Friday, March 1, 2013

Dari Otomotif, Kontraktor sampai Eksportir

Berikut ilustrasi tentang keteguhan hati seorang pekerja:

Segera setelah menyelesaikan sekolahnya di STM Mesin, Surabaya, Pamoedji mulai merasa gelisah. Tekadnya adalah,  setamat SLTA ia harus sudah mendapatkan pekerjaan agar bisa "berdiri di atas kaki sendiri". Sudah beberapa kali ia berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan pendidikannya - permesinan - namun belum ada satu pun perusahaan yang memanggilnya, apalagi menerimanya sebagai karyawan. Tinggal satu perusahaan lagi yang benar-benar diincarnya dan ia sangat ingin bekerja di sana, yaitu PT Imer Motor, sebuah perusahaan besar yang merakit mobil-mobil  merek Nissan Datsun. Satu bulan, dua bulan bahkan sampai menjelang bulan ketiga, surat lamaran yang telah dikirimkan ke PT Imer Motor, belum juga berbalas. Belum ada tanda-tanda ia akan dipanggil.

Tidak sabar dengan penantiannya, Pamoedji akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke kantor PT Imer Motor, untuk  menanyakan nasib surat lamarannya. Dipakainya pakaian yang menurutnya paling baik, lalu segera bergegas menuju kantor
perusahaan idamannya tersebut. Di sana, setelah minta izin dari petugas keamanan yang bertugas, ia berniat langsung menghadap ke Kantor Personalia. Akan tetapi, karena naluri yang sangat tergila-gila dengan teknik permesinan, matanya segera tergoda ketika melihat sekelompok teknisi sedang bekerja membongkar sebuah mesin yang masih baru. Ia pun mendekat dan ikut berkumpul dengan para teknisi itu, yang sedang mengelilingi mesin tersebut sambil melepas bagian-bagiannya.

Tanpa diduga-duga, salah seorang mandor di situ tiba-tiba menegur: "Hey, kamu anak baru, ya? Ayo, kerjakan mesin yang sebelah sana..!" Pamoedji terkesima sejenak, tapi tanpa banyak komentar ia langsung menanggapi:  "Ya,..ya.. baik, Pak !" Dan dihampirinya sebuah mesin lain yang ditunjuk oleh si mandor. Dengan cekatan ia kerjakan semua yang diinstruksikan, sampai akhirnya selesai tidak lama kemudian.

Melihat hasil kerjanya, sang mandor tampak amat puas, lalu sambil tersenyum berkata : "Apik gaweanmu, Rek (Bagus kerjamu, Nak)! Mulai besok, kamu bantu-bantu aku saja.." Pamoedji heran setengah mati. Ia `kan belum diterima oleh Bagian
Personalia, tapi orang ini sudah main perintah saja. Ia tidak mau berkomentar, bahkan ia berkata dalam hati bahwa mungkin inilah kesempatannya menunjukkan kebolehannya dalam teknik mesin. Maka sejak itu, setiap hari ia datang untuk bekerja,
membongkar, memasang serta menguji mesin-mesin mobil Datsun. Ia memang rajin dan berbakat, maka semua teknisi senior di situ amat senang dan bersimpati padanya.

Akhir bulan, terjadilah keributan, karena pada saat pembagian gaji, Pamoedji ternyata tidak terdaftar sebagai karyawan dan tidak ada jatah gaji baginya. Bagian Personalia sibuk membongkar dan mencari berkas pegawai baru yang bernama Pamoedji,
tapi sia-sia, karena memang sesungguhnya ia belum pernah diterima di perusahaan itu. Pamoedji pun pasrah, ia hanya menyerahkan nasib pada "atasan"nya, Kepala Bagian Teknik PT Imer Motor.

Rupanya, nasib baik berpihak pada pemuda ini. Sang Kepala Bagian karena tahu anak tersebut sangat berbakat, mendesak  Direksi agar Pamoedji dapat diterima sebagai karyawan teknik. Dan jadilah hari itu hari yang bersejarah baginya, hari  pertama ia berstatus sebagai karyawan resmi sebuah perusahaan besar.

Dua tahun bekerja, kepiawaian Pamoedji sudah terdengar sampai ke kantor pusat Nissan Datsun di Jepang, sehingga ia mendapat kesempatan untuk mengunjungi pabrik mobil itu di Tokyo dan mendapat pendidikan lanjutan di sana selama 2 tahun.  Kepercayaan yang diberikan perusahaan betul-betul sangat membuatnya terharu dan berterima kasih, sehingga diam-diam ia  berjanji akan membaktikan dirinya pada perusahaan itu sebaik-baiknya.

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Karena perubahan politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia, PT Imer Motor ternyata harus tutup pada tahun 1982. Semua karyawannya terpaksa di PHK dan cerai-berai mencari
peruntungannya sendiri-sendiri. Tak terkecuali Pamoedji. Dengan uang pesangon yang diterimanya dari perusahaan, ia mencoba membuka usaha kecil-kecilan yang diberi nama CV. Panah Perkasa. Pada tahun 1985 ia mencoba bekerja sama dengan PT Incoxim, milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang bergerak dalam  bidang pembuatan peralatan dan perlengkapan mesin untuk pabrik gula. Disini tugasnya adalah memproduksi turbin untuk  mesin, ketel dan tangki-tangki serta konstruksi pipa. Karena bakatnya yang menonjol dalam bidang teknik, Pamoedji tidak  menemui kesulitan walau ia harus menangani berbagai bidang pekerjaan seperti itu, termasuk pembuatan timbangan tebu  untuk pabrik gula. Bahkan sampai ke pembuatan rumah tinggal serta pemeliharaan gedung bertingkat. Bengkel otomotif juga tidak ia tinggalkan, semua tetap berjalan. Pelanggannya pun bermacam-macam, ada badan usaha milik pemerintah, perusahaan swasta nasional dan juga swasta asing terutama dari Korea serta lain-lain perusahaan lagi.

"Selama menjadi karyawan orang lain, sulit membayangkan masa depan kita akan seperti apa. Tapi, kalau kita berhasil menjadi pengusaha, meski pengusaha kecil saja, untuk membeli rumah seharga Rp. 500 jutaan (ingat: itu tahun 1990-an!), hal itu tidak akan terasa sebagai hal yang terlalu berat.." Pamoedji berkata seakan menerawang masa lalunya.

Bidang terakhir yang digeluti Pamoedji adalah ekspor barang-barang furnitur ke Korea. Ia membeli furnitur "mentah" berupa perangkat rumah tangga dari Jepara, membawanya ke Surabaya untuk "finishing" yang dikerjakan sendiri, lalu dikirim ke Korea. Ia juga menghubungi banyak "buyers" di Korea, dengan perjanjian pembelian didasarkan atas penyerahan barang "loco gudang exportir". Dalam sistem perjanjian seperti ini, Pamoedji sebagai eksportir dimudahkan karena ia hanya bertanggung jawab menyerahkan barang di gudangnya sendiri, sedangkan pengangkutan ke negeri  pemesan ditanggung oleh pihak pembeli. Dalam istilah ekspor yang resmi, sistem ini dikenal sebagai "Ex Work" (EXW).*** [ed: Boy 024-7060.9694]

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog