tentang ajaran Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, Ki
Demang!” ujar Sunan Giri.

-------------------

“Gusti Pangeran, juga Kanjeng Sunan yang saya hormati, ajaran itu benar-benar
menyesatkan. Hidup itu untuk mati, mati itu untuk hidup, akhirnya banyak rakyat
Kademangan Bintoro yang bunuh diri.” Ki Demang berhenti sejenak, “Saya
selanjutnya melakukan penyelidikan bersama Ki Sakawarki. Ternyata bukan hanya
isapan

jempol belaka tentang kesesatan ajaran Syekh Siti Jenar itu.”

“Saya semula tidak percaya tentang ajaran sesat Syekh Siti Jenar.” tambah Ki
Sakawarki, “Tapi ketika mendengar langsung dan menyaksikan barulah percaya.”

“Adakah penyimpangan lain dari ajaran Islam yang berkaitan dengan aqidah?”
tanya Sunan Giri.

“Tentu saja, Kanjeng.” Ki Sakawarki menganggukan kepala, “Mereka tidak
mesyariatkan shalat lima waktu, begitu pula kewajiban lainnya.”

“Menyimpang dan sesat secara aqidah!” Sunan Giri geram.

“Benarkah mereka juga melakukan tindakan makar? Selain menyebarluaskan ajaran
sesatnya?” tanya Pangeran Bayat.

“Itulah yang kami saksikan.” jawab Demang Bintoro. “Dengan bukti melakukan
penyerangan terhadap Kademangan.”

“Keparat!” muka Pangeran Bayat merah padam, “Saya kira dibelakang semua ini Ki
Ageng Pengging juga punya kepentingan?”

“Mungkin? Karena merasa masih keturunan Majapahit, Gusti?” tambah Demang
Bintoro. “Yang paling mencolok mereka menyebut nama pimpinan pemberontak Kebo
Ben….”

“Jika itu Kebo Kenongo, maka dugaan saya benar.” potong Pangeran Bayat. “Karena
Kebo Kenongo nama lain dari Ki Ageng Pengging….”

“Disini telah berbaur antara aqidah islam dan politik…..”

“Benar, Kanjeng Sunan Kalijaga!” potong Pangeran Bayat, “Untuk itu kita tidak
bisa membiarkan hal ini terjadi. Sebab jika dibiarkan akan mengancam keutuhan
negeri Demak Bintoro.”

‘Padahal maksud saya tidak seperti itu, Kanjeng?’ Sunan Kalijaga beradu tatap
dengan Sunan Bonang, memulai percakapan dengan batinnya.

‘Saya kira tidak perlu mencampuri persoalan ini terlalu jauh, Kanjeng.’ tatap
Sunan Bonang. ‘Jika itu dilakukan sangatlah berlebihan, seakan-akan kitalah yang
memiliki ilmu terlalu tinggi. Sehingga tanpa beranjak dari tempat duduk
mengetahui yang sesungguhnya telah terjadi.’

‘Betapa sombong dan angkuhnya kita, Kanjeng.’ Sunan Kalijaga mengaggukan kepala.
‘Namun tidak ada salahnya jika kita dimintai pendapat…’

“Politik macam apa yang terjadi dibalik tersebarnya ajaran sesat ini?” tanya
Demang Bintoro.

“Mereka akan menciptakan dulu keresahan dikalangan umat beragama, Ki Demang.
Dalam keadaan umat resah dan bingung, politik untuk melakukan makar pun
berjalan.” terang Pangeran Bayat.

-------------------
“Itulah yang terjadi di Kademangan Bintoro, Gusti Pangeran.” Demang Bintoro
menganggukan kepala, “Pantas mereka mempengaruhi rakyat kademangan dengan ajaran
yang menyesatkan, hingga pada suatu malam terjadi penyerbuan. Namun yang paling
aneh, ketika salah satu diantara mereka tertangkap, membenturkan kepalanya pada
batu hingga tewas.”

“Itulah yang mereka anggap jihad!” ujar Pangeran Bayat, “Tentu saja mereka akan
memilih mati ketimbang tertangkap, karena mati telah memenuhi panggilan jihad.”
berusaha menyimpulkan.

“Pantas saja?” Demang Bintoro menggeleng-gelengkan kepala.

“Jika demikian kesimpulannya sudahlah jelas persoalan ini, Gusti Pangeran.” Ki
Sakawarki penuh hormat, “Syekh Siti Jenar beserta pengikutnya harus ditangkap.
Mereka telah berani merusak ajaran Islam yang sesungguhnya. Selain telah
berani-berani mencampurbaurkan kepentingan politik dengan agama. Sehingga agama
dijadikan alat politik dan kekuasaan.”

“Itulah yang terjadi Ki Sakawarki, jika boleh saya berksimpulan.” Pangeran Bayat
mengaggukan kepala. “Namun sebelum bertindak saya akan meminta dulu pendapat
para wali agung tentang batasan sesat yang disebarluaskan Syekh Siti Jenar.
Bagaimana menurut pendapat, Kanjeng Sunan?” tatapan mata Pangeran Bayat menyapu
wajah para wali, berhenti pada Sunan Giri, selaku ketua Dewan Wali.

-------------------

“Pengertian sesat?” Sunan Giri memutar tatapannya, “Saya menyimpulkan, jika
Syekh Siti Jenar sudah menganggap shalat lima waktu tidak wajib, puasa bulan
ramadan tidak wajib. Hidup untuk mati, mati untuk hidup. Jelas sesat! Sudah
keluar dari esensi Islam yang sesungguhnya.”

“Tidakah kita menelisiknya terlebih dahulu, Kanjeng Sunan Giri?” Sunan Kalijaga
beradu tatap.

“Apa lagi yang mesti kita selidiki, Kanjeng Sunan Kalijaga?” ujar Sunan Giri,
“Penyebaran ajaran sesat harus segera dihentikan. Jika tidak maka umat akan
resah, kesetabilan negeri Demak Bintoro akan terancam.”

“Tidakkah kita ingin memastikan sekali lagi tentang sesatnya ajaran Syekh Siti
Jenar dengan mengutus seorang wali?” tatap Sunan Kalijaga.

“Bukankha Ki Sakawarki saja sudah cukup sebagai seorang Kiai membuktikan
kesesatan tadi?”

“Apakah Ki Sakawarki sudah secara langsung mendengar dan melihat jika ajaran
Syekh Siti Jenat itu sesat?”

“Maafkan Kanjeng Sunan Kalijaga, saya belum bertemu dengan Syekh Siti Jenar.
Namun saya hanya melihat dan mendengar dari para muridnya, ketika beberapa malam
lalu melakukan pemberontakan.”

“Bisakah itu dijadikan sebagai bukti?” Sunan Kalijaga memutar tatapannya ke arah
Pangeran Bayat dan Sunan Giri.

“Dari Segi politik, yakin tujuan utamanya ingin makar. Bukan semata menyebarkan
ajaran sesat, Kanjeng.” Pangeran Bayat mengerutkan dahinya, “Yang memperkuat
tuduhan saya dengan adanya nama Kebo Kenongo. Jelas-jelas dia masih keturunan
Majapahit dan memiliki pengaruh sama dengan Gusti Raden Patah. Hanya dia tidak
seberuntung junjungan kita.”

“Pangeran, bagaimana jika kita pisahkan dulu masalah politik dan agama?”

“Maaf, Kanjeng. Saya rasa persoalan politik dan agama dalam hal ini sudah
menyatu.” tukas Pangeran Bayat. “Saya menduga jika kepentingan politik yang
ditebarkan Kebo Kenongo dibungkus rapih dengan agama. Dengan tujuan orang
terfokus pada persoalan agama, padahal politis.”

“Makanya saya tadi berpendapat, untuk menjernihkan persoalan ini dan menangkap
makna yang sesungguhnya, kita pisahkan dulu…”

“Kanjeng Sunan Kalijaga, sebaiknya perdebatan ini dihentikan. Saya takut di
antara para wali terjadi perbedaan paham yang runcing, begitu pula dengan
kalangan pemerintah.” potong Sunan Giri. “Selanjutnya kita renungkan sejenak
sebelum mengambil keputusan. Bagaimana jika kita memperbincangkannya dengan
Raden Patah, semoga dari hasil persidangan nanti ada keputusan. Jika Syekh Siti
Jenar perlu ditangkap, kita tangkap!”

-------------------

“Saya setuju!” ujar Pangeran Bayat. “Apa pun yang terjadi jika itu keputusan
raja, sudah semestinya kita taati.”

“Baiklah.” Sunan Kalijaga menganggukan kepala, tatapan matanya tertuju pada
Sunan Bonang, mata hatinya mulai bersentuhan dan bercakap-cakap. ‘Kanjeng Sunan
Bonang, saya secara syariat tidak bisa melawan kehendak Allah.’

‘Ya, karena itu sudah menjadi sebuah taqdir dan ketentuan yang mesti dijalani.
Kita lihat dan ikuti saja…meski secara lahiryah tetap harus berikhtiar. Saya
kira Syekh Siti Jenar juga paham perjalanan hidupnya…’ batin Sunan Bonang,
tatapan matanya menerbar sinar kemerah-merahan beradu dengan sorot mata pancaran
jingga Sunan Kalijaga.

“Ada apa?” Sunan Drajat tersentak dari duduknya, “Mengapa ada pancaran sinar
dari…”

“Disini tidak ada yang aneh, Kanjeng Sunan Drajat.” tegur Sunan Giri, “Kenapa
Kanjeng tersentak?” tatapan matanya mengikuti sudut pandang Sunan Drajat, tetapi
tidak menemukan hal yang perlu dikejutkan.

“Tidakkah Kanjeng me…”

“Benar, Kanjeng Sunan Drajat.” tatap Sunan Bonang. Seakan-akan menembus batin
hingga tidak berdaya.

-------------------

“Kanjeng Sunan Bonang?” Sunan Drajat mengangukan kepala, meski tidak mengerti.
Hatinya seakan-akan disusupi nasihat yang sebelumnya tidak pernah diketahui.
“Saya harus menafsirkannya…”

“Apa yang telah terjadi? Kenapa saling memberi isyarah?” Pangeran Bayat
kebingungan. “Kanjeng Sunan Giri?”

“Saya juga tidak terlalu paham, Pangeran.” bisiknya, lalu menatap Sunan Bonang.
“Kanjeng Sunan Bonang?”
“Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, Kanjeng Sunan Giri.” ujar Sunan Bonang,
“Putusan terbaik dalam menyikapi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, kita mesti
menunggu keputusan Raden Patah, sesuai dengan pendapat Kanjeng. Kami berisyarah
setuju pada perkataan Kanjeng Sunan Giri tadi.”

“Baiklah jika demikian. Kita bersidang dengan pihak pemerintahan demi mengambil
keputusan.” Sunan Giri mengaggukan kepala, lalu perlahan bangkit dari duduknya.

“Kanjeng, jika demikian saya mohon pamit.” ujar Demang Bintoro. “Karena tugas
saya sudah selesai, sedangkan persidangan merupakan wewenang para wali dan
pemerintah.”

“Baiklah, Ki Demang.” Sunan Giri menerima kedua telapak tangan Demang Bintoro
yang mengajak bersalaman. “Semoga kalian selamat diperjalanan. Persoalan tadi
akan kami tindaklanjuti, agar tidak terlanjur dan terlunta-lunta hingga
mengakibatkan kesesatan bagi umat.”

***

Matahari mulai merayap, perlahan meredup seakan-akan terlihat lelah dan ngantuk.
Seharian memelototi bumi beserta isinya, menatap setiap tingkah dan laku manusia
yang beragam. Matahari sudah waktunya kembali dan beristirahat di peraduannya,
seiring dengan datangnya gelap malam.

Namun penghuni jagat raya seakan tidak peduli meski matahari tidak lagi
memelototi dan menerangi, biar kerlip gemintang sebagai pengganti, saksi mereka
bertingkahlaku. Malam hanya perpindahan dari terang pada gelap, dari benderang
pada kremangan. Hingga tidak pernah menghalangi dan menyurutkan niat dan langkah
manusia dengan segenap tekad dan keinginannya untuk berbuat.

Pinggir hutan di halaman pendopo milik Kebo Benowo dan pengikutnya, berkelebatan
bayangan tubuh yang sedang berlatih silat. Joyo Dento dan Kebo Benongo
bergantian mengajarkan setiap jurus dan strategi perang.

-------------------

Tidak lama berselang terdengar suara kuda yang bergerak ke arah mereka. Dua ekor
kuda yang ditunggangi Kebo Benowo dan Loro Gembol telah berada di tengah-tengah
pengikutnya.

“Ki Gempol,” ujar Joyo Dento mendekat, “Terlihat segar malam ini….”

“Benar, Dento.” Loro Gempol turun dari punggung kuda, “Syekh Siti Jenar
benar-benar hebat. Hanya dengan tatapan mata beliau menyembuhkan luka dalam
akibat tendangan Ki Sakawarki.”

“Hebat!” Joyo Dento menggelengkan kepala. “Artinya Ki Gempol sudah siap memimpin
kembali pemberontakan?”

“Tentu saja, Dento.” Loro Gempol menepuk-nepuk dadanya, “Bahkan ilmuku sudah
mulai bertambah meski dalam waktu sangat singkat. Saya sudah memiliki tendangan
yang lebih hebat dari Ki Sakawarki.” lalu memutar lehernya mengikuti sudut
pandangnya yang tertuju pada sebongkah batu.

“Seperti apa tendangan itu, Ki?” tanya Kebo Benongo.

“Lihatlah! Saya akan menghancurkan batu sebesar perut kerbau itu hanya dengan
satu kali tendangan.” Loro Gempol lalu mengambil ancang-ancang, seraya loncat
dan mengarahkan tendangannya pada batu.

Dragkkkk….tendangan kaki Loro Gempol menghantam sasaran, tidak pelak lagi hancur
lebur berkeping-keping. Prilakunya disambut dengan tepukan pasukan gelap sewu,
serta Joyo Dento dan Kebo Benongo.

“Bisa seperti itu Syekh Siti Jenar mengajarkan ilmu kanuragan, Ki Gempol?” Joyo
Dento mengerutkan keningnya.

“Bukankah dia orang sakti, Dento?” Loro Gempol tersenyum.

“Sayang, Ki Gempol?”

“Kenapa, Dento?”

“Seandainya beliau bersedia mendukung perjuangan kita dengan kesaktiannya, sudah
barang tentu sangat mudahlah menghancurkan Kademangan Bintoro.” ujar Joyo Dento,
seraya duduk di atas bangku yang terbuat dari kayu. “Sungguh sayang, begitu juga
Ki Ageng Pengging, sangatlah sulit untuk diajak serta.”

“Jangankan Kademangan, Demak pun jika beliau mau tentu bisa dihancur leburkan!”
timpal Loro Gempol.

“Sangat aneh?” Joyo Dento menggelengkan kepala, “Semakin tinggi ilmunya, semakin
digjaya kesaktiannya, malah semakin tidak tertarik pada kekuasaan?” lalu
menghela napas dalam-dalam.

“Itulah keanehan mereka, Dento.” Kebo Benowo ikut nimbrung, “Bukankah menurut
andika tidak perlu lagi memikirkan mereka yang sudah tidak memiliki keinginan
untuk berkuasa.”

“Ya, lupakan saja semuanya!” Joyo Dento bangkit dari duduknya, “Sebaiknya kita
tidak terpengaruh….”

-------------------

“Bagus,” ujar Loro Gempol, “Sekarang kesaktian saya telah bertambah. Mengapa
tidak digunakan untuk kembali mengadakan penyerangan terhadap Kademangan
Bintoro?”

“Haruskah malam ini?” tanya Kebo Benongo. “Tidakah merasa lelah sepulang dari
padepokan?”

“Tidak!”

“Gempol, bukannya saya tidak percaya pada tendangan maut yang baru saja andika
miliki.” Kebo Benowo mendekat, “Cukupkah jumlah prajurit kita untuk menggempur
Kademangan Bintoro?”

“Benar!” Joyo Dento meletakan kedua tangannya di belakang, “Meski pun Ki Gempol
bisa mengalahkan Ki Sakawarki, tidak ada salahnya kmemperhitungkan jumlah
kekuatan yang kita miliki. Sebenarnya ada taktik perang gelap…”

“Maksud andika?” Loro Gempol menatap tajam.

“Harus menghindari perang terbuka. Mengingat jumlah pasukan kita lebih sedikit
di banding musuh.” dahinya dikerutkan, “Serangan kita harus bersifat memecah
konsentrasi musuh, lantas menyerang, lalu menghilang.” terang Joyo Dento.

“Berhasilkah dengan cara demikian?” tanya Kebo Benowo, “Tidak lebih baikah jika
kita menambah jumlah pasukan?”

“Bisa saja, menambah pasukan. Artinya untuk sementara kita menghentikan
penyerangan….”

“Jadi saya tidak bisa mencoba ilmu baru dalam waktu dekat?” Loro Gempol
garuk-garuk kepala.

***

Dewan wali yang di pimpin Sunan Giri mulai memasuki istana kerajaan Demak
Bintoro. Mereka menginjakan kakinya di atas karpet berwarna hijau, kiriman dari
Bagdad. Di setiap sudut istana berdiri para prajurit dengan tombak dan tameng di
tangannya.

Raden Patah sudah berada di atas singgasananya, perlahan bangkit menyambut
kedatangan para wali. Pangeran Bayat, serta para abdi kerajaan lainnya berdiri,
menyalami.

Hari itu tampaknya ada pertemuan penting antara Raden Patah dan Walisongo.

“Selamat datang di keraton, Kanjeng Sunan.” Raden Patah menyalami dan memeluk
Sunan Giri, lalu yang lainnya. “Silahkan…”
-------------------

“Terimakasih atas sambutannya, Raden.” Sunan Giri lalu duduk di atas kursi yang
telah disediakan. Diikuti para wali lain menempati kursi yang telah disediakan.

“Rasanya sangat bahagia hati ini, batin pun terasa tentram jika sudah bertemu
dengan para wali yang terhormat.” Raden Patah perlahan duduk kembali di atas
singgasana kerajaannya, para abdi pun mengikuti. “Sudah sekian lama Kanjeng
Sunan tidak menyempatkan diri memasuki istana yang megah ini.”

“Tidaklah harus terlena dengan kemegahan istana, Raden.” ujar Sunan Giri
tersenyum tipis, “Singgasana berlapis emas, serta empuk, terkadang menyebabkan
kita untuk bermalas-malas. Saking nikmatnya kita dalam sehat dan istirahat,
terkadang lupa pada tugas yang sesungguhnya. Bukankah kita mendapatkan
kepercayaan dari rakyat demi kesejahteraannya, demi ketentramannya, demi
ketenangannya, demi melayaninya?”

“Alhamdulillah, Kanjeng.” Raden Patah sekilas menyapu wajah Sunan Giri dengan
tatapan matanya, “Saya sudah berupaya menjalankannya sesuai dengan amanah dan
ajaran Islam. Namun saya sebagai manusia terkadang terlena dibuatnya…..”

“Jika Raden terlena dengan kekuasaan dan kemegahan, hendaklah istigfar.” Sunan
Giri mengacungkan telunjuknya, “Karena singgasana ini tidak abadi, kekuasaan
akan berakhir dengan ketidakuasaan, kenikmatan dan kemewahan hanya bisa dikecap
dalam sekejap. Semua itu diingatkan ketika diri kita tidak sempat untuk
istirahat dan menikmati, bahkan saat sakit mengusik kita. Disitu tidak ada
nikmat yang bisa dirasakan meski sekejap. Itu semua mengingatkan pada diri kita,
semua yang kita miliki akan ditinggalkan, semua yang kita kuasai pada suatu
saat akan menjauh. Bukankah kehidupan di dunia ini telah ditentukan batasnya?
Seindah apa pun dunia tetaplah fana, semegah apa pun dunia akan berkesudahan.
Tidak ada bedanya saat kita merasakan lapar bergegas mencari makanan, setelah
rasa lapar tergantikan dengan kekenyaang nikmat pun tidak ada lagi.”

“Jika perut sudah terlalu kenyang tidak mungkin meneruskan makan, meski masih
terhidang beraneka kelezatan di atas meja.” Raden Patah mengangguk-anggukan
kepala, “Hanya sekejap….dan ada akhirnya…bukankah datangnya rasa nikmat ketika
kita merasakan lapar?”

“Andai lapar itu berada pada tahapan Raden. Tentu akan terobati, tinggal
memanggil pelayan kerajaan. Tetapi jika rasa lapar menimpa rakyat miskin,
bisakah terobati dalam sekejap?” tatap Sunan Giri.

“Ya, saya paham, Kanjeng.” Raden Patah menundukan kepalanya, “Dimas Bayat,
masihkah di negeri ini ada rakyat yang kelaparan?” lalu tatapan matanya tertuju
pada Pangeran Bayat.

“Menurut hamba negeri ini sangatlah makmur, Gusti.” Pangeran Bayat mengacungkan
sembahnya, “Sangat tidak mungkin di negeri semakmur Demak Bintoro ada rakyat
yang kelaparan?”

“Benarkah, Dimas?”

“Hamba yakin, Gusti.”

“Baguslah jika tidak ada yang kelaparan,” Raden Patah menundukan kepala
dihadapan Sunan Giri.

“Seandainya masih ada rakyat yang miskin dan kelaparan? Sementara kita serba
berkecukupan? Tidakah di akhirat nanti akan menuai kecaman dari Allah SWT.?
Mungkin rakyat negeri Demak Bintoro, meski pun lapar tidak akan banyak berbuat
selain mengganjal perutnya dengan kesedihan, bisa juga menangis?” desak Sunan
Giri.

-------------------

“Maafkan saya, Kanjeng.” Raden Patah perlahan mengangkat kepalanya, “Jika itu
terjadi dan menimpa rakyat negeri Demak Bintoro, mungkin saya sebagai pemimpin
akan menerima hukumannya di akhirat. Mudah-mudahan yang dilaporkan Dimas Bayat
benar. Hal itu tidak terjadi di negeri ini….”

“Yakinkah, Raden?”

“Saya percaya pada Dimas Bayat, Kanjeng Sunan.”

“Hamba melaporkan dengan sesungguhnya. Berdasarkan pendengaran dan penglihatan
hamba.” ujar Pangeran Bayat.

“Baguslah jika yakin sebatas laporan, Raden.” Sunan Giri perlahan bangkit dari
duduknya, lalu mengitari singgasana Raden Patah. “Tahukah Raden tujuan utama
kedatangan kami, dewan wali ke istana ini?”

“Tentu saja, Kanjeng.” Raden Patah perlahan memicingkan sudut matanya, menatap
langkah kaki Sunan Giri. “Bukankah di negeri ini telah muncul persoalan yang
terkait dengan Syekh Siti Jenar dan pengikutnya, Kanjeng?”

“Benar,” Sunan Giri menghentikan langkahnya, lalu kembali duduk di atas
kursinya. “Ada kabar jika Syekh Siti Jenar menyebarkan ajaran sesat. Pengikutnya
terutama rakyat miskin dan kelaparan banyak yang mengakhiri hidupnya.”

“Mereka bunuh diri, Kanjeng?” ujar Raden Patah, “Mereka mengaggap bahwa mati
lebih nikmat dari pada hidup dalam kemiskinan. Syekh Siti Jenar pada pengikutnya
menghembuskan ajaran hidup untuk mati, mati untuk hidup.”

“Pisahkan dulu persoalan mati untuk hidup, hidup untuk mati, tentang ajaran
Syekh Siti Jenar!”

“Kenapa, Kanjeng?”

“Lihat dan perhatikan, jika yang bunuh diri itu si miskin dan menderita…”

“Mengapa harus dipisahkan persoalan ini? Rakyat Demak Bintoro yang miskin tentu
saja mudah dihasut akhirnya nekat bunuh diri. Apalagi mendengar ajaran yang
menyesatkan ini.”

“Persoalannya karena miskin, Raden. Bukankah tadi dikatakan, jika di negeri
makmur ini sudah tidak ada lagi yang miskin dan kelaparan?”

“Astagfirullah!” Raden Patah lalu mengusapkan kedua telapak tangannya pada
wajah, “Ya, Allah maafkan hambamu ini. Hamba telah berbuat hilap….” dari
sela-sela jemarinya menetes buliran air mata, semakin lama semakin banyak.

-------------------

Suasana istana yang hening terusik dengan isak tangisnya Raden Patah,
seakan-akan mengubah dan memecah suasana. Pangeran Bayat semakin menundukan
kepalanya, dagunya seakan-akan menyentuh lutut, hatinya mulai ketar-ketir, jika
seandainya Raden Patah marah.

Sunan Giri hanya berbagi tatap dengan para wali, termasuk Sunan Kalijaga, Sunan
Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati. Mereka
memahami setiap maksud perkataan Sunan Giri, namun tidak ada yang mengusik isak
tangis Raden Patah meski hanya sepatah kata penghibur.

“Mereka mudah dihasut karena miskin…” isak Raden Patah, “…bukankah menurut
laporan yang saya dengar tidak ada lagi rakyat miskin dan menderita…seandainya
itu masih ada artinya…telah berdosa dan menyia-nyiakan amanah…”

***

Matahari mulai menyelinap di balik bukit Desa Kendharsawa, awan tipis
berlapis-lapis laksana serpihan sutra merah. Angin senja bertiup sepoi-sepoi
mengusik setiap daun dan ranting kering, selanjutnya jatuh di atas tanah, tanpa
daya.

Sorot mata Ki Chantulo tidak beranjak dari jatuhnya daun dan ranting kering di
hadapannya. Lalu duduk dan memungutnya.

“Ranting dan daun kering, rupanya usiamu telah berakhir senja ini.” perlahan
bangkit, seraya mengangkat kepalanya, tatapan mata menyapu awan jingga berlapis
dan berarak laksana kereta kencana. “Betapa indah, taqdir kepergianmu diiringi
warna keemasan….”

“Ya, sangat indah kematian daun dan ranting kering ini…” bisik Ki Donoboyo yang
berdiri disampingnya. Tatapan matanya tidak beranjak dari tingkah laku teman
seperguruannya. “Mungkin itulah yang dikatakan menyatunya kembali dengan dzat
yang maha kuasa?”

“Mungkin?” tatap Ki Chantulo. Lalu melangkah pelan menuju padepokan Syekh Siti
Jenar, Ki Donoboyo mengiringi.

Di halaman padepokan Syekh Siti Jenar sedang bercakap-cakap dengan Kebo Kenongo.
Kebo Kenongo seakan-akan larut pada setiap perkataan dan nasehat gurunya,
terkadang berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya.

“Syekh, manunggaling sifat Allah ternyata bisa dibuktikan. Hingga saya mengerti
dan memahami…” ujar Kebo Kenongo, “…bahkan ma’rifat pun kini mulai bisa saya
capai. Ternyata dalam pencapaian ini tidak harus melalui tahapan yang dulu
pernah Syekh ungkapkan.”

“Bukankah saya pernah mengatakan, menuju ma’rifat tidak perlu melalui tahapan
syariat, hakikat, thariqat, lantas ma’rifat. Jika demikian berarti hanya orang
yang beragama Islam saja yang bisa. Mungkin dalam agama hindu atau budha yang
sebelumnya Ki Ageng Pengging ketahui tidak akan menemukan tahapan itu. Bisa saja
namanya berbeda, tetapi tujuannya sama.” Syekh Siti Jenar menyapu wajah Kebo
Kenongo dengan tatapan matanya. “Saya kira semua agama memiliki tujuan yang
sama, yaitu untuk mencapai dan menggapai dzat Yang Maha Kuasa. Yang membedakan
semuanya hanyalah tata caranya, jalan, dan nama-nama proses pencapainya.”

-------------------

“Ya,” Kebo Kenongo tersenyum, “Pencapaian itulah yang memerlukan proses yang
cukup lama dan panjang. Hingga terkadang orang merasa putus asa…”

“Putus asa, penyebab petaka. Itu tidak perlu terjadi,” terang Syekh Siti Jenar,
“Untuk menghindari keputusasaan dalam hal pencapaian diperlukannya guru yang
selalu membimbing dan mengarahkan.”

“Benar, supaya tidak kesasar dan gila?”

“Ya, mungkin kata lain sesat. Orang akan menyatakan sesat atau kesasar pada
orang lain, karena menurut ilmu dan pengetahuan yang dia milki bahwa jalan
menuju Desa Kendharsawa hanya satu. Jalan yang biasa Ki Ageng Pengging lalui
beserta orang kebanyakan. Padahal setahu saya ada banyak jalan menuju Desa
Kendharsawa, bisa memutar dulu ke Utara, bisa berbelok dulu ke Selatan, bisa
juga mengambil jalan pintas.” urai Syekh Siti Jenar, “Salahkah jika orang yang
berpendapat harus berlok ke Utara atau ke Selatan, bahkan mengambil jalan
pintas? Jelasnya tidak pernah mengambil jalan yang biasa dan diketahui umum.
Salahkah?”

“Saya kira tidak,”

“Mengapa?”

“Karena sudah tentu semuanya akan sampai ke Desa Kendharsawa. Hanya waktu
sampainya yang berbeda, ada yang cepat, lambat, dan alon-alon.”

“Itulah maksud saya, Ki Ageng Pengging.” ujar Syekh Siti Jenar. “Nah, yang
diributkan orang kebanyakan soal perbedaan jalan itulah. Sehingga memicu
pertengkaran, demi mempertahankan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya agar
diikuti orang lain. Padahal setiap orang memiliki pemahaman dan pendalaman, juga
maksud yang berbeda, meski sebenarnya punya tujuan sama.”

“Maksudnya?”

“Bukan tidak tahu jalan umum menuju Desa Kendharsawa, tetapi berbelok ke Selatan
karena punya maksud menemui dulu kerabat. Jalan yang di tempuh lewat Utara,
karena ingin membeli dulu hadiah untuk teman di Kendharsawa. Sampaikah mereka
semua pada tujuan? Desa Kendharsawa?”

“Sampai?”

“Mengapa harus bertengkar dan saling menyalahkan?”

“Karena jalannya tidak diketahui umum,”

“Haruskah umum selalu tahu? Haruskah umum memberikan kesimpulan bahwa jalan
Utara dan Selatan sesat?”

“Tidak,”

“Mengapa?”

“Karena pasti sampai.”

“Kenapa pula dipertengkarkan?”

“Bertengkar karena tidak saling memahami akan persoalan yang sesungguhnya.”

-------------------

“Nah, itulah Ki Ageng Pengging.” Syekh Siti Jenar melangkah pelan, “Makanya
Islam mengajarkan jika di antara kita terjadi perbedaan paham sebaiknya
dikembalikan pada alquran dan assunnah. Semua perbedaan pendapat dan pemahaman
bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Tidak semestinya melakukan tindakan
yang tidak diridhoi Allah, apalagi menciptakan laknat. Bukankah Islam
mengajarkan bahwa kita harus selalu menebar rakhmat, hamamayu hayuning bawanna?
Seandainya orang tadi belum mengenal Desa Kendharsawa, maka bisa dikatakan
tersesat. Salah jalan. Jika salah jalan karena ketidaktahuan itulah yang sesat.”
urainya.

“Ya, karena tidak akan mungkin sampai pada tujuan.” Kebo Kenongo
mengangguk-anggukan kepala, “Jadi makna “sesat” disini bisa diartikan berbeda?”

“Tentu,” Syekh Siti Jenar mengiyakan, “Bisa saja kita yang salah karena
keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Bisa juga orang yang kita anggap sesat
benar-benar sesat. Atau bahkan sebaliknya.”

“Syekh,” Ki Chantulo mendekat, dibelakangnya berdiri Ki Donoboyo. “Kita telah
jauh memperdalam ilmu hamamayu hayuning bawanna, ma’rifat mungkin hampir saya
capai. Namun saya khawatir ada akibat….lihatlah daun dan ranting kering ini,
sangat mudah terlepas dari batang pohon meski hanya tertiup angin sepoi-sepoi.”

“Jika kita sebagai manusia tentu saja harus punya rasa khawatir.” Syekh Siti
Jenar membalikan tubuhnya, tatapan matanya menyapu wajah Ki Chantulo.
“Kekhawatiran muncul karena keterbatasan ilmu dan ketidaktahuan perjalanan
hidup. Ketidaktahuan akan ketidakjelasan kabar.”

“Maksudnya?”

“Saat orang bilang, awas jangan lewat jalan Kendharsawa karena ada rampok
kejam, apa yang akan andika lakukan?”

“Saya akan menertawakan orang tadi, karena setahu saya jalan menuju Desa
Kendharsawa aman.”

“Karena andika tahu betul.” ujar Syekh Siti Jenar, “Tapi sebaliknya bagi orang
yang belum mengenal Kendharsawa tentu akan merasa khawatir. Mengenai kabar yang
tidak jelas tadi, bahkan akan menimbulkan rasa was-was.”

“Ya,” Ki Chantulo mengangguk, “Mungkin karena keterbatasan ilmu saya yang
menyebabkan khawatir dan takut.”

“Sebenarnya apa yang menjadi kekhawatiran andika, Ki Chantulo?” tanya Kebo
Kenongo.

“Saya mendengar kabar ditangkapinya orang-orang yang menganut ajaran Syekh Siti
Jenar. Jika tidak salah dewan wali menganggap ajaran kita sesat.” Ki Chantulo
menundukan kepala.

“Syekh?” Kebo Kenongo menatap Syekh Siti Jenar, belum juga kering mulutnya
ketika berbincang tentang sesat.

-------------------

“Tidak perlu khawatir, Ki Angeng Pengging.” lalu Syekh Siti Jenar memutar
tatapan matanya, “Lihatlah, daun kering dan ranting yang Ki Chantulo genggam.
Jasad manusia tak ubahnya ranting dan daun kering, jika sampai pada waktunya
akan jatuh di atas tanah. Penyebabnya bisa karena tertiup angin sepoi-sepoi,
mungkin saja ditebas pemilik kebun, bisa juga dimakan ulat atau binatang ternak
lainnya. Itulah sebuah taqdir. Kekhawatiran akan muncul, karena tadi itu.”
sejenak menghentikan perbincangannya.

Senja hening di padepokan Syekh Siti Jenar, para muridnya seakan-akan tenggelam
dan hanyut dalam keadaan. Angin semilir mengusik dedaunan dan jubah yang
dikenakan Syekh Siti Jenar, berkelebat.

“Saya ingat sabda alam yang pernah Syekh sampaikan.” Ki Donoboyo mengerutkan
dahinya, “Mungkinkah pesan yang disampaikannya berlaku pada kita…..”

“Jika ya? Meskikah kita mengambil tindakan?” tatap Ki Chantulo.

“Tentu saja, Ki Chantulo.” Ki Donoboyo mendekat, “Bukankah kita harus berusaha
membela diri. Mungkin caranya berbeda dengan orang kebanyakan. Bukankah kita
tidak mungkin menyerahkan diri pada hukuman sebelum melakukan pembelaan?”

“Begitukah, Syekh?” Ki Chantulo menyapu wajah Syekh Siti Jenar dengan tatapan
matanya.

“Saya tidak mengharuskan melawan taqdir.” ujar Syekh Siti Jenar, “Berlakulah
andika sebagai manusia dengan keterbatasan ilmu dan ketidaktahuan.”

“Maksudnya?” Ki Chantulo, Ki Donoboyo, dan Kebo Kenongo mengerutkan dahinya.

“Sejauhmana andika paham pada kejadian yang akan datang? Sebatas mana rasa
khawatir yang muncul dalam jiwa? Berlakulah dalam keterbatasan dan yang
membatasi semuanya.” sejenak berhenti, “Bukankah tidak semua manusia memahami
perjalanan hidupnya? Apa yang akan terjadi hari ini? Lantas hal apa besok hari
yang akan menimpa kita? Akan bersedihkah? Bahagiakah? Manusia tidak bisa
mempercepat, memperlambat, bahkan mundur dari kehendakNya. Hanya orang tertentu
saja yang memahami akan perjalanan hidup, mengenai hal yang sebelumnya atau akan
didapati.” urai Syekh Siti Jenar.

“Saya belum terlalu paham maksudnya?” Ki Donoboyo memijit-mijit keningnya.

***

“Saya menyadari akan keteledoran dan ketidaktahuan, Kanjeng.” Raden Patah
menyeka air mata, “Sehingga timbul penyesalan yang teramat dalam….”

“Tidak cukup dengan sebuah kata dan kalimat penyesalan, Raden.” ujar Sunan Giri,
“Seandainya itu berdosa kepada Allah, maka bisa ditebus dengan taubatan nashuha.
Setelah itu memperbaiki diri dan tidak berbuat kembali. Tetapi bersalah pada
rakyat, meminta maaf pun harus pada mereka…”

“Bukankah rakyat negri Demak Bintoro ini sangat banyak, Kanjeng?”

“Meminta maaf pada rakyat tidak cukup dengan perkataan dan ucapan, berkeliling
menemui penduduk negeri.” Sunan Giri berhenti sejenak, “…rubahlah keadaan negara
hingga tidak ada lagi rakyat kelaparan. Meski miskin itu ada, karena
sunnatullah. Berupayalah Raden sebagai seorang pemimpin mengubah keadaan negara.
Seorang pemimpin tidak saja bertanggungjawab di dunia, tetapi di akhirat juga.
Di dunia bisa jumawa, di dunia bisa sewenang-wenang, di dunia bisa teledor,
khilaf. Sudah menjadi kewajiban kami para wali mengingatkan umara agar tidak
terjerumus di dunia dan akhirat.”

“Saya sangat menyadari semuanya, Kanjeng.” Raden Patah semakin menunduk,
“Haruskah saya mundur untuk menebus semua kesalahan ini?”

“Mana mungkin bisa merubah keadaan jika mundur? Balikan telapak tangan,
berbuatlah yang terbaik untuk rakyat.” terang Sunan Giri, “Berbuat untuk rakyat,
berati berbuat untuk diri sendiri, negara, agama, dan keluarga.”

-------------------

“Baiklah, Kanjeng. Saya akan berupaya sekuat tenaga seperti yang Kanjeng Sunan
Giri sarankan. Meski saya harus jatuh miskin, itu hanyalah ukuran dunia dan
bentuk tanggungjawab pada rakyat.” Raden Patah menatap Pangeran Bayat, “Dimas
bantulah mereka yang kelaparan. Berbuatlah untuk mensejahterakan rakyat,
tebuslah kesalahan kita. Kakang tidak ingin mendengar kabar ada rakyat yang
masih kelaparan, bunuh diri karena miskin. Berbuatlah! Kakang pun akan berbuat
dengan tangan ini yang telah berlumur dosa karena bodoh dan khilaf.”

***

“Raden,” Sunan Giri perlahan duduk di atas kursi. “Ada persoalan yang lebih
penting ketimbang rasa lapar dan kemiskinan.”

“Persoalan apa, Kanjeng?” tatap Raden Patah, “Bukankah miskin dan lapar yang
bisa memicu orang berbuat nekad? Merampas hak orang lain? Merampok? Mungkin juga
bunuh diri?”

“Benar Raden, seakan-akan persoalan perutlah yang terpenting dalam kehidupan
ini.” Sunan Giri tersenyum, “Jarang sekali orang melakukan penyelidikan lebih
mendalam.”

“Maksud, Kanjeng?”

“Mengapa orang miskin bunuh diri, mengapa yang kelaparan nekad?” Sunan Giri
berhenti sejenak, tatapan matanya menyapu wajah Raden Patah, terkadang Pangeran
Bayat.

“Karena hanya jalan itulah yang dianggap penyelesaian, Kanjeng.” ujar Pangeran
Bayat, “Bayangkan seandainya mereka kenyang dan serba berkecukupan. Tidak akan
mungkin berbuat demikian.”

“Orang miskin merampok hanya butuh makan untuk satu hari, Pangeran. Sedangkan
yang kaya disebabkan sifat serakah.” tukas Sunan Drajat, “Bukankah hartanya
sudah melimpah ruah, tetapi masih saja ingin menumpuk kekayaan. Menghalalkan
segala cara.”

“Ya, saya mengerti, Kanjeng.” Raden Patah tersenyum, “Terlepas dari urusan
miskin dan kaya, yang jelas penyelesaian dari sebuah perbuatan buruk tadi.
Mereka hanya menyantap makanan jasmani, sedangkan rohaninya kosong.”

“Terkait dengan hal itulah kami para wali ingin berbincang.” ujar Sunan Giri,
“Bukankah para sahabat nabi juga menafkahkan seluruh hartanya demi agama.
Lihatlah khalifah Umar bin Khatab, jubah dan pakaiannya penuh dengan tambalan.
Meski secara lahiryah terlihat miskin namun hatinya sangat kaya, jiwanya tersisi
penuh. Tidak pernah berkhianat, selalu bertaqwa pada Allah.”

“Benar, Kanjeng.”

“Kemiskinan dan kelaparan yang melanda negeri Demak Bintoro dimanfaatkan
pengikut ajaran Syekh Siti Jenar, untuk menyimpang dari agama. Sehingga memicu
persoalan baru.” Sunan Giri menghela napas, “Banyak rakyat miskin dan kelaparan
bunuh diri, keadaan dibuat kalangkabut dan kacau balau. Selain aqidah mereka
masih lemah, pengaruh ajaran sesat dan menyesatkan semakin kuat. Sehingga mereka
dengan ajarannya telah mencoba menodai perjuangan para wali.”

“Gusti, menurut hemat hamba. Tersebarnya ajaran sesat Syekh Siti Jenar terkait
pula dengan persoalan politik.” timpal Pangeran Bayat, “Bukankah Ki Ageng
Pengging selain murid, juga sangat dekat dengan Syekh Siti Jenar, disamping
masih keturunan Majapahit. Mungkin dia punya anggapan memiliki hak yang sama
untuk meraih tahta.”
“Tidakkah sebaiknya persoalan politik dipisahkan dulu…”

“Maaf Kanjeng Sunan Kalijaga, rasanya ini telah sulit untuk dipilah. Ditebarnya
kekacauan dengan isu agama, sangat sarat dengan muatan politik.”

“Dimas Bayat, untuk menjernihkan persoalan ini saya sependapat dengan Kanjeng
Sunan Kalijaga.” tatap Raden Patah, “Tetapi seandainya belum atau tidak pernah
terjadi pemberontakan di Kademangan Bintoro?”

“Bukankah dugaan saya telah terjadi, Gusti?”

“Dalam hal ini tetap harus ada keputusan, Raden, terkait dengan ajaran sesat
Syekh Siti Jenar.” ujar Sunan Giri, “Pemerintah harus segera mengambil tindakan.
Sebelum pengaruh ajaran sesat ini semakin meluas….”

“Keputusan?” Raden Patah menundukan kepala, pikirannya berputar, sejenak
mulutnya terkatup.

“Haruskah saya seret Syekh Siti Jenar dan pengikutnya ke hadapan, Gusti?” ujar
Pangeran Bayat.

“Mudah saja menyeret orang, Pangeran.” timpal Sunan Kalijaga, “Apakah tidak
alangkah lebih baiknya mengutus orang dulu ke padepokan Syekh Siti Jenar di Desa
Kendharsawa?”

-------------------

“Untuk apa, Kanjeng?” tanya Sunan Giri.

“Membenarkan apa yang kita tuduhkan pada mereka.” jawab Sunan Kalijaga.

“Bukankah sudah terbukti? Jika Syekh Siti Jenar mengajarkan dan menyebarluaskan
ajaran sesat dan menyesatkan?”

“Maaf, Kanjeng Sunan Giri. Saya setuju dengan pendapat Kanjeng Sunan Kalijaga.”
Raden Patah perlahan bangkit, “Dimas Bayat dan Pangeran Modang, saya utus untuk
menemui Syekh Siti Jenar. Itu dari pihak pemerintah, Kanjeng. Alangkah lebih
baiknya Kanjeng Sunan Giri pun mengutus beberapa orang wali. Saya yakin dengan
hadirnya para wali dalam rombongan akan sanggup menilai sesat atau tidaknya
ajaran Syekh Siti Jenar.”

“Baiklah, Raden. Jika itu harus dilakukan.” tatapan mata Sunan Giri menyapu para
wali yang duduk dibelakangnya, “Saya akan mengutus Kanjeng Sunan Kudus, Kanjeng
Sunan Muria, Kanjeng Sunan Drajat, dan Kanjeng Sunan Geseng.”

“Gusti, tindakan apa yang harus dilakukan seandainya dugaan tadi benar?” tanya
Pangeran Bayat.

“Kanjeng Sunan Giri?” Raden Patah melirik ke arah Sunan Giri.

“Hukuman yang pantas dan setimpal bagi penyebar ajaran sesat. Bentuknya hanya
raja yang berhak menentukan.” ujar Sunan Giri.

“Baiklah,” Raden Patah mengerutkan keningnya.

“Hamba kira hukuman mati sangat pantas….” timpal Pangeran Bayat.

“Hukuman apa pun layak diberikan pada orang yang bersalah, sesuai dengan kadar
kesalahannya.” sela Sunan Kalijaga, “Saya kira belumlah saatnya kali ini untuk
membahas dan memutuskan sebuah bentuk hukuman, sebelum ada kejelasan serta
pembuktian.”

“Ya, Kanjeng.” Raden Patah menganggukan kepala, “Datangilah dulu! Jika terbukti
bawa ke Pusat Kota Demak Bintoro. Barulah kita menjatuhkan hukuman.” lalu
menatap pada para utusan yang ditugaskan ke Desa Khendarsawa.

***

Sore itu matahari tertutup mega hitam, berlapis-lapis. Seakan-akan tatapan
matanya yang bersinar sengaja dihalangi untuk menatap padepokan Syekh Siti
Jenar. Angin bertiup sangat kencang, mega pekat membumbung dan berputar-putar,
semakin cepat.

“Lihat, pertanda alam?” Ki Donoboyo yang berada di halaman padepokan bangkit
dari duduknya, kepalanya mendongak ke atas.

“Apa yang akan terjadi?” Ki Ageng Tingkir mengerutkan keningnya, “Angin puting
beliungkah, Syekh?” matanya tertuju pada Syekh Siti Jenar yang berdiri di
samping Kebo Kenongo.

“Pernahkah kita merusak alam? Menebang pohon sembarangan, membabad batu padas
seenaknya?” tatap Syekh Siti Jenar.

“Tidak,”

“Bahkan sebaliknya kita memakmurkan bumi, Syekh?” tatap Ki Donoboyo, “Sesuai
dengan ajaran hamamayu hayuning bawanna…”

-------------------

“Jika demikian kita tidak perlu takut dimurkai alam…” Syekh Siti Jenar
tersenyum, “Puting beliung biasanya menghancurleburkan rumah, dan bangunan.
Mungkin saja padepokan yang kita diami….”

“Saya kurang paham?” tanya Ki Chantulo, “Apa kaitannya dengan memakmurkan
bumi?”

“Bukankah beberapa waktu lalu saya pernah menjelaskan hamamayu hayuning bawana?”

“Yang kita bicarakan pada waktu itu pertautan jiwa dengan alam, Syekh.” kerut Ki
Chantulo, “Sabda alam. Tetapi tadi Syekh mengatakan mungkin saja puting beliung
bisa menghancurkan padepokan kita? Mengapa?”

“Mungkin disini, bukan berarti akan terjadi, atau tidak sama sekali, bahkan bisa
saja terjadi.” ujar Syekh Siti Jenar, “Namun mungkin disini saya tegaskan,
kemarahan alam sedahsyat apa pun tidak akan pernah menyentuh padepokan kita.”

“Termasuk puting beliung?” tanya Ki Chantulo. “Meskipun rumah penduduk disekitar
Desa Khendarsawa porak-poranda?”

“Benar, justru akan saya usahakan agar enyah dari Desa Khendarsawa.”

“Mengapa, Syekh?”

“Bukankah saya sedang menjelaskan hal yang terkait dengan ilmu hamamayu hayuning
bawana….”

“….” Ki Chantulo dan yang lainnya hanya mengerutkan kening, “Rasanya saya belum
paham…”

“Memakmurkan bumi?” Kebo Kenongo berujar pelan, “Saya kira bencana akan datang
jika bumi dirusak. Penduduk Desa Khendarsawa akan kekeringan dan kekurangan air
pada musim panas, seandainya pohon-pohon besar yang berada disekitar hutannya
ditebang habis. Mungkin saja akan terjadi longsor, bahkan bencana lainnya.” lalu
menatap gurunya.

“Ya, itu sebuah contoh kecil.” ujar Syekh Siti Jenar, “Seandainya kita telah
mengamalkan ilmu hamamayu hayuning bawanna, memakmurkan bumi. Tidak akan pernah
kita dimurkai alam atau hidup dalam kesusahan.”

“Maksudnya?” Ki Donoboyo mengerutkan dahinya.

“Alam sebenarnya akan memberikan imbalan pada kita. Seandainya kita ikut
memakmurkan dan memeliharanya…” Syekh Siti Jenar perlahan melangkah, “Lihatlah
pohon jambu batu yang di tanam Ki Chantulo itu. Bukankah Ki Chantulo memelihara
jambu ini sejak kecil, menanamnya, merawatnya, hingga menghasilkan buah?”

“Ya, saya baru mengerti, Syekh.” Ki Chantulo mengagguk-anggukan kepala, “Benar,
sekali dengan perawatan dan pemeliharaan saya hingga jambu ini memberikan
imbalan pada saya berupa makanan, buah jambu. Saya bisa menikmatinya dan
memakannya, saya baru ingat ketika jambu ini berupa bibit. Ya, mengerti.”

“Itu salah satu contoh, dimana kita memakmurkan alam…maka alam akan memberi
imbalan. Lihatlah para petani dengan jerihpayah menamam padi, lihat pula para
petani membuat pematang sawah, menciptakan saluran air dengan teratur, dan
memeliharanya. Sebaliknya rusaklah pohon jambu tadi, tebas dan biarkan merana,
biarkan pula padi disawah tidak harus dirawat dan diberi pupuk, biarkan pula
saluran air dipenuhi sampah. Apa yang akan terjadi? Memeliharakah pada kita?
Murkakah mereka?”

“Tentu saja murka, Syekh. Saya paham,” Ki Chantulo mengagguk-anggukan kepala.
“Namun selain itu, tadi Syekh bisa mengenyahkan angin puting beliung agar enyah
dari Khendarswa?”

“Bukankah andika pernah mendengar Kanjeng Nabi Musa membelah lautan. Lantas
menjinakkan air laut, sehingga dengan sebilah tongkat kayunya bisa menyebrangi
lautan yang terbelah. Lantas Kanjeng Nabi Sulaiman menundukan angin kencang?”

“Bukankah itu mukjijat, Syekh?” tatap Ki Chantulo.

“Ya, tetapi manusia semacam kita apakah tidak berhak mendapatkannya seandainya
Allah menghendaki. Hanya namanya saja bukan mukjijat.”

“Tentu saja,”

-------------------

“Bersandarlah kita pada ke Maha Besaran, ke Maha Gagahan, ke Maha Kuasaannya,
ke Maha Perkasaannya….agar hal itu bisa terjadi.”

“Bukankah mukjijat tidak bisa kita pelajari?”

“Saya tidak mengajarkan untuk mempelajari mukjijat, karena bukan sunnah rassul.
Tidak ada perintah untuk mempelajarinya, karena bukan untuk dipelajari. Mukjijat
hanya pertolongan Allah semata untuk para Nabi dan Rassul. Mungkin bagi manusia
semacam kita ada nama lain, ulama terkadang menyebutnya Kharamah?”

“Mengapa bisa muncul Kharamah?”

“Ya, karena kita telah aqrab. Juga telah berada dalam tahapan ma’rifat.”

“Jika tidak sampai pada tahapan tadi? Masih mungkinkah, Syekh?”

“Tentu, asalkan hati kita ikhlas dan berada dalam kasih sayangNya. Meskipun
orang tadi tidak sepintar Ki Chantulo. Membaca basmallah pun tidak terlalu
lancar, tetapi karena hatinya bening, bisa terjadi pertolongan Allah datang
tanpa diduga. Sebab hancurnya setiap amalan dan hasil ibadah kita akibat
tercemarinya hati.” urai Syekh Siti Jenar.

“Maksudnya?” tanya Ki Donoboyo.

“Bukankah ketika kita telah berbuat baik, menjadi sebuah catatan amal. Lalu
catatan amal tadi bisa tercoreng karena dalam hati timbul ria dan ta’kabur?”
Syekh Siti Jenar berhenti sejenak, “Bukankah dalam hadistnya Kanjeng Nabi
menjelaskan, pada suatu ketika Islam itu hanya tinggal namanya, Alquran tinggal
tulisannya……..”

“Keberkahannya yang lenyap, Syekh?” potong Kebo Kenongo, “Banyak orang memahami
ajaran Islam bahkan pasih membaca alquran, tetapi prilakunya menyimpang.
Kadangkala Alquran dan agama hanya dijadikan alat…”

“Ya, dijadikan alat untuk berkuasa dan menguasai serta membodohi rakyat. Seperti
halnya para penguasa negeri Demak Bintoro…”

“Hentikan, Ki Chantulo! Saya tidak mengharuskan menuduh orang lain seperti yang
diuraikan di atas. Jika demikian berarti jiwa dan hati kita pun sudah tercemari
dengan rasa benci dan berburuk sangka. Biarlah Allah yang menilai baik dan
buruknya seseorang. Bukankah dalam setiap diri manusia ada malaikat pencatat
amal kebaikan dan kejelekan?” tatap Syekh Siti Jenar, “Mana mungkin orang bisa
menapaki ma’rifat, jika hati belumlah bening.”

“O…” Ki Donoboyo mengangguk, “…pantas saya belumlah sampai pada tahapan
ma’rifat. Jiwa saya terkadang terusik keadaan dan situasi, yang menurut
penilaian saya jelek. Padahal jelek itu bukan menurut pribadi, juga berdasarkan
aturan agama yang saya anut.”

“Menurunkan penilaian jelek pada orang lain, karena jiwa kita sedang disisipi
perasaan merasa paling benar.” ujar Syekh Siti Jenar, “Karena kita sedang merasa
paling benar, akan selalu menganggap orang lain salah. Selalu saja ingin
mencela, mencercerca, memaki, dan melontarkan ejekan. Padahal kebenaran yang ada
dalam diri manusia bersipat nisbi. Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah.
Seandainya kita selalu menganggap diri paling benar, maka akan lupa introspeksi
diri, meski prilaku kita sudah jelas sangat salah menurut banyak orang.”

“Ya,” Ki Donoboyo mengangguk, begitu juga yang lainnya, “Justru yang sulit itu
mengintrospeksi diri, Syekh?”

“Benar, sehingga hal itu jika diperturutkan akan membunuh kehormatan sendiri.
Kita akan dibuatnya tidak berdaya. Karena merasa selalu benar, saat orang lain
meluruskan dan mengingatkan sangat sulit diterima. Perlahan orang akan menjauh.
Jika dia berkuasa dan memiliki pengaruh maka akan digunjingnya dibelakang, jadi
bahan obrolan.”

“Itulah para pejabat negeri Demak Bintoro….”

“Sssssssttttttt, ingat Ki Chantulo?” Syekh Siti Jenar menempelkan telunjuk
dibirnya, “Bukankah andika ingin mencapai ma’rifat?”

“Maafkan, Syekh.” Ki Chantulo merunduk, “Mengapa saya sulit menahan dan
mengendalikan jiwa yang bergolak. Ketika tidak setuju dan benci akan
penyimpangan, terutama dari…..”

“Sudahlah, bukankah tadi saya telah mengurainya?”

“Jika andika berupaya, insya Allah akan sampai pada tujuan.” terang Syekh Siti
Jenar.

“Sampurasun…” terdengar suara dari kaki bukit, menggema.

“Syekh, rupanya kita kedatangan tamu yang memiliki tenaga dalam hebat.” ujar Ki
Donoboyo.

-------------------

“Tahukah andika siapa yang datang?” tanya Syekh Siti Jenar.

“Belum terlihat, sama sekali tidak tahu.” jawab Ki Donoboyo, meninggikan
kakinya, matanya tertuju ke arah jalan yang akan dilewati tamu.

“Tidaklah perlu meninggikan kaki, apalagi menajamkan penglihatan…”

“Siapakah dia, Syekh?” tanya Ki Donoboyo, begitu juga yang lainnya.

“Mereka utusan dari negeri Demak Bintoro.”

“Artinya mereka akan menangkapi kita?” Ki Chantulo menepi.

Belum juga Ki Chantulo meneruskan perkataannya, utusan Demak Bintoro telah
terlihat menaiki anak tangga padepokan Syekh Siti Jenar. Paling Depan Pangeran
Bayat berdampingan dengan Sunan Kudus, diikuti Pangeran Modang, Sunan Muria dan
yang lainnya.

“Selamat datang para petinggi Demak Bintoro dan para Wali Agung di padepokan
saya, Desa Khendarsawa.” Syekh Siti Jenar dengan senyum ramah menyambut para
tamunya, “Maafkan seandainya andika dipaksa harus turun dari punggung kuda dan
berjalan menaiki anak tangga padepokan yang tidak sedikit. Mungkin langkah
andika tersita dan melelahkan?”

“Alhamdulillah, Syekh.” ujar Sunan Kudus, “Meski pun kami dipaksa harus berjalan
kaki bukanlah soal. Karena sesulit apa pun menuju padepokan ini akan kami
lakukan, yang jelas bisa menemui andika.”

“Bukankah setelah kesulitan ada kemudahan? Mungkin saja bagi andika semua
belumlah bisa bertemu kemudahan dengan segera. Bisa jadi kesulitan yang
berikutnya….”

“Apa maksud andika, Syekh?” Pangeran Modang geram, lalu mendekat dengan sorot
mata beringas, “Hargailah, kami ini utusan Agung dari Kasultanan Demak Bintoro!”

-------------------

“Apakah sikap saya tidak ramah? Bukankah dari tadi sudah mempersilahkan?
Butakah Pangeran pada tujuan sesungguhnya bertemu kami di padepokan? Sehingga
membentak saya yang berkata seadanya?” Syekh Siti Jenar tetap tenang, selalu
tersungging senyuman tipis dari bibirnya, serta air mukanya yang memancarkan
cahaya.

“Perkataan andika tadi, Syekh!” Pangeran Modang semakin beringas, tangan
kanannya menggenggam gagang keris.

“Pangeran, tenanglah!” sela Sunan Kudus, “Izinkanlah saya dulu beramah-tamah
dengan Syekh Siti Jenar.” tatapan matanya menyapu wajah Pangeran Modang yang
geram.

“Maaf, Kanjeng.” Pangeran Modang mundur, kembali pada tempatnya. “Habis penghuni
padepokan ini tidak tahu ramah tamah. Bagaimana menyambut tamu terhormat, kami
ini para pejabat.” gerutunya.

“Dimas Modang, sudahlah!” lirik Pangeran Bayat.

“Baiklah, Kakang.” lalu menundukan kepala, setelah beradu tatap dengan Pangeran
Bayat dengan sorot mata tajam.

Keadaan hening sejenak, tidak ada percakapan dalam beberapa saat. Angin kencang
dan mega yang tadinya bergulung-gulung telah kembali tenang. Matahari sore yang
tampak terhalang mega tipis mulai bisa menatap padepokan milik Syekh Siti Jenar,
seakan-akan ingin menyaksikan sebuah peristiwa yang akan terjadi. Sehingga
dengan berani matahari mengusir penghalang dari pandangannya, untuk menyaksikan
kejadian penting di Desa Khendarsawa.

Mulailah Sunan Kudus beramah-tamah setelah terganggu dan terusik bentakan
Pangeran Modang. Meski Pangeran Bayat dan yang lainnya tampak tegang, seperti
halnya Ki Chantulo dan Ki Donoboyo, sangat berbeda dengan Syekh Siti Jenar, yang
selalu tenang dan menebar senyum.

Para murid Syekh Siti Jenar berdatangan dan berada dibelakang Kebo Kenongo,
mereka menilai dan memperhatikan pertemuan itu dengan tahapan ilmu yang berbeda.
Tentu saja dalam mencerna dan memahaminya pun akan beragam.

“Syekh, saya mendengar kabar jika andika dan pengikut telah menyebarluaskan
ajaran sesat dan menyesatkan.” tatap Sunan Kudus.

“Ajaran sesat dan menyesatkan?” Syekh Siti Jenar menyapu wajah Sunan Kudus dan
para pengikutnya dengan sorot mata tenang, “Jika seandainya telah melakukan hal
tadi, artinya saya telah keluar dari ajaran Islam yang sesungguhnya.”

“Nah, itulah, Syekh.” ujar Sunan Kudus, “Alangkah lebih baiknya andika bertobat
dan kembali pada jalan lurus. Ajaran Islam yang sesungguhnya, tidak lagi
mengajarkan kesesatan. Mumpung masih diberi sisa umur oleh Allah SWT….”

“Tapi meskipun andika telah menyadari bahwa itu ajaran sesat, tetap saja proses
hukum harus dilalui!” sela Pangeran Modang. “Meskipun andika sudah punya niat
untuk bertobat…”

“Bicara apa andika, Pangeran?” tatap Syekh Siti Jenar.

“E..eeh..” Pangeran Modang melangkah, “Syekh, andika selalu saja membantah dan
melawan pada pejabat negara! Yang saya katakan aturan hukum dan negara!”
geramnya seraya menghunus keris dan mendekat.

“Kenapa andika tidak bisa tenang, Pangeran?” Syekh Siti Jenar mengangkat
tangannya ke atas, “Maafkan, Kanjeng Sunan. Juga Pangeran Bayat haruskah saya
mendiamkannya?”

“Keparat! Memang andika ini apa?” Pangeran Modang menorehkan keris ke dada Syekh
Siti Jenar, yang diserangnya tidak menghindar meski sejengkal tanah.

“Diamlah andika!” ujar Syekh Siti Jenar.

Langkah Pangeran Modang terhenti, berdiri sambil mengayunkan keris dihadapan
Syekh Siti Jenar, bergeming laksana patung. Meski seribu kali geram, namun tubuh
tidak lagi memiliki daya dan upaya untuk bergerak.

“Kanjeng Sunan Kudus?” bisik Pangeran Bayat, “Apa yang dilakukannya terhadap
Dimas Modang?”

“Jangan khawatir, Pangeran.” lirik Sunan Kudus, “Mungkin agar perbincangan saya
tidak terusik dengan tindakan Pangeran Modang, yang sebenarnya membahayakan
dirinya sendiri.”

-------------------

“Ya, saya paham, Kanjeng.” Pangeran Bayat menganggukan kepala.

“Kabar, Kanjeng Sunan Kudus?” tatap Syekh Siti Jenar.

“Ya, Syekh.”

“Bukankah kabar itu sesuatu yang belum pasti?”

“Hari inilah saya datang ke padepokan andika untuk membuktikan kabar tadi.”

“Bahwa saya telah mengajarkan dan menyebarluaskan ajaran sesat dan menyesatkan?”
Syekh Siti Jenar perlahan mengangkat wajahnya ke langit, lalu kembali menatap
Sunan Kudus.

“Bukankah andika tadi sudah menyadari, Syekh?” tatap Sunan Kudus, “Jika andika
menyebarkan kesesatan artinya telah keluar dari ajaran Islam yang
sesungguhnya….”

“Benar, Kanjeng.” tampak tersenyum, “Seandainya saya melakukan kesesatan dan
menyebarluaskannya. Artinya saya telah murtad, kafir, mungkin juga musyrik.
Tetapi benarkah tuduhan itu? Bahwa saya telah sesat dan menyesatkan dengan
ajaran yang saya sebarkan. Bukankah saya menyebarkan ajaran Islam? Meskipun kita
hanya memiliki satu ayat menurut Kanjeng Nabi, maka sampaikanlah. Tidak bolehkah
menyampaikan sesuatu tentang ajaran Islam yang saya anggap benar dan harus
disebarluaskan?”

“Memang itu tidak salah! Sudah seharusnya karena mengajarkan dan menyebarluaskan
agama merupakan kewajiban kita sebagai umatnya.” Sunan Kudus berhati-hati,
“Tetapi andika sudah dianggap melenceng, bahkan sesat.”

“Mengapa saya dianggap melenceng dan sesat? Karena saya bukan seorang wali
seperti andika? Mungkinkah karena saya hanya seorang rakyat jelata?”

“Tidak,”

“Lantas?”

“Ya, ajaran itulah yang mengkhawatirkan? Jika andika terus menyebarkan ajaran
sesat saya khawatir rakyat yang menerimanya keluar dari esensi Islam yang
sesungguhnya.”

“Andika dari tadi menuduh saya telah menyebarkan kesesatan, Kanjeng.” Syekh Siti
Jenar menyapu wajah Sunan Kudus dengan tatapannya. “Dimanakah letak kesesatan
ajaran Islam yang saya sebarkan?”

-------------------

“Baiklah,” Sunan Kudus berhenti sejenak, lalu mengerutkan keningnya. Seakan-akan
ada sesuatu yang sedang dicerna dalam pemikirannya. “Andika tidak mengajarkan
syariat Islam?”

“Syariat Islam?”

“Andika tidak mewajibkan salat lima waktu, puasa pada bulan
Ramadhan….seakan-akan rukun Islam tiada…”

“Tidak,”

“Mengapa? Bukankah itu hukumnya wajib?”

“Tentu saja.”

“Disitulah salah satu kesesatan yang andika ajarkan, Syekh!”

“Kanjeng Sunan, mengapa hal tadi merupakan salah satu kesesatan yang saya
ajarkan?”

“Dimana ukuran sesatnya?”

“Ya, itu tadi. Mestinya andika mewajibkan salat lima waktu dan puasa di bulan
Ramadhan!”

“Jika saya harus mewajibkan salat lima waktu dan puasa pada bulan Ramadhan,
tidakkah salah?”

“Justru andika telah salah dan sesat, Syekh!”

“Maaf, andika keliru, Kanjeng. Bukankah saya sebagai manusia biasa tidak punya
kewenangan untuk membuat suatu hukum atau aturan, apalagi berkaitan dengan
syariat.” Syekh Siti Jenar tersenyum, “Tidak seharusnya saya memerintahkan wajib
pada murid saya tentang salat lima waktu dan puasa di Bulan Ramadhan. Sebab hal
itu sudah menjadi ketetapan Allah dalam Alquran, haruskah saya menciptakan hukum
baru?”

“Andika ini melantur, Syekh. Memutarbalikan kata?”

“Saya tidak sedang melantur, Kanjeng. Wajib itu menurut Allah dalam kalimat yang
tersurat. Saya sebagai manusia biasa tidak bisa menyebutkan bahwa itu wajib.
Jika demikian artinya telah melebihi Allah….”

“Bagamaina andika ini, Syekh? Pembicaraan itu seperti anak kecil! Mengada-ngada.
Mereka-reka kata, memutar-mutar kalimat!”

“Bukankah manusia dalam kehidupannya hanya memainkan kata dan kalimat? Tebaklah
permainan kata dan kalimat tadi. Telusurilah tuduhan pertama tentang hal tadi
yang andika anggap sesat dan menyesatkan umat….”

“Apa yang mereka bicarakan?” gumam Pangeran Bayat mengerutkan keningnya.

“Islam itu agama syariat!” ujar Sunan Kudus, “Nampaknya seseorang menganut
ajaran Islam karena ada syariat yang dijalankan. Iman itu adanya didalam hati.
Rukun Islam itu melibatkan fisik, lahiryah. Misalkan syahadat, shalat, puasa,
zakat, dan ibadah haji, tentu terlihat dalam bentuk pengamalannya.”

“Tidak bolehkah di dalam Islam mempelajari hakikat, thariqat, dan ma’rifat?”

-------------------

“Boleh saja. Sebelum mempelajari yang tiga tadi perlajari dulu ajaran
syariatnya.” tukas Sunan Kudus, “Sehingga tidak seharusnya andika
mentidakwajibkan melaksanakan syariat. Jelas itu sesat!”

“Bukankah saya sebagai manusia, Kanjeng?” ujar Syekh Siti Jenar, “Secara syariat
dan lahiryah, manusia tidak punya keharusan, bahkan mewajibkan, tentang sebuah
perintah terkait syariat…”

“Sudah, Syekh!” Sunan Kudus menghela napas dalam-dalam, “Andika malah kembali
memutar balikan kalimat. Islam ini agama yang berdasarkan dalil dalam Alquran,
bukan berdasarkan pemikiran, pentafsiran, dan hasil proses penelaahan andika
semata…”

“Baiklah jika ini tetap dianggap memutarbalikan kata menurut andika.” Syekh Siti
Jenar berhenti sejenak, “Artinya perbincangan ini telah selesai…”

“Tidak semudah itu, Syekh!” Sunan Kudus mendekat, “Andika tidak bisa menghindar
dari hukum…”

“Hukum?”

“Ya, hukum negara Demak Bintoro. Andika telah dianggap sesat dan menyesatkan.
Persoalan yang pertama tidak menganggap salat lima waktu, puasa serta syariat
lain wajib.” Sunan Kudus berhenti sejenak, “Kedua andika telah mengajarkan
manunggaling kawula gusti.”

“Salahkah ajaran manunggaling kawula gusti, Kanjeng?”

“Jelas, artinya andika telah menganggap manunggal dengan Gusti Allah. Musrik,
sesat, serta menyamakan derajat andika dengan Allah SWT….”

“O…demikiankah?” Syekh Siti Jenar, menggunakan tatapan batinnya menembus jiwa
Sunan Kudus. “Rasanya tidak tersentuh…”

“Apa?”

“Kanjeng, tidak perlu panjang lebar. Jika yang andika inginkan menangkap saya.
Maka tangkaplah!” lalu menoleh ke belakang, tampak para muridnya berdiri.
“Menghilanglah kalian….”

“E..eeh…” Pangeran Bayat tercengang, “Murid Syekh Siti Jenar semuanya lenyap.
Kemana mereka?”

“Tangkap dan bawalah saya ke pusat kota Demak Bintoro…..” tubuh Syekh Siti Jenar
perlahan samar, tembus pandang, menyerupai kabut, tertiup angin sepoi
berhamburan.

“Kemana dia?” Pangeran Modang baru bisa bergerak, “E…ee..saya telah kembali,
Kakang!” dengan girang serta memegang kepala, dada, dan bahunya. “Hebat juga
ilmu sihirnya. Bisa menyihir saya hingga tidak bisa beranjak dari berdiri.
Sekarang dia menghilang tertiup angin.”

“Kanjeng?” tatap Pangeran Bayat, “Bagaimana menurut pendapat, Kanjeng Sunan
Kudus?”

“Kita kembali ke Demak!” Sunan Kudus membalikan tubuh.

“Bukankah kita harus membawanya, Kanjeng?” tatap Pangeran Modang.

“Seandainya Pangeran sanggup menangkapnya? Silahkan! Saya menunggu di sini.”

“Dia sangat sakti, Kanjeng.” Pangeran Modang mengerutkan keningnya serta
menggeleng-gelengkan kepala, terkadang menatap Pangeran Bayat.

“Dimas Modang, kita kembali ke Demak!” ujar Pangeran Bayat, “Saya setuju dengan
Kanjeng Sunan Kudus.”

“Lho…?” Pangeran Modang, menggerutu dalam hatinya, terkadang memijit-mijit
keningnya.

Sunan Kudus, Pangeran Bayat, dan yang lainnya beranjak dari padepokan Syekh Siti
Jenar. Tidak ada satupun yang berbicara, termasuk Pangeran Modang, semuanya
seakan-akan hanyut dan tenggelam dalam persoalan. Meninggalkan Desa Kendharsawa
menyisakan beragam pemikiran, penalaran, dengan analisis beragam sesuai dengan
kemapuan dan ilmu yang dimiliki mereka.

“Mereka kembali, Syekh.” ucap Ki Ageng Tingkir, “Padahal kita tidak
kemana-mana…”

“Ya, hanya tabir tipis saja yang menghalangi pandangan mata lahiryah mereka.”
Syekh Siti Jenar melangkah pelan.

-------------------

“Mengapa mereka demikian, Syekh?” Ki Donoboyo mendekat, “Tidakkah mereka
memiliki ilmu yang setarap dengan, Syekh?”

“Jika andika bertanya tingkatan, artinya ada yang tinggi dan rendah.” Syekh Siti
Jenar menghentikan langkahnya, “Padahal tidak semestinya kita menilai manusia
dengan tingkatan. Semua manusia dihadapan Allah sama. Yang membedakan hanyalah
cara mensyukuri segala hal yang diberikanNya.”

“Maksudnya?”

“Menggunakan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya….”

“Masih bingung, Syekh?” Ki Donoboyo garuk-garuk kepala.

“Sang Pencipta telah menciptakan tangan untuk apa? Kaki sesuai fungsinya,
tentunya untuk berjalan…” Kebo Kenongo mencoba menjelaskan, “Mata untuk melihat,
akal untuk berpikir…”

“Itulah artinya mensyukuri nikmat, secara singkat.” tambah Syekh Siti Jenar.
“Seandainya mereka mengasah mata batin, tentu bisa memandang keberadaan kita.
Tidak ada sesuatu yang tersembunyi meski sebesar zarah, atom, lebih kecil dari
debu, seandainya mata hati kita telah terbuka.”

“Kenapa saya juga belum bisa?” tanya Ki Donoboyo.

“Sebetulnya mereka pun, atau ki Donoboyo sudah bisa, tetapi tidak secantik saya
melakukannya.” Syekh Siti Jenar tersenyum, “Orang lain akan mengatakan mungkin
saya yang telah lebih dulu, dia belakangan.”

“O, Syekh tahapan lebih tinggi mereka lebih rendah. Pantas tingkat ketinggian
pun bisa mempengaruhi sudut pandang dan jangkauan mata kita.” ujar Ki Chantulo,
“Di atas ketinggian apalagi dipuncak gunung semuanya akan terlihat, berbeda
dengan mereka yang masih di kaki gunung…”

“Hahahaha….” Ki Donoboyo tertawa jika demikian saya paham, “Pantas mereka cepat
pergi karena merasa kalah dan tidak mampu menangkap kita.”

“Tidaklah perlu terlalu gembira.” tatap Syekh Siti Jenar, “Mereka tidak akan
berhenti sampai disitu. Suatu ketika akan kembali dan menjemput saya…”

“Siapakah yang mampu mengalahkan kesaktian, Syekh?” tanya Ki Donoboyo.

“Rasanya saya tidak perlu mendahului kehendakNya. Di antara para wali tentu
saja….” Syekh Siti Jenar mendadak menghentikan kalimatnya, wajahnya mendongak ke
langit. “Hampir gelap. Andika sebaiknya turunlah dari padepokan ini, keluarlah
dari Khendarsawa. Sebarluaskan ajaran kita! Meski jasad kita telah terkubur,
ruh, dan ajaran tidak akan pernah mati. Kecuali sebagian saja yang tinggal di
padepokan ini….”

Tiba-tiba kilat membelah langit, diikuti suara guntur menggelar memekakan
gendang telinga. Perkataan Syekh Siti Jenar seakan-akan mendapat restu dan
kesaksian dari langit.

“Hamamayu hayuning bawanna…” gumam Ki Chantulo ternganga.

***

“Gusti, maafkan kami tidak berhasil membawa serta Syekh Siti Jenar.” Pangeran
Bayat merunduk di depan Raden Patah.

Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan
Kudus, Sunan Ngudung, Sunan Geseng, Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, Pangeran
Modang dan para adipati telah lama berada di atas tempat duduknya. Dalam
batinnya masing-masing memikirkan dan mencerna, sesuai dengan kadar ilmu yang
dimilikinya, tentang ketidakberhasilan memboyong Syekh Siti Jenar.

“Kami tidak sanggup melawan ilmu sihirnya, Gusti.” Pangeran Modang mengacungkan
sembah.

“Haram! Islam tidak boleh menguasai ilmu sihir apalagi mengamalkannya….”

“Maaf, Kanjeng Sunan Giri.” Sunan Kudus angkat bicara, “Saya rasa Syekh Siti
Jenar tidak memiliki ilmu sihir…”

“Tapi, Kanjeng. Bukankah dia bisa menghilang? Saya sendiri dibuatnya mematung
bagaikan arca.” timpal Pangeran Modang.

“Itu bukanlah ilmu sihir setahu saya…” Sunan Kalijaga menatap Raden Patah,
“Merupakan salah satu ilmu yang diajarkan pada murid-muridnya, terkadang kita
menganggapnya sesat. Mungkin karena tidak pernah ditemui dalam syariat Islam.
Umat Islam tidak disyariatkan untuk bisa menghilang…”

“Benar,” Sunan Kudus melirik, “…mungkin itulah ajaran thariqatnya.”

“Disitulah letak kesalahannya, Kanjeng.” Sunan Giri perlahan bangkit, “Islam itu
seakan-akan ilmu yang terkait dengan hal-hal mistis. Sehingga ajaran yang
disebarluaskannya bisa menodai perjuangan kita. Padahal selama ini kita berusaha
membasmi ajaran-ajaran yang berbau bid’ah, kharafat, tahayul, dan musrik.
Toh…dia malah mengajarkan hal-hal aneh. Tidaklah sebaiknya mengajarkan
bagaimana…cara shalat yang benar…”

“Ya, padahal keimanan rakyat Demak Bintoro pada saat ini masih rapuh.” ujar
Raden Patah, “Belum juga memahami bag-bagan fikih…malah loncat ke hal-hal yang
berbau mistis.”

“Bagi orang awam sudah barang tentu, akan mengulang perbuatan menyimpang dari
syariat Islam.” Sunan Kalijaga berhenti sejenak, “Ya, mungkin inilah warna
kehidupan. Saya kira sepenuhnya kebijakan milik negara dan dewan wali…”“Untuk
itu tetap, Syekh Siti Jenar harus ditangkap!” ujar Sunan Giri, “Kali ini
sebaiknya Sunan Kalijaga saja yang berangkat?”

“Saya setuju,” ujar Raden Patah, “Namun tidaklah sendiri…”

“Seandainya ini tugas negara dan perintah dari ketua Dewan Wali…insya allah.”
Sunan Kalijaga menatap Sunan Bonang, mata hatinya mulai berbincang, ‘Kanjeng,
meski bagaimanapun juga tetap hal ini akan terjadi.’

‘Saya kira guratan taqdir berkata demikian. Terpaksa atau tidak terpaksa Kanjeng
Sunan Kalijaga harus melakukannya.’ tatap Sunan Bonang.

“Ada apa Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kalijaga?” tatap Sunan Giri,
“Adakah hal penting terkait dengan persoalan ini perlu diperbincangkan?”

“Rasanya tidak ada, Kanjeng.” ujar Sunan Bonang, “Mungkin saya akan turut serta
bersama Kanjeng Sunan Kalijaga…dan beberapa wali lainnya.”

“Baiklah,” Sunan Giri Menganggukan kepala.

“Saya akan mengutus Dimas Bayat, Pangeran Modang, dan beberapa prajurit tangguh.
Seandainya mereka sulit ditangkap!” ujar Raden Patah.

“Saya rasa tidak perlu melibatkan banyak prajurit, Raden.” ujar Sunan Bonang,
“Sebab kita tidak sedang berperang melawan pasukan musuh. Tetapi kita hanya
ingin menangkap sosok Syekh Siti Jenar yang dianggap sesat dan memiliki ilmu
cukup tinggi. Bukan lawan prajurit, dia tidak bisa dikalahkan dengan pasukan.
Percayalah pada Kanjeng Sunan Kalijaga…”

-------------------

“Mudah-mudahan berhasil,” ujar Sunan Giri, “Kita harus segera menjatuhkan
hukuman. Jika dibiarkan terlalu lama, saya takut ajarannya semakin meluas. Sebab
apa yang diajarkannya sangat kental dengan kehidupan masyarakat Demak
sebelumnya.”

“Mudah-mudahan,” ujar Sunan Bonang.

“Pertama ajarannya benar-benar sesat. Masa tuhan bisa manunggal dengan dirinya,
manunggaling kawula gusti.” ujar Pangeran Bayat, “Kedua saya melihat dengan mata
kepala sendiri, hadirnya Ki Ageng Pengging alias Ki Kebo Kenongo disampingnya.
Jadi tuduhan makar dan isu politik melatar belakangi disebarnya ajaran sesat dan
menyesatkan. Jika hal ini dibiarkan, sangat jelas akan merongrong wibawa dan
keutuhan negeri Demak Bintoro. Padahal selama ini kita berusaha membangun,
mempertahankan, dan membelanya.”

“Ya, saya pun meyakini hal itu, Gusti.” tambah Pangeran Modang, “Selain ingin
menodai perjuangan para wali, padahal tujuan utamanya politik. Ingin mendudukan
Ki Ageng Pengging sebagai Raja Demak Bintoro. Ditebarnya isu penyebaran ajaran
sesat semata untuk mengalihkan perhatian pemerintah, dimana lengah gerakan makar
pun berjalan.”

“Sejauh itukah pengamatan, Pangeran?” tatap Sunan Geseng, “Padahal saya lebih
sependapat dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Hendaklah persoalan politik dipisahkan
dulu dengan persoalan agama.”

“Maaf, Kanjeng. Justru agama lebih mudah ditunggangi kepentingan politik,
mengingat masyarakat Demak Bintoro mayoritas muslim.” ujar Pangeran Modang,
“Saya berkesimpulan demikian berdasarkan hasil penyelidikan, lihat pula latar
belakang Ki Ageng Pengging?”

“Masuk akal juga,” Sunan Giri menyapu wajah Raden Patah dengan tatapan matanya.

“Jika itu terbukti, artinya Syekh Siti Jenar jelas memiliki dua kesalahan.
Pertama mengajarkan ajaran sesat, kedua mendukung Ki Ageng Pengging melakukan
makar.” ujar Raden Patah.

“Untuk membuktikan semuanya, biarlah hari ini juga saya akan menjemput Syekh
Siti Jenar.” tatap Sunan Kalijaga, “Hingga kita tidak larut dalam bayang-bayang
dugaan…”

***

Langit mendung, awan hitam bergulung-gulung bergerak cepat kerumuni angkasa.
Petir berkilatan, diikuti guntur menggelegar memekakan gendang telinga. Angin
bertiup sangat kencang memisahkan daun dan ranting kering dari cabang pepohonan.

Bergerak di atas langit Desa Khendarsawa. Petir menyabar batang pohon, terbakar
serta jadi arang dalam sekejap. Abunya berhamburan di halaman padepok Syekh Siti
Jenar.

Para murid Syekh Siti Jenar tersentak, seraya bangkit dari duduknya, puluhan
pasang mata tertuju pada batang pohon yang berubah jadi abu dalam sekejap.

“Pertanda alam apa lagi?” gumam Ki Chantulo, tatapannya menyapu wajah Syekh Siti
Jenar yang tampak tenang.

“Kematian…”

“Maksud, Syekh?”

-------------------

“Lihat saja nanti.” melangkah pelan keluar dari ruang padepokan, seakan-akan
menyambut tamu yang akan datang.

Para muridnya yang berada di dalam ruangan belum juga keluar, mereka hanya
mengantar langkah gurunya dengan tatapan mata penuh pertanyaan.

Matahari semakin ketakutan, menyelinap di antara gelapnya mega yang
bergulung-gulung. Angin semakin kencang dibarengi petir dan kilat, seakan
menjadi-jadi.

Utusan Negeri Demak Bintoro telah berada di gerbang Desa Khendarsawa. Sunan
Kalijaga berdampingan dengan Pangeran Bayat duduk di atas pelana kuda hitam, di
belakangnya Pangeran Modang, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, dan
Sunan Geseng.

“Lihatlah, Kanjeng!” Pangeran Modang menunjuk langit, “Sihir Syekh Siti Jenar
hebat sekali. Dia bisa menciptakan petir, angin kencang, dan guntur. Padahal
sebelum memasuki Desa Khendarsawa tidak ada.”

“Mungkinkah dia telah mengetahui kedatangan kita, Kanjeng?” lirik Pangeran
Bayat.

“Ya,” jawab Sunan Kalijaga, matanya tertuju ke depan.

“Apakah gejala alam ini sengaja dia ciptakan untuk menyambut kedatangan kita?”

“Tidak, Pangeran.”

“Tapi…bukankah…”

“Pertanda alam ini lahir dengan sendirinya.” Sunan Kalijaga memperlambat langkah
kudanya, “Ingatkah Pangeran pada ilmu hamamayu hayuning bawanna yang
dimilikinya?”

“Ya, namun saya kurang paham?”

“Inilah bukti kemanunggalan Syekh Siti Jenar dengan alam…”

“Maksudnya?” Pangeran Modang ikut bertanya, keningnya berkerut-kerut.

“Jika kaki Pangeran terantuk batu, yang berteriak mengaduh kesakitan apakah kaki
atau mulut?”

“Tentu saja mulut, Kanjeng. Mana mungkin kaki bisa berteriak kesakitan.”
Pangeran Modang memijit-mijit kening, “Apa hubungannya ilmu sihir yang
ditebarkan Syekh Siti Jenar dengan pertanyaan Kanjeng Sunan Kalijaga?”

“Rayi Modang itu ibaratnya?” timpal Pangeran Bayat.

“Ah…bingung saya kakang…” Pangeran Modang garuk-garuk kepala.

“Kita telah sampai di wilayah Desa Khendarsawa.” Sunan Bonang mengangkat
wajahnya ke atas, menatap langit yang tiba-tiba terang benderang. Tidak ada
angin kencang, petir, bahkan guntur.

“Aneh?” Pangeran Modang memijit-mijit keningnya, “Lihatlah Syekh Siti Jenar
sudah tidak lagi menyihir Desa Khendarsawa. Hebat juga!”

Matahari kembali bisa menunaikan sisa tugasnya menatap Desa Khendarsawa, tanpa
terhalang mega tebal yang menggumpal. Hanya lapisan, serta lembaran awan putih
tipis menyertainya. Laksana lembaran kertas yang akan ikut serta mencatat
sejarah kehidupan manusia yang terjadi di bawah tatapan matahari.

-------------------

Utusan dari Demak Bintoro menambat kudanya di bawah pohon rindang. Sunan
Kalijaga melangkah pelan dikuti yang lainnya, matanya menyapu kaki bukit tempat
Syekh Siti Jenar bersemayam. Anak tangga berbaris hingga menyentuh ketinggian
bukit, untuk mengantar siapa saja yang hendak menemui penghuninya.

“Kanjeng, itulah tangga susun menuju padepokannya.” lirik Pangeran Bayat.

“Sangat banyak anak tangganya!” gerutu Pangeran Modang, “Hampir tidak terhitung
jumlahnya…saking banyaknya…” tangannya menyeka keringat yang menetes
dikeningnya.

“Ya, itulah tangga kehidupan….” terdengar suara Syekh Siti Jenar menggema.

“Lha, dimana orangnya?” Pangeran Modang memutar tatapan matanya, “Mulai lagi
menggunakan ilmu sihir…”

“Saya kira Syekh Siti Jenar sudah tahu kedatangan kita, Kanjeng?” lirik Pangeran
Bayat, “Padahal keberadaan kita masih jauh dari padepokannya…”

“Bukan Syekh Siti Jenar jika gelap mata hatinya, Pangeran.” Sunan Kalijaga
tersenyum.

“Kanjeng Sunan bisa saja…” gema suara Syekh Siti Jenar. “Selamat datang di
padepokan saya saudaraku Kanjeng Sunan Kalijaga, Kanjeng Sunan Bonang dan
lainnya.”

“Terimakasih, Syekh.” Sunan Bonang beradu tatap dengan Sunan Kalijaga.

“Orangnya dimana?” Pangeran Modang berusaha mencari jejak Syekh Siti Jenar
dengan tatapan matanya. “Kanjeng, dimanakah dia?” tatapnya pada Sunan Bonang.

“Tentu saja di padepokannya, Pangeran.”

“Aneh….?” tangannya memijit-mijit kening, “Padahal masih harus melewati beberapa
tangga dan bentangan jalan. Mengapa suaranya sangat dekat, seakan-akan berada
dihadapan kita? Tidakah sedang menghilang menggunakan ilmu sihirnya?”

“Tidak,”

“Heran?” tatap Pangeran Modang pada Sunan Bonang, “Sangat tinggi ilmu sihirnya…”

Setahap demi setahap Sunan Kalijaga dan rombongan menginjak tangga yang terbuat
dari pahatan batu padas. Berkali-kali Pangeran Modang menghela napas, seraya
menyeka keringat. Seperti yang lainnya, terkecuali Sunan Bonang dan Sunan
Kalijaga tidak tampak lelah apalagi menyeka keringat, tubuhnya seakan-akan tidak
memiliki bobot.

“Mengapa Kanjeng Sunan mesti menapaki tangga? Tidak sebaiknya langsung saja
berdiri dihadapan saya?” gema suara Syekh Siti Jenar.

“Tidak semestinya saya meninggalkan rombongan.” Sunan Kalijaga melirik ke arah
Sunan Bonang yang tersenyum. “Juga sangat tidak menghargai Syekh Siti Jenar yang
telah susah payah menciptakan tangga, jika kaki saya tidak menyentuhnya….”

“Kanjeng, apa maksud ucapan Syekh Siti Jenar?” Pangeran Modang melongo.
“Aneh…kenapa Kanjeng berdua tidak tampak lelah apa lagi berkeringat…kelihatannya
enteng. Apakah Kanjeng juga punya ilmu sihir?”

“Mengapa pangeran bertanya demikian?” tatap Sunan Kalijaga, “Padahal kaki saya
seperti halnya Pangeran menyentuh tangga. Saya tidak merasa berat dan mungkin
sering latihan….”

“O…pantas…” Pangeran Modang geleng-gelengkan kepala. “Memang saya malas berolah
raga…apalagi memanjat gunung…”

Matahari semakin nampak, panasnya terik menguliti tubuh. Seakan-akan ingin puas
menyinari para penghuni bumi. Itu semua terseka dengan tiupan angin sepoi-sepoi,
mengusir sengat dan keringat panas.

“Inilah padepokan saya, Kanjeng.” Syekh Siti Jenar menyambut Sunan Kalijaga
beserta rombongan dari Negeri Demak Bintoro. Dibelakangnya berdiri beberapa
muridnya, dengan sorot mata tenang.

“Syekh, saya telah kembali!” Pangeran Modang geram, “Kali ini andika tidak akan
bisa lolos…”

-------------------

“Tenang, Pangeran.” Sunan Kudus meletakan jari telunjuk dibibirnya.

“Saya akan berujar secara lahiryah…” tatap Sunan Kalijaga, “Kali ini saya datang
selaku utusan dari negeri Demak Bintoro.”

“Tentu saja harus secara lahiryah, Kanjeng.” Syekh Siti Jenar tersenyum, tatapan
matanya menyapu wajah para utusan dari negeri Demak Bintoro. “Jika hal itu
merupakan keharusan, apalagi sebagai utusan. Hanya untuk menghindari fitnah bagi
andika, Kanjeng.”

“Ya, saya kira demikian.”

“Baiklah,”

“Saya kali ini ditunjuk sebagai pimpinan rombongan. Tentu saja agar tidak gagal
memboyong Syekh ke negeri Demak Bintoro. Itu kepercayaan Raden Patah dan Kanjeng
Sunan Giri selaku ketua Dewan Wali yang memutuskan.” Sunan Kalijaga berhenti
sejenak, “Ada pun alasannya saya menangkap Syekh, karena diduga telah
menyebarluaskan ajaran sesat dan menyesatkan. Betulkan demikian?”

“Mengapa tuduhan seperti itu selalu datang bertubi-tubi memojokan saya dan para
pengikut? Padahal saya tidak merasa sedang berada dalam kesesatan.”

“Tentu saja, sebab yang menilai orang lain sesat bukanlah diri si pelaku. Namun
dalam hal ini orang kebanyakan dan umum. Artinya andika dihadapan umum sudah
berbuat sesuatu yang tidak lazim, serta tidak semestinya.” Sunan Kalijaga
perlahan melangkah, “Andika telah melanggar kesepakatan yang telah umum ketahui
dan diakui kebenaran, ketepatan, serta lelakunya. Bukankah ketika saya sedang
berada di atas panggung dan mementaskan gamelan, alat musik gong itu mestinya
dipukul. Jika saya memperlakukan gong seperti gendang tentu saja akan
ditertawakan orang yang sudah tahu, namun sebaliknya bagi yang awam hal itu akan
di anggap benar. Sehingga lelaku itu benar menurut pengikut awam, padahal yang
salah adalah yang mengajarkannya.”

“Seperti itukah lelaku saya saat ini?”

“Ya, dari sudut pandang umum.”

“Tidakkah disadari meski gendang pun bisa dipukul menggunakan batang kecil yang
seukuran. Lihatlah bedug, bukankah itu pun gendang besar yang menggunakan alat
pukul seperti halnya gong?”

“Benar,”

“Seandainya benar mengapa saya dianggap bersalah dan sesat?”

“Karena saya memandang dari sudut pandang umum dan kepentingan negara.”

“Jika demikian Kanjeng telah terikat dengan kekuasaan dan melupakan esensi
kebenaran, yang bersifat mutlak.”

“Mungkin menurut pandangan khusus demikian, Syekh.” Sunan Kalijaga berhenti
sejenak. “Pada intinya hendaklah Syekh menahan diri untuk menyebarkan ajaran
yang dianggap sesat secara umum.” lalu mata batinnya menembus jiwa Syekh Siti
Jenar.

“Mengapa mereka saling adu tatap? Tidak terdengar lagi bicara?” gumam Pangeran
Modang.

‘Saya sangat memahami tugas Kanjeng secara lahiryah dan kenegaraan. Bukankah
esensi ajaran Islam yang sesungguhnya berada dalam jiwa, ketika kita telah
berada dalam tahapan ma’rifat, akrab, serta manunggaling kawula gusti.’

‘Hanya sayang kesalahan Syekh menganggap sama setiap orang. Padahal tidak
seharusnya mengajarkan ilmu yang Syekh pahami pada orang yang bukan padanannya.
Hingga menyeret orang untuk melukar syariat….’

“Kanjeng Sunan Bonang, mengapa mereka saling tatap?” Pangeran Modang mendekat,
lalu berdiri disamping Sunan Bonang.

“Mereka berbicara melalui mata hati. Orang kebanyakan menyebutnya batin atau
kebatinan.”

“Apa yang dibicarakannya, Kanjeng?” tatap Pangeran Bayat.

“Ya, tidak jauh dari persoalan yang kita bawa, Pangeran.” lalu tatapan mata
Sunan Bonang menyambangi batin Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. ‘Benar,
Syekh. Hingga dengan ajaran tadi orang yang baru mengenal dan belajar Islam
menganggap syariat itu tidak penting. Mestinya manusia itu berjalan melewati
tangga tahap pertama, tidak semestinya loncat pada tangga yang lebih atas…’

“Lha, sekarang ketiga-tiganya jadi saling tatap. Jadi bingung apa itu batin?”
Pangeran Modang garuk-garuk kepala, “Lalu kita semua hanya menyaksikan orang
yang meneng-menengan…”

“Kanjeng Sunan Kudus?” tatap Pangeran Bayat.

-------------------

“Baiklah,” Sunan Kudus menyentuh tangan Sunan Bonang, “Kanjeng, alangkah lebih
baiknya jika pembicaraan andika bertiga terdengar secara lahiryah.”

“Hehhhhmmmm…” Sunan Bonang menarik napas dalam-dalam, seraya mencerna permintaan
Sunan Kudus. “Ya, tentu harus terdengar. Kanjeng Sunan Kalijaga, Syekh,
lahirkanlah pembicaraan andika berdua!”

Keduanya masih belum melahirkan setiap ucapannya, seakan-akan sedang berdebat
dengan tatapan matanya masing-masing. Tanpa ada gerak, bahkan komat-kamit mulut
yang meluncurkan setiap kalimat sanggahan dan pernyataan. Yang terdengar
hanyalah suara jubah mereka masing-masing yang berkelebatan tertiup angin
pegunungan.

“Kanjeng Sunan,” ujar Pangeran Bayat, tatapan matanya tertuju pada Sunan
Kalijaga.

“Saya paham, Pangeran.” Sunan Kalijaga tersenyum, kembali beradu tatap dengan
Syekh Siti Jenar. ‘Syekh, tidak setiap ajaran Islam yang andika tafsirkan dan
pahami bisa disebarkan secara merata. Pemahaman dan pencernaan tentang hal yang
tidak tersirat dan tersurat dalam alquran, hendaklah pilih-pilih, untuk siapa
itu? Dimana? Lalu tahapan aqidahnya? Sebab ilmu itu ada yang bisa disampaikan
melalui dakwah secara umum, terbuka, juga ada yang semestinya harus dikonsumsi
dan ditelaah berdasarkan tingkatan tertentu.’

“Mengapa mereka masih saling tatap?” Pangeran Modang masih kebingungan.

“Baiklah, Kanjeng.” Syekh Siti Jenar menganggukan kepala, “Bagi saya setiap
orang adalah sama. Sama sekali tidak ada tingkatan yang lebih rendah dan lebih
tinggi. Masa mereka tidak sanggup mencerna dan menelaah setiap pemikiran saya?”

“Sekarang sudah terdengar…” Pangeran Modang tersentak, “…tapi apa yang
dibicarakannya…memekakan gendang telinga dan tidak nyambung…” lalu menghela
napas dalam-dalam.

“Andika berkata demikian, Syekh. Karena pembicaraan ini terdengar oleh umum.
Tidak semestinya mengharuskan orang lain berada dalam tahapan yang sama dengan
andika.”

“Bukan salah saya, merekalah yang tidak mau mengerti dan memahami. Sehingga
muncul kalimat bodoh yang menduga-duga, serta merta memojokan dan menyudutkan
semisal saya dan para murid.”

“Apa yang andika bicarakan, Syekh?” tanya Pangeran Modang, “Dari tadi saya
perhatikan terus ngelantur. Tidakah sadar jika andika ini telah menyebarluaskan
ajaran sesat dan menyesatkan?”

“Perlukah saya bicara panjang lebar dengan andika, Pangeran?”

“Tidak perlu!” tatap Pangeran Modang, “Apa lagi yang mesti kita bicarakan?
Kecuali menangkap dan memenjarakannya, kalau perlu dihukum sekalian. Mesti
berdebat pun tentu saja pembicaraan andika akan lebih melantur kemana-mana.
Memutar balikan fakta, serta membolak-balikan kalimat. Mana mungkin orang yang
sudah dituduh bersalah mengakui kesalahannya, selain mengelak dan berusaha
mencari alasan agar terlepas dari hal yang dituduhkan.”

“Baiklah, saya terima tantangan itu.” Syekh Siti Jenar tersenyum, “Meski saya
seribu kali membuat penjelasan dan pembelaan rasanya bukan itu yang andika semua
tuju. Karena tujuan para utusan agung dari negeri Demak Bintoro ingin menangkap
saya dan menjatuhkan hukuman. Untuk itu tangkaplah saya!”

“Tentu!” Pangheran Modang maju, lantas mengikat lengan dan sekujur tubuh Syekh
Siti Jenar, lalu disered. “Selesai, Kanjeng! Kakang Bayat! Betapa mudahnya
menangkap orang ini tidak seperti hari sebelumnya menghilang segala. Mari kita
kembali ke negeri Demak Bintoro.” tangannya menggenggam pesakitan seraya
memaksanya untuk turun dari padepokan.

“Lha, kenapa amat mudah?” gumam Sunan Geseng. Lalu membalikan tubuhnya mengikuti
langkah Pangeran Modang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, dan Pangeran Bayat.

***

Awan berlayar rendah di atas bahu puncak Gunung Lawu. Matahari berbinar
kemerah-merahan, mungkin marah atau terusik dengan suara bising di tepi hutan.
Teriak lantang, dentingan senjata begitu nyaring.

Nun jauh dari keramaian rakyat negeri Demak Bintoro, berdiri pendopo
megah terbuat dari kayu jati tidak berukir. Halamnnya yang luas dipagari
pepohonan sebesar tubuh kerbau, daun rimbunnya menutup langit, pagar hidup dan
tumbuh.

Loro Gempol berdiri di depan para lelaki telanjang dada, tubuh kekar serta
berotot. Setiap tangan menggenggam pedang, lalu berpasangan saling serang.

Di sudut lain Kebo Benowo berdampingan dengan Joyo Dento, dihadapannya berdiri
pasukan berbaju serba hitam. Tangannya menghunus keris, menggenggam tombak
pasukan sebelahnya, paling samping dengan busur di tangan dan anak panah.

“Inilah pasukan gelap sewu!” gumam Kebo Benowo.

“Hanya saja kita kekurang satu pasukan lagi?” dahi Joyo Dento mengkerut.

“Maksud andika?”

“Kita perlu pasukan berkuda.”

“Kenapa tidak?”

“Persoalannya kita harus mengeluarkan modal yang lebih besar? Selain
membeli kuda juga merekrut lagi warga Demak yang siap berjuang bersama
kita.”

“Bukankah itu soal mudah, Dento?”

“Maksud aki?”

“Taklukan lagi para rampok dan paksa orang-orang kampung, terutama para
pemudanya agar mengikuti kita. Perlu kuda kita melakukan perampasan…”

“Saya kurang setuju dengan cara demikian, Ki.” Joyo Dento meninggikan alisnya.
“Meski dulu pernah melakukan cara itu. Namun itu hanya berlaku bagi para
perampok. Bagi penduduk kampung tidak lagi dengan cara kasar.”

“Takutkah andika, Dento?”

“Sama sekali tidak, Ki.”

“Lantas?”

“Tidakkah aki pikirkan seandainya kita menempuh cara lama dalam mengumpulkan
orang tidak akan pernah menumbuhkan rasa simpati. Apalagi mendukung langkah
kita,”

“Haruskah membeli?” tatap Kebo Benowo, “Bukankah kita tidak cukup modal untuk
biaya makan mereka saja mengandalkan uang dan emas cipataan?”

“Tidak,”

-------------------

“Lantas?” Kebo Benowo menggeleng. “Ide apa kali ini yang bersemayam di benak
andika, Dento?”

“Doktrin!”

“Maksudnya?” dahi Kebo Benowo mengkerut.

“Bukankah siasat ini berhasil?” sungging Joyo Dento. ”Keadaan rakyat Demak
Bintoro terpengaruh dan kacau…”

“Ajaran hidup untuk mati itukah?”

“Itulah!”

“Bukankah mereka sudah menganggap mati itu indah? Mana mungkin mereka
menginkan kedudukan dan memiliki niat bergabung dengan kita?”

“Hahahaha…Ki Benowo! Jangan khawatir, bukankah orang-orang yang akan kita
pengaruhi tidak lain hanyalah masyarakat miskin dan bodoh?”

“Benar,”

“Mudah.”

***

“Syekh Siti Jenar yang memiliki ilmu sihir itu ternyata teramat mudah untuk
saya seret ke hadapan Gusti Sultan.” tawa renyah Pangeran Modang mengurai
gemerisiknya dedaunan tertiup angin.

“Dimas, Modang!” kerut Pangeran Bayat. “Tidak mungkin ini terjadi teramat
mudah?” matanya tidak beranjak dari wujud Syekh Siti Jenar yang terikat dan
disered-sered Pangeran Modang.

“Tentu saja, Kakang. Mungkin ilmu sihirnya pada hilang gara-gara berhadapan
dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang memiliki ilmu tinggi.”

“Bukankah tempo hari juga yang menghadapi Kanjeng Sunan Kudus?”

“Entahlah…bukankah ketika berhadapan dengan Kanjeng Sunan Kudus masih sempat
menghilang dengan sihirnya ketika akan ditangkap?”

“Benar juga?”

“Kenapa andika malah berdebat?” lirik Syekh Siti Jenar. “Bukankah tujuan
andika berdua menangkap saya. Setelah diberi kemudahan malah diperdebatkan.
Bawalah saya dan hadapkanlah pada Gustimu!”

“Andika menantang!” geram Pangeran Modang.

-------------------

“Mengapa saya harus menantang? Andai benar itu tujuan andika?”

“Baiklah!” dorong Pangeran Modang, “Andika akan diadili, serta mendapatkan
hukuman yang setimpal.”

“Saya kira tidak melalui pengadilan dulu?”

“Bicara apa?”

“Masa kisanak tidak dengar?”

“Itu penghinaan, Syekh!” geram Pangeran Modang, “Jangan sekali-kali andika
bicara ngelantur. Untung saja belum berada dihadapan Gusti Sultan. Dosa dan
kesalahan andika akan bertambah, akibat menghina pengadilan. Hukuman pun
akan lebih berat! Itu mesti andika pahami!”

“Apa artinya hukum manusia?”

“Tidak takutkah andika, Syekh?”

“Mengapa mesti takut, Pangeran. Tidakkah kehidupan manusia ini di dunia hanya
sekejap.” desahnya pelan, “Tidakkah kisanak perhatikan indahnya matahari di
upuk senja? Jika hari sudah senja, artinya tiada lama lagi malam akan tiba.
Terpaksa atau tidak terpaksa indahnya senja akan terseret gelapnya malam.
Bukankah teramat singkat dan cepat. Begitu pula kehidupan kita di dunia ini.”

Pangeran Modang diam sejenak, Pangeran Modang, Sunan Geseng, dan yang lainnya
hanya menghela napas dalam-dalam. Tiada salahnya yang diucapkan Syekh Siti
Jenar. Meski demikian mereka tidak boleh hanyut terbawa arus pembicaraannya.
Apa pun yang terjadi, Syekh Siti Jenar tetap merupakan musuh Negara dan
Agama yang perlu mendapatkan hukuman.

“Cukup, Syekh!” sentak Pangeran Modang memecah keheningan sejenak.

“Andika diseret ke Demak bukan untuk berbicara tentang kehidupan. Semua orang
tahu itu! Perlu andika ketahui! Andika digiring ke Demak Bintoro tiada lain
untuk dipenggal!”

“Pangeran?” sela Sunan Geseng pelan.

-------------------

“O…” hela Syekh Siti Jenar, “…teramat mudah menghilangkan nyawa orang dengan
jalan dipenggal. Mestikah hukum penggal dilakukan demi menghilangkan nyawa
orang?”

”Jangan salah arti, Syekh!” ujar Pangeran Modang, “Hukum penggal dilakukan
bukan untuk menghilangkan nyawa orang! Ingatlah, pemenggalan dilakukan demi
tegaknya hukum!”

“Bukankah pada akhirnya tetap untuk menghilangkan nyawa orang? Yang kisanak
anggap sebagai musuh Negara?”

“…tidak…”

“Mengapa tidak? Bukankah setelah orang dipenggal dan lehernya putus akan
mati? Itu sebuah pembunuhan, yang tidak memiliki rasa kemanusian sama
sekali. Apa bedanya kisanak dengan menghargai binatang ternak yang
disembelih?”

”Apa bedanya seorang penjahat seperti andika dengan hewan sembelihan? Bukankah
tidak lebih rendah perbuatan andika dari binatang sembelihan?”

“Kisanakkah yang menentukan rendah dan terhormatnya derajat manusia?”

“Ini sudah menjadi ketentuan hukum…” Pangeran Modang mengerutkan keningnya,
lalu lengan bajunya mengusap keringat yang mulai meleleh dari dahinya.
“…hingga derajat andika dianggap setingkat dengan binatang sembelihan.
Maka hukum penggal sugah semestinya…”

“Pangeran,” desis Sunan Geseng. ”Tidakkah perkataan Pangeran terlalu
berlebihan? Bukankah pengadilan nanti yang akan menentukan di depan sidang para
wali dan Gusti Sinuhun?”

”Ah, tapi…” Pangeran Modang tampak pucat. “Bukankah sepantasnya, Kanjeng
Sunan. Jika Syekh Siti Jenar diberi sedikit penjelasan…maksud saya supaya
tersadar akan kesalahan dan dosa-dosanya. Sebelum hukum dijatuhkan dia mau
bertobat…”

“Hahahaha….” Syekh Siti Jenar terkekeh, “….Pangeran perkataan kisanak
berlebihan…”

“Diam, Syekh!” Pangeran Modang merah padam, lalu memukul pundak Syekh Siti
Jenar hingga terhuyung.

-------------------

”E…eh,” Syekh Siti Jenar menjaga keseimbangan.

“Dimas, mengapa berlaku demikian padanya?” tatap Pangeran Bayat.

“Maaf, Kakang. Dia terlalu angkuh dan selalu mencela kita. Arti nya melawan
Pejabat Negara. Tidak sepantasnya bagi rakyat jelata melawan Pejabat.”

“Ternyata kisanak telah dilenakan dengan pakaian kebesaran, Pangeran.”
sungging Syekh Siti Jenar. “Tidakkah antara si miskin dan si kaya, pejabat
atau pun rakyat semuanya sama di depan hukum?”

“Siapa bilang?” geram Pangeran Modang. “Andika selain penghianat Agama dan
Negara juga berani mencela setiap ucapan saya. Tidak sadarkah derajat
andika dan saya berbeda. Andika hanya rakyat jelata, saya pejabat Negara.
Mestikah saya hormat terhadap andika?”

“Benar…benar kisanak telah dibutakan gemerlapnya pakaian kebesaran dan
singgasana jabatan.” sungging Syekh Siti Jenar, ”Kisanak telah lupa tentang
asal muasal sendiri, apalagi hakikat hidup. Lantas tidakkah ingat bahwa
Allah menilai manusia bukan karena parasnya yang cantik, bukan karena
jabatannya, bukan karena miskinnya, tetapi orang yang paling mulia
dihadapanNya hanyalah nilai ketakwaannya? Dunia, jabatan, kekuasaan, serta
segala yang kisanak miliki tidak akan pernah menolong dan membantu ketika
kita ber…”

“Diam!” bungkam Pageran Modang, “Tidak..semestinya andika menggurui saya.”
mukanya merah padam, matanya menyala terbakar marah. Kepalan tangannya
menghantam lambung.

“Akhhh…” jerit lirih Syek Siti Jenar, merunduk.

“Rupanya andika harus mendapat pelajaran!” ketusnya.

-------------------

“Dimas,” Pangeran Bayat menghentikan gerakan tangan Pangeran Modang berikutnya.

“Kenapa, Kakang?”

“Sadarlah, Dimas? Tidak semestinya kita memperlakukan Syekh Siti Jenar secara
kasar. Bukankah dia juga punya hak untuk mendapatkan keadilan yang wajar?”

“Tapi,”

“Hehe…andaikan pejabat negara seperti kisanak semua tidak mungkin keadilan akan
tercapai. Tidak mampu mengendalikan amarah…alamat berantakan sistem hukum di
negara ini.”

“Diam, andika, pesakitan!” bentak Pangeran Modang. “Jika buka mulut sekali lagi
akan ku sumpal mulut andika…”

“Pangeran, tindakan kisanak tidak mencerminkan sebagai seorang terpelajar dan
sosok pejabat…”

“Mulai lagi andika! Bukannya diam dan merasa takut pada saya. Bukankah sudah
tahu bahwa saya ini seorang terpelajar, juga pejabat negara. Beraninya bersikap
tidak diam, malah membantah terus…”

“Mengapa saya mesti takut pada kisanak selaku pejabat negara dan terpelajar,
bukan sebaliknya sosok kisanak mencerminkan prilaku yang sesuai dengan jabatan
serta ilmu yang dimiliki?”

“Keparat!” Pangeran Modang semakin terpancing, hingga kembali mengayunkan
kepalan tangannya ke perut.

“Aduhhh…” Syekh Siti Jenar terhuyung.

“Mau lagi?” memamerkan kepalannya, dengan tatap mata beringas. “Bukannya andika
ini orang sakti Syekh mengapa saya pukul sekali saja sudah nampak kesakitan?”

“Jika Pangeran masih mau memukul saya silahkan. Saya merasakan sakit saat
dipukul kisanak hanyalah untuk menghormati kesombongan dan keadigungan
adiguna….”

“Brengsek! Menantang rupanya andika, Syekh?!” Pangeran Modang kembala
mengayunkan kepalan tangannya ke arah perut.

Drek, terasa kepalan tangannya menghantam baja.Mulutnya menyeringai menahan
sakit. Tetapi yang dipukulnya untuk kali ini tidak bergeming. Hati Pangeran
Bayat mulai ciut.

-------------------

”Eeh…sihir apalagi yang andika gunakan, Syekh?”

”Pangeran, tidak semestinya seorang terpelajar dan memiliki jabatan
menduga-duga dan menuduh. Padahal tuduhan tadi menunjukan ketidakpercayaan diri
kisanak.”

“Andika yang menduga-duga?”

”Katakanlah dengan nurani, Pangeran. Tidak sepantasnya memutarbalikan kata
andai itu hanya untuk melipur lara karna takut.” berdiri tegak, tatapan matanya
yang tajam seakan-akan menembus kelopak mata Pangeran Modang dengan seringainya
menahan sakit.

‘Keparat, benarkah dia itu bisa membaca isi hati saya? Ah…mana mungkin manusia
sanggup menyelami hati orang lain?’ sejenak termangu, telapak tanganya mengelus
punggung tangan yang terasa sakit. ‘Jika tidak, mengapa dia tahu saya merasa
ciut…’

“Benarkan apa yang saya katakan, Pangeran?”

”Diam!” geramnya, jari-jemarinya dengan kasar menjabak leher baju Syekh Siti
Jenar.

“Mana mungkin orang sekasar kisanak bisa mendalami agama dengan baik. Apalagi
mendakwahkannya pada orang lain. Prilaku saja sudah tidak sanggup menarik
simpati. Tidak salahkah para wali memungut kisanak sebagai abdi negara? Bukankah
rakyat semacam saya ini perlu diayomi…”

“Tidak, karna andika bukanlah rakyat Demak Kebanyakan. Andika tiada lain
pesakitan yang sudah semestinya mendapat perlakuan seperti ini.”

”Bukankah kesalahan saya ini belum terbukti, Pangeran?”

“Nanti akan kita buktikan dalam persidangan…”

”Haruskah yang belum jelas kesalahannya diperlakukan sebagai pesakitan?”

“Andika ini memang pesakitan!” bentaknya dengan muka memerah.

“Tidakkah kisanak dalam keadaan gusar? Setiap ujaran berbenturan dengan
lainnya.”

”Diam!” Pangeran Modang merenung sejenak. Disisi lain rasa gengsi sangat kuat
untuk memperlakukan Syekh Siti Jenar dengan cara yang kurang hormat, dipihak
lain membenarkan ucapan musuhnya. “Sudah!” lalu menyeret lagi.

“Sebaiknya Pangeran istirahat dulu…”

“Diam!” lalu membalikan tubuh ke belakang ternyata Pangeran Bayat menjauhi
dirinya seakan berlari kembali ke Padepokan menghampiri para Sunan yang tidak
mengikuti langkahnya. “Ada apa ini?” dahinya dikerutkan.

-------------------

“Kenapa Kakang Bayat meninggalkan saya? Juga para Sunan tiada satu pun
mengikuti, padahal tadi dibelakang.”

“Jika demikian kita hanya berdua Pangeran?” terdengar lembut dan menakutkan.

“Diam!.” kembali berbalik, “Eeh…kemana Syekh Siti Jenar? Mengapa ikut lenyap,
lalu…” Pangeran Modang mengerutkan keningnya, tangannya masih menggenggam kuat
tambang pengikat pesakitannya. Yang diikatnya kini bukanlah Syekh Siti Jenar
tetapi sebongkah gedebog pisang.

”Keparat! Saya telah kembali ditipu dengan sihirnya…” giginya gemeretak,
tinjunya dikepalkan, mukanya merah padam. “Aneh, bukankah sedari tadi saya
bicara dengan mereka…apa sebenarnya yang telah terjadi pada diriku?”
Berkali-kali telapak tangnya menepuk dahi, terasa dirinya betapa dungu dalam
menghadapi kejadian tersebut.

“Lalu, benarkah tadi yang saya ajak bicara Kakang Bayat? Juga Para Sunan? Jika
benar tentu mereka tidak akan meninggalkan saya begitu saja?”

”Haha…dasar bodoh! Andai mata hati kisanak tidak buta tentu tak seharusnya
berbuat sebodoh itu….”

“Keparat! Siapa andika?” berputar-putar mencari pemilik suara, terdengar
seakan-akan menusuk gendang telinganya.

“Buanglah yang menyebabkan hati kisanak menjadi buta. Belalakkanlah mata hati kisanak!”

“Brengsek! Andika jangan mempermainkan saya! Ayo tampakan wujud Andika
pengecut…”

“Bukankah tadi saya sudah menasihati kisanak?”

“Saya tidak perlu nasihat orang pengecut…”

“Kisanak masih belum paham juga…”

[Non-text portions of this message have been removed]


No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog