Thursday, September 14, 2017

Digitalisasi Pemasaran dengan Sejarah

Kemarin siang menjelang jam istirahat seperti biasa selain mengisinya dengan rutinitas wajib yaitu brunch, baca surat kabar harian yang terkenal di Semarang: Suara Merdeka. Semua rubrik cukup menarik untuk disimak termasuk info peluang usaha atau lowongan kerja walau hanya berupa iklan baris. Era tekhnologi yang semakin canggih memang telah mengubah wajah dunia dan cara kita berkomunikasi termasuk bagaimana mendapatkan informasi.

Walau pun begitu tidak serta merta semua hal mengalami perubahan drastis dari konvensional menuju tren digital. Memang dengan adanya gadget memperoleh data terbaru maupun arsip lama akan sangat mudah belakangan ini, tetapi kebiasaan lama susah untuk dihilangkan, termasuk seperti baca koran. Ada sensasi yang unik untuk dijelaskan saat tangan membentangkan lembaran koran dengan perut kenyang :)

Kembali ke koran, di iklan baris lowongan, ada perusahaan yang sebelumnya sudah beriklan beberapa kali mencari sales dan marketing proyek untuk suatu produk lampu. Informasi cukup lengkap disertai nomor yang dapat dihubungi. Biasanya untuk bisnis dengan perusahaan yang stafnya terbuka dalam menyampaikan informasi maka gagasan/ ide baru dari luar akan diterima dengan mudah.


Tadinya dengan percaya diri saya akan mengajukan proposal kerjasama, setidaknya memperkenalkan diri dan memperluas jaringan. Resolusi pribadi yang sudah dicanangkan sebagai momentum awal bulan September ceria tahun 2017 ini. Tapi apa mau dikata semua tak disangka, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Jangankan untuk berbicara panjang lebar, ngobrol ngalur ngidul bagai sobat lama, berkenalan dan bertukar namapun tak sempat bagai gayung tak bersambut, secara singkat saya ditolak.

Sayang sekali maksud baik yang sudah dipersiapkan meskipun sambil lalu tapi serius tak ditanggapi dengan respon yang sama baik, hanya sekedar tau tapi tak menciptakan kondisi ok, so what next.

Padahal meskipun iklan baris itu harganya mungkin tak seberapa, namun ditayangkan beberapa kali dalam hari yang berbeda termasuk sampai hari ini pun masih tetap tayang di Suara Merdeka dan Tribun Semarang.

Sayang uangnya dan sayang waktu yang terbuang, walau tanpa bermaksud melakukan provokasi namun lebih pada bersikap empati dan menempatkan diri saya di posisi mereka, apa salahnya bersikap lebih terbuka dan open minded. Memang kuota mahal dan subsidi listrik juga sudah tak ada lagi, tapi biaya berkomunikasi via whatsapp jauh lebih murah dari pada beriklan. Efektif atau efisiensi silahkan pembaca renungkan sendiri.

Pemasaran itu berorientasi pada hasil dan berdasarkan target, harus ada strategi agar tercipta akuisisi pada penjualan, dan pastinya semua harus lewat proses. Tahap yang akan dilewati satu diantaranya adalah promosi dan membentuk suatu brand, entah itu produk, perusahaan, personel, atau pelayanannya. Sebab kalau bisnis anda tak membentuk suatu image di benak konsumen atau stakeholder, maka anda hanya menjual suatu komoditas barang, itu artinya diantara sekian banyak kompetitor di bidang yang sama, maka hargalah yang jadi faktor utamanya. Energi perusahaan akan terkuras hingga akhirnya harus banting harga untuk mencatat transaksi penjualan dan memenangkan hati pelanggan.


No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog