Friday, March 8, 2013

Diplomasi Pingpong dan Politik Dagang Sapi

"History followed different courses for different peoples because of differences among people environments, not because of biological differences among peoples themselves". Jared Diamond, Guns, Germs and Steel: a short history of everybody for the last 13,000 years, Vintage Books, London, 2005.

***

Zhuang Zedong, atlet tenis meja China perintis gaya serangan dua sisi barusan saja meninggal dunia pada usia 72 tahun setelah dalam lima tahun belakangan tubuhnya digerogoti kanker yang menyebar ke liver dan paru-parunya. Zhuang bukan saja dikenal sebagai atlet pingpong juara dunia tiga kali, namun ia juga dikenal sebagai pemicu diplomasi pingpong antara AS-RRC di awal tahun 1970-an yang akhirnya mencairkan hubungan diplomatik kedua negara.

Awal era tahun 1970-an, semasa perang dingin, hubungan blok barat dan timur masih ditandai dengan batasan yang keras (tirai besinya Soviet dan tirai bambunya China). Insiden yang terjadi pada salah satu pemain tenis meja (pingpong) dari tim USA , Glenn Cowan, yang ketinggalan bus saat latihan di Nagoya (Jepang) menjadi titik awal terbukanya hubungan diplomasi AS-China di era Nixon dan Zhou Enlai - Mao Zedong. Konon begini cerita singkatnya: Saat latihan dalam rangka kejuaran pingpong di Nagoya, Glenn Cowan ketinggalan bus yang seyogianya mengantar timnya ke hotel, namun di tengah kebingungannya, tiba-tiba ia diajak oleh Zhuang Zedong yang melambaikan tangannya dari bus kontingen China. Jadilah ia penumpang di bus kontingen China, padahal saat itu hubungan kedua negara yang sedang pekat-pekatnya diwarnai fanatisme perlawanan ideologis (komunis vs kapitalis/liberal) sedang jadi episentrum perang dingin. Di dalam bus itulah Zuang Zedong yang katanya dengan agak rikuh akhirnya berbasa-basi juga sampai memberikan tanda-mata kenangan kepada Glenn Cowan berupa selembar kain sutera bergambar pegunungan Huangshan, sebuah produk terkenal dari Hangzhou. Insiden sederhana ini akhirnya sampai juga ke telinga para petinggi politik China yang ujungnya mengundang tim tenis meja AS untuk melakukan beberapa pertandingan persahabatan di China. Dan akhirnya kontak diplomasi pingpong ini meluas spektrumnya ke ranah politik. Sampai akhirnya Presiden Richard Nixon berkunjung ke Beijing.

***

Belum lama berselang ini, kita pernah mendengar adanya insiden soal perlakuan para pejagal sapi di Indonesia yang katanya dengan brutal menyiksa sapi impor yang akan dipotong. Berita tentang brutalitas para pejagal sapi impor ini akhirnya sampai ke telinga para eksportir sapi di Australia sehingga ujungnya membuat mereka mencekal sapi-sapinya untuk dikirim ke Indonesia.

Perkembangan selanjutnya, logis saja jika kelangkaan pasokan sapi impor menjadikan harga daging melonjak ke atas. Lalu tiba-tiba, entah bagaimana, baru-baru ini akhirnya ini terungkap kasus korupsi impor daging sapi dari Australia yang dalangi oleh para oknum petinggi partai yang mengklaim dirinya sebagai penjaga akhlak umat. Juga dikabarkan bahwa harga daging di Indonesia adalah yang termahal di dunia!

***

Kedua fenomena internasional di atas menjadi menarik untuk ditarik benang merah pelajarannya. Di belahan dunia yang satu, insiden atlet pingpong kedua negara yang sedang bermusuhan dalam perang ideologis justru dimanfaatkan untuk dijadikan semacam beach-head untuk membuka niche-market yang bakal merintis ke hubungan diplomatik lalu ke relasi politik dan perdagangan yang lebih luas dan saling menguntungkan bagi kedua bangsa. Sekarang ini kita bisa melihat ada banyak sekali
perusahaan multinasional dari AS yang telah menanamkan investasinya di China. Demikian juga sebaliknya, air bah produk-produk made in China begitu membanjiri setiap pelosok Amerika.

Sedangkan di belahan dunia yang lain, insiden pencekalan pengiriman sapi dari Australia ke Indonesia bukannya dipakai sebagai momentum untuk sungguh-sungguh mengembangkan peternakan sapi lokal yang bisa memasok kebutuhan protein bangsa secara mandiri, tetapi sayangnya justru dipakai sebagai lahan bancakan sementara oknum partai dan pemerintah yang taraf kemunafikannya sudah sampai tingkat yang sangat menjijikan.

Kerap kali kesempatan untuk membuat terobosan besar dimulai dengan kejelian mendeteksi insiden-insiden kecil yang merupakan pintu masuk (beach-head) untuk merintis semacam niche-market yang bakal mengantar kita ke lahan diplomasi-politik- perdagangan yang jauh lebih luas dan saling menguntungkan. Hanya saja memang, yang mendasari itu semua, adalah berawal dari kualitas aktor-aktor manusianya. Seperti kata Jeffrey Sach yang memberi peringatan, A society of markets, laws, and
elections is not enough if the rich and powerful fail to behave with respect, honesty, and compassion toward the rest of society and toward the world
. (dalam bukunya, The Price of Civilization: Reawakening Virtue and Prosperity After the Economic Fall, Vintage Books, London, 2012).

Dan perkembangan sejarah dunia selalu selaras dengan perbedaan di antara bangsa-bangsa bukan lantaran perbedaan biologisnya, namun perbedaan lingkungan (sistem politik-ekonomi-sosial-pendidikannya) yang akhirnya bakal dengan sangat kuat membentuk budaya bangsa.

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA. [ed: Boy 024-70609694]

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog