Saturday, March 2, 2013

Tulis, Tulis, dan Tulislah!

Setiap kali saya membaca Harian Analisa, yang pertama saya baca adalah judul berita utama. Lalu, saya langsung berpindah ke rubrik opini. Saya berharap saya menemukan hal yang baru di dua halaman ini.
Hal yang baru yang saya harapkan bukan pada topik atau isi artikelnya, tetapi pada penulisnya. Saya berharap ada penulis baru pada hari itu. Karena saya sudah membaca Analisa sejak puluhan tahun yang lalu, saya sudah hampir hafal nama-nama penulis yang biasa menulis di rubrik opini. Karenanya, saya dapat mengetahui penulisnya adalah pendatang baru atau lama. Walaupun masih sedikit, penulis baru sudah mewarnai rubrik ini yang secara rata-rata memberikan kesempatan kepada empat sampai lima artikel setiap hari.

Masih terbatasnya buah pikir yang dituangkan melalui artikel populer di koran tentu saja banyak penyebabnya. Motivasi menulis, misalnya. Kalau motivasi dikaitkan dengan imbalan, masuk akallah jumlahnya terbatas. Penyebab lain yang tak kalah seriusnya adalah keengganan untuk memulai menulis. Pada beberapa kali memberikan pelatihan penulisan karya ilmiah, termasuk artikel populer, hambatan yang selalu dikeluhkan peserta adalah sulitnya memulai.

Persoalan kepenulisan ini sudah berulang kali dituangkan di rubrik ini. Yang terakhir adalah tulisan Saudara Dian Purba bertajuk Masalah-masalah di Seputar Kepenulisan (Analisa 07/01/2013). Dian Purba mensinyalir kemandekan penyaluran buah pikir ke tulisan diakibatkan oleh ‘dosa’ Orde Baru yang mengekang kreativitas dan kebebasan berekspresi. Dian Purba menyebutnya sebagai keterpurukan intelektualitas.

Kalau sinyalemen Purba benar dan menulis adalah buah dari kreativitas, maka muara dari persoalan ini adalah keberanian untuk memulai. Kreativitas harus dibangkitkan. Ide harus dituangkan. Tak soal ide itu ngawur.

Beberapa tulisan soal tulis-menulis itu juga sepakat bahwa keengganan memulai yang saya anggap sebagai akibat ketidakberanian merupakan penyakit kronisnya. Maka, obatnya adalah berani, bangkit, dan mulailah! Tidak ada kontraindikasi untuk obat ini!

Saya beranjak kembali ke soal penulis pemula itu. Biasanya, artikel penulis baru itu saya baca sampai habis. Saya, lalu, memberikan penilaian di dalam hati. Saya menyimak bagaimana penulis memindahkan apa yang ada di pikirannya ke tulisan. Saya juga tak lupa mengamati tatabahasanya. Ada yang sudah bagus, alur pikirannya mengalir, dan enak dibaca. Akan tetapi, tak sedikit pula yang masih perlu perbaikan.

Itu tak jadi soal. Itu dapat dimaklumi. Soalnya, walaupun kita sudah belajar Bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, hal itu tidak cukup menjadikan kita seorang penulis yang baik. Fakta menunjukkan kita lebih pintar berbahasa tutur daripada berbahasa tulis.

Kadangkala, maksud hati dapat lebih baik disampaikan melalui tulisan daripada melalui ucapan. Seorang pria, misalnya, akan lebih leluasa mengungkapkan perasaannya kepada gadis pujaannya melalui secarik kertas surat cinta daripada melalui rayuan gombal.

Mengapa demikian? Alasannya, antara lain, adalah ketika seseorang menyampaikan ide atau maksud melalui tulisan, dia memiliki kesempatan untuk menyusun kata-katanya dengan baik. Kalau maksud hatinya masih belum mengena, dia masih bisa memperbaikinya, kalau perlu minta saran dari teman-teman yang sudah berpengalaman di dunia cinta-menyinta. Hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan jika rayuan disampaikan langsung melalui ucapan. Bisa saja lidahnya menjadi kelu, bahkan keringat sebesar jagung bercucuran di pipi. Kalau sudah begini, jangankan puisi cinta yang dapat terucap, sepatah kata pun urung terlontar.

Kalimat Efektif

Salah satu kesulitan yang sering dihadapi penulis adalah bagaimana menuangkan ide atau pikiran ke dalam tulisan secara efektif. Keefektifan tidak semata-mata pada pemakaian kata yang hemat, tetapi pada penyampaian gagasan yang tepat dan tidak mendua-arti. Untuk ini, kita harus bisa menyusun kalimat secara efektif.

Sebagai salah satu bentuk komunikasi, artikel ilmiah yang baik, termasuk artikel populer di koran, haruslah merupakan alat komunikasi yang efektif. Pesan yang disampaikan harus dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh pembacanya. Artinya, pembaca dapat memahami isi artikel sebagaimana yang dikehendaki penulisnya. Jadi, pembaca tidak memiliki penafsiran yang lain selain yang dimaksudkan penulis.

Menurut Kusnedi (1999), faktor kebahasaan sangat menentukan keefektifan sesuatu karya tulis ilmiah. Kalimat maupun paragraf yang digunakan harus jelas, mudah dipahami, dan tidak dapat ditafsirkan lain selain yang dimaksudkan penulis. Dengan kata lain, kalimat dan paragraf yang digunakan adalah kalimat dan paragraf yang efektif dan efisien. Kalimat yang efektif memiliki satu topik yang dibicarakan. Kalau sudah berbeda topiknya, itu harus dinyatakan pada kalimat lain.

Untuk menilai keefektifan suatu kalimat, marilah kita menyimak kalimat pembuka pada sebuah artikel yang dimuat pada harian ini. "Rendahnya pendidikan Indonesia saat ini menjadi boomerang disegala (seharusnya: di segala) aspek, sebut saja bahwa banyaknya lahan yang berpotensi sebagai sumber devisa akhirnya dieksploitasi oleh kalangan investor yang menanam modal di Indonesia lantaran Indonesia belum mampu memanfaatkan kekayaan alamnya secara mandiri."

Ini adalah contoh kalimat yang tidak disampaikan dengan efektif. Apakah topiknya pendidikan yang rendah, bumerang di segala aspek, potensi lahan, atau eksploitasi kekayaan alam oleh investor? Itu masih membingungkan.

Untuk menjadikannya efektif, sebaiknya kalimat itu dipecah menjadi tiga kalimat berikut. Tingkat pendidikan yang rendah di Indonesia berdampak buruk pada pemanfaatan sumber daya alam. Lahan yang tadinya potensial sebagai sumber devisa, sekarang itu dieksploitasi oleh investor dari luar negeri. Akibatnya, kekayaan alam kita lebih banyak dinikmati oleh investor asing daripada masyarakat Indonesia.

Pemakaian kata bumerang juga kurang tepat karena kalimatnya tidak menyatakan bahwa rendahnya pendidikan berdampak balik bagai boomerang yang mengenai tuan sendiri.

Kefektifan kalimat juga sangat ditentukan oleh keterbacaannya. (Keterbacaan bermakna kemudahan mendapatkan maksud kalimat.) Jumlah kata penyusun kalimat menentukan keterbacaan. Makin banyak katanya makin rendah keterbacaannya. Sebaiknya jumlah kata penyusun satu kalimat tidak melebihi 20 kata.

Kalimat yang efektif juga harus memerhatikan fokus kalimat tersebut. Fokus bagi kalimat "Ali membaca koran" tidak sama dengan "Koran dibaca oleh Ali", walaupun kalimat tersebut sama-sama menyatakan hal yang sama. Kalimat pertama berarti Ali-lah yang membaca koran, bukan Budi. Sementara itu, kalimat kedua berarti bahwa yang dibaca Ali adalah koran, bukan majalah.

Akhirnya, menulis memang tidak mudah, tetapi itu bukan berarti amat sulit. Yang sulit adalah memulainya. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti memulai. Caranya hanyalah tulis, tulis, dan tulislah!***

Oleh: Prof. Dr. Albiner Siagian. Penulis adalah Guru Besar Tetap USU
[ed  : Boy 024-7060.9694]

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog