Thursday, February 7, 2013

Tugas Bukan Beban

Niatkan setiap hari untuk mengerjakan sesuatu yang enggan Anda kerjakan. Maka Anda akan terbiasa mengerjakan setiap tugas tanpa beban. (Mark Twain)

Tahun 1973, pelabuhan udara internasional Halim Perdanakusuma sedang dalam persiapan akhir untuk segera dioperasikan  menggantikan bandara Kemayoran yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman. Di tengah-tengah kesibukan
para pekerja yang sedang melakukan sentuhan akhir, banyak terlihat para eksekutif dan tenaga ahli dari berbagai perusahaan  mancanegara, ikut sibuk melakukan pemeriksaan ke sana ke mari. Mereka antara lain berasal dari perusahaan-perusahaan raksasa seperti Texas Instrument (Amerika Serikat), Siemens (Jerman), Philips (Belanda), Standard Electronics Lorentz  (SEL-Jerman) dan lain-lain.

Pada suatu siang yang cukup panas, seorang eksekutif asing dari Siemens mengambil kesempatan berisitirahat di suatu ruangan  kantor yang masih kosong. Kebetulan di tempat itu ada beberapa karyawan dan pejabat bandara Halim yang semuanya orang
Indonesia. Maka mereka duduk bergabung, melepas lelah sambil berbicara tanpa arah tertentu. Jelas terlihat bahwa orang  Jerman ini sangat fasih berbicara bahasa Indonesia, kemungkinan karena sudah cukup lama berdiam di Jakarta.

Di tengah obrolan santai, seorang karyawan tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada orang asing itu, apakah Siemens ada rencana membuka kesempatan belajar di Jerman bagi karyawan Indonesia dalam waktu dekat. Ia mengatakan berminat untuk
turut serta bila rencana itu ada, karena sepengetahuannya, sudah beberapa kali perusahaan Jerman melaksanakan program seperti itu.

Namun tidak disangka tidak diduga, jawaban yang keluar dari mulut orang Jerman ini sangat kontradiktif dan memukul perasaan. Ia berkata : "Saya tidak ingin lagi mengirim orang Indonesia untuk sekolah di Jerman. Anda tahu sebabnya ?" Sambil bola
matanya bergerak menyapu wajah-wajah orang di sekitarnya satu per satu.

Karena beberapa orang menggelengkan kepala, ia meneruskan : "Dari pengalaman, orang-orang Indonesia yang selesai belajar di Jerman, sepulangnya ketanah-air tidak mau lagi bekerja di lapangan.  Mereka tidak mau lagi pegang obeng. Mereka hanya
mau kerja di belakang meja, memakai pakaian necis dan berdasi, sambil melakukan pekerjaan tulis menulis...!" , katanya sambil mengangkat bahu dan merentang kedua tangan.

Kalimat-kalimat si eksekutif asing ini membuat merah raut muka para pendengarnya, yang nota bene adalah orang-orang Indonesia semua.  Entah karena malu, atau entah karena tersinggung.

"Apa benar?" salah satu hadirin mencoba meyakinkan.

"Saya bisa memberikan daftar namanya pada Anda kalau memang diperlukan.. " si Jerman menjawab.

Karena melihat lawan bicaranya begitu yakin, maka yang hadir hanya terdiam sambil senyum-senyum kecut. Walau bagaimana pun, terlihat bahwa sesungguhnya mereka bisa membenarkan apa yang dikeluhkan orang asing tadi. Bukankah budaya "tuan besar" dan "priyayi" bukan barang aneh di sini?

Sang eksekutif berkata lagi: "Mereka itu seharusnya sadar, bahwa mereka disekolahkan untuk menjadi engineer.  Sebagai engineer, tempat kerja mereka adalah di lapangan, bukan hanya di belakang meja. Kalau begitu cara mereka bekerja, kapan bangsa Indonesia bisa membangun negerinya dengan baik ?"

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog