Wednesday, February 6, 2013

Lebih Untung Mana, Beli Saham Murah atau Mahal?

Apakah sebaiknya kita membeli saham yang sedang turun tajam harganya, atau saham yang pergerakan harganya sedang berada dalam tren naik ?

Kedua strategi dalam berinvestasi saham ini seringkali menimbulkan pro dan kontra. Banyak investor yang suka membeli ketika harga saham terdiskon besar-besaran. Strategi ini disebut dengan value investing. Seorang value investor membeli saham berfundamental bagus ketika harganya terdiskon besar. Ibarat membeli barang bermerek dan berkualitas dengan harga sangat murah.

Strategi value investing yang juga pernah saya ulas dalam blog saya, sebenarnya sangat bagus, namun sayangnya investor harus menunggu cukup lama. Diskon besar-besaran atau crash dalam saham hanya terjadi selama beberapa tahun sekali bahkan 10 tahun sekali. Diskon besar pada pasar saham terjadi tahun 1998 dan 2008. Sanggupkah Anda menunggu 10 tahun?

Butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu sebuah saham yang bagus terdiskon besar-besaran. Demikian pula untuk menjualnya, dibutuhkan waktu yang cukup lama pula, bertahun-tahun bahkan belasan tahun.

Warren E Buffett dulunya adalah seorang value investor sejati. Ia belajar pada Benjamin Graham, si bapak Value Investing. Namun belakangan, sekitar era 60-an, Buffett merevisi strateginya dengan perpaduan Growth Investing karena pertumbuhan beberapa saham yang ia beli dengan metode Value Investing sangat lelet. Adalah Philip Fisher yang menjadi inspirator Warren E Buffett untuk merevisi strateginya dengan perpaduan Growh Investing. Apa itu Growth Investing ?

Growth investing adl strategi investasi saham dengan mencari growth stock atau saham yang bertumbuh/labanya bertumbuh. Saham yang bertumbuh itu ibarat negara berkembang. Perusahaan ini sedang bertumbuh & umumnya belum teruji dlm jangka panjang. Growth Stock biasanya memimpin saham-saham lain di sektornya.

Namun saham-saham tersebut tidak selamanya memimpin dengfan konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa growth stocks punya rewards dan resiko setahap di atas income stocks dan value stocks.

Value Investor merupakan contrarian, memborong saham ketika yang lain panik, berbeda halnya dengan Growth Investor. Seorang Growth Investor memborong saham ketika terjadi optimisme dalam market, bukan pesimisme. Saham-saham bertumbuh/growth stocks yang bisa ditemui di bursa umumnya harganya sudah menanjak naik. Namun walaupun harganya sudah tinggi, harga saham emiten yang bertumbuh bisa menjadi lebih tinggi lagi.

Banyak orang yang menganggap para Growth Investor itu aneh karena membeli saham-saham yang harganya terus naik. Namun, bukankah seharusnya demikian? Saham yang layak dikoleksi adalah saham-saham yang harganya terus naik. Seorang growth investor membeli market's confidence! Bukan market's fear.

Perusahaan yang berkembang harga sahamnya bisa tumbuh dua kali lipat dlm 3-7 tahun, rata-rata per tahun tumbuh 10%-30%. Lalu, bagaimana caranya memilih growth stocks/saham- saham yang sedang bertumbuh? Untuk memilih growth stock, kita bisa menggunakan kriteria pemilihan saham terbaik berdasar sektornya dulu.

Setelah menemukan sektor yg sedang memimpin pada masa tersebut, cek laba/pendapatan perusahaan. Caranya, cek dari rasio EPS dan ROE-nya. Kedua rasio tersebut menunjukkan pendapatan/laba perusahaan. EPS singkatan dari Earnings Per Share artinya laba per lembar saham setelah dipotong pajak. ROE adalah Return on Equity.

Saham yang bertumbuh EPS kuartal terakhir sebaiknya tumbuh minimal 15% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan EPS pada growth stock tersebut sebaiknya terjadi secara konsisten dalam 5 tahun berturut-turut, tidak hanya sesaat.

ROE saham yang bertumbuh sebaiknya tumbuh 20% selama lima tahun terakhir berturut-turut. Angka ROE yang bagus adalah di atas 20%. Jika ROE di bawah 7 % maka laba perusahaan tersebut tidak lebih baik dari bunga deposito. Selain itu sebaiknya perusahaan yang bertumbuh itu rajin melakukan ekspansi atau inovasi.

KLBF atau PT Kalbe Farma, Tbk adalah sebuah contoh yang sangat apik dan memenuhi kriteria-kriteria di atas. Selain EPS dan ROE-nya bagus, Kalbe juga sangat rajin berinovasi dengan memunculkan produk-produk terbaru dan ekspansi lainnya, seperti membuat Kalbe Institute bersama Bina Nusantara University.

Nah, sebaiknya growth stock dibeli segera setelah muncul sinyal bahwa ia masih tumbuh di masa depan. Sinyalnya apa ya? Umumnya secara teknikal,saham bertumbuh/growth stock sangat uptrend. Sinyal yang biasanya muncul adalah break out. Tentang break out, bisa dibaca pada artikel saya sebelumnya disini.

Saham jenis ini sebaiknya dijual bila muncul tanda2 tidak mampu mempertahankan tingkat pertumbuhannya dalam jangka panjang atau ada tanda uptrend berakhir secara teknikal. Rentang waktu growth investing biasa berkisar 1-2 tahun, lebih kecil daripada rentang vaktu Value Investing.

Jadi investor tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membeli atau menjual sebuah saham, sekaligus mendapatkan keuntungan maksimal. Jadi bagi Anda yang merasa terlalu lama untuk melakukan value investing, bisa mencoba strategi Growth Investing.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog