Saturday, August 17, 2019

MERDEKA, Dirgahayu Indonesiaku

DIRGAHAYU INDONESIA MERDEKA

Makna kata merdeka kalau dari sudut pandang bangsa dan bernegara adalah saat negeri tersebut bebas dari belenggu penjajahan sekaligus berdaulat atas nasibnya sendiri. Demikian pula bila kata merdeka ditinjau dari persepsi pribadi penulis sendiri sebagai manusia individu dan sosial, akan merasa telah merdeka bila sudah mampu mandiri dan berdikari. Artinya bebas menentukan sikap serta tujuan untuk melangkah lewat keputusan sendiri termasuk dalam tindakan untuk mencapai tujuan.

Merdeka dalam segala aspek baik mental, moral hingga spiritual sebab pertanggungjawabannya adalah bukan antara saya dan mereka yang disekitar kita, atau antara anda dan saya tetapi sudah mencakup hubungan antara saya dan Tuhan. Untuk bisa memutuskan serta melakukan tindakan dalam menggapai tujuan tersebut pun peran pribadi lebih utama artinya bukan hanya mau tetapi juga telah mampu melakukan semuanya sendiri.

Contoh kasus dalam masalah bisnis, saat kita dalam posisi sebagai karyawan maka kemerdekaan itu relatif dari sudut pandang siapa boss nya. Kalau masih ikut orang maka konotasi kata merdeka bisa dikatakan belum sepenuhnya jadi milik anda sebab anda menukar kebebasan waktu serta finansial anda kepada atasan dan perusahaan lewat skema perhitungan gaji. Jadi dalam bisnis, anda bisa dikatakan merdeka bila anda adalah business owner atau pemilik bisnis tersebut kalau perlu malah andalah investor keseluruhan baik dari saham perusahaan hingga karyawan dan aset terkait (SDM-SDA) termasuk stakeholder kebutuhan costumer atas produk bisnis anda.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana merasa merdeka karena proses untuk menggapainya begitu kompleks, rumit, dan dengan proses yang bisa dikatakan tidaklah singkat. Maka jawabannya secara sederhana adalah mengubah mindset atau pola pikir anda. Jangan terbelenggu oleh penjara dan penjajahan yang justru datang dari dalam diri anda sendiri yaitu pikiran.


Thursday, February 14, 2019

Koran Suara Merdeka HUT ke-69


Dalam satu minggu ini banyak moment penting untuk kembali diulang, seperti perayaan hari jadi koran Suara Merdeka "Perekat Komunitas Jawa Tengah" sebagai korannya orang Jawa Tengah. Media yang sejak awal merupakan tempat bagi saya memperoleh data dan fakta terpercaya sekitar tahun 2000 saat dimana sumber online di internet masih sulit diakses baik karena keterbatasan hardware serta software yang saat itu gadget masih barang langka dan mahal.

Skripsi saya yang tentang sejarah sepakbola di Semarang hampir sebagian besar datanya berasal dari arsip koran Suara Merdeka, jadi sejauh ini secara emosional ada keterikatan yang teramat sangat erat baik secara pribadi maupun institusional. Penjelasan mungkin akan terlalu panjang, tapi intinya saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun Suara Merdeka ke-69 dan teriring doa semoga koran ini akan tetap ada minimal hingga genap di usia ke 100 tahun nanti meskipun mungkin berat langkah menuju kesana.



Masalahnya saat kita miskin, bukan orang yang populer dan belum sukses; kata-kata bijaksana sekalipun disertai rencana dan harapan idealis sekaligus realistis terkadang tak cukup hingga cuma dianggap kentut. Jadi upaya menuju usia satu abad amatlah sulit untuk dicapai bila tak ada inovasi untuk mendobrak cara media konvensional ditengah kompetisi modern dan global berbasis digital.

Sementara ini yang bisa saya lakukan adalah berharap seperti ucapan Bapak Walikota Semarang Hendrar Prihadi kepada Suara Merdeka; "Semakin Tua, kertasnya mungkin bisa musnah, tapi catatannya tetap jadi sejarah." Dengan semangat tersebut semoga Suara Merdeka tetap dapat bertahan dan terus berjuang demi eksistensinya yang dilandasi idealisme kemerdekaan saat pertama kali terbit, Aamiin YRA.


Sunday, January 13, 2019

Prediksi Investasi dan Ekonomi Awal Tahun Ini (2019)

Event Seminar Ekonomi Suara Merdeka Semarang, Central Java Indonesia, 12 Desember 2018
Jawa Tengah punya sudut pandang dan persepsi yang sexy bagi ranah investasi menurut Sri Mulyani menteri bidang ekonomi saat bertandang ke Semarang dan memberikan materi sebagai pembicara utama dalam outlook 2019 prospek bisnis dan investasi di Provinsi Jawa Tengah termasuk di Kota Semarang.

Thursday, December 13, 2018

Congrat;s Suara Merdeka Semarang, Outlook Central Java 2019

SELAMAT & SUKSES
SEMINAR EKONOMI SUARA MERDEKA
Prospek Bisnis dan Investasi di Jawa Tengah OUTLOOK 2019
Bertempat di Aston Hotel and Convention Centre Semarang pada tanggal 12 Desember 2018

Media partner dan satu solusi bagi penjualan atau pemasaran, serta informasi lebih lanjut hubungi Joki 082322232268 (Congratulation for Event by Suara Merdeka Semarang, Outlook Central Java 2019)

Berbagi Informasi Seminar Ekonomi Suara Merdeka 2018

PROSPEK BISNIS & INVESTASI JAWA TENGAH
OUTLOOK 2019
Selalu ada kesempatan dibalik kesempitan, sebagai pelaku bisnis waspada dalam mengambil keputusan dan punya strategi dalam mengelola resiko adalah modal penting, selalu siap dan update informasi adalah apa yang tersirat dari apa yang tersurat dalam materi prospek bisnis dan investasi tak hanya pada saat acara di hari H maupun beberapa waktu sebelumnya yang disampaikan oleh para narasumber lewat pemberitaan koran Suara Merdeka. Informasi mengenai arsip seminar harap menghubungi admin 0823 2223 2268

Follow Up Sponsorship Outlook 2019 Suara Merdeka

Pasca Seminar Ekonomi Suara Merdeka di Aston Semarang kemarin Rabu, tanggal 12 Desember mengenai prospek bisnis dan investasi di Jawa Tengah pada tahun 2019 maka hari ini tajuk utama koran "Perekat Komunitas Jawa Tengah" tersebut adalah berita mengenai materi, sekaligus reportase acara yang telah berjalan lancar dengan sukses dan sesuai ekspektasi baik dari pihak penyelenggara, peserta, dan para sponsor yang turut mendukung keberlangsungan acara ini.

Keberhasilan acara ini tentunya tak luput dari peran serta panitia khususnya kerjasama sponsorship yang menjembatani semua pihak terkait. Pihak Suara Merdeka sebagai penyelenggara acara mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga menghubungkan seluruh stakeholder dalam satu visi-misi bersama dalam rangkaian informasi yang sarat pengetahuan agar para pelaku ekonomi baik lokal dan nasional siap menghadapi tahun depan lewat Jalan Terang menuju 2019.
Selaku partisipan yang mengikuti jalannya acara sejak masih berupa gagasan, ucapan terimakasih turut saya sampaikan karena kedekatan hubungan emosional kepada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, BUMN yang memang Hadir bagi Negeri serta BPR. Restu Artha Makmur, Solusi dan Sahabat buat Rakyat.

Tuesday, October 23, 2018

Sejarawan Perekat Komunitas Sejarah

Semarang adalah kota sejarah yang penuh anugerah di Jawa Tengah, mulai dari tradisi budaya hingga bangunan cagar budaya yang termasuk dalam kawasan kota lama sebagai nominasi dari World Heritage Site Program (Kota Pusaka Warisan Dunia Internasional). Artinya warga dunia boleh merasa ikut memiliki dan berkewajiban menjaga serta melestarikan sejarahnya agar diketahui oleh generasi berikutnya di masa depan. Program PBB World Heritage UNESCO memang ditujukan untuk mempertahankan situs warisan budaya dan alam di berbagai belahan dunia dari kerusakan demi pengetahuan.



Kota Pusaka Warisan Dunia ini merupakan suatu program yang telah digagas melalui perjanjian internasional sejak 1972 sebagai upaya perlindungan terhadap hasil kebudayaan dunia yang dianggap penting. Indonesia pun secara aktif ikut mendukung program tersebut dan merespon secara tak langsung gagasan itu dengan ikut merumuskan Undang-Undang tentang pelestarian cagar budaya di tahun 1992 yang kemudian disempurnakan lewat revisi UU Cagar Budaya 2010.

Peran sejarawan sekaligus Orang Semarang yang sayang pada tiap jengkal halamannya ini adalah dengan menyampaikan fakta/ data lewat suatu kisah dan cerita dengan alur yang kronologis. Tujuannya agar wisatawan yang hendak atau pernah datang ke Semarang Central Java City mudah ingat serta selalu terkenang dengan kota yang diibaratkan sebagai Little Netherland (Outstadt) di Asia

Kesempatan bagi komunitas pemerhati sejarah serta sejarawan untuk ikut aktif berperan serta mempertahankan keragaman budaya kota Semarang makin terbuka dalam peluang kerjasama, ketika perusahaan media Suara Merdeka ikut menyampaikan informasi sebagai perekat komunitas Jawa Tengah. Berdasarkan pengalaman sendiri selama ini, informasi jadi sesuatu yang penting dan modal spirit untuk memperjuangkan nilai-nilai sejarah. Apalagi hingga menyampaikan data/ fakta lewat historiografi






Friday, September 28, 2018

Sejarawan Cinta

Kita berawal karena cinta maka biarlah cinta yang akan mengakhirinya pula.

Friday, August 31, 2018

Bank Mandiri: "BUMN yang Hadir untuk Negeri"



Gerakan sejarah memerlukan perjuangan yang akarnya berlandaskan semangat idealisme tetapi tindakan berikutnya tetap mengedepankan pelaksanaan yang realistis di semua lini. Jadi bukan lagi hanya sekedar slogan tanpa makna tanpa ada pertambahan nilai. Dari visi berkembang menjadi misi dengan suatu tujuan, kemudian dikerjakan secara sistimatis dengan urutan waktu yang kronologis. Dengan demikian tiap tahapan dapat berjalan secara terukur. Inilah kekuatan sejarah yang mampu memadukan unsur keilmuan secara akademis sekaligus memasukkan faktor seni serta unsur sastra sebagai filosofinya sehingga ia mampu menghidupkan suatu gerakan dengan gelora semangatnya.

Sejak diluncurkan pada perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 pada 2015, Kementerian Badan Usaha Milik Negara memperkenalkan slogan BUMN Hadir untuk Negeri. Sedangkan jauh sebelumnya entitas BUMN yaitu Bank Mandiri sudah lama menorehkan sejarahnya lewat pelestarian bangunan lama di kawasan kota tua Jakarta berupa Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri merupakan bangunan cagar budaya yang tiang pancangnya mulai dibeton sejak Juli 1929 oleh biro konstuksi NV Nedam (Nederlandse Aanneming Maatshappij) dengan gaya arsitektur Neiuw-Zakelijk dan kelar dibangun pada tahun 1932 yang peruntukan pertamanya digunakan untuk kantor Nederlandsche Handel Maatschappij NV di Batavia serta secara formal diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh Cornelis Johannes Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10 saat itu.

Sejalan dengan perkembangan politik-ekonomi selanjutnya, NHM yang merupakan bank asing milik Belanda dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 Desember 1960 yang kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Riwayat gedung ini pun berubah menjadi Kantor BKTN Urusan Exim.

Pada era Bank Tunggal atau dikenal dengan masa “Bank Berjuang”, gedung ini pun menjadi bagian dari Kantor Pusat Bank Negara Indonesia (BNI) Unit II bidang Exim sejak 17 Agustus 1965 sampai lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) tanggal 31 Desember 1968. Penggunaan gedung ini sebagai Kantor Pusat Bank Exim berlangsung sampai tahun 1995 atau setelah Bank Exim pindah ke gedung Kantor Pusat yang baru di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 Jakarta Selatan.

Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri. Maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri dengan berbagai koleksi perbankan diantaranya perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, buku besar, mesin hitung uang, brankas, dan lain-lain. Semua koleksi tersebut terdapat di ruang tata pamer yang didesain menarik sehingga tetap terasa nuansa perbankan tempo dulu yang meskipun kuno tetap terawat hinggakini.


Bila Jakarta dengan kawasan kota tua sudah memperoleh dukungan revitalisasi salahsatu bangunannya oleh Bank Mandiri. Semoga Semarang pun dapat berharap hal yang sama terhadap kota lama peninggalan kolonial di negeri ini. Dukungan organisasi yang besar dari entitas BUMN seperti Bank Mandiri terhadap sejarah bangsa tentu dapat disebut sebagai suatu kehadiran tersendiri bagi negeri, bukan sekedar slogan tetapi sebuah tindakan yang idealis sekaligus realistis. Suatu gebrakan dari Kepala Kantor Wilayah VII Jawa 2, Bapak Mazwar Purnama beserta jajarannya yang berkantor di sekitar kawasan kota lama Semarang dan dekat dengan ikon kota ini Lawang Sewu.

Konstitusi dan Demokrasi dalam Perspektif Sejarah

Perspektif sejarah memiliki keunikan tersendiri sebagai suatu disiplin ilmu sekaligus karya sastra. Pembahasan mengenai peristiwa yang telah terjadi dan telah lewat masa berlakunya dengan cara menghubungkannya dengan kondisi yang terjadi sekarang hingga mampu terus berlanjut serta relevan di masa mendatang. Tentunya peran aktif dan daya kreatifitas sang sejarawan bermain secara dominan dalam ranah ini. Bila konsep ini terus diasah dengan baik tentunya dapat menjadi alat dan keahlian yang bermanfaat apabila berada di tangan sejarawan yang tepat. Artinya informasi yang diberikan bisa jadi tepat guna sebagai pelajaran dan sumber pengetahuan yang memiliki korelasi dengan peristiwa dan titik balik momentum berikutnya atau hanya sekedar menjadi informasi sampah


Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh kasus dari artikel sebelumnya mengenai persekusi terhadap Neno Warisman yang kedatangannya ditolak  saat hendak melakukan deklarasi #2019gantipresiden Padahal penolakan ini terus menerus bergulir di masyarakat dan mengalami pro-kontra sebagai suatu hal yang tak melanggar konstitusi atau justru membungkam demokrasi itu sendiri. Saatnya sejarah akan menjawab hal ini dengan sudut pandangnya sendiri terhadap proses yang sedang berjalan dan biarkanlah perjalanan waktu yang akan menilai.


Singkatnya atas suatu peristiwa yang kelak dapat menjadi sejarah, tidak hanya dikenang tetapi menjadi pelajaran kedepan maka semua mata akan melihat bahwa kebenaran akan menemukan jalannya dan sejarawan hanya sekedar mengantarkannya ketujuan. Para elit boleh berkelit tetapi doa rakyat akan selalu mampu menembus langit.

Sunday, July 29, 2018

Kami Bersama Neno Warisman

Orang Semarang punya bandara Achmad Yani yang kini diperbaharui dengan tempat (terminal & apron) yang lebih luas dan perpanjangan landasan strategis serta menuju pada akses yang lebih canggih karena terhubung dengan jalan tol. Tentunya dengan berbagai fasilitas dan infrastruktur baru tersebut ditambah pula dengan lokasinya yang semula merupakan area pangkalan udara militer TNI AD di Kalibanteng tidak hanya nyaman dari sisi fasilitas tetapi juga terjamin dari sisi keamanan.

Tentunya kondisi yang sama juga diharapkan serupa pada bandara-bandara lain di Indonesia apalagi yang berlabel sebagai bandara internasional. Namun ternyata baru saja terjadi insiden yang melukai hati terjadi di Bandar Udara Internasional Hang Nadim (Hang Nadim International Airport), dimana warga negara sendiri tersandera atas nama demokrasi dan dasar negara yaitu Pancasila.



Semoga kedepan di masa yang akan datang, intolerasi yang menciderai Bhineka Tunggal Ika mendapat respon cepat dari aparat pemerintah setempat. Arogansi sekelompok orang yang melakukan tindakan represif dan teror terhadap warga negara di tempat umum dapat dicegah apalagi bila terlihat ada tanda-tanda akan melakukan perbuatan anarkis yang menjurus pada upaya kriminal.
#2019GantiPresiden #KamiBersamaNenoWarisman

Wednesday, July 25, 2018

Pendidikan, Tantangan Kehidupan, dan Peradaban.


Kehidupan merupakan proses yang dinamikanya sedemikian kompleks dan setiap orang memiliki peran tersendiri. Meskipun masing-masing memiliki posisi yang berbeda dan terkadang juga dilahirkan tanpa adanya kesempatan yang sama, setiap manusia bisa mengubah jalan hidupnya dengan mengubah cara ia berfikir. Alasannya sederhana, dengan mengubah pola pikir maka akan mengubah cara seseorang mengambil tindakan dan selanjutnya akan berpengaruh pada fase kehidupan selanjutnya. Hal itu akan mempengaruhi jalan hidup perseorangan hingga ikut berdampak pada lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga hingga komunitas masyarakat yang lebih luas.

Akan lebih baik bila negara ikut hadir dalam membentuk karakter warga negaranya lewat sarana dan prasarana pendidikan. Tetapi kewajiban utama justru terletak pada diri sendiri seseorang jika ia ingin kehidupan yang lebih baik maka ia harus terdidik, baik lewat pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan berdasarkan informasi sekelompok orang serta keahlian komunitas yang diturunkan dari generasi ke generasi lewat pengajaran, pelatihan, atau penelitian lintas waktu.

Pendidikan sering terjadi dibawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Kasus yang terdekat adalah penyampaian informasi/ pengetahuan berdasarkan pengalaman orang tua kepada anaknya hingga generasi penerus berikutnya. Ada nilai-nilai penting tersimpan dalam hubungan keluarga sehingga seorang manusia mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian hingga ikut berperan menyusun peradaban. Dengan kata lain, memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai dengan norma yang dijadikan landasan fundamentalnya.

Sumber Suara Merdeka
Tantangan dalam proses pembelajaran melalui pengalaman hidup tentunya beragam, mulai dari skala mikro di tingkat perseorangan hingga keluarga (lokal-nasional) sampai strata makro bernegara hingga diplomasi antar negara. Tentunya itu semua dipersatukan oleh satu visi-misi bahwa manusia ingin kehidupan hari esok jadi lebih baik dan ini sudah menjadi pekerjaan rumah bersama karena kita hidup di bawah sinar mentari dan sinar bulan yang sama serta berpijak pada bumi yang sama.

Joki Hamdani
Journalist Organizer


Sunday, February 18, 2018

Sejarah Bisnis Spot Media Indonesia

Advertising secara sederhana merupakan cara perusahaan sebagai penyedia barang dan jasa untuk mendekatkan diri kepada para pelanggannya. Bisnis di Indonesia ikut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi serta metode komunikasinya. Kalau dulu teknik pemasaran dan penjualan masih menggunakan cara konvensional lewat personal sales dari internal perusahaan untuk memasarkan produk berdasarkan upaya jemput bola agar terjadi transaksi penjualan untuk mencetak omset, kini justru sudah bertambah lewat sarana komunikasi digital. eCommerce, sosial media, dsb.

PT. ASATU MEDIA BERSATU, perusahaan media di Semarang yang dapat menjadi partner perusahaan dalam pemasaran
Transaksi online sebagai aktivitas komersiil yang dilakukan antara penjual dan pembeli lewat media internet saat ini memang sedang mengalami peningkatan drastis secara akumulatif transaksional hingga perputaran uang, padahal sudah tidak ada perjumpaan langsung antara penjual dan pembeli. Tentu saja dalam hal ini telah terjadi perluasan jangkauan (global reach), pertambahan pangsa pasar (market exposure), menurunkan biaya operasional (operating cost), yang menandakan terjadi tren perubahan dalam tingkah laku customer dari cara lama yang konvensional menjadi terobosan baru ke arah yang lebih modern yang bisa diartikan sebagai peningkatan costumer loyalty atau brand awareness.

Tempo menyebut perubahan ini dalam istilah revolusi digital dan mengutip data wawancara dengan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, bahwa jumlah pengguna data internet yang berbelanja online di nusantara sudah mencapai 24,7 juta jiwa di tahun 2016 dan sepanjang tahun itu saja sudah membelanjakan sekitar IDR 75 T. Sejalan dengan makin antusiasnya masyarakat Indonesia di berbagai applikasi media sosial yang menyebabkan revolusi digital jadi momentum yang tak dapat dihindari. Akibatnya pertumbuhan perusahaan start up di Indonesia bermunculan secara signifikan.


Revolusi Digital Indonesia sendiri sudah menyentuh sektor keuangan di perdagangan barang dan jasa, eCommerce, moda-moda pembayaran maupun pembiayaan serta dapat dilihat dari jumlah pemain di sektor Financial Technology yang terus tumbuh dalam rentang periode 2015-2016 hingga 78%. Sayangnya potensi ini masih dianggap belum tergarap dengan baik mengingat penetrasi internet berada dikisaran 51% dalam kurun periode tersebut, serta kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal jauh dibandingkan negara lain, bahkan cakupan layanan 4G di Indonesia baru 23 persen.

Hambatan lainnya adalah pengeluaran investasi di sektor teknologi komunikasi yang relatif tertinggal
Bila Indonesia mau masuk ke revolusi digital, maka pengeluaran di sektor teknologi komunikasi haruslah memadai. Namun tetap disertai keyakinan biaya tersebut adalah biaya yang efektif. “Perlu keluarkan biaya teknologi informasi yang memadai.” Itu artinya dari sisi demografis keuntungan Indonesia juga harus dibarengi dengan investasi di bidang infrastruktur yang memadai. Sekaligus perlu memperhatikan pendekatan budaya lokal untuk menjangkau perluasan secara bisnis global.


Saturday, September 30, 2017

Seminar Nasional Kewirausahaan ACSENT - FEB UNDIP


Terkadang hal luar biasa tak selalu berasal dari karya besar yang mendunia, namun juga bisa berawal dari momentum sederhana tetapi dengan konsistensi dan komitmen dari waktu ke waktu. Eksistensi macam ini mungkin tepat bila disematkan pada jajaran mahasiswa dan civitas akademika Universitas Diponegoro fakultas ekonomika dan bisnis yang selalu menyelenggarakan acara seminar berkualitas selain kuliah.

Enam tahun yang lalu, dalam event FEB UNDIP 30 September 2011 saya menyaksikan pak Jokowi RI-1 masih menjabat sebagai Walikota Solo menjadi pembicara dalam gelaran acara di kampus Tembalang Semarang. Acara mahasiswa yang saat itu bertajuk Diskusi Panel dengan diselingi Tanya-Jawab dari para mahasiswa memberi pesan yang sangat mendalam bagi saya sebagai peserta yang nota bene orang awam.

Presenting event dari ASCENT "Accounting Society Event" 30 September 2017


Kesan yang sama masih terasa istimewa meski telah beberapa tahun berlalu, bahkan kini semakin yakin dengan peran dan aktivitas mahasiswa disana sejalan dengan visi misinya "To be creative and innovative in digital era with Entrepreneurship". Terbukti pula bahwa Universitas Diponegoro sebagai Badan Hukum Milik Negara mampu beradaptasi terhadap perkembangan dunia dari sisi bisnis sekaligus tetap idealis dan semoga mampu menjalankan visi misi tersebut secara etis pula lewat PT. Undip Maju

Antusias peserta dan mahasiswa saat acara berlangsung di Lab. Kewirausahaan Universitas Diponegoro
Kolaborasi dari berbagai pihak dan peran aktif mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP terlihat dari semangat para peserta yang hadir dalam seminar. Untuk itu penulis ucapkan terimakasih pada panitia acara: Zihan Aulia, Rizka Fardiba, Irdam Fairuz, serta Dinda Ayuningtyas dkk yang telah berbagi informasi sekaligus memberikan akses pada Sejarawan.ID untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi sebagai media partner. Semoga bisa berjumpa dalam event berkualitas seperti ini di tahun berikutnya.

Tuesday, September 26, 2017

Sejarah Kuliner Kota Lama, "Kecap Kakap"

Jiwa marketing saya tertantang saat seorang informan dari dotSemarang mengatakan bahwa orang nomor satu di kota ini hanya mengusulkan tiga kategori sektor unggulan ke Bekraf. Dalam hal ini pemerintah tentu lebih mengerti faktor apa yang mempengaruhi kemajuan diwilayahnya dan bukan waktunya orang awam seperti saya mempertanyakan dasar pertimbangan dalam mengajukan usul tersebut. Apalagi kini semua sudah telah diverifikasi dan ditetapkan, yang artinya sudah akan dieksplorasi dan dioptimalkan pengembangannya kedepan.

Padahal sebagai warga kota Semarang masih ada hal potensial lainnya yang bisa dioptimalkan dari kota ini. Satu diantaranya ialah bidang kuliner yang selain punya citarasa namun juga sejarah dengan tradisinya yang populer. Mulai dari makanan hingga jajanan pasar dan sub sektor seperti cemilan diangkringan, ambil contoh tahu gimbal, nasi ayam, garang asem, soto bangkong, mie kopyok, bandeng presto, tahu petis, lunpia, winko babat, kue ganjel rel, wedang ronde, wedang uwuh, sekoteng, congyang, hingga jamu pun sudah jadi bagian dari kuliner disini.

Kecap itu selalu nomor satu, Semarang pun punya resep kecap dengan tradisinya sendiri. Dalam kasus ini riwayat kecap dengan resepnya yang unik dapat menjadi contoh inspirasi sejarah kuliner. Terutama karena kecap sudah jadi bagian dari kuliner nusantara dan sering kali diproduksi oleh perusahaan keluarga secara turun temurun lintas generasi sehingga menarik untuk diteliti dan diamati lebih lanjut.

History of Soy Sauce yang dikutip oleh Tirto.Id menyebutkan bahwa dokumentasi tertua soal kecap tercatat pada tahun 1633 dan kecap mulai resmi masuk ke nusantara pada 1737 untuk dikemas dan dikirim ke Belanda. Sejak saat itu mulai banyak dikenal perusahaan kecap seperti kecap Istana (1882), cap Orang Jual Sate (1889), Siong Hin (1920), Mirama (1928), Bango (1928), Zebra (1945), Piring Lombok dan Suka Sari (1951), dan Kakap (1958).

Beberapa merek kecap cukup beruntung diakuisisi oleh perusahaan multinasional. Berarti ada modal masuk dari investor dan mampu berkompetisi lewat R&D, promosi dan produksi. Sebaliknya bila tidak cukup kuat, maka perusahaan kecil bisa bernasib sebaliknya, sulit untuk berekspansi dan mempertahankan eksistensi rasa yang konsisten terutama saat harga pokok kedelai berinflasi cukup banyak.

Inovasi bisnis memang bisa menjawab semua kendala dan hambatan para pengusaha kuliner yang melegenda ini, tetapi sejauh mana mereka mampu bertahan, terutama saat pemerintah seolah tidak peduli dan tidak mendukung langkah mereka mempertahankan tradisi dan resep rahasia keluarga yang melewati masa sejarah puluhan hingga ratusan tahun dari generasi ke generasi dengan kreatifitas tanpa henti.



Sumber:
https://tirto.id/jejak-kecap-tradisional-membelah-nusantara-bqG
http://dotsemarang.blogspot.co.id/2017/09/4-sektor-Unggulan-Semarang-Tahun-2017.html
https://www.facebook.com/Probolinggoetempoedoeloe1800/posts/316128215165615
http://semarangkota.go.id/berita/read/7/berita-kota/1863/kota-lama-jadi-tempat-parade-fashion

Monday, September 18, 2017

Reputasi Perusahaan dalam proses Waktu

Faktor waktu ikut berpengaruh dalam membangun brand dan nama baik perusahaan, bisa dikatakan sama pentingnya dengan kualitas produk. Sebab produk berkualitas sekali pun akan sulit diterima pasar, bila dijual oleh perusahaan yang dikenal karena reputasinya yang buruk. Untuk itu langkah penting dalam membangun reputasi adalah dengan dipegangnya budaya kerja sebagai business conduct atau etika bisnis dari waktu ke waktu secara berkesinambungan oleh semua elemen perusahaan.

Langkah tersebut mau tak mau harus dilakukan karena membentuk brand itu tidak bisa cepat dan dalam waktu singkat. Jangkankan orang lain di luar organisasi perusahaan, kadang karyawan sendiri sebagai pihak internal pun juga perlu diyakinkan bahwa perusahaan punya itikad dan maksud yang baik. Image tersebut harus dibangun secara bertahap, menjadi budaya dan karakter perusahaan hingga akhirnya membentuk suatu identitas.


Thursday, September 14, 2017

Digitalisasi Pemasaran dengan Sejarah

Kemarin siang menjelang jam istirahat seperti biasa selain mengisinya dengan rutinitas wajib yaitu brunch, baca surat kabar harian yang terkenal di Semarang: Suara Merdeka. Semua rubrik cukup menarik untuk disimak termasuk info peluang usaha atau lowongan kerja walau hanya berupa iklan baris. Era tekhnologi yang semakin canggih memang telah mengubah wajah dunia dan cara kita berkomunikasi termasuk bagaimana mendapatkan informasi.

Walau pun begitu tidak serta merta semua hal mengalami perubahan drastis dari konvensional menuju tren digital. Memang dengan adanya gadget memperoleh data terbaru maupun arsip lama akan sangat mudah belakangan ini, tetapi kebiasaan lama susah untuk dihilangkan, termasuk seperti baca koran. Ada sensasi yang unik untuk dijelaskan saat tangan membentangkan lembaran koran dengan perut kenyang :)

Kembali ke koran, di iklan baris lowongan, ada perusahaan yang sebelumnya sudah beriklan beberapa kali mencari sales dan marketing proyek untuk suatu produk lampu. Informasi cukup lengkap disertai nomor yang dapat dihubungi. Biasanya untuk bisnis dengan perusahaan yang stafnya terbuka dalam menyampaikan informasi maka gagasan/ ide baru dari luar akan diterima dengan mudah.


Tadinya dengan percaya diri saya akan mengajukan proposal kerjasama, setidaknya memperkenalkan diri dan memperluas jaringan. Resolusi pribadi yang sudah dicanangkan sebagai momentum awal bulan September ceria tahun 2017 ini. Tapi apa mau dikata semua tak disangka, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Jangankan untuk berbicara panjang lebar, ngobrol ngalur ngidul bagai sobat lama, berkenalan dan bertukar namapun tak sempat bagai gayung tak bersambut, secara singkat saya ditolak.

Sayang sekali maksud baik yang sudah dipersiapkan meskipun sambil lalu tapi serius tak ditanggapi dengan respon yang sama baik, hanya sekedar tau tapi tak menciptakan kondisi ok, so what next.

Padahal meskipun iklan baris itu harganya mungkin tak seberapa, namun ditayangkan beberapa kali dalam hari yang berbeda termasuk sampai hari ini pun masih tetap tayang di Suara Merdeka dan Tribun Semarang.

Sayang uangnya dan sayang waktu yang terbuang, walau tanpa bermaksud melakukan provokasi namun lebih pada bersikap empati dan menempatkan diri saya di posisi mereka, apa salahnya bersikap lebih terbuka dan open minded. Memang kuota mahal dan subsidi listrik juga sudah tak ada lagi, tapi biaya berkomunikasi via whatsapp jauh lebih murah dari pada beriklan. Efektif atau efisiensi silahkan pembaca renungkan sendiri.

Pemasaran itu berorientasi pada hasil dan berdasarkan target, harus ada strategi agar tercipta akuisisi pada penjualan, dan pastinya semua harus lewat proses. Tahap yang akan dilewati satu diantaranya adalah promosi dan membentuk suatu brand, entah itu produk, perusahaan, personel, atau pelayanannya. Sebab kalau bisnis anda tak membentuk suatu image di benak konsumen atau stakeholder, maka anda hanya menjual suatu komoditas barang, itu artinya diantara sekian banyak kompetitor di bidang yang sama, maka hargalah yang jadi faktor utamanya. Energi perusahaan akan terkuras hingga akhirnya harus banting harga untuk mencatat transaksi penjualan dan memenangkan hati pelanggan.


Followers