Friday, August 31, 2018

Konstitusi dan Demokrasi dalam Perspektif Sejarah

Perspektif sejarah memiliki keunikan tersendiri sebagai suatu disiplin ilmu sekaligus karya sastra. Pembahasan mengenai peristiwa yang telah terjadi dan telah lewat masa berlakunya dengan cara menghubungkannya dengan kondisi yang terjadi sekarang hingga mampu terus berlanjut serta relevan di masa mendatang. Tentunya peran aktif dan daya kreatifitas sang sejarawan bermain secara dominan dalam ranah ini. Bila konsep ini terus diasah dengan baik tentunya dapat menjadi alat dan keahlian yang bermanfaat apabila berada di tangan sejarawan yang tepat. Artinya informasi yang diberikan bisa jadi tepat guna sebagai pelajaran dan sumber pengetahuan yang memiliki korelasi dengan peristiwa dan titik balik momentum berikutnya atau hanya sekedar menjadi informasi sampah


Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh kasus dari artikel sebelumnya mengenai persekusi terhadap Neno Warisman yang kedatangannya ditolak  saat hendak melakukan deklarasi #2019gantipresiden Padahal penolakan ini terus menerus bergulir di masyarakat dan mengalami pro-kontra sebagai suatu hal yang tak melanggar konstitusi atau justru membungkam demokrasi itu sendiri. Saatnya sejarah akan menjawab hal ini dengan sudut pandangnya sendiri terhadap proses yang sedang berjalan dan biarkanlah perjalanan waktu yang akan menilai.


Singkatnya atas suatu peristiwa yang kelak dapat menjadi sejarah, tidak hanya dikenang tetapi menjadi pelajaran kedepan maka semua mata akan melihat bahwa kebenaran akan menemukan jalannya dan sejarawan hanya sekedar mengantarkannya ketujuan. Para elit boleh berkelit tetapi doa rakyat akan selalu mampu menembus langit.

Sunday, July 29, 2018

Kami Bersama Neno Warisman

Orang Semarang punya bandara Achmad Yani yang kini diperbaharui dengan tempat (terminal & apron) yang lebih luas dan perpanjangan landasan strategis serta menuju pada akses yang lebih canggih karena terhubung dengan jalan tol. Tentunya dengan berbagai fasilitas dan infrastruktur baru tersebut ditambah pula dengan lokasinya yang semula merupakan area pangkalan udara militer TNI AD di Kalibanteng tidak hanya nyaman dari sisi fasilitas tetapi juga terjamin dari sisi keamanan.

Tentunya kondisi yang sama juga diharapkan serupa pada bandara-bandara lain di Indonesia apalagi yang berlabel sebagai bandara internasional. Namun ternyata baru saja terjadi insiden yang melukai hati terjadi di Bandar Udara Internasional Hang Nadim (Hang Nadim International Airport), dimana warga negara sendiri tersandera atas nama demokrasi dan dasar negara yaitu Pancasila.



Semoga kedepan di masa yang akan datang, intolerasi yang menciderai Bhineka Tunggal Ika mendapat respon cepat dari aparat pemerintah setempat. Arogansi sekelompok orang yang melakukan tindakan represif dan teror terhadap warga negara di tempat umum dapat dicegah apalagi bila terlihat ada tanda-tanda akan melakukan perbuatan anarkis yang menjurus pada upaya kriminal.
#2019GantiPresiden #KamiBersamaNenoWarisman

Wednesday, July 25, 2018

Pendidikan, Tantangan Kehidupan, dan Peradaban.


Kehidupan merupakan proses yang dinamikanya sedemikian kompleks dan setiap orang memiliki peran tersendiri. Meskipun masing-masing memiliki posisi yang berbeda dan terkadang juga dilahirkan tanpa adanya kesempatan yang sama, setiap manusia bisa mengubah jalan hidupnya dengan mengubah cara ia berfikir. Alasannya sederhana, dengan mengubah pola pikir maka akan mengubah cara seseorang mengambil tindakan dan selanjutnya akan berpengaruh pada fase kehidupan selanjutnya. Hal itu akan mempengaruhi jalan hidup perseorangan hingga ikut berdampak pada lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga hingga komunitas masyarakat yang lebih luas.

Akan lebih baik bila negara ikut hadir dalam membentuk karakter warga negaranya lewat sarana dan prasarana pendidikan. Tetapi kewajiban utama justru terletak pada diri sendiri seseorang jika ia ingin kehidupan yang lebih baik maka ia harus terdidik, baik lewat pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan berdasarkan informasi sekelompok orang serta keahlian komunitas yang diturunkan dari generasi ke generasi lewat pengajaran, pelatihan, atau penelitian lintas waktu.

Pendidikan sering terjadi dibawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Kasus yang terdekat adalah penyampaian informasi/ pengetahuan berdasarkan pengalaman orang tua kepada anaknya hingga generasi penerus berikutnya. Ada nilai-nilai penting tersimpan dalam hubungan keluarga sehingga seorang manusia mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian hingga ikut berperan menyusun peradaban. Dengan kata lain, memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai dengan norma yang dijadikan landasan fundamentalnya.

Sumber Suara Merdeka
Tantangan dalam proses pembelajaran melalui pengalaman hidup tentunya beragam, mulai dari skala mikro di tingkat perseorangan hingga keluarga (lokal-nasional) sampai strata makro bernegara hingga diplomasi antar negara. Tentunya itu semua dipersatukan oleh satu visi-misi bahwa manusia ingin kehidupan hari esok jadi lebih baik dan ini sudah menjadi pekerjaan rumah bersama karena kita hidup di bawah sinar mentari dan sinar bulan yang sama serta berpijak pada bumi yang sama.

Joki Hamdani
Journalist Organizer


Sunday, February 18, 2018

Sejarah Bisnis Spot Media Indonesia

Advertising secara sederhana merupakan cara perusahaan sebagai penyedia barang dan jasa untuk mendekatkan diri kepada para pelanggannya. Bisnis di Indonesia ikut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi serta metode komunikasinya. Kalau dulu teknik pemasaran dan penjualan masih menggunakan cara konvensional lewat personal sales dari internal perusahaan untuk memasarkan produk berdasarkan upaya jemput bola agar terjadi transaksi penjualan untuk mencetak omset, kini justru sudah bertambah lewat sarana komunikasi digital. eCommerce, sosial media, dsb.

PT. ASATU MEDIA BERSATU, perusahaan media di Semarang yang dapat menjadi partner perusahaan dalam pemasaran
Transaksi online sebagai aktivitas komersiil yang dilakukan antara penjual dan pembeli lewat media internet saat ini memang sedang mengalami peningkatan drastis secara akumulatif transaksional hingga perputaran uang, padahal sudah tidak ada perjumpaan langsung antara penjual dan pembeli. Tentu saja dalam hal ini telah terjadi perluasan jangkauan (global reach), pertambahan pangsa pasar (market exposure), menurunkan biaya operasional (operating cost), yang menandakan terjadi tren perubahan dalam tingkah laku customer dari cara lama yang konvensional menjadi terobosan baru ke arah yang lebih modern yang bisa diartikan sebagai peningkatan costumer loyalty atau brand awareness.

Tempo menyebut perubahan ini dalam istilah revolusi digital dan mengutip data wawancara dengan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, bahwa jumlah pengguna data internet yang berbelanja online di nusantara sudah mencapai 24,7 juta jiwa di tahun 2016 dan sepanjang tahun itu saja sudah membelanjakan sekitar IDR 75 T. Sejalan dengan makin antusiasnya masyarakat Indonesia di berbagai applikasi media sosial yang menyebabkan revolusi digital jadi momentum yang tak dapat dihindari. Akibatnya pertumbuhan perusahaan start up di Indonesia bermunculan secara signifikan.


Revolusi Digital Indonesia sendiri sudah menyentuh sektor keuangan di perdagangan barang dan jasa, eCommerce, moda-moda pembayaran maupun pembiayaan serta dapat dilihat dari jumlah pemain di sektor Financial Technology yang terus tumbuh dalam rentang periode 2015-2016 hingga 78%. Sayangnya potensi ini masih dianggap belum tergarap dengan baik mengingat penetrasi internet berada dikisaran 51% dalam kurun periode tersebut, serta kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal jauh dibandingkan negara lain, bahkan cakupan layanan 4G di Indonesia baru 23 persen.

Hambatan lainnya adalah pengeluaran investasi di sektor teknologi komunikasi yang relatif tertinggal
Bila Indonesia mau masuk ke revolusi digital, maka pengeluaran di sektor teknologi komunikasi haruslah memadai. Namun tetap disertai keyakinan biaya tersebut adalah biaya yang efektif. “Perlu keluarkan biaya teknologi informasi yang memadai.” Itu artinya dari sisi demografis keuntungan Indonesia juga harus dibarengi dengan investasi di bidang infrastruktur yang memadai. Sekaligus perlu memperhatikan pendekatan budaya lokal untuk menjangkau perluasan secara bisnis global.


Saturday, September 30, 2017

Seminar Nasional Kewirausahaan ACSENT - FEB UNDIP


Terkadang hal luar biasa tak selalu berasal dari karya besar yang mendunia, namun juga bisa berawal dari momentum sederhana tetapi dengan konsistensi dan komitmen dari waktu ke waktu. Eksistensi macam ini mungkin tepat bila disematkan pada jajaran mahasiswa dan civitas akademika Universitas Diponegoro fakultas ekonomika dan bisnis yang selalu menyelenggarakan acara seminar berkualitas selain kuliah.

Enam tahun yang lalu, dalam event FEB UNDIP 30 September 2011 saya menyaksikan pak Jokowi RI-1 masih menjabat sebagai Walikota Solo menjadi pembicara dalam gelaran acara di kampus Tembalang Semarang. Acara mahasiswa yang saat itu bertajuk Diskusi Panel dengan diselingi Tanya-Jawab dari para mahasiswa memberi pesan yang sangat mendalam bagi saya sebagai peserta yang nota bene orang awam.

Presenting event dari ASCENT "Accounting Society Event" 30 September 2017


Kesan yang sama masih terasa istimewa meski telah beberapa tahun berlalu, bahkan kini semakin yakin dengan peran dan aktivitas mahasiswa disana sejalan dengan visi misinya "To be creative and innovative in digital era with Entrepreneurship". Terbukti pula bahwa Universitas Diponegoro sebagai Badan Hukum Milik Negara mampu beradaptasi terhadap perkembangan dunia dari sisi bisnis sekaligus tetap idealis dan semoga mampu menjalankan visi misi tersebut secara etis pula lewat PT. Undip Maju

Antusias peserta dan mahasiswa saat acara berlangsung di Lab. Kewirausahaan Universitas Diponegoro
Kolaborasi dari berbagai pihak dan peran aktif mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP terlihat dari semangat para peserta yang hadir dalam seminar. Untuk itu penulis ucapkan terimakasih pada panitia acara: Zihan Aulia, Rizka Fardiba, Irdam Fairuz, serta Dinda Ayuningtyas dkk yang telah berbagi informasi sekaligus memberikan akses pada Sejarawan.ID untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi sebagai media partner. Semoga bisa berjumpa dalam event berkualitas seperti ini di tahun berikutnya.

Tuesday, September 26, 2017

Sejarah Kuliner Kota Lama, "Kecap Kakap"

Jiwa marketing saya tertantang saat seorang informan dari dotSemarang mengatakan bahwa orang nomor satu di kota ini hanya mengusulkan tiga kategori sektor unggulan ke Bekraf. Dalam hal ini pemerintah tentu lebih mengerti faktor apa yang mempengaruhi kemajuan diwilayahnya dan bukan waktunya orang awam seperti saya mempertanyakan dasar pertimbangan dalam mengajukan usul tersebut. Apalagi kini semua sudah telah diverifikasi dan ditetapkan, yang artinya sudah akan dieksplorasi dan dioptimalkan pengembangannya kedepan.

Padahal sebagai warga kota Semarang masih ada hal potensial lainnya yang bisa dioptimalkan dari kota ini. Satu diantaranya ialah bidang kuliner yang selain punya citarasa namun juga sejarah dengan tradisinya yang populer. Mulai dari makanan hingga jajanan pasar dan sub sektor seperti cemilan diangkringan, ambil contoh tahu gimbal, nasi ayam, garang asem, soto bangkong, mie kopyok, bandeng presto, tahu petis, lunpia, winko babat, kue ganjel rel, wedang ronde, wedang uwuh, sekoteng, congyang, hingga jamu pun sudah jadi bagian dari kuliner disini.

Kecap itu selalu nomor satu, Semarang pun punya resep kecap dengan tradisinya sendiri. Dalam kasus ini riwayat kecap dengan resepnya yang unik dapat menjadi contoh inspirasi sejarah kuliner. Terutama karena kecap sudah jadi bagian dari kuliner nusantara dan sering kali diproduksi oleh perusahaan keluarga secara turun temurun lintas generasi sehingga menarik untuk diteliti dan diamati lebih lanjut.

History of Soy Sauce yang dikutip oleh Tirto.Id menyebutkan bahwa dokumentasi tertua soal kecap tercatat pada tahun 1633 dan kecap mulai resmi masuk ke nusantara pada 1737 untuk dikemas dan dikirim ke Belanda. Sejak saat itu mulai banyak dikenal perusahaan kecap seperti kecap Istana (1882), cap Orang Jual Sate (1889), Siong Hin (1920), Mirama (1928), Bango (1928), Zebra (1945), Piring Lombok dan Suka Sari (1951), dan Kakap (1958).

Beberapa merek kecap cukup beruntung diakuisisi oleh perusahaan multinasional. Berarti ada modal masuk dari investor dan mampu berkompetisi lewat R&D, promosi dan produksi. Sebaliknya bila tidak cukup kuat, maka perusahaan kecil bisa bernasib sebaliknya, sulit untuk berekspansi dan mempertahankan eksistensi rasa yang konsisten terutama saat harga pokok kedelai berinflasi cukup banyak.

Inovasi bisnis memang bisa menjawab semua kendala dan hambatan para pengusaha kuliner yang melegenda ini, tetapi sejauh mana mereka mampu bertahan, terutama saat pemerintah seolah tidak peduli dan tidak mendukung langkah mereka mempertahankan tradisi dan resep rahasia keluarga yang melewati masa sejarah puluhan hingga ratusan tahun dari generasi ke generasi dengan kreatifitas tanpa henti.



Sumber:
https://tirto.id/jejak-kecap-tradisional-membelah-nusantara-bqG
http://dotsemarang.blogspot.co.id/2017/09/4-sektor-Unggulan-Semarang-Tahun-2017.html
https://www.facebook.com/Probolinggoetempoedoeloe1800/posts/316128215165615
http://semarangkota.go.id/berita/read/7/berita-kota/1863/kota-lama-jadi-tempat-parade-fashion

Monday, September 18, 2017

Reputasi Perusahaan dalam proses Waktu

Faktor waktu ikut berpengaruh dalam membangun brand dan nama baik perusahaan, bisa dikatakan sama pentingnya dengan kualitas produk. Sebab produk berkualitas sekali pun akan sulit diterima pasar, bila dijual oleh perusahaan yang dikenal karena reputasinya yang buruk. Untuk itu langkah penting dalam membangun reputasi adalah dengan dipegangnya budaya kerja sebagai business conduct atau etika bisnis dari waktu ke waktu secara berkesinambungan oleh semua elemen perusahaan.

Langkah tersebut mau tak mau harus dilakukan karena membentuk brand itu tidak bisa cepat dan dalam waktu singkat. Jangkankan orang lain di luar organisasi perusahaan, kadang karyawan sendiri sebagai pihak internal pun juga perlu diyakinkan bahwa perusahaan punya itikad dan maksud yang baik. Image tersebut harus dibangun secara bertahap, menjadi budaya dan karakter perusahaan hingga akhirnya membentuk suatu identitas.


Thursday, September 14, 2017

Digitalisasi Pemasaran dengan Sejarah

Kemarin siang menjelang jam istirahat seperti biasa selain mengisinya dengan rutinitas wajib yaitu brunch, baca surat kabar harian yang terkenal di Semarang: Suara Merdeka. Semua rubrik cukup menarik untuk disimak termasuk info peluang usaha atau lowongan kerja walau hanya berupa iklan baris. Era tekhnologi yang semakin canggih memang telah mengubah wajah dunia dan cara kita berkomunikasi termasuk bagaimana mendapatkan informasi.

Walau pun begitu tidak serta merta semua hal mengalami perubahan drastis dari konvensional menuju tren digital. Memang dengan adanya gadget memperoleh data terbaru maupun arsip lama akan sangat mudah belakangan ini, tetapi kebiasaan lama susah untuk dihilangkan, termasuk seperti baca koran. Ada sensasi yang unik untuk dijelaskan saat tangan membentangkan lembaran koran dengan perut kenyang :)

Kembali ke koran, di iklan baris lowongan, ada perusahaan yang sebelumnya sudah beriklan beberapa kali mencari sales dan marketing proyek untuk suatu produk lampu. Informasi cukup lengkap disertai nomor yang dapat dihubungi. Biasanya untuk bisnis dengan perusahaan yang stafnya terbuka dalam menyampaikan informasi maka gagasan/ ide baru dari luar akan diterima dengan mudah.


Tadinya dengan percaya diri saya akan mengajukan proposal kerjasama, setidaknya memperkenalkan diri dan memperluas jaringan. Resolusi pribadi yang sudah dicanangkan sebagai momentum awal bulan September ceria tahun 2017 ini. Tapi apa mau dikata semua tak disangka, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Jangankan untuk berbicara panjang lebar, ngobrol ngalur ngidul bagai sobat lama, berkenalan dan bertukar namapun tak sempat bagai gayung tak bersambut, secara singkat saya ditolak.

Sayang sekali maksud baik yang sudah dipersiapkan meskipun sambil lalu tapi serius tak ditanggapi dengan respon yang sama baik, hanya sekedar tau tapi tak menciptakan kondisi ok, so what next.

Padahal meskipun iklan baris itu harganya mungkin tak seberapa, namun ditayangkan beberapa kali dalam hari yang berbeda termasuk sampai hari ini pun masih tetap tayang di Suara Merdeka dan Tribun Semarang.

Sayang uangnya dan sayang waktu yang terbuang, walau tanpa bermaksud melakukan provokasi namun lebih pada bersikap empati dan menempatkan diri saya di posisi mereka, apa salahnya bersikap lebih terbuka dan open minded. Memang kuota mahal dan subsidi listrik juga sudah tak ada lagi, tapi biaya berkomunikasi via whatsapp jauh lebih murah dari pada beriklan. Efektif atau efisiensi silahkan pembaca renungkan sendiri.

Pemasaran itu berorientasi pada hasil dan berdasarkan target, harus ada strategi agar tercipta akuisisi pada penjualan, dan pastinya semua harus lewat proses. Tahap yang akan dilewati satu diantaranya adalah promosi dan membentuk suatu brand, entah itu produk, perusahaan, personel, atau pelayanannya. Sebab kalau bisnis anda tak membentuk suatu image di benak konsumen atau stakeholder, maka anda hanya menjual suatu komoditas barang, itu artinya diantara sekian banyak kompetitor di bidang yang sama, maka hargalah yang jadi faktor utamanya. Energi perusahaan akan terkuras hingga akhirnya harus banting harga untuk mencatat transaksi penjualan dan memenangkan hati pelanggan.


Wednesday, September 13, 2017

Alasan Sejarah selalu Relevan dalam Ranah Bisnis

Perumpamaan yang tepat dalam studi kasus ini ibaratkan perusahaan itu sebuah bahtera di tengah samudra alias kapal ditengah lautan. Saat kita menumpang didalamnya lalu ikut terombang-ambing oleh ombak bahkan diterjang badai sekalipun, setidaknya hati akan tenang saat nahkoda menyampaikan informasi bahwa pelabuhan tujuan sudah dekat. Hikmahnya badai pasti berlalu, tetapi dalam perusahaan kerjasama antar rekan itu ibarat komunikasi di kapal mulai dari dermaga keberangkatan sampai pelabuhan tujuan, memperoleh informasi dari awak kapal serta nahkoda sekaligus sebagai sesama penumpang.


Kalau berkomunikasi namun hanya berperan aktif sebagai individu sedangkan kita berada dalam kapal yang sama itu artinya anda egois. Syukurlah kalau posisi kita disana hanya sebagai penumpang sehingga partisipasi kita tak sepenting peran nahkoda atau kapten kapal. Berempati pada orang lain yang berada dalam satu kapal itu penting, meskipun penumpang tak butuh banyak informasi tapi kadang ada situasi yang membutuhkan dukungan mereka. Belajar dari kisah Titanic, saat kapal hampir tenggelam kepanikan sudah melanda semua orang, semua saling berebut mencari sekoci untuk menyelamatkan diri.

Pada saat itulah butuh orang yang berdedikasi dan punya tanggung jawab moral untuk mendahulukan orang lain agar selamat. Tak perlu menunggu semua terlambat ketika kapal hampir karam dan tenggelam baru berubah saat keadaan mulai panik. Berkomunikasilah dengan orang lain dan berbagi informasi meskipun kecil artinya, sebab di lain cerita sebuah pesawat berubah arah hanya satu derajat namun dampaknya menyimpang jauh hingga masuk negara lain dan harus di tembak jatuh.



Sampaikan informasi apa adanya, secara terus terang dan terbuka alias blak-blakan karena hari ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Selalu ada proses yang membuat kita mengalami kejadian hari ini, lalu selanjutnya apa adalah pertanyaan yang harus kita cari jawabannya dari waktu ke waktu sebab sejarah ada disemua lini kehidupan anda.

Monday, September 11, 2017

Menjaga Momentum dalam Bisnis yang Dinamis

Cukup lama website ini tidak lagi optimal sebagai media yang menyampaikan informasi. Setahun terakhir memang banyak aktivitas lain dan kesibukan pribadi diluar founder blog yang membuat terbengkalainya sejarawan.id Prioritas memang sempat mengalami perubahan, tapi hanya untuk sementara. Justru dengan pengalaman setahun terakhir ini pula muncul kesadaran untuk lebih perhatian/ peduli pada informasi sejarah dari sisi bisnis.

Terus terang sebagai founder website yang juga manusia biasa dengan kewajibannya mencari nafkah, sesuap nasi dan mobil mercy, penulis pun harus bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Bolehlah sedikit diceritakan disini untuk menjadi persepsi agar kedepan bersama kita melihatnya sebagai momentum dalam sejarah bisnis, minimal secara pribadi apa yang penulis rasakan selama setahun terakhir ini.

Sebab ternyata sejarah sebagai ilmu pun bisa difungsikan sebagai strategi marketing, alat untuk berpromosi dan memperkuat brand perusahaan. Itu pula yang menarik dari kisah penulis sebagai karyawan, meskipun tidak secara langsung menggunakan metode sejarah dalam pekerjaan. Singkat cerita, saya bergabung dalam CV. BM (dalam inisial karena tidak ada izin dari owner untuk mempublikasikan) dan bekerja di kantor cabang Semarang sebagai sales-marketing. Perusahaan cv.bm ini merupakan main distributor suatu principal ponsel nasional yang tugasnya mendistribusikan ke toko-toko di provinsi Jawa Tengah.

Kantor pusat CV. BM di Jawa Tengah, lokasi bersebelahan dengan ruko Tiket.Com, Yogyakarta.

Kantor pusat cv.bm sendiri ada di Surabaya dengan cabang perusahaan di Bali, Jogja, Solo, Semarang, Makasar, bahkan hingga Ternate. Untuk area Semarang sendiri gugus tugas dibagi dua antara Pantura ke Barat yaitu Kendal, Weleri, Batang, Pekalongan, Pemalang, Randudongkal, Tegal, Slawi, Brebes. Sedang Pantura ke Timur ada personel lain yang ditugaskan mengelola repeat order dari toko-toko disekitarnya.

Intinya selama bekerja seorang sales harus mampu mengelola toko yang sudah menjadi klien perusahaan, mampu menjaga hubungan baik dengan pemilik toko, promotor dari principal yang ditempatkan di toko dengan cara harmonisasi antara repeat order maupun pembayaran tagihan. Maklumlah meskipun cv.bm hanya sebuah perusahaan MD namun mempunyai modal yang kuat sehingga mampu mengirim barang dengan pembayaran tempo hingga sebulan. Sekilas pun bisa diketahui oleh seorang sales baru seperti saya yang baru bergabung bisa dipercayakan mengelola sirkulasi barang hingga milyaran ke toko hanya dengan dasar sistem altius, sebaliknya pemilik toko repeat order dengan mengandalkan reputasi atau nama baik tokonya.

Masalah teknis by sistem kalau dibahas bisa jadi halaman tersendiri di blog ini. Intinya, secara singkat lewat observasi setahun ini bisa dikatakan cv.bm sudah punya konsep kerja internal yang saya pandang cukup baik. Apalagi posisi sales yang harus selalu menjalin relasi kita sudah dibekali cukup fasilitas seperti kendaraan roda empat alias mobil yang bisa dipakai setiap waktu serta ponsel ldu atau live demolition unit.

Live Demolition Unit, ponsel buat sales
Energi owner seolah ikut mengalir lewat support mereka ke pada semua staf. Jadi secara internal, perusahaan sudah cukup cepat beradaptasi termasuk dengan selalu merekrut manager bekas karyawan dari principal untuk mengatasi perubahan rule yang diinginkan oleh produsen ponsel tersebut. Permasalahan berat yang selalu muncul justru datang dari eksternal khususnya principal yg memiliki agenda sendiri terhadap produknya. Dilema buat MD selaku distributor yang berhubungan langsung dilapangan, owner toko sering komplain atas dampak cross boarder terhadap limit, tempo, bahkan harga yang bisa refund sewaktu-waktu.


Peduli dan perhatian terhadap sejarah bisnis meskipun hanya berupa komitmen pembelajaran pribadi tampaknya penting untuk dipelihara sebagai budaya kerja. Strategi marketing diluar sana mungkin beragam dan untuk dapat bertahan kita harus punya catatan sejarah sendiri, supaya tidak lemah serta mudah didikte oleh perubahan eksternal diluar sana. Apalagi akan sangat sulit bila sistem sudah terbentuk dengan amat solid, dan mengakibatkan terputusnya arus komunikasi antara principal - distributor - retail/ agen di lapangan.

Semoga cv.bm bisa mempertahankan eksistensinya selama ini, dan kedepan dapat berkembang lebih baik dalam mempertahankan kerjasama internalnya. Selama bergabung saya memperoleh banyak pelajaran, harmonisasi antara target perusahaan dengan mengembangkan hubungan sosial antara semua stakeholder. Sayangnya sekarang saya tidak berkompetensi untuk turut campur dalam manajemen perusahaan karena hanya direkrut sebagai karyawan, jadi hanya bisa bicara soal target dan prestasi diukur dari profit.

Selaku penulis artikel saya hanya berbagi informasi dan mengambil kesimpulan sementara dari pengalaman selama setahun ini yang memperlihatkan bahwa sejarah itu relevan dengan berbagai permasalahan termasuk dari sudut pandang bisnis. Kekuatan sejarah ada pada kronologisasi yang menuntut kemampuan independent seorang sejarawan di semua lini bahwa sejarah itu merupakan kunci dari semua masalah yang dihadapi hari ini, mempelajarinya berarti membuka gerbang harapan dimasa mendatang.



Sejarah juga mengajarkan bahwa apapun posisi kita dalam kehidupan di hari ini, sesekali kita harus menoleh ke belakang, merunut setiap peristiwa yang telah lewat sebagai riwayat hidup yang berharga dan mengambil hikmahnya untuk solusi bila ada masalah di hari ini maupun menggapai tujuan kedepan, untuk hari esok yang lebih baik.



Friday, June 10, 2016

Support Our Event, Archieve of History by Journalist Organizer (Jorganizer)

Hubungan sejarah dengan arsip amatlah dekat, bisa jadi bila dikiaskan ibaratkan seperti satu keluarga, like a son like a father. Termasuk pula bila kita menghubungkan rekontruksi sejarah dengan menggunakan dokumen, rekaman audio-visual, foto/ video, journal, dst maka sama seperti suatu keluarga besar yang memiliki peran tersendiri. Tentunya bila diulas akan menjadi topik bahasan yang masing-masing sama unik.

Sabtu lalu, tanggal 4 Juni 2016 Himpunan Mahasiswa Jurusan Perpustakaan Universitas Diponegoro mengadakan seminar nasional tentang "Strategi Pustakawan dalam Lingkar Bonus Demografi". Acara ini dianggap berskala nasional oleh panitia karena melibatkan pembicara dan peserta dari beberapa provinsi di Indonesia. Pembahasannya pun juga berdasarkan hasil penelitian berskala nasional tentang hasil sensus jumlah penduduk yang saat ini berada dalam momentum pertumbuhan terbaik, ditandai dengan jumlah penduduk usia produktif lebih tinggi dari pada orang dengan masa non-produktif seperti lansia dan anak-anak.


Pembicara tamu berasal dari Jogjakarta yaitu Moh. Mursyid selaku Pustakawan dari perpustakaan NU, Emha Ainun Najib dan aktif berprofesi sebagai penulis buku. Sedangkan pembicara tuan rumah berasal dari dosen jurusan perpustakaan Jazimatul Husna seorang Pustakawan TBM Al Husna, Penulis & Dosen Muda UNDIP. Sedangkan moderator adalah Ahmad Hidayah Pustakawan Universitas Sultan Agung Semarang (UNISSULA). Dengan peserta yang hadir cukup beragam dari kalangan kampus yang berbeda diluar internal kampus panitia pelaksana yaitu Univ. Diponegoro (UNDIP). Lokasi tempat yang dipilih pun cukup representatif di Gedung Prof. Soenardi yang sangat dekat dengan aula perkuliahan kandidat doktoral ekonomi.

Acara yang berlangsung ini menurut reportase Jorganizer cukup menarik dan menambah wawasan baru buat peserta. Sayangnya tak satu pun dari pengurus jurusan seperti Ketua Jurusan, Sekretaris Jurusan, serta dosen pembimbing yang menghadiri acara mahasiswa DIII Perpustakaan dan kearsipan ini. Padahal secara interpersonal kehadiran mereka bisa saja menambah semangat dan motivasi buat mahasiswa peserta, terutama panitia acara.

Kalaupun masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan seharusnya hal ini tidaklah menjadi rintangan berarti, bisa saja diwakili dengan ucapan/ sambutan yang diwakili oleh staf lain. Dalam hal ini Journalist Organizer (Jorganizer) memang hanya ikut mendukung terlaksananya acara tanpa banyak memberikan kontribusi selain partisipasinya sebagai media partner dan menyebarluaskan informasi lewat media pribadi sendiri disini. Jadi wajar dan sangat maklum bila masih ada kesalahan maupun kekurangan dari sisi tata acara




Sunday, May 22, 2016

En JOI Museum Mart International'e of Indonesia

Terlaksananya Museum Mart Internasional beberapa waktu lalu membuktikan komitmen Semarang dalam memajukan destinasi pariwisata sesuai dengan jargon "Jateng Gayeng". Melalui koordinasi dari Museum Ronggowarsito di Kota Semarang selaku perwakilan Jawa Tengah acara ini terselenggara dari tanggal 12-17 Mei 2016. Dengan mengusung kerjasama internasional acara ini melibatkan museum-museum dari negara lain.


Acara yang melibatkan museum dari negara lain diharapkan menjadi alat diplomasi yang mampu menembus sekat antarnegara melalui budaya. Museum era globalisasi memang memiliki tantangan tersendiri untuk menyebarluaskan informasi sejarah sehingga dapat menarik minat masyarakat luas. Sayangnya, dari beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara hanya Malaysia dan Brunei Darussalam yang ikut serta.

Interaksi lewat museum dianggap mampu meningkatkan wawasan pengunjung yang datang terhadap produk budaya negerinya maupun partisipasi dari peserta museum negara lain. Alasan keberadaan museum bukan hanya menjadi tempat dokumentasi berbagai benda bersejarah, namun lebih dari itu museum difungsikan sebagai tempat yang tepat untuk diplomasi budaya antar negara.


Sama seperti museum mart tahun sebelumnya yang penulis pernah ikuti, acara kali inipun diisi dan meriah dengan berbagai kegiatan seperti pagelaran seni, museum goes to school, antique craft expo, kuis museum cerdas, ngobrol bareng museum, parade band, pegelaran wayang oleh dalang cilik, dan masih banyak lagi. Perbedaan unik yang utama acara kali ini ialah tema yang diangkat dari Museum Mart 2016 secara keseluruhan ialah; "Nusantara dalam Kurun Niaga" dan dengan tagline "Keragaman dalam Persatuan".


Pengalaman sebelumnya di acara Museum Mart 2015, penulis berpartisipasi sebagai pengisi stan/ booth barang antik berupa furniture, delft blue/ keramik, piano-mesin-lukisan, dan koleksi antik yang diimpor langsung dari Kawasan Eropa. Tapi untuk kali ini dengan sedikit berbangga hati bisa berekspresi jadi diri sendiri mewakili komunitas sejarawan yang bernaung dalam organisasi Journalist Organizer Indonesia, semacam komunitas dan organisasi berbadan usaha perseroan yang berbasis pada database serta info sejarah. Selama 5 hari ini pula kami berupaya mengoptimalkan brand personal pada khalayak ramai disini.


Bersama Museum Ranggawarsita Semarang, dan peserta lainnya; Museum Sabah, Museum Serawak, Museum Brunei Darussalam, Museum Kereta Api Indonesia, Museum Pos Indonesia, Museum Negeri Banten, Museum Batik Pekalongan, Museum Nyonya Meneer, Museum Basoeki Abdullah, Museum Penerangan - TMII, Museum Transportasi - TMII, Museum Listrik dan Energi Baru - TMII, Puri Wiji, Lecture Kementerian Agama Jakarta, Bayt Al Qur'an dan Museum Istiqlal, serta Monumen Pers Nasional.

Semoga ada kesempatan istimewa yang sama dalam moment bersejarah Indonesia kedepannya, aamiin.

Saturday, April 16, 2016

Bateeq Jambi, Indonesian Culture of Batik.

Jokihoki.Com Let us tell you about the Land Select Pesako Betuah or Jambi. There, the fate of batik is much brighter than the big cities in Sumatra. Batik workshops can be found in the District Pelayangan. Location separated Batang Hari river to the downtown area in the district of Jambi made Pelayangan called "village opposite". Here there are cooperatives that houses dozens of batik.

This district can be reached via bridges through swamps and small-scale oil palm plantations belonging to residents in the suburbs. Before arriving at the bridge, many lined residents who sell fish, fruit, and corn. If you do not want to drive, ride boats only boat that serves crossing from WTC to the village opposite. Oiya, Jambi people call the longest river in Sumatera as the sea.

Batik Jambi writhing from the mid-19th century that time batik commonly used by royalty and leaders of Malay Jambi. Although the last time I stayed in Edinburgh in 2010 motif in Jambi has not been patented, but before through the Regional Office of Industry and Trade of the Province of Jambi, has published the book "Pesona Batik Jambi" in 1998.

Jambi batik motif is simple and contemporary impressed. In general motive was Durian Tableware, Merak Ngeram, Ship sanggat, and the bulk of Manggis. Batik Jambi widely sold in shops and boutiques Area Road Sumantri Bojonegoro, besides of course the office Dekranasda as the container of the craftsmen. In addition to growing in the provincial city, batik is also made by the cottage industry in Sarolangun and Bungo.


Megrim in Desa Kemang which is opposite, we could meet at the same time making batik boutique studio. In the studio belonging to Jambi figures, Asmiah, Jambi identity was confirmed with the architecture of Jambi traditional house constructed of wood.
 

In the days of the empire, trade and production of batik jambi limited basis. Batik jambi is the craft that can not be owned by anyone, he consumed only by people who have high levels of social life, for example, the royal family or the nobility. With the end of the empire administration jambi, Jambi batik production decreases dramatically. Even if there are batik artisans, it was done by some craftsmen who are already old.

In the Dutch colonial period, news of batik jambi back conserved with the emergence of various articles written by the author of the Dutch, one of which is B.M. Goslings. In the article, stating that the approval Goslings Prof. Vam Eerde he asks Resident Jambi H.E.K. Ezermann to examine batik Jambi. Around October 1928 came the response from Ezermann, that in the middle of the village at that time mmang there is indeed the art of batik artisans and produce work that is very beautiful. (B.M. Goslings, 1928, 141)
Based on that also already seen that since the days of the empire jambi, the Dutch colonial era, Japan and until the war of independence, there are batik in the area jambi but not yet produced en masse as it is now.


Since the New Order development, enhancement and development of batik jambi have done back in incentives and bulk, if in the 1980s the dominant colors of the original jambi, the 90s era used are the colors of Pekalongan and Cirebon. But now Jambi batik back to its original bright color and distinctive character. While batik jambi has a characteristic that is unique and exotic. Both in terms of color and his own motives. Most of the batik dyeing jambi taken from natural materials that exist in nature around jambi, which is a mixture of wood and a variety of herbs, such as the sap wood and fruit wood lambato bulian, pandan leaves, tall timber and timber Sepang. There is also a mix of the two types of materials that are not on jambi like a tall tree seeds and leaves of indigo, which is usually imported directly from Yogyakarta.
 

In addition to coloring materials, batik jambi also rich with various motifs in bright colors as a symbol of joy and gaiety jambi society. Carrying more than 31 jambi batik motifs that still can be found, such as estuaries jambi temple, glass plate, puncung bamboo shoots, Angso duo winged crown, crescent, Pauh (mango), Antlas (Plant), clouds, and Riang-Riang. 

Saturday, March 19, 2016

The story of the Lake Toba in North Sumatra, Indonesia.


In the region of Sumatra lived a very hard-working farmer. He lived alone. Every day he worked on lading and fishing tirelessly. This was done to meet the needs of everyday life. One day the farmer went to the river near his home, he intends to fish for lauknya today. With only armed with a hook, bait and fish, he went straight to the river. Once when he got in the river, the farmer immediately threw the hook. While waiting for the hook edible fish, the farmer prayed, "O Allah, I hope I can fish a lot today". Moments after praying, he throws a hook was apparent wobbling. He immediately pulled the hook. Farmers are very happy, because the fish he gets very big and beautiful.


After a few moments staring at the fish catch, the farmer was very surprised. It turns out the fish he caught was able to speak. "Help me not to be eaten Pak !! Let me live ', cried the fish. Without much Tanya, fish catch was immediately returned to the water again. After restoring the fish into the water, the farmer increases surprised, because suddenly the fish turns into a very beautiful woman.

"Do not worry sir, I will not hurt you," says the fish. "Who are you? Are not you a fish ?, asked the farmer. "I was a princess who was cursed, because it violates the rules of the kingdom," the woman said. "Thank you have freed me from the curse, and in return I am willing to make you a wife", she said. Farmers agree that too. They then become husband and wife. However, there is a promise that has been agreed, that they should not tell that the origin of the Princess of fish. If the promise was breached there will be a terrible disaster. After a while they get married, farmer and his wife finally happiness increases, because farmer's wife gave birth to a baby boy. Their son grow into a child who is very handsome and strong, but there are habits that make everyone wonder. The boy was always hungry, and never feel full. All food rations to devour without remainder.


Until one day the farmer's son was given the job of mother to deliver food and drinks to the fields where his father was working. But his job is not fulfilled. All the food was supposed to father dilahap out, and after that he fell asleep in a hut. The farmer waiting for the arrival of his son, while holding hunger and thirst. Unable to stand the hunger, then he went straight home. On the way home, pack a farmer saw his son was sleeping in the hut. The farmer immediately woke her. "Hey, wake up !, shouted the farmer.
 


After his son woke up, the farmer immediately asked his food. "Where's the food for the father?", Asked the farmer. "It is finished and I ate", replied the boy. With a high pitch that farmers immediately scold her son. "Children do not know diuntung! I do not know myself! Basic young fish !," vituperation the Farmer unknowingly had said abstinence from his wife.

After farmers say these words, instantly son and his wife vanished without a trace and trace. Of former stamping his feet, suddenly menyemburlah water was very swift. Water overflowed very high and wide to form a lake. And finally, forming a lake. The lake was eventually known as Lake Toba.

 

Followers