Sunday, February 24, 2013

Tips Mencari Investor Atau Pemodal

Salah satu jalan terbaik untuk membangun bisnis adalah dengan mencari dan menemukan investor. Apa sih yang dimaksud dengan investor? Investor adalah pihak lain (bisa perseorangan, bisa institusi) yang memiliki kemampuan finansial, dan kita ajak bekerjasama untuk menjalankan sebuah usaha di bidang tertentu.

Banyak orang yang memiliki uang berlimpah, yang saking berkelimpahannya, seakan-akan sudah tidak tahu lagi ke mana uangnya mau dipakai dan untuk apa. Mereka sering mencari-cari pihak lain yang memiliki bisnis bagus, untuk "menitipkan" uangnya
sebagai modal bagi hasil. Orang-orang semacam inilah yang saya katakan sebagai potensial menjadi investor. Dan itu juga  sebabnya mengapa kita layak bekerjasama dengan mereka, karena hal tersebut akan menciptakan sinergi atau simbiose  mutualistis yang saling menguntungkan.

Lalu, di mana kita bisa mencari dan menemukan investor semacam itu?

Investor bisa ditemukan di mana saja. Bahkan mungkin sekali mereka ada di sekitar kita, meski terkadang kita sendiri tidak menyadarinya. Oleh karena itu, kita bisa mencari investor dengan cara mengumpulkan informasi dari mulut ke mulut. Atau dengan cara mengumumkannya melalui komunitas yang relevan, melalui media cetak bahkan melalui iklan baris di media massa. Atau bisa juga di internet. Kalau kita sedang menghadiri sebuah seminar tentang bisnis, kita pun bisa "bergerilya" mencari seorang penyandang dana di antara sekian banyak hadirin lainnya.

Sekarang ini bahkan sudah ada beberapa website yang dibangun oleh komunitas para investor, lokal mau pun mancanegara, yang siap menampung permohonan-permohon an kerjasama dari para pengusaha dengan beragam bidang bisnis. Silahkan cari sendiri melalui mesin pencari di internet.

Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan kalau ingin mencari investor?

Yang pertama adalah pengetahuan dasar di lapangan, bahwa pada umumnya seorang investor sejati cenderung tidak ingin muncul di ranah publik. Mereka tidak ingin bertemu dengan sembarang orang. Oleh sebab itu, jika kita bertemu langsung untuk kali
pertama dengan seseorang yang menyatakan berminat menanamkan modalnya di bisnis kita, kemungkinan besar orang itu adalah salah seorang staf pelaksana yang khusus ditugaskan untuk menangani permintaaan- permintaan kerjasama dari para pebisnis. Kita bisa tanyakan langsung soal ini pada yang bersangkutan dan mintalah kartu nama resmi darinya.

Kemungkinan lain adalah, kita berhadapan dengan seorang perantara. Atau istilah kasarnya, calo. Dalam dunia pencarian penyandang dana, selalu saja ada kemungkinan kita berjumpa dengan para perantara. Ciri khas dari kinerja sang perantara  ini antara lain, meski proposal kita sudah dinyatakan oke, proses pertemuan dengan sosok pemilik dana kerap tersendat. Bahkan sering kali batal. Ini disebabkan karena dia sebetulnya memang tidak memiliki akses pada sang investor asli.

Yang kedua, perhatikan betul tentang status dan aturan main dari calon penyandang dana. Investor yang ideal adalah mereka yang menanamkan modal dengan kesepakatan "untung sama dibagi, rugi sama ditanggung". Kalau filosofi kerjanya "untung sama
dibagi, kalau rugi duit saya harus dikembalikan" , itu namanya bukan "Investor". Dia cuma seorang "Lender", yaitu orang yang meminjamkan uang. Kalau yang bersangkutan meminta uang jasa, kompensasi atau bunga dengan istilah apa pun, maka itu juga bukan "Investor", melainkan "Kreditur" atau mungkin juga "Rentenir".

Yang ketiga, jangan sekali-kali menyerahkan proposal yang telah kita buat dengan susah payah, secara utuh kepada seorang  staf pelaksana atau perantara. Apalagi pada mereka yang kita baru kenal, belum tahu orang itu siapa, atau belum betul-betul kita percaya. Sebab, risikonya adalah, konsep bisnis yang kita ajukan itu bisa dibajak atau dijiplak bulat-bulat, tanpa menyertakan kepentingan kita sama sekali. Hal seperti ini sudah sering dan sudah sangat umum terjadi. Oleh sebab itu, waspadalah!

Guna mencegahnya, pada pertemuan-pertemuan awal kita cukup memberikan gambaran global dari konsep bisnis yang kita ajukan, atau buatlah semacam "executive summary" yang dapat menjelaskan hal-hal pokok dan mendasar dari proposal kita secara ringkas.

Yang keempat, perhatikan soal komposisi saham. Ada kecenderungan, bahwa komposisi bagi hasil selalu lebih besar bagi pihak pemilik uang. Misalnya 70 : 30, 65 : 35, atau 60 : 40 dan lain-lain. Bila memungkinkan, karena kita punya alasan-alasan kuat yang bisa dipertanggungjawabk an, usahakan komposisi itu bisa menjadi 50 : 50 (sama) atau 49 : 51 (kita lebih besar). Angka 51 atau yang lebih besar lagi, dapat memberikan kekuatan pengambilan keputusan bagi kita di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dengan demikian, kendali atas kebijakan-kebijakan strategis perusahaan nantinya tetap berada di tangan kita selaku pendiri dan pencetus konsep bisnis.

Kelima, bila kondisi yang disebutkan di atas tidak mungkin tercapai karena dana likuid yang diperlukan sangat besar – dan itu dipasok seluruhnya oleh pihak Investor sehingga komposisi maksimal yang bisa diraih hanya 70 : 30 – maka seyogyanya kita mengajukan sebuah Nota Kesepakatan (MoU – Memorandum Of Understanding) , yang mengatur bahwa kebijakan-kebijakan strategis hanya boleh diambil oleh kita sebagai pemilik bisnis. Atau rambu-rambu yang mengatur pihak Investor tidak boleh mencampuri soal-soal executive dan managerial perusahaan. Bisa juga diatur bahwa pihak investor hanya duduk sebagai Presiden Komisaris yang menjalankan fungsi pengawasan. Dan lain-lain sebagainya.

Keenam, selalu camkan bahwa sedapat mungkin jangan ada uang modal yang kita keluarkan. Ini adalah rumus OPM (Other People's Money) dari Aristotle Onassis, atau kalau menurut versi Purdi Chandra (pendiri Primagama), bersesuaian dengan
slogan BODOL (Bisnis Optimis Duit Orang Lain). Kita harus menjadi Smart Entrepreneur, yang mengandal pada sumber daya non-uang. Kalau pihak Investor mengucurkan dana segar Rp. 1 milyar misalnya, maka kontribusi kita mungkin saja bernilai
sama (1 millyar), tapi dalam bentuk non-uang. Apa persisnya?

Bisa berupa "kompetensi" (keahlian, keterampilan), "jaringan" (networking, relasi, koneksi dan semacamnya), "informasi" (peluang-peluang yang belum diketahui pihak lain), "penemuan-penemuan baru" (teknologi, produk eksklusif) atau "ide" (gagasan yang orisinil). (ed: Boy 024-70609694)

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog