Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, August 17, 2019

MERDEKA, Dirgahayu Indonesiaku

DIRGAHAYU INDONESIA MERDEKA

Makna kata merdeka kalau dari sudut pandang bangsa dan bernegara adalah saat negeri tersebut bebas dari belenggu penjajahan sekaligus berdaulat atas nasibnya sendiri. Demikian pula bila kata merdeka ditinjau dari persepsi pribadi penulis sendiri sebagai manusia individu dan sosial, akan merasa telah merdeka bila sudah mampu mandiri dan berdikari. Artinya bebas menentukan sikap serta tujuan untuk melangkah lewat keputusan sendiri termasuk dalam tindakan untuk mencapai tujuan.

Merdeka dalam segala aspek baik mental, moral hingga spiritual sebab pertanggungjawabannya adalah bukan antara saya dan mereka yang disekitar kita, atau antara anda dan saya tetapi sudah mencakup hubungan antara saya dan Tuhan. Untuk bisa memutuskan serta melakukan tindakan dalam menggapai tujuan tersebut pun peran pribadi lebih utama artinya bukan hanya mau tetapi juga telah mampu melakukan semuanya sendiri.

Contoh kasus dalam masalah bisnis, saat kita dalam posisi sebagai karyawan maka kemerdekaan itu relatif dari sudut pandang siapa boss nya. Kalau masih ikut orang maka konotasi kata merdeka bisa dikatakan belum sepenuhnya jadi milik anda sebab anda menukar kebebasan waktu serta finansial anda kepada atasan dan perusahaan lewat skema perhitungan gaji. Jadi dalam bisnis, anda bisa dikatakan merdeka bila anda adalah business owner atau pemilik bisnis tersebut kalau perlu malah andalah investor keseluruhan baik dari saham perusahaan hingga karyawan dan aset terkait (SDM-SDA) termasuk stakeholder kebutuhan costumer atas produk bisnis anda.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana merasa merdeka karena proses untuk menggapainya begitu kompleks, rumit, dan dengan proses yang bisa dikatakan tidaklah singkat. Maka jawabannya secara sederhana adalah mengubah mindset atau pola pikir anda. Jangan terbelenggu oleh penjara dan penjajahan yang justru datang dari dalam diri anda sendiri yaitu pikiran.


Friday, September 28, 2018

Sejarawan Cinta

Kita berawal karena cinta maka biarlah cinta yang akan mengakhirinya pula.

Friday, August 31, 2018

Bank Mandiri: "BUMN yang Hadir untuk Negeri"



Gerakan sejarah memerlukan perjuangan yang akarnya berlandaskan semangat idealisme tetapi tindakan berikutnya tetap mengedepankan pelaksanaan yang realistis di semua lini. Jadi bukan lagi hanya sekedar slogan tanpa makna tanpa ada pertambahan nilai. Dari visi berkembang menjadi misi dengan suatu tujuan, kemudian dikerjakan secara sistimatis dengan urutan waktu yang kronologis. Dengan demikian tiap tahapan dapat berjalan secara terukur. Inilah kekuatan sejarah yang mampu memadukan unsur keilmuan secara akademis sekaligus memasukkan faktor seni serta unsur sastra sebagai filosofinya sehingga ia mampu menghidupkan suatu gerakan dengan gelora semangatnya.

Sejak diluncurkan pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 pada 2015, Kementerian Badan Usaha Milik Negara memperkenalkan slogan BUMN Hadir untuk Negeri. Sedangkan jauh sebelumnya entitas BUMN yaitu Bank Mandiri sudah lama menorehkan sejarahnya lewat pelestarian bangunan lama di kawasan kota tua Jakarta berupa Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri merupakan bangunan cagar budaya yang tiang pancangnya mulai dibeton sejak Juli 1929 oleh biro konstuksi NV Nedam (Nederlandse Aanneming Maatshappij) dengan gaya arsitektur Neiuw-Zakelijk dan kelar dibangun pada tahun 1932 yang peruntukan pertamanya digunakan untuk kantor Nederlandsche Handel Maatschappij NV di Batavia serta secara formal diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh Cornelis Johannes Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10 saat itu.

Sejalan dengan perkembangan politik-ekonomi selanjutnya, NHM yang merupakan bank asing milik Belanda dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 Desember 1960 yang kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Riwayat gedung ini pun berubah menjadi Kantor BKTN Urusan Exim.

Pada era Bank Tunggal atau dikenal dengan masa “Bank Berjuang”, gedung ini pun menjadi bagian dari Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Unit II bidang Exim sejak 17 Agustus 1965 sampai lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) tanggal 31 Desember 1968. Penggunaan gedung ini sebagai Kantor Pusat Bank Exim berlangsung sampai tahun 1995 atau setelah Bank Exim pindah ke gedung Kantor Pusat yang baru di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 Jakarta Selatan.

Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri. Maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri dengan berbagai koleksi perbankan diantaranya perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, buku besar, mesin hitung uang, brankas, dan lain-lain. Semua koleksi tersebut terdapat di ruang tata pamer yang didesain menarik sehingga tetap terasa nuansa perbankan tempo dulu yang meskipun kuno tetap terawat hinggakini.


Bila Jakarta dengan kawasan kota tua sudah memperoleh dukungan revitalisasi salahsatu bangunannya oleh Bank Mandiri. Semoga Semarang pun dapat berharap hal yang sama terhadap kota lama peninggalan kolonial di negeri ini. Dukungan organisasi yang besar dari entitas BUMN seperti Bank Mandiri terhadap sejarah bangsa tentu dapat disebut sebagai suatu kehadiran tersendiri bagi negeri, bukan sekedar slogan tetapi sebuah tindakan yang idealis sekaligus realistis. Suatu gebrakan dari Kepala Kantor Wilayah VII Jawa 2, Bapak Mazwar Purnama beserta jajarannya yang berkantor di sekitar kawasan kota lama Semarang dan dekat dengan ikon kota ini Lawang Sewu.

Saturday, September 30, 2017

Seminar Nasional Kewirausahaan ACSENT - FEB UNDIP


Terkadang hal luar biasa tak selalu berasal dari karya besar yang mendunia, namun juga bisa berawal dari momentum sederhana tetapi dengan konsistensi dan komitmen dari waktu ke waktu. Eksistensi macam ini mungkin tepat bila disematkan pada jajaran mahasiswa dan civitas akademika Universitas Diponegoro fakultas ekonomika dan bisnis yang selalu menyelenggarakan acara seminar berkualitas selain kuliah.

Enam tahun yang lalu, dalam event FEB UNDIP 30 September 2011 saya menyaksikan pak Jokowi RI-1 masih menjabat sebagai Walikota Solo menjadi pembicara dalam gelaran acara di kampus Tembalang Semarang. Acara mahasiswa yang saat itu bertajuk Diskusi Panel dengan diselingi Tanya-Jawab dari para mahasiswa memberi pesan yang sangat mendalam bagi saya sebagai peserta yang nota bene orang awam.

Presenting event dari ASCENT "Accounting Society Event" 30 September 2017


Kesan yang sama masih terasa istimewa meski telah beberapa tahun berlalu, bahkan kini semakin yakin dengan peran dan aktivitas mahasiswa disana sejalan dengan visi misinya "To be creative and innovative in digital era with Entrepreneurship". Terbukti pula bahwa Universitas Diponegoro sebagai Badan Hukum Milik Negara mampu beradaptasi terhadap perkembangan dunia dari sisi bisnis sekaligus tetap idealis dan semoga mampu menjalankan visi misi tersebut secara etis pula lewat PT. Undip Maju

Antusias peserta dan mahasiswa saat acara berlangsung di Lab. Kewirausahaan Universitas Diponegoro
Kolaborasi dari berbagai pihak dan peran aktif mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP terlihat dari semangat para peserta yang hadir dalam seminar. Untuk itu penulis ucapkan terimakasih pada panitia acara: Zihan Aulia, Rizka Fardiba, Irdam Fairuz, serta Dinda Ayuningtyas dkk yang telah berbagi informasi sekaligus memberikan akses pada Sejarawan.ID untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi sebagai media partner. Semoga bisa berjumpa dalam event berkualitas seperti ini di tahun berikutnya.

Thursday, September 14, 2017

Digitalisasi Pemasaran dengan Sejarah

Kemarin siang menjelang jam istirahat seperti biasa selain mengisinya dengan rutinitas wajib yaitu brunch, baca surat kabar harian yang terkenal di Semarang: Suara Merdeka. Semua rubrik cukup menarik untuk disimak termasuk info peluang usaha atau lowongan kerja walau hanya berupa iklan baris. Era tekhnologi yang semakin canggih memang telah mengubah wajah dunia dan cara kita berkomunikasi termasuk bagaimana mendapatkan informasi.

Walau pun begitu tidak serta merta semua hal mengalami perubahan drastis dari konvensional menuju tren digital. Memang dengan adanya gadget memperoleh data terbaru maupun arsip lama akan sangat mudah belakangan ini, tetapi kebiasaan lama susah untuk dihilangkan, termasuk seperti baca koran. Ada sensasi yang unik untuk dijelaskan saat tangan membentangkan lembaran koran dengan perut kenyang :)

Kembali ke koran, di iklan baris lowongan, ada perusahaan yang sebelumnya sudah beriklan beberapa kali mencari sales dan marketing proyek untuk suatu produk lampu. Informasi cukup lengkap disertai nomor yang dapat dihubungi. Biasanya untuk bisnis dengan perusahaan yang stafnya terbuka dalam menyampaikan informasi maka gagasan/ ide baru dari luar akan diterima dengan mudah.


Tadinya dengan percaya diri saya akan mengajukan proposal kerjasama, setidaknya memperkenalkan diri dan memperluas jaringan. Resolusi pribadi yang sudah dicanangkan sebagai momentum awal bulan September ceria tahun 2017 ini. Tapi apa mau dikata semua tak disangka, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Jangankan untuk berbicara panjang lebar, ngobrol ngalur ngidul bagai sobat lama, berkenalan dan bertukar namapun tak sempat bagai gayung tak bersambut, secara singkat saya ditolak.

Sayang sekali maksud baik yang sudah dipersiapkan meskipun sambil lalu tapi serius tak ditanggapi dengan respon yang sama baik, hanya sekedar tau tapi tak menciptakan kondisi ok, so what next.

Padahal meskipun iklan baris itu harganya mungkin tak seberapa, namun ditayangkan beberapa kali dalam hari yang berbeda termasuk sampai hari ini pun masih tetap tayang di Suara Merdeka dan Tribun Semarang.

Sayang uangnya dan sayang waktu yang terbuang, walau tanpa bermaksud melakukan provokasi namun lebih pada bersikap empati dan menempatkan diri saya di posisi mereka, apa salahnya bersikap lebih terbuka dan open minded. Memang kuota mahal dan subsidi listrik juga sudah tak ada lagi, tapi biaya berkomunikasi via whatsapp jauh lebih murah dari pada beriklan. Efektif atau efisiensi silahkan pembaca renungkan sendiri.

Pemasaran itu berorientasi pada hasil dan berdasarkan target, harus ada strategi agar tercipta akuisisi pada penjualan, dan pastinya semua harus lewat proses. Tahap yang akan dilewati satu diantaranya adalah promosi dan membentuk suatu brand, entah itu produk, perusahaan, personel, atau pelayanannya. Sebab kalau bisnis anda tak membentuk suatu image di benak konsumen atau stakeholder, maka anda hanya menjual suatu komoditas barang, itu artinya diantara sekian banyak kompetitor di bidang yang sama, maka hargalah yang jadi faktor utamanya. Energi perusahaan akan terkuras hingga akhirnya harus banting harga untuk mencatat transaksi penjualan dan memenangkan hati pelanggan.


Wednesday, September 13, 2017

Alasan Sejarah selalu Relevan dalam Ranah Bisnis

Perumpamaan yang tepat dalam studi kasus ini ibaratkan perusahaan itu sebuah bahtera di tengah samudra alias kapal ditengah lautan. Saat kita menumpang didalamnya lalu ikut terombang-ambing oleh ombak bahkan diterjang badai sekalipun, setidaknya hati akan tenang saat nahkoda menyampaikan informasi bahwa pelabuhan tujuan sudah dekat. Hikmahnya badai pasti berlalu, tetapi dalam perusahaan kerjasama antar rekan itu ibarat komunikasi di kapal mulai dari dermaga keberangkatan sampai pelabuhan tujuan, memperoleh informasi dari awak kapal serta nahkoda sekaligus sebagai sesama penumpang.


Kalau berkomunikasi namun hanya berperan aktif sebagai individu sedangkan kita berada dalam kapal yang sama itu artinya anda egois. Syukurlah kalau posisi kita disana hanya sebagai penumpang sehingga partisipasi kita tak sepenting peran nahkoda atau kapten kapal. Berempati pada orang lain yang berada dalam satu kapal itu penting, meskipun penumpang tak butuh banyak informasi tapi kadang ada situasi yang membutuhkan dukungan mereka. Belajar dari kisah Titanic, saat kapal hampir tenggelam kepanikan sudah melanda semua orang, semua saling berebut mencari sekoci untuk menyelamatkan diri.

Pada saat itulah butuh orang yang berdedikasi dan punya tanggung jawab moral untuk mendahulukan orang lain agar selamat. Tak perlu menunggu semua terlambat ketika kapal hampir karam dan tenggelam baru berubah saat keadaan mulai panik. Berkomunikasilah dengan orang lain dan berbagi informasi meskipun kecil artinya, sebab di lain cerita sebuah pesawat berubah arah hanya satu derajat namun dampaknya menyimpang jauh hingga masuk negara lain dan harus di tembak jatuh.



Sampaikan informasi apa adanya, secara terus terang dan terbuka alias blak-blakan karena hari ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Selalu ada proses yang membuat kita mengalami kejadian hari ini, lalu selanjutnya apa adalah pertanyaan yang harus kita cari jawabannya dari waktu ke waktu sebab sejarah ada disemua lini kehidupan anda.

Monday, September 11, 2017

Menjaga Momentum dalam Bisnis yang Dinamis

Cukup lama website ini tidak lagi optimal sebagai media yang menyampaikan informasi. Setahun terakhir memang banyak aktivitas lain dan kesibukan pribadi diluar founder blog yang membuat terbengkalainya sejarawan.id Prioritas memang sempat mengalami perubahan, tapi hanya untuk sementara. Justru dengan pengalaman setahun terakhir ini pula muncul kesadaran untuk lebih perhatian/ peduli pada informasi sejarah dari sisi bisnis.

Terus terang sebagai founder website yang juga manusia biasa dengan kewajibannya mencari nafkah, sesuap nasi dan mobil mercy, penulis pun harus bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Bolehlah sedikit diceritakan disini untuk menjadi persepsi agar kedepan bersama kita melihatnya sebagai momentum dalam sejarah bisnis, minimal secara pribadi apa yang penulis rasakan selama setahun terakhir ini.

Sebab ternyata sejarah sebagai ilmu pun bisa difungsikan sebagai strategi marketing, alat untuk berpromosi dan memperkuat brand perusahaan. Itu pula yang menarik dari kisah penulis sebagai karyawan, meskipun tidak secara langsung menggunakan metode sejarah dalam pekerjaan. Singkat cerita, saya bergabung dalam CV. BM (dalam inisial karena tidak ada izin dari owner untuk mempublikasikan) dan bekerja di kantor cabang Semarang sebagai sales-marketing. Perusahaan cv.bm ini merupakan main distributor suatu principal ponsel nasional yang tugasnya mendistribusikan ke toko-toko di provinsi Jawa Tengah.

Kantor pusat CV. BM di Jawa Tengah, lokasi bersebelahan dengan ruko Tiket.Com, Yogyakarta.

Kantor pusat cv.bm sendiri ada di Surabaya dengan cabang perusahaan di Bali, Jogja, Solo, Semarang, Makasar, bahkan hingga Ternate. Untuk area Semarang sendiri gugus tugas dibagi dua antara Pantura ke Barat yaitu Kendal, Weleri, Batang, Pekalongan, Pemalang, Randudongkal, Tegal, Slawi, Brebes. Sedang Pantura ke Timur ada personel lain yang ditugaskan mengelola repeat order dari toko-toko disekitarnya.

Intinya selama bekerja seorang sales harus mampu mengelola toko yang sudah menjadi klien perusahaan, mampu menjaga hubungan baik dengan pemilik toko, promotor dari principal yang ditempatkan di toko dengan cara harmonisasi antara repeat order maupun pembayaran tagihan. Maklumlah meskipun cv.bm hanya sebuah perusahaan MD namun mempunyai modal yang kuat sehingga mampu mengirim barang dengan pembayaran tempo hingga sebulan. Sekilas pun bisa diketahui oleh seorang sales baru seperti saya yang baru bergabung bisa dipercayakan mengelola sirkulasi barang hingga milyaran ke toko hanya dengan dasar sistem altius, sebaliknya pemilik toko repeat order dengan mengandalkan reputasi atau nama baik tokonya.

Masalah teknis by sistem kalau dibahas bisa jadi halaman tersendiri di blog ini. Intinya, secara singkat lewat observasi setahun ini bisa dikatakan cv.bm sudah punya konsep kerja internal yang saya pandang cukup baik. Apalagi posisi sales yang harus selalu menjalin relasi kita sudah dibekali cukup fasilitas seperti kendaraan roda empat alias mobil yang bisa dipakai setiap waktu serta ponsel ldu atau live demolition unit.

Live Demolition Unit, ponsel buat sales
Energi owner seolah ikut mengalir lewat support mereka ke pada semua staf. Jadi secara internal, perusahaan sudah cukup cepat beradaptasi termasuk dengan selalu merekrut manager bekas karyawan dari principal untuk mengatasi perubahan rule yang diinginkan oleh produsen ponsel tersebut. Permasalahan berat yang selalu muncul justru datang dari eksternal khususnya principal yg memiliki agenda sendiri terhadap produknya. Dilema buat MD selaku distributor yang berhubungan langsung dilapangan, owner toko sering komplain atas dampak cross boarder terhadap limit, tempo, bahkan harga yang bisa refund sewaktu-waktu.


Peduli dan perhatian terhadap sejarah bisnis meskipun hanya berupa komitmen pembelajaran pribadi tampaknya penting untuk dipelihara sebagai budaya kerja. Strategi marketing diluar sana mungkin beragam dan untuk dapat bertahan kita harus punya catatan sejarah sendiri, supaya tidak lemah serta mudah didikte oleh perubahan eksternal diluar sana. Apalagi akan sangat sulit bila sistem sudah terbentuk dengan amat solid, dan mengakibatkan terputusnya arus komunikasi antara principal - distributor - retail/ agen di lapangan.

Semoga cv.bm bisa mempertahankan eksistensinya selama ini, dan kedepan dapat berkembang lebih baik dalam mempertahankan kerjasama internalnya. Selama bergabung saya memperoleh banyak pelajaran, harmonisasi antara target perusahaan dengan mengembangkan hubungan sosial antara semua stakeholder. Sayangnya sekarang saya tidak berkompetensi untuk turut campur dalam manajemen perusahaan karena hanya direkrut sebagai karyawan, jadi hanya bisa bicara soal target dan prestasi diukur dari profit.

Selaku penulis artikel saya hanya berbagi informasi dan mengambil kesimpulan sementara dari pengalaman selama setahun ini yang memperlihatkan bahwa sejarah itu relevan dengan berbagai permasalahan termasuk dari sudut pandang bisnis. Kekuatan sejarah ada pada kronologisasi yang menuntut kemampuan independent seorang sejarawan di semua lini bahwa sejarah itu merupakan kunci dari semua masalah yang dihadapi hari ini, mempelajarinya berarti membuka gerbang harapan dimasa mendatang.



Sejarah juga mengajarkan bahwa apapun posisi kita dalam kehidupan di hari ini, sesekali kita harus menoleh ke belakang, merunut setiap peristiwa yang telah lewat sebagai riwayat hidup yang berharga dan mengambil hikmahnya untuk solusi bila ada masalah di hari ini maupun menggapai tujuan kedepan, untuk hari esok yang lebih baik.



Sunday, April 18, 2010

Pandemi Influenza.

SEBUAH pandemi penyakit paling ganas dalam sejarah umat manusia terjadi pada 1918-1919. Sekitar 50 juta orang tewas di seluruh dunia. Penyebab pandemi adalah virus influenza A H1N1. Proses penularan virus yang cepat dengan tingkat kematian yang tinggi membuat banyak pihak kewalahan, termasuk pemerintah Hindia Belanda.

Di Hindia Belanda sekitar 1,5 juta penduduknya meninggal akibat pandemi. Seperti di wilayah pandemi lainnya, kebanyakan yang meninggal berusia antara 20- 40 tahun. Situasi pandemi yang penuh keprihatinan di Hindia Belanda tertuang dalam sebuah sajak di suratkabar berbahasa Melayu Tjaja Sumatra, 31 Desember 1919.

Penjakit Spanjol datang berdjangkit
sematjam penjakit yang baharoe terbit
keadaannya gandjil sertanja soelit
mendjadikan korban boekan sedikit

Di beberapa tempat sangat hebatnja
baik di Djawa atau di Soemetera
pendeknya diseloeroeh poela Hindia
Influenza nan sangat habis memoenahkan

Pandemi menjelajah berbagai wilayah dalam tiga gelombang: Maret-Agustus 1918, September-November 1918, dan awal 1919. Pandemi influenza itu juga dikenal sebagai “flu spanyol” karena liputan media Spanyol yang tinggi tentang pandemi. Spanyol merupakan salah satu negara yang tak terlibat perang dunia pertama sehingga tak ada sensor media.

Pemerintah Hindia Belanda melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi pandemi, termasuk melakukan penyebaran informasi tentang influenza yang dianggap efektif untuk masyarakat lokal. Salah satunya lewat cerita wayang dalam bahasa lokal.

Pada 1920, lewat penerbit Balai Pustaka, pemerintah menerbitkan sebuah buku panduan pencegahan dan pengobatan influenza yang terbit dalam bahasa Jawa berjudul Lelara Influenza. Menurut Priyanto Wibowo dkk dalam Yang Terlupakan, Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, diperkirakan target utama pembaca Lelara Influenza adalah para dalang. Informasi mengenai influenza dan pencegahannya terangkai melalui percakapan antartokoh wayang (punakawan) yang dekat dengan masyarakat Jawa. Isinya antara lain:

… Influenza bisa mengakibatkan sakit panas dan batuk, mudah menular, asalnya dari abu atau debu. Berhati hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu…..

…. Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah. Harus tidur atau istirahat aja. Badannya diselimuti sampai rapat. Kepalanya dikompres, tidak boleh mandi…

Makalah Steve Ferzacca “Governing Bodies in New Order Indonesia” dalam Mark Nitcher dan Margaret Lock New Horizons in Medical Anthropology: essays in honour of Charles Leslie, juga menyebutkan sebuah pamflet berbahasa Melayu mengenai pencegahan influenza yang mengadaptasi alur cerita Ramayana terbit 1920. Isinya hampir sama dengan Lelara Influenza, hanya tokoh-tokohnya bukan punakawan Jawa.

Dikisahkan, ayah Seriati, gadis cantik rupawan, mengadakan sayembara untuk menyembuhkan penduduk yang sakit influenza. Hadiahnya: menikah dengan anaknya. Si Pandjang, tokoh pahlawan, ikut sayembara. Ia membantu menyembuhkan penduduk yang sakit influenza berdasarkan pengetahuan pencegahan dan pengobatan “modern” seperti tablet bandoeng atau pil kina, sama seperti anjuran pemerintah –saat itu pandemi influenza kerap disamakan dengan malaria. Abang Gendoet tak mau kalah. Ia mengobati influenza dengan ilmu tabib dan jimat. Di akhir cerita, Si Pandjang memenangi sayembara dan mendapatkan Si Seriati.

Selain penyebaran lewat bahasa dan medium lokal, pemerintah Hindia Belanda mensahkan Influenza Ordonnantie atau undang-undang (UU) khusus influenza pada 1920 (Staatsblad Van Nederlandsch-Indie 1920 no 793). Melalui UU tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Medis Umum (Inspecteur van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst) bertanggung jawab mengantisipasi penyebarluasan pandemi melalui kontrol rutin, kesiapan tenaga kesehatan, fasilitas di lapangan, dan panggilan darurat kesehatan.

Sajak menyambut tahun baru 1920 dalam suratkabar Tjaja Sumatra berakhir dengan sebuah harapan:

Achir kalam kita oetjapkan
Moedahan 1920 membawa perobahan
Seloeroeh Hindia hendaknja aman
Mara bahaja Allah lindoengkan

Pandemi influenza ini kemudian menghilang dengan sendirinya, meski tak pernah benar-benar berakhir. Terbukti pandemi influenza kembali melanda dunia 1957-1958 (Flu Asia, H2N2), 1968-1969 (Flu Hong Kong, H3N2), dan yang terbaru 2009 hingga sekarang (H1N1). Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), pandemi H1N1 2009 hingga Maret 2010 telah menerpa lebih dari 213 negara/wilayah dan sekitar 17.483 penduduk dunia meninggal.

Keganasan pandemi H1N1 2009 tak separah tahun 1918-1919. Berbagai kemajuan penelitian ilmiah serta ketersediaan sarana kesehatan dan komunikasi publik yang lebih memadai membuat banyak negara lebih siap menghadapi pandemi. Namun, seperti pengalaman pandemi 1918-1919, potensi kemunculan (mutasi) virus-virus influenza baru selalu ada. Kesiapsiagaan akan terus menjadi sebuah tantangan.

Tulisan merupakan artikel kontribusi Mira Renata, dalam majalah historia online.

Tuesday, April 13, 2010

Kronologi Perang Dunia II

Penyebab umum terjadinya Perang Dunia II sebagai berikut :a.Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dalam menciptakan perdamaian dunia. LBB bukan lagi alat untuk mencapai tujuan, tetapi menjadi alat politik negara-negara besar untuk mencari keuntungan. LBB tidak dapat berbuat apa-apa ketika negara-negara besar berbuat semaunya, misalnya pada tahun 1935 Italia melakukan serangan terhadap Ethiopia. b.Negara - negara maju saling berlomba memperkuat militer dan persenjataannya.

Dengan kegagalan LBB tersebut, dunia Barat terutama Jerman dan Italia
mencurigai komunisme Rusia, tetapi kemudian Rusia mencurigai fasisme Italia dan nasional-sosialis Jerman. Oleh karena saling mencurigai akhirnya negara-negara tersebut memperkuat militer dan pesenjataannya.

c.Adanya politik aliansi (mencari kawan persekutuan).Kekhawatiran akan adanya perang besar, maka negara-negara mencari kawandan muncullah dua blok besar yakni:
1. Blok Fasis terdiri atas Jerman, Italia, dan Jepang
2. Blok Sekutu terdiri atas:a)Blok demokrasi yaitu Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda.b)Blok komunis yaitu Rusia,Polandia, Hongaria, Bulgaria, Yugoslavia,Rumania, dan Cekoslovakia

d.Adanya pertentangan-pertentangan akibat ekspansi.Jerman mengumumkan “Lebensraum” nya (Jerman Raya) yang meliputi EropaTengah dan Italia menginginkan
Italia Irredenta (Italia Raya) yang meliputi seluruh laut Tengah dan Abbesinea, serta Jepang mengumumkan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya. Ini berarti merupakan tantangan terhadap imperialisme Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat.

e.Adanya pertentangan faham demokrasi, fasisme dan komunisme.f.Adanya politik balas dendam (“Revanche Idea”) Jerman terhadap Perancis,karena Jerman merasa dihina dengan Perjanjian Versailles.

Perang Dunia II terbagi dalam tiga medan yaitu medan Eropa, medanAfrika Utara, dan medan Asia pasifik. Adapun pihak-pihak yang berperang dibeberapa medan peperangan dalam Perang Dunia II sebagai berikut.
1.Medan Eropa
Pada tanggal 1 September 1939 Jerman menyerang Polandia. Inggris dan Perancis mengumumkan perang kepada Jerman. Inilah sebagai awal meletusnya Perang Dunia II. Pada tanggal 9 April 1940 Jerman melakukan serangan ke utara yakni ke Denmark dan Norwergia. Kedua negara ini dapat diduduki Jerman. Pada bulan Mei 1940 Belanda dapat diduduki Jerman sehingga Ratu Wilhelmina mengungsi keInggris. Pada tanggal 10 Juni 1940 Italia mengumumkan perang kepada Perancis dan Inggris, dilanjutkan menyerbu Perancis. Pada bulan Juni 1940 pasukan Jerman bergerak menuju Perancis dan dapat mendudukinya.

Tentara Perancis di bawah pimpinan Charles de Gaulle mengungsi ke Inggris.Kekuatan dua negara fasis Jerman dan Italia semakin mantap. Angkatan Udara Jerman menyerbu Inggris tetapi usahanya gagal kemudian beralih dengan pengeboman-pengeboman dan serangan laut ke arah Angkatan Laut Inggris. Pada tanggal 27 September 1940 Jerman, Italia, dan Jepang bersatu dalam Perjanjian Tiga Negara. Pada tanggal 22 Juni 1941 dengan bantuan Finlandia dan Rumania, Jerman menyerbu Rusia. Padahal selama 18 bulan sebelumnya Hitler telah mengadakan perjanjian dengan Uni Soviet tidak akan saling menyerang. Bagaimana menurut pendapat anda tentang tindakan Hitler ini?

2 .Medan Afrika
Tentara Jerman menyerbu Balkan sampai di Kreta. Rumania dan Bulgaria memihak kepada Jerman. Inggris dapat memukul mundur tentara Italia di Afrika Utara. Serangan Sekutu terhadap Blok Sentral pada tanggal 23 Oktober 1942 di Afrika Utara dipusatkan di El Alamien, Mesir. Tentara Jerman di bawah Jenderal Erwin Rommel
menyerbu Afrika dan menghantam Inggris sampai di muka Alexandria. Serangan Jerman ke Afrika Utara dapat ditahan oleh Inggris di bawah pimpinan Montgomery dan Amerika Serikat di bawah Eisenhower

pada tanggal 12 November 1942.Datangnya bantuan pasukan Amerika Serikat membuat pertahanan Jerman semakin rapuh. Sejak 19 November 1942 Jerman kalah melawan Rusia dalam pertempuran di Stalingrad. Kemudian Rusia menyerbu Polandia dan Balkan.
Rumania dan Bulgaria menyerah. Hongaria juga menyerah pada tanggal 13 Februari1945. Tentara Rusia di bawah Zhukov berhasil menyerbu Berlin. Berlin diduduki Sekutu dari segala arah. Pertempuran hebat terjadi di dalam kota Berlin, dan Berlin dapat direbut oleh Sekutu. Pada tanggal 30 April 1945 Hitler bunuh diri. Pada tanggal l7 Mei 1945 Jerman menyerah kepada Sekutu tanpa syarat di Reims, Perancis.

3.Medan Asia Pasifik
Perang di medan Asia Pasifik diawali dengan penyerbuan pangkalan ArmadaAngkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 7 Desember1941 oleh Jepang. Perang Dunia II di medan Asia Pasifik sering disebut Perang Asia Timur Raya,
karena Jepang selalu mempropagandakan bahwa peperangan yang dilakukan bertujuan mewujudkan kemakmuran bersama di kawasan Asia Timur Raya.

Dalam serangan Jepang pada tanggal 7 Desember 1941 menewaskan kurang
lebih 2.330 tentara Amerika Serikat dan 100 orang sipil di samping menghancurkan peralatan perang Amerika Serikat. Jepang menyatakan perang terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Serbuan Jepang dilanjutkan ke negara-negara di Asia Tenggara dengan menduduki Muangthai, Birma (Myanmar), Malaysia, dan HindiaBelanda (nama Indonesia waktu itu).

Peta Serangan Jepang ke Asia Tenggara


Untuk membalas serangan-serangan Jepang, Sekutu menyusun taktik serangan dari pulau satu ke pulau lain atau sistem katak loncat. Strategi ini dipimpin oleh Jendral Dauglas Mac Arthur dan Laksamana Chester Nimitz. Tentara Jepang di Laut Karang dan Midway (7 Mei 1942) dihancurkan oleh Sekutu. Inilah titik balik pertama.

Dalam pertempuran-pertempuran berikutnya Amerika Serikat dapat merebut Filipina (22 Oktober 1944), Iwo Jima (17 Maret 1945), Okinawa (21 Juni 1945).Kemudian Inggris di
bawah Lord Louis Mauntbatten menyerbu Birma (Myanmar)dan menghancurkan tentara Jepang (30 April 1945). Dari Saipan dan Okinawa Angkatan Udara Amerika Serikat menyerang kota-kota Jepang, tetapi Jepang belum menyerah. Akhirnya pada tanggal 6 Agustus 1945 Hiroshima dijatuhi bom atom dilanjutkan tanggal 9 Agustus 1945 di Nagasaki. Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945 (secara resmi 2 September 1945 di atas kapal “Missouri” di Teluk Tokio).

Dengan demikian berakhirlah Perang Dunia II karena Jepang beserta negara-negara pendukungnya menyerah.Setelah Perang Dunia II berakhir maka diadakanlah perjanjian-perjanjian perdamaian antara pihak pemenang dan yang kalah. Perjanjian–perjanjian itu antara lain Konferensi Postda(2 Agustus1945) dan Perjanjian San Fransisco (8 September1951).

a.Konferensi Postdam (2 Agustus1945)
Konferensi ini diadakan antara Sekutu denganJerman yang dihadiri oleh Thruman, Stalin, danAttlee. Konferensi ini menghasilkan keputusan sebagai berikut:
1.Jerman dibagi dalam 4 daerah pendudukan yakni bagian timur oleh Rusia, bagianbarat oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Kota Berlin yang terletak ditengah-tengah daerah pendudukan Rusia, dibagi 4 bagian yakni Berlin Barat(Amerika Serikat, Inggris, Perancis) Berlin Timur (Rusia).
2.Danzig dan daerah Jerman sebelah timur Sungai Oder dan Neisse diberikan kepada Polandia.3.Angkatan Perang Jerman harus dikurangi jumlah tentara dan peralatan militernya (demiliterisasi).4.Penjahat perang, yakni tokoh-tokoh NAZI harus dihukum di bawah pengawasan internasional.5.Jerman harus membayar kerugian perang kepada
Sekutu.

b.Perjanjian San Fransisco (8 September 1951)
Perjanjian ini diadakan antara Sekutu dengan Jepang pada tahun 1945 dan dibuatdi Jepang. Pada mulanya perjanjian ini hanya bersifat sementara. Kemudian PerjanjianSan Fransisco disahkan pada tanggal 8 September 1951. Rusia tidak ikutmenandatangani perjanjian ini sehingga tidak mengakuinya.

Perjanjian ini berisi: 1.Kepulauan Jepang di bawah pengawasan Amerika Serikat. 2.Kepulauan Kurile dan Sakhalin Selatan diberikan kepada Rusia. Sedangkan Mantsyuria dan Taiwan diberikan kepada Tiongkok.3.Tokoh-tokoh fasis diadili sebagai penjahat perang dan harus dihukum di bawah pengawasan internasional.4.Jepang harus membayar kerugian perang kepada Sekutu.Perang Dunia II yang berlangsung antara tahun 1939 – 1945 menimbulkan akibat yang besar di bidang politik, ekonomi, sosial, dan kerohanian bagi negara-negara di dunia.
1.Bidang Politik
Akibat yang muncul di bidang politik setelah Perang Dunia II berakhir sebagaiberikut.a.Amerika Serikat dan Rusia (Uni Soviet) sebagai pemenang dalam Perang DuniaII tumbuh menjadi negara raksasa (adikuasa).b.Terjadinya perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang menimbulkan Perang Dingin

Jika keduanya berimbang terjadi keseimbangan kekuatan (Balance of PowerPolicy), walaupun perdamaian diliputi ketakutan.c.Nasionalisme di Asia berkobar dan timbul negara-negara merdeka seperti Indonesia (17 Agustus 1945),Filipina (4 Juli 1946), India dan Pakistan Dominion(15 Agustus 1947) dan India merdeka penuh 26 Januari 1950, Birma(4 Januari 1948), dan Ceylon (dominion 4 Februari 1948).
d.Munculnya politik mencari kawan atau aliansi yang dibentuk berdasarkan kepentingan keamanan bersama, misalnya NATO, METO, dan SEATO.

e.Munculnya politik memecah belah negara, misalnya:1)Jerman dibagi menjadi dua negara, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur.2)Korea dibagi menjadi dua negara, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara.3)Indo-Cina dibagi menjadi tiga negara, yaitu Laos, Kamboja, dan Indo-Cina.4)India dibagi menjadi dua negara, yaitu India dan Pakistan.

Artikel diambil dari sebuah milis dan blog dan disadur kembali oleh:
Koko Sejarawan, 024.7060.9694 (flexy)

Sunday, March 21, 2010

Personal to do, to have, atau to be?

"Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain." (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.

· Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan.

Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, "Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis." Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

· Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan.

Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

· Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik.

Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.



Memaknai hidup

Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India .

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!

Artikel diambil dari milis/ diskusi group yahoo.
Disadur kembali oleh jorganizer Hamdina
02470609694

Monday, January 4, 2010

Solusi Krisis Global bagi Perusahaan Dagang

Ternyata, krisis global yang terjadi pada kuartal terakhir tahun 2008 tidak bisa dianggap enteng. Berlanjutnya krisis hingga tahun 2009 ini mulai dirasakan hingga ke sektor riil.

Krisis global, awalnya diperkirakan hanya akan memakan korban industri yang berkaitan dengan ekspor, ternyata telah merembet hampir ke semua sektor. Bahkan bidang IT yang semula diperkirakan tidak akan goyah, justru terjungkal dengan cepat. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Suhanda Sujaya memprediksi penjualan komputer tahun 2009 bisa turun sampai 90%. Untuk itu para pedagang komputer membatasi persediaan hardware dan software.

Kenaikan kurs dolar membuat harga jual hardware mengalami kenaikan tajam, untuk jenis notebook kelas low end mengalami kenaikan antar 1 juta hingga 6 juta rupiah. Hal ini disebabkan sekitar 99% komponen hardware dan software notebook masih diimpor, sedangkan 1% merupakan branding lokal.

Tidak hanya itu, perusahaan IT dunia mengalami kejadian yang lebih parah lagi. Sebut saja Lenovo, produsen komputer terbesar ke 4 dunia ini menutup 3 pabriknya. Akibat krisis, laba Lenovo juga anjlok 78%. IBM dikabarkan akan memangkas sebesar 16.000 karyawanya diseluruh dunia.

Raja software dunia, Microsoft Corporation tak pelak juga ikut merasakan hantaman badai krisis dengan mem-PHK 5.000 karyawanya. Sedangakan Raksasa mesin pencari Google, meskipun tidak banyak melakukan PHK, pemberhentian 100 tenaga recruiter paling tidak telah memberi petunjuk bahwa google tidak akan merekrut banyak karyawan lagi tahun ini.

Bidang lain yang juga terkena imbas krisis global adalah bidang otomotif. Penjualan sepeda motor Indonesia pada bulan Januari 2009 telah terjadi penurunan sebesar 20,53%, dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Sedangkan untuk pasar mobil Januari 2009 terjadi penurunan sebesar 23%.

Para pelaku bisnis dibidang penjualan bahan bangunan juga mengaku penjualanya turun hingga 50% pada awal tahun ini. Beberapa teman yang menjadi supplier beberapa merk customer goods terkenal di Indonesia, belakangan mulai menutup usahanya. Hal ini terjadi karena setelah terjadi penurunan permintaan yang tajam dari retailer, keuntungan yang dihasilkan tidak lagi mampu menutup biaya operasional. Hal ini menunjukkan terjadinya perlambatan ekonomi secara keseluruhan.

Negara-negara besar seperti Amerika, Jepang, Singapura telah mengeluarkan paket bantuan penyelamatan dengan nilai ratusan miliar dolar. Meskipun insentif tersebut tidak serta merta mengobati luka akibat krisis, setidaknya upaya pemerintah negara-negara tersebut menunjukkan pembelaan yang besar terhadap warganya.

Sayangnya pemerintah Indonesia hingga saat ini belum banyak berbuat untuk menanggulangi krisis ini. Mungkin masih terbuai dengan analisa yang berkembang pada akhir 2008 bahwa Indonesia memiliki basic ekonomi yang kokoh. Bahkan saat ini personel pemerintahan disibukkan dengan urusan pemilu, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil kadang tidak terfokus pada penanggulangan krisis, namun untuk meningkatkan popularitas belaka. Keberhasilan sedikit saja diekpos secara besar-besaran untuk meningkatkan citra diri, bahkan kadang-kadang keberhasilan semu juga ikut terekspos.

Forum ekonomi dunia di Davos, Swiss beberapa waktu lalu juga tidak menghasilkan langkah-langkah kongkrit dalam penanganan krisis global. Lebih dari 2.000 pengusaha dan pemimpin politik seluruh dunia telah menghabiskan waktunya selama 5 hari hanya untuk membahas permasalahan-permasalahan, bukan solusi. Davos hanya dijadikan lobi untuk kepentingan masing-masing, bukan kepentingan bersama.

Setelah Davos, April mendatang pemimpin negara-negara maju dan berkembang akan bertemu kembali pada forum G20 di London, Inggris. Apakah forum tersebut bisa diandalkan untuk menghentikan krisis ini? kita tunggu saja.

Namun kita tidak bisa terlalu lama menunggu. Diperlukan gerakan cepat untuk menyelamatkan perusahaan masing-masing. Beberapa langkah yang bisa ditempuh dalam menghadapi krisis global bagi perusahaan perdagangan diantaranya:

Antisipasi Jangka Pendek

1. Selamatkan Cash flow perusahaan anda. Omzet penjualan yang turun, apalagi ditambah lebih banyaknya penundaan pembayaran dari customer karena penurunan daya beli masyarakat akan menyulitkan pembayaran kewajiban-kewajiban perusahaan yang jatuh tempo saat ini. Kewajiban tersebut bisa berupa hutang dagang, pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo saat ini, cicilan kredit kendaraan atau inventaris lain atau kewajiban lain yang jatuh tempo saat ini.

2. Tunda dulu pembelian inventaris, kecuali benar-benar mendesak dan melalui perhitungan yang matang.

3. Hindari membuat kredit baru, karena tidak satu orangpun yang bisa memastikan kapan krisis akan selesai, yang ada hanyalah prediksi yang tidak selalu akurat.

4. Pertahankan yang sudah ada sekarang dan tunda dulu investasi baru.

5. Lakukan pengetatan anggaran biaya, bila perlu biaya yang biasa dikeluarkan perusahaan dievaluasi lagi. Misalnya evaluasi kembali penggunaan AC, lampu dan peralatan listrik di kantor Anda, evaluasi penggunaan telepon kantor. Evaluasi penggunaan fasilitas karyawan yang diberikan kantor seperti kendaraan dan rumah dinas agar tidak menimbulkan banyak biaya perawatan yang sia-sia. Bahkan perusahaan tempat teman saya bekerja yang termasuk ATPM Mobil terkenal, sampai melakukan pengetatan penggunaan air toilet dan pembatasan pembuatan kopi bagi karyawanya.

6. Simpan dana pada bank yang sehat, upayakan bank pemerintah.

7. Evaluasi kembali kebijakan-kebijakan penjualan yang mengakibatkan kredit macet atau tempo bayar yang molor.

8. Gunakan software khusus untuk perdagangan. Dengan software ini anda bisa menganalisa secara mendalam dan akurat berkenaan dengan kebijakan stok, cash flow, analisa hutang/piutang, analisa penjualan dan analisa lain yang mendukung pengambilan keputusan secara tepat dan cepat. Dalam masa krisis, kesalahan pengambilan keputusan sedikit saja bisa berakibat fatal. Selain untuk pengambilan keputusan, software perdagangan juga mampu membantu kita melakukan efisiensi. Kebutuhan kita melakukan segalanya serba cepat dan akurat bisa ditopang secara penuh oleh software tersebut.

Penyelesaian Jangka Panjang

Penyelesaian jangka panjang tentunya akan menyangkut makro ekonomi yang tengah berjalan di dunia dan di Indonesia sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa krisis yang terjadi berkali-kali selalu disebabkan oleh pola ekonomi kapitalis. Ada pola ekonomi yang telah terbukti tangguh menghadapi krisis. Pola perekonomian syariah telah membuktikan mampu lolos dari hantaman krisis 1997 dan 2008. Sebut saja perbankan syariah, saat perbankan lain mengalami kesulitan yang hebat selama krisis, bank syariah justru membuktikan mampu membukukan laba yang signifikan.

Masih segar dalam ingatan kita ketika pemerintah mengucurkan dana BLBI dalam jumlah yang sangat besar untuk menyelamatkan perbankan umum pada saat itu, Bank Muamalat yang merupakan bank syariah pertama di Indonesia sama sekali tidak membutuhkan suntikan dana tersebut dan terbukti mampu bertahan eksis hingga saat ini.

Saya berbicara ekonomi syariah disini tidak dalam kerangka agama, namun dalam kerangka sistem ekonomi yang bisa diterapkan oleh siapa saja, tidak harus yang beragama Islam.

Bagaimana implementasi sistem perekonomian syariah untuk perusahaan?

Pertama, perusahaan hanya akan menjalankan kegiatan perdagangan yang halal/positif baik produk maupun sistem perdaganganya. Tidak ada upaya tipu menipu atau upaya mendapatkan keuntungan diatas kerugian pihak lain. Pola mendapatkan keuntungan diatas keuntungan orang lain, saya rasa bisa berlaku umum, berlaku untuk siapa saja dan dimana saja. Ini adalah hal pokok yang akan membuat perusahaan tetap eksis.

Kedua, perlakukan karyawan sebagaimana pengusaha. Ajak semua karyawan untuk berfikir bagaimana memajukan perusahaan. Namun ajakan ini akan sia-sia jika tidak ditopang oleh sistem penggajian dan reward kepada karyawan. Pola penggajian tetap adalah penyumbang terbesar keroposnya sendi-sendi perusahaan. Buatlah sistem penggajian yang memungkinkan karyawan tumbuh besar sesuai dengan pertumbuhan perusahaan dan penyusutan seiring dengan penyusutan perusahaan.

Artinya disini ada pola bagi hasil dan bagi resiko. Pola ini yang memungkinkan karyawan tidak kehilangan semangat bekerja disaat perusahaan membukukan keuntungan yang sangat besar dan tidak menjadi beban perusahaan ketika perusahaan mengalami penurunan keuntungan.

Kenapa seperti itu? pada pola konvensional, karyawan cenderung kehilangan semangat kerja ketika perusahaan mendapatkan keuntungan yang semakin besar, namun gaji karyawan hanya bertambah sedikit atau bahkan tidak bertambah sama sekali. Biasanya perusahaan memberikan kenaikan gaji karyawan antara 10-15% pertahun, sehingga ketika terjadi peningkatan keuntungan perusahaan yang sangat pesat, akan menimbulkan kecemburuan. Disisi lain perusahaan harus hati-hati menaikkan gaji, karena sekali naik, akan sulit diturunkan, meskipun pada saat perusahaan mengalami kesulitan. Akhirnya yang terjadi adalah PHK, karena perusahaan tidak mampu menggaji lagi dan karyawan juga tidak mau diturunkan gajinya.

Pola bagi hasil dan bagi resiko sangat fleksibel dalam kenaikan dan penurunan gaji. Sehingga perusahaan tidak pernah terbebani oleh gaji karyawan yang terus meningkat. Semua berjalan realistik. Dengan begitu semua karyawan akan memiliki sikap yang sama dengan owner dalam hal kemajuan perusahaan. Merekapun bisa mengatakan “Berjuang untuk memajukan perusahaan atau mati bersama-sama”.

Mana yang lebih tangguh, dalam satu perusahaan terdapat hanya satu orang yang berjiwa enterpreneur atau terdapat puluhan, ratusan bahkan ribuan orang yang memiliki jiwa enterpreneur?

Artikel telah disadur kembali oleh:
Djoko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694 (flexy)
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Komunikasi Efektif dalam Presentasi Penjualan

Komunikasi adalah bagian yang amat penting dalam kehidupan sehari-hari, begitupun bagi seorang salesman. Komunikasi bisa dalam bentuk lisan dan visual. Berkomunikasi, adalah bagian paling banyak yang harus dilakukan oleh seorang salesman ketimbang pekerjaan lain.

Semakin tinggi jabatan seseorang, tuntutan untuk bisa berkomunikasi lebih baik juga semakin tinggi. Berkomunikasi yang baik, bukan hanya berkaitan dengan konten yang disampaikan, tapi juga mengenai gaya, artikulasi, volume, pemilihan kata, tempo, bahasa tubuh dan visualisasi yang akan membuat konten lebih mudah dicerna oleh audiens. Pada intinya bukan hanya apa yang akan disampaikan, namun juga bagaimana cara menyampaikan.

Tulisan ini akan membahas komunikasi dalam kerangka presentasi penjualan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam melakukan presentasi penjualan, diantaranya :

1. Persiapan

Persiapan dalam presentasi sama pentingnya dengan presentasi itu sendiri. Persiapan yang matang dan lengkap akan sangat menentukan keberhasilan presentasi. Berikut ini adalah beberapa hal dalam persiapan presentasi :

Analisa Situasi

Dalam analisa situasi, kita harus bisa menemukan alasan mengapa presentasi kita penting bagi audiens. Karena sebagus apapun presentasi anda, tidak akan banyak membantu penjualan jika audiens menilai presentasi anda tidak penting baginya.

Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri untuk mengetahui seberapa penting presentasi kita bagi audience.

Apakah saya perlu melakukan presentasi?

Apakah presentasi saya tepat untuk situasi perusahaan/audiens?

Apa yang akan terjadi pada perusahaan/audiens setelah presentasi saya?

Bagaimana presentasi saya cocok dengan prilaku perusahaan/audiens?

Bagaimana saya bisa membantu perusahaan/audiens?

Analisa audiens

Berhasil atau tidaknya presentasi kita ditentukan oleh audiens. Oleh karenanya kita harus mengerti siapa yang sedang kita hadapi. Menganalisa audiens bukanlah pekerjaan mudah.

Tugas kita adalah mengetahui latar belakang budaya, pendidikan, aliran politik, posisi dalam perusahaan, keahlian teknis dan pemahaman terhadap masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaanya.

Dengan mengetahui profil audiens secara tepat, akan membantu kita menyusun apa saja yang akan kita katakan, dengan gaya santai atau formal, apa yang harus dikatakan dan apa yang harus TIDAK dikatakan.

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari audiens, diantaranya:

Seberapa banyak audiens yang tahu tentang saya dan presentasi yang akan saya sampaikan?

Apa yang diharapkan audiens dari saya?

Bagaimana sikap awal audiens terhadap saya dan produk yang saya bawa?

Apakah usia dan jenis kelamin audiens?

Apakah audiens yang hadir memiliki jabatan yang sesuai dengan bidang yang akan disampaikan?

Apakah audiens yang hadir adalah pengambil keputusan?

Apakah pandangan politik dan agama audiens?

Penetapan Tujuan dan Sasaran

Menetapkan tujuan dan sasaran akan membantu kita membuat presentasi yang fokus pada target tertentu yang kita inginkan. Apakah kita ingin menjual produk, layanan ataukah menjual ide. Kita juga harus selalu ingat, bahwa sebenarnya kita sedang menjual kompetensi dan value kita kepada perusahaan/audiens.

Tujuan dan sasaran kita haruslah jelas diketahui oleh audiens. Sebagai pembuka kita bisa menyampaikan ringkasan singkat poin apa saja yang akan dibahas dalam presentasi kita, agar audiens mengetahui apakah apa yang ia harapkan masuk dalam materi presentasi.

Memilih dan membentuk konten

Kita harus berhati-hati dalam membuat konten presentasi. Kadang ini tidak mudah, karena kita perlu membua presentasi yang singkat, menarik dan relevan. Agar presentasi kita menarik, kita harus memilih informasi-informasi yang sangat berarti bagi audiens, misalnya mengenai statistik, testimonial, kasus, ilustrasi, sejarah, dan narasi.

Yang perlu diingat, membuat presentasi menarik dan tidak keluar dari tujuan dan sasaran yang kita tetapkan dari awal.

Memilih Gaya

Memilih gaya yang tepat dalam presentasi berarti kita memilih intonasi, bahasa tubuh, artikulasi dan hal lain yang membuat audiens mengerti apa yang sedang kita tekankan.

Ada bebrapa pertanyaan dalam hal memilih gaya:

Jenis nada bicara seperti apa yang ingin saya gunakan?

Citra diri apa yang ingin saya bentuk?

Level bahasa mana yang cocok dengan audiens?

Cara-cara formal atau informalkah yang akan saya gunakan?

Pendekatan-pendekatan seperti apakan yang diharapkan oleh audiens?

Gaya komunikasi lisan ini akan sangat kita butuhkan, karena kita benar-benar berbicara kepada audiens. Kalimat-kalimat pendek hangat dan ramah bisa jadi pilihan yang baik dalam presentasi.

Mengorganisasikan presentasi

Mengorganisasikan presentasi adalah mengatur urutan ide-ide yang akan kita keluarkan sehingga runut. Presentasi yang terorganisir dengan baik akan membawa audiens kepada satu titik yang kita inginkan tanpa mereka sadari sepenuhnya. Aliran ide yang sangat baik akan mengajak fikiran audiens ikut mengalir kearah yang kita tentukan, yaitu penjualan.

2. Memulai Presentasi

Memulai presentasi diawali dengan mengucapkan salam pembuka, dan menyapa audiens. Buatlah suasana nyaman bagi audiens dan diri kita sendiri. Mulailah dengan membicarakan hal-hal ringan yang tidak terkait dengan presentasi, namun jangan bertele-tele. Setelah kita merasa nyaman, kita bisa memulai presentasi.

3. Mengisi Presentasi

Hal yang paling penting dalam menyampaikan presentasi adalah membangkitkan kesadaran audiens bahwa mereka sedang dalam masalah. Mungkin mereka tidak menyadarinya, dan kita yang menyadarkanya. Ketika mereka telah menyadari bahwa mereka sedang menghadapi masalah, maka kita hadir untuk memberi solusi atas masalah mereka.

Sehebat apapun presentasi kita, tidak akan ada artinya jika mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang memiliki masalah dan masalah itu hanya bisa selesai melalui produk dan layanan dari kita.

Selain itu keberhasilan presentasi ditentukan oleh gaya kita menyampaikan, apakan semangat, penuh keyakinan dan kenikmatan.

Untuk membangkitkan kesadaran audiens terhadap masalah yang sedang mereka hadapi, perlu teknik-teknik penyampaian yang tepat. Ada hal-hal yang perlu diLAKUKAN dan JANGAN dilakukan. Berikut beberapa hal mengenai LAKUKAN dan JANGAN lakukan.

(lakukan) Berbicara dengan jelas.

Jangan terburu-buru, berbicaralah dengan perlahan dan artikulasi yang tepat.

Jangan berbicara dengan monotone, gunakan kecepatan dan nada bervariasi.

Lakukan kontak mata, namun jangan terpaku pada satu orang saja.

Lihat reaksi bahasa tubuh audiens, apakah mereka bergairah atau bosan?

Jangan terlalu banyak bergerak.

Jangan berbicara menghadap layar visualisasi.

Beberapa poin penting lakukan dengan penekanan baik dengan intonasi atau dengan bahasa tubuh.

Hal yang paling penting dalam menyampaikan presentasi adalah membangkitkan kesadaran audiens bahwa mereka sedang dalam masalah. Mungkin mereka tidak menyadarinya, dan kita yang menyadarkanya. Ketika mereka telah menyadari bahwa mereka sedang menghadapi masalah, maka kita hadir untuk memberi solusi atas masalah mereka.

Sehebat apapun presentasi kita, tidak akan ada artinya jika mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang memiliki masalah dan masalah itu hanya bisa selesai melalui produk dan layanan dari kita.

Selain itu keberhasilan presentasi ditentukan oleh gaya kita menyampaikan, apakan semangat, penuh keyakinan dan kenikmatan.

4. Alat Bantu Visual

Alat bantu visual akan membantu mempermudah menyalurkan ide kepada audiens. Presentasi lebih persuasif, lebih profesional, dan lebih menarik menggunakan alat visual daripada yang tidak menggunakan alat.

5. Penutup

Pada saat kita menutup presentasi, coba kita simpulkan apa yang sudah kita sampaikan. Intinya adalah kembali mengingatkan kegusaran audiens terhadap masalahnya dan mendengungkan solusi. Dengan rangkaian kata-kata yang baik, kata terakhir ini akan selalu terkenang atau terngiang-ngiang ditelinga audiens paling tidak selama 24 jam setelah presentasi.

Pada saat itulah saat yang paling baik untuk melakukan negosiasi. Jangan lupa, bahwa tujuan kita adalah menjual, bukan pertunjukan presentasi. Jadi lakukan closing segera, baik pada forum presentasi atau sejenak setelah presentasi ditutup dan kita melakukan pembicaraan dengan orang-orang pengambil keputusan.

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Koneksikan Bisnis Anda ^_^

Zaman sekarang semua berjalan serba cepat. Untuk memberitahukan sesuatu kepada orang yang berjarak ribuan kilometer hanya dibutuhkan waktu beberapa detik saja. Tidak seperti dahulu yang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk menunggu kiriman surat atau kartu post.

Cepatnya arus informasi dan komunikasi saat ini berpengaruh sangat besar terhadap cara orang menjalankan bisnisnya. Kalau dulu, orang mau bisnis, tinggal buka kios dipinggir jalan, lalu sediakan barang-barang yang akan dijual dan ditunggu dari pagi sampai sore, sudah beres. Konsumen tidak punya banyak pilihan, bahkan juga tidak tahu persis harga yang layak untuk produk itu sebenarnya berapa.

Contoh kecil saja, pada tahun 1998, toko komputer di Lampung bisa mendapatkan laba sampai 2,5 – 4 juta per unit. Tidak ada konsumen yang komplain harganya kemahalan, karena mereka tidak punya pembanding.

Dengan adanya internet, konsumen akan dengan mudah mencari spesifikasi yang sama secara detail dan membandingkan harga dari toko offline dengan toko online. Dengan demikian, konsumen tidak lagi bisa ‘dibohongi’.

Belum lagi pengusaha juga harus bertarung dengan toko offline lain yang merupakan jaringan bisnis nasional bahkan internasional. Tentu akan semakin menambah banyak pilihan bagi konsumen. Bisa dipastikan, akan sangat sulit mencari pelanggan sejati. Bisa jadi pagi ini belanja di toko kita, nanti sore belanja di toko lain.

Apa artinya?

Saat ini konsumen sudah terkoneksi dengan dunia yang lebih luas. Agar kita tetap surfive ditengah kompetisi yang semakin padat, tentu kita juga harus terkoneksi. Minimal terkoneksi dengan konsumen, kolega, supplier bahkan dengan kompetitor.

Terkoneksi dengan konsumen, artinya kita dengan mudah mengomunikasikan apa yang kita jual kepada konsumen. Dan yang paling penting adalah konsumen secara pribadi menerima pesan kita, mengerti apa yang kita komunikasikan dan mau secara sukarela bertindak seperti apa yang kita inginkan.

Contoh kecil, ada sebuah warung makan kecil di Bandar Lampung yang menerapkan koneksi seperti ini. Warung tersebut mendorong semua orang yang makan disitu untuk manjadi member. Warung tersebut memberikan diskon khusus untuk member setiap transaksi. Dengan membuat member, tentu mereka mengisi form aplikasi yang didalamnya terdapat nama lengkap, alamat ,nomor telephone, alamat email, agama, hobi dan lain-lain.

Untuk melakukan koneksi langsung kepada para membernya, warung tersebut menggunakan fasilitas SMS dan email setiap ada menu baru, saat ada program promosi baru, saat member tersebut ulang tahun dan ucapan selamat hari raya agamanya.

Apa yang bisa diambil pelajaran dari kasus ini?

Konsumen mendapatkan informasi jauh lebih banyak dan lebih cepat tentang warung ini dibandingkan dengan warung-warung lain disekitarnya. Konsumen juga akan tahu secara cepat spot diskon khusus untuk dirinya dengan menunjukkan SMS tersebut.

Kembali ke masalah koneksi, sebenarnya ada lagi pekerjaan besar yang bisa ditempuh untuk membentuk pelanggan fanatik, yaitu mengoneksikan satu pelanggan dengan pelanggan lain.

Slank dan Dewa 19 salah satu yang sukses mengoneksikan penggemarnya melalui wadah Slankers dan Baladewa. Mereka adalah penggemar fanatik yang selalu mengikuti perkembangan kedua band tersebut. Meraka juga ikut berjuang agar grup band kesayanganya tetap eksis, salah satunya menggunakan RBT (ring back tone) dan selalu membeli kaset originalnya.

Para Slangkers dan Baladewa ini memiliki identitas komunitas yang sangat kuat. Meski mereka berlainan provinsi dan tidak saling kenal, dengan mudah mereka akan melakukan pembelaan bersama-sama terhadap band kesayanganya.

Selain terkoneksi dengan konsumen, kita juga harus terkoneksi dengan kolega. Dalam bisnis selalu saja ada kolega yang secara langusung maupun tidak langsung membantu kemajuan bisnis kita. Meskipun mereka tidak berada dibawah manajemen kita, namun keberadaanya sangat vital.

Kolega bisnis bisa berupa orang atau badan usaha yang bergerak dibidang bisnis lain namun masih ada kaitanya dengan bisnis kita. Misalnya Hotel dengan Loundry, Developer Software dengan Toko Komputer, Konsultan Manajemen dengan penyedia Out Sourcing SDM dan Marketing Freelance.

Bahkan kadang kala kolega yang kita ajak kerja sama, bisa saja tidak berhubungan dengan bisnis yang kita jalani sama sekali. Biasanya ini digunakan untuk strategi Cross Marketing, Misalnya Supermarket dengan Bengkel Mobil, Salon, Spa dan Rumah Makan.

Kolega-kolega seperti diatas, sangat bermanfaat untuk membangun pasar baru atau untuk membersarkan pasar yang sudah ada. Oleh karenaya kita harus selalu terkoneksi dengan mereka untuk selalu mencari peluang apa yang bisa dikembangkan bersama untuk membesarkan bisnis bersama.

Koneksi berikutnya adalah dengan supplier. Ini adalah koneksi yang harus dijalankan dengan lancar. Tidak ada gunanya sama sekali kita melakukan pemasaran yang hebat, namun tidak didukung oleh supplai produk yang memadahi. Supplier juga biasanya dengan sukarela memberi kita tips dan trik agar produknya bisa laku keras. Mereka akan membagikan pengalaman salah satu konsumenya yang sukses kepada kita. Karena bagaimanapun, supplier juga berkepentingan terhadap penjualan produknya oleh kita.

Koneksi yang mungkin agak aneh adalah koneksi dengan kompetitor. Mengapa kita harus terkoneksi dengan kompetitor? Bukankan mereka adalah musuh yang harus dihancurkan?.

Kompetitor biasanya memiliki bidang bisnis yang sama dengan yang kita jalani. Dalam bisnis, meskipun masing-masing bersaing untuk menjadi pemenang, tapi selalu saja ada “musuh bersama” yang harus dihadapi. Untuk menghadapi musuh bersama ini tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Dibutuhkan power yang besar untuk bisa menghadapinya.

Misalnya saja para pebisnis retail yang selalu mengalami kesulitan dalam perijinan dan banyaknya pungutan-pungutan dari pihak pemerintah daerah. Untuk menghadapi ini mereka membentuk semacam asosiasi atau perkumpulan, agar memiliki bargaining position yang kuat dihadapan pemerintah daerah.

Contoh lain musuh bersama adalah masuknya jaringan bisnis nasional dan internasional ke daerah. Bagi para pengusaha di daerah, meraka adalah musuh bersama yang harus dihadapi, meskipun sebenarnya diantara mereka sendiri juga ada persaingan.

Dalam sebuah asosiasi, para kompetitor bisa melakukan sharing satu dengan yang lainya. Suatu yang hampir tidak mungkin dilakukan jika mereka tidak dalam satu organisasi.

So stay on connection and never loss connection with everyone.

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Sunday, January 3, 2010

Best Careers of 2010

It's not a little bit optimistic to be establishing a list of best careers now, at the tail end of a particularly hard-knocks recession that has helped put 15.4 million Americans out of work.

That's particularly so because no industry or occupation was spared the misery of layoffs, hiring freezes, benefit cuts, and general anxiety. But some industries were much safer harbors for workers than others. Healthcare, most notably, managed to expand its payrolls, though not at the clip customary for a healthier economy. It's clear that the recession is ending and that employers aren't slashing jobs with the blunt instrument they used over the past two years, but many unemployed workers and college students have a question that can't be answered by upticks in the GDP, namely: Where on earth will the jobs be?

For this year's list, U.S. News examined the Labor Department's brand-new job growth projections for 2008 to 2018. We looked for occupations that will add jobs at an above-average rate over the next decade or so and those that provide an above-average median income. We analyzed the data for jobs with enough bulk to make them worth mentioning. Since not everyone wants to be a nurse or an engineer, we looked for occupations in a broad range of categories. And since not everyone can go back to school for a doctorate, we included a broad range of educational requirements. We also considered, where possible, data on job satisfaction, turnover, and impending retirements,which crank up openings in jobs that may have only slightly above-average employment growth.

In the end, we found a list of 50 jobs that present some of the best opportunities for workers in five categories. In the science and technology field, jobs range from network architect to meteorologist. This category includes the fastest-growing occupation—with a 72 percent growth rate that far outstrips the 10 percent average across careers—of biomedical engineer. Biomedical engineers help develop the equipment and devices that improve or enable the preservation of health. They're working to grow cardiac tissue or develop tomorrow's MRI machines, asthma inhalers, and artificial hearts. Computer software engineers, on the other hand, are working to develop tomorrow's hottest video game—or missile system.As the baby boomer generation ages, the healthcare industry will continue to offer some of the best opportunities for employment. Aside from better known—but still promising—careers such as registered nurse or veterinarian, there are slightly more under-the-radar careers that require less schooling, such as X-ray technician, lab technician, or physical therapist assistant. There are also promising occupations at the intersection of healthcare and education: school psychologist and medical and public-health social worker. Those drawn to teaching or to civic service might want to take a look at urban planning, firefighting, or special education.

There are plenty of promising jobs in the business and finance fields, although the opportunities have shifted a bit because of the economic shake-up. Consumers continue to seek the advice and experience of personal financial advisers, while investment banks, insurance companies, and fund management firms increasingly rely on the work of financial analysts, who gauge the performance, health, and value of companies in which a firm may want to invest. There are less well-known careers here, too, including cost estimator, a job critical to companies that need to price out projects before they start, and logistician, the unsung hero of global commerce who manages the supply chain.

Creative jobs often get short shrift as promising opportunities, given that competition can be fierce and interest high. However, there will be plenty of demand for technical writers, curators, and film and video editors. Some service jobs can also be easily overlooked despite the excellent opportunities they provide. Plumbers are the butt of plenty of jokes, but the career could be a great choice for someone who wants on-the-job training and has the needed physical stamina. Likewise, employment of security system installers is forecast to jump 25 percent between 2008 and 2018. Sometimes, a recession shows you that the best jobs aren't the ones that grab headlines or dazzle strangers. Rather, they're the ones that offer a stable paycheck and a little satisfaction at the end of the day.

1. X-Ray Technician

Demand for X-ray technicians is expected to grow as the massive baby boomer generation ages and increases demand for diagnostic imaging. Radiologic technologists and technicians held about 215,000 jobs in 2008, primarily in hospitals, and that number is expected to shoot up more than 17 percent to 252,000 positions by 2018.

2. Veterinarian

Employment for veterinarians is expected to grow by 19,700 jobs, or 33 percent, between 2008 and 2018.There aren't a lot of veterinarians—60,000 in 2008, according to U.S. estimates; 90,000 in 2008, according to industry data—and demand for vets is strong.

3. Meteorologist

Employment growth of meteorologists is expected to be faster than average. The occupation is expected to add 1,400 jobs between 2008 and 2018, expanding by nearly 15 percent.

4. Computer Software Engineer

Employment of computer software engineers is expected to swell by a whopping 295,200 jobs, or more than 32 percent, between 2008 and 2018. That rate is well above the average for all occupations, as companies continually integrate new technologies and design their own.

5. Firefighter

Job growth through 2018 is likely to be about 19 percent, which is above the average for all occupations. But there's a lot of competition for jobs, since firefighting is stable, government-supported work that often comes with a pension--and is recession-resistant.

6. Special-Education Teacher

Employment of elementary and preschool special-education teachers is expected to jump by 44,300 jobs, or 20 percent, between 2008 and 2018--well above average for all occupations.

7. Financial Adviser

Financial adviser is forecasted as one of the faster-growing occupations over the next decade, with a projected growth rate of more than 30 percent. The impending retirements of 78 million baby boomers is expected to create strong demand for advisory services.

8. Meeting Planner

Employment of meeting and convention planners is expected to grow faster than the average for all professions over the next decade or so. The number of jobs planners hold is forecast to jump 16 percent, thanks to the growing importance of meetings to increasingly global companies.

9. Funeral Director

Expect solid growth for funeral directors between 2008 and 2018. Employment should increase by 3,600 jobs, or 12 percent, over the 10-year period. However, the number of openings resulting from growth and replacement needs, particularly from retirements, will be three times as much.

10. Multimedia Artist

Employment in the multimedia arts, whether in film, advertising, or Web development, is expected to rise by 11,200 jobs, or more than 14 percent, between 2008 and 2018, boosted in part by the growth in mobile technology and in the production of 3-D animated movies.

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Bunuh Diri Itu Menular

Dalam catatan sejarah, dalam tiga pekan ini, paling tidak lima nyawa melayang setelah terjun dari ketinggian gedung bertingkat di Jakarta. Diduga mereka meloncat karena sengaja bunuh diri (Kompas, 16/12/2009). Sebelumnya di Surabaya juga terjadi hal yang sama. Kerap kejadian seperti ini terjadi secara beruntun. Kebetulan atau memang menjalar?

Sekitar akhir abad kedelapan belas, Goethe, seorang penulis kesohor, bertutur dalam novelnya, The Sorrows of Young Werther. Dikisahkan, sang tokoh protagonis, Werther, sengaja mengakhiri hidup karena cintanya kepada tokoh utama perempuan gagal. Dalam waktu singkat setelah novel tersebut beredar, tindakan Werther ditiru oleh banyak pembacanya dengan memakai pakaian dan cara mati yamg serupa dengan yang dilakukan Werther, sementara buku novel tersebut berada di sampingnya. Dramatis!

Banyak bukti memperjelas bahwa mereka terinspirasi oleh kisah sang tokoh dalam novel tersebut. Kejadian yang sempat menggemparkan bumi Eropa saat itu sehingga novel tersebut lantas dilarang beredar. Dari situlah muncul istilah The Werther effect, atau bunuh diri yang menjalar cepat bak penyakit menular (contagious) . Mereka mengimitasi apa yang dibaca, dilihat, atau didengar, terutama bagi individu yang rentan.

Media dan perilaku meniru

Kendati peniruan bunuh diri (copycat suicide) lebih tepat dipakai untuk mengistilahkan bunuh diri yang menjalar di antara kelompok teman, namun tak terlalu berbeda dengan perilaku bunuh diri yang ditularkan lewat berbagai bentuk media. Umumnya lantaran paparan yang begitu menonjol, kejadiannya dramatis, sensasional, dan disiarkan terus-menerus oleh media.

Begitu banyak bukti bahwa media mempunyai andil besar terhadap perilaku bunuh diri (Fu & Yip, 2007). Umumnya remaja dan dewasa muda yang mempunyai faktor risikolah yang banyak mengimitasi perilaku bunuh diri dengan memungut metode yang sama. Kebetulan cara melompat dari gedung tinggi menjadi semacam tren akhir-akhir ini, baik di pusat perbelanjaan, gedung apartemen jangkung yang mulai menjamur, menara tinggi, maupun sejenisnya.

Masuk akal, apalagi di kota besar, terutama Jakarta, yang tengah berlomba membangun gedung-gedung tinggi, cara mengakhiri hidup semacam itu akan menjadi masalah, sebagaimana Hongkong yang saat ini sudah mulai berpikir untuk mengembangkan sistem pengamanan lewat arsitektur bangunan yang tak mengundang orang untuk mengakhiri penderitaan mereka di tempat tersebut. Hal itu termasuk bagaimana mengamankan jembatan-jembatan yang menjadi ikon kota.

Mungkinkah pengelola gedung (termasuk yang memberikan izin mendirikan gedung) di Indonesia mulai berpikir dan bertindak seperti itu? Hal ini tak boleh dianggap sepele bila tak ingin melihat korban berjatuhan kembali. Semua komponen masyarakat ikut bertanggung jawab. termasuk media massa, terutama dalam pemberitaan yang berpotensi ditiru masyarakat. Misalnya mengenai peristiwa bunuh diri, seyogianya media memberitakan secara lebih bertanggung jawab, akurat, dan lebih sensitif memegang etika reportase. Diharapkan, media menghindari cara pemberitaan yang sensasional, terlalu didramatisasi, menghindari pelaporan secara detail, apalagi lokasi tempat dan cara kematian secara eksplisit.

Hal penting lain, tidak melakukan penyederhanaan penyebab masalah karena bisa menafikan kausa kompleks bunuh diri yang sebenarnya lebih penting. Kerap berbagai reportase menyebutkan penyebab bunuh diri karena faktor tunggal, misalnya karena impitan ekonomi atau masalah dengan pasangan. Akibatnya, kelompok orang yang sedang mengalami "nasib" buruk serupa dan sudah terlintas ide untuk mati, seakan diberikan justifikasi untuk melakukan hal sama. Lebih-lebih bila ada "model" yang bisa ditiru, atau celebrity suicide, seperti yang terjadi di berbagai penjuru dunia.

Saat ini di beberapa negara sedang gencar terjalin kerja sama antara media massa dan institusi terkait untuk membuat semacam media guidelines dalam pemberitaan bunuh diri. Ini membawa hasil yang menggembirakan, terutama menghindari terjadinya copycat.

Kesehatan mental

Tindakan bunuh diri bukanlah sesederhana yang sering dibicarakan selama ini. Begitu berliku lorong suram yang memberi gurat cerita nestapa tersebut. Sebuah interaksi rumit yang terjalin antara faktor biologik, genetik, psikologik, sosiobudaya, ekonomi, masalah interpersonal, kepribadian, dan masalah psikiatrik. Bukan karena faktor tunggal. Perilaku bunuh diri ini menunjukkan salah satu indikator tingkat kesehatan mental yang buruk di masyarakat.

Sembilan puluh persen perilaku bunuh diri memang berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental dan kedaruratan medik. Ketika faktor mendasar tak diatasi, tak ayal jumlah kasus bunuh diri akan terus melambung karena faktor pemicunya kian menyeruak, membuat kehidupan seakan tersedak.

Media diharapkan lebih terlibat dan memberikan informasi akan tersedianya sarana bantuan bagi orang-orang yang sedang kalah ini. Sudah saatnya pula masyarakat mulai bergerak menyediakan sarana bantuan bagi sekelompok orang yang seakan terperangkap dalam labirin suram. Jangan biarkan mereka merasa tak ada harapan. Kita bisa mengulurkan tangan untuk sekadar menampung kegundahan mereka, bukan menyalahkan, tetapi memberikan dukungan.

Sebagian besar dari mereka terbukti mengurungkan niat bunuh dirinya ketika ada akses seseorang yang empatik, mau memahami, mendengarkan, dan memberikan dukungan yang bisa mengenyahkan noktah keputusasaan. Bahwa penderitaan tak layak diselesaikan lewat jalan pintas.

Patut diingat, yang meninggal hanyalah sebagian kecil dari perilaku bunuh diri yang diberitakan. Yang baru berniat atau tidak fatal tentu jauh berlipat kali jumlahnya. Inilah fenomena gunung es taraf kesehatan mental yang memburuk. Seakan menjadi silent killer yang tak terendus sehingga kita alpa mengantisipasi.

Lembaga nirlaba semacam Samaritans atau Papyrus yang sudah berdiri di berbagai belahan dunia mungkin bisa dipungut sebagai bahan inspirasi dengan beberapa modifikasi lokal. Lembaga yang bisa menjadi sumber informasi lengkap dan memberikan udara segar bagi orang-orang yang membutuhkan tempat bersandar. Memberikan secercah lentera bagi orang-orang yang sedang melihat penderitaan tanpa harapan. Bahwa ada hikmah di balik musibah, seperti digambarkan Pincus (1972) dengan indahnya:

There is no growth without pain and conflict/ There is no loss which cannot lead to gain....

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Industri Semakin Terancam

Catatan sejarah menunjukkan, ada satu pertanyaan: Apakah kita rela membeli produk dalam negeri dengan harga lebih mahal? Seorang pejabat Departemen Perdagangan dalam sebuah seminar menjawab, "Saya lebih rela membeli produk lokal, seperti jeruk Brastagi, karena kita akan turut menyejahterakan petani."

Semangat nasionalisme itu runtuh. Pengamat ekonomi Faisal Basri justru memberikan jawaban kontroversial, "Kalau suruh pilih, saya lebih memilih produk luar negeri yang bisa jauh lebih murah dan berkualitas. "

Faisal mengaku tidak rela membeli produk lokal yang jauh lebih mahal. Tidak jaminan semangat nasionalisme yang dikampanyekan pejabat dapat menyejahterakan petani.

Harga jeruk Brastagi, misalnya. Harganya sendiri murah di tingkat petani, terlebih ketika musim panen tiba. Yang bikin mahal dan bikin tidak rela adalah proses distribusi yang dihancurkan oleh aneka macam pungutan liar.

Contoh perdebatan kecil itu sangat kental terjadi di kalangan industri. Boleh jadi benar juga slogan iklan rokok yang bilang "Lagi Susah Dinaikin, Lagi Naik Disusahin".

Pada pengujung tahun 2009, industri semakin terimpit oleh agenda besar Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement) ASEAN-China. Sektor industri, terutama industri nonmigas, kewalahan menghadapi pasar global pada masa depan.

Padahal, industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil yang dibantu Departemen Perindustrian, dengan restrukturisasi mesin tekstil mulai tahun 2008, sedang bangkit untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas demi mendongkrak daya saing.

Industri otomotif lain lagi hambatannya. Penyesuaian pajak-pajak kendaraan, terutama pajak progresif, menjadi ancaman di pasar domestik. Padahal, industri otomotif niscaya menjadi "lokomotif" yang bisa menggerakkan industri komponen, kemasan, dan sebagainya. Tentu, lapangan pekerjaan memberikan kontribusi positif pada problem pengangguran yang bikin pusing pemerintah.

Hingga kini, problem besar yang menjadi masalah klasik dihadapi industri adalah rendahnya peran perbankan dalam menyalurkan kredit. Suku bunga perbankan pun tidak kompetitif.

Departemen Perindustrian sebagai "rumah" bagi industri dalam berkeluh kesah pun menjadi ibarat "pendekar tanpa pedang". Industri ingin bergerak, tetapi sayangnya ketersediaan energi listrik, pasokan gas, dan infrastruktur jalan untuk mendukung distribusi serta pelayanan pelabuhan belum memadai.

Kuncinya adalah membangun fondasi industri yang kuat. Tidak bisa lagi pembangunan hanya berorientasi lima tahunan. Dalam diskusi Roadmap 2025 dan Visi Industri 2030, gejala deindustrialisasi dini muncul tak terbendung.

Peran industri manufaktur dalam menciptakan nilai tambah mencapai puncak pada tahun 2004 dengan kontribusi 28,1 persen terhadap produk domestik bruto. Sejak saat itu peran industri manufaktur terus turun hingga 27,1 persen pada tahun 2007 dan sedikit meningkat menjadi 27,9 persen pada tahun 2008.

Namun, penurunan peran industri manufaktur ini diperkirakan akan terus berlanjut sejalan dengan pertumbuhannya yang lebih rendah dari pertumbuhan produk domestik bruto. Perekonomian pun mulai bergeser ke sektor jasa, terutama jasa modern di perkotaan yang kurang menyerap tenaga kerja. Apabila terus berlanjut, pengangguran akan tak terbendung.

Respons terhadap deindustrialisasi pun ditanggapi sinis. Indonesia tidak mengalami deindustrialisasi. Indonesia selama ini tidak punya industri. Yang ada cuma bangunan-bangunan pabrik.

Belakangan Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat menimpali, "Gejala deindustrialisasi hanya bisa dituntaskan dengan kerja keras, menciptakan reindustrialisasi! "

Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sesungguhnya sudah enak dalam melangkah. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Rahmat Gobel bersama beberapa pengamat ekonomi dan pengusaha di berbagai sektor berupaya merintis kluster-kluster unggulan yang bisa dijadikan prioritas pembangunan ekonomi.

Finalisasi roadmap tersebut membuahkan hasil terdiri dari empat kluster unggulan pendorong pertumbuhan ekonomi, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil serta industri alas kaki, industri elektronik dan komponennya, dan industri alat angkut dan komponen otomotif.

Ada pula tiga kluster unggulan pendalaman struktur, yaitu industri alat telekomunikasi dan informatika, industri logam dasar dan mesin, serta industri petrokimia.

Yang tidak kalah penting adalah kluster unggulan sumber penerima devisa, yaitu industri pengolahan hasil pertanian, peternakan dan kehutanan, industri pengolahan hasil laut dan kemaritiman, serta industri berbasis tradisi dan budaya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Polah Tjahyono meyakini pasar mebel Indonesia masih dipandang baik, terutama di pasar Eropa dan Amerika. Posisi nilai ekspor mebel Indonesia tahun 2008 mencapai 2 miliar dollar AS dan produk kerajinan 650 juta dollar AS.

Namun, belakangan ini nilai ekspor mebel Indonesia kalah dibandingkan dengan Vietnam. Nilai ekspor mebel Vietnam bisa mencapai 3,8 miliar dollar AS karena dukungan Pemerintah Vietnam sangat besar, termasuk aspek promosi mendatangkan pembeli dari luar negeri. Tenaga kerja Vietnam juga masih tergolong muda, usia 25-35 tahun.

Rahmat Gobel mengatakan, peluang Indonesia sangat besar. Apalagi, kini Departemen Perindustrian dipimpin oleh pengusaha yang diharapkan mengerti betul kebutuhan industri. Kini, tantangannya adalah meningkatkan nilai tambah bagi setiap hasil produksi.

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Tuesday, December 29, 2009

Evolution of Japan

PURPLE PATCH: Evolution of Japan -Sidney Gulick

The study of the evolution of Japan is one of unusual interest; first, because of the fact that Japan has experienced such unique changes in her environment. Her history brings into clear light some principles of evolution which the visual development of a people does not make so clear.

In the second place, New Japan is in a state of rapid growth. She is in a critical period, resembling a youth, just coming to manhood, when all the powers of growth are most vigorous. The latent qualities of body and mind and heart then burst forth with peculiar force. In the course of four or five short years the green boy develops into a refined and noble man; the thoughtless girl ripens into the full maturity of womanhood and of motherhood. These are the years of special interest to those who would observe nature in her time of most critical activity.

Not otherwise is it in the life of nations. There are times when their growth is phenomenally rapid; when their latent qualities are developed; when their growth can be watched with special ease and delight, because so rapid. The Renaissance was such a period in Europe. Modern art, science, and philosophy took their start with the awakening of the mind of Europe at that eventful and epochal period of her life. Such, I take it, is the condition of Japan to-day. She is "being born again"; undergoing her "renaissance" . Her intellect, hitherto largely dormant, is but now awaking. Her ambition is equalled only by her self-reliance. Her self-confidence and amazing expectations have not yet been sobered by hard experience. Neither does she, nor do her critics, know how much she can or cannot do. She is in the first flush of her new-found powers; powers of mind and spirit, as well as of physical force. Her dreams are gorgeous with all the colours of the rainbow. Her efforts are sure, to be noble in proportion as her ambitions are high. The growth of the past half-century is only the beginning of what we may expect to see.

Then again, this latest and greatest step in the evolution of Japan has taken place at a time unparalleled for opportunities of observation, under the incandescent light of the nineteenth century, with its thousands of educated men to observe and record the facts, many of whom are active agents in the evolution in progress. Hundreds of papers and magazines, native and European, read by tens of thousands of intelligent men and women, have kept the world aware of the daily and hourly events. Telegraphic dispatches and letters by the million have passed between the far East and the West. It would seem as if the modernising of Japan had been providentially delayed until the last half of the nineteenth century with its steam and electricity, annihilators of space and time, in order that her evolution might be studied with a minuteness impossible in any previous age, or by any previous generation. It is almost as if one were conducting an experiment in human evolution in his own laboratory, imposing the conditions and noting the results.

In Japan there is going on to-day a process unique in the history of the human race. Two streams of civilisation, that of the far East and that of the far West, are beginning to flow in a single channel. These streams are exceedingly diverse, in social structure, in government, in moral ideals and standards, in religion, in psychological and metaphysical conceptions. Can they live together? Or is one going to drive out and annihilate the other? If so, which will be victor? Or is there to be modification of both? In other words, is there to be a new civilisation - a Japanese, an Occidento-Oriental civilisation?

The answer is plain to him who has eyes with which to see. Can the Ethiopian change his skin or the leopard his spots? No more can Japan lose all trace of inherited customs of daily life, of habits of thought and language, products of a thousand years of training in Chinese literature, Buddhist doctrine, and Confucian ethics. That "the boy is father to the man" is true of a nation no less than of an individual. What a youth has been at home in his habits of thought, in his purpose and spirit and in their manifestation in action, will largely determine his after-life. In like manner the mental and moral history of Japan has so stamped certain characteristics on her language, on her thought, and above all on her temperament and character, that, however she may strive to Westernise herself, it is impossible for her to obliterate her Oriental features. She will inevitably and always remain Japanese.

Japan has already produced an Occidento-Oriental civilisation. Time will serve progressively to Occidentalise it. But there is no reason for thinking that it will ever become wholly Occidentalised. A Westerner visiting Japan will always be impressed with its Oriental features, while an Asiatic will be impressed with its Occidental features. This progressive Occidentalisation of Japan will take place according to the laws of social evolution.

Comparison is often made between Japan and India. In both countries enormous social changes are taking place; in both, Eastern and Western civilisations are in contact and in conflict. The differences, however, are even more striking than the likenesses. Most conspicuous is the fact that whereas, in India, the changes in civilisation are due almost wholly to the force and rule of the conquering race, in Japan these changes are spontaneous, attributable entirely to the desire and initiative of the native rulers. This difference is fundamental and vital. The evolution of society in India is to a large degree compulsory; in a true sense it is an artificial evolution. In Japan, on the other hand, evolution is natural. There has not been the slightest physical compulsion laid on her from without.

(This extract is taken from Evolution of the Japanese: Social and Psychic by Sidney Gulick)

Sidney Gulick was an educator, author, and missionary who spent much of his life working to promote greater understanding and friendship between Japanese and American cultures

Artikel telah disadur kembali oleh:
Joko Hamdani as Sejarawan Hamdina
024-7060.9694
D'professional historian with excellent entrepreneur skill.

Followers