Friday, February 8, 2013

Biaya Hidup di Jakarta

Ref: Apa komentar Anda yang berdiam di Jakarta terhadap tulisan ini?

http://kolomkita. detik.com/ baca/artikel/ 26/3540/tinggal_ di_jakarta

CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA

Tinggal di Jakarta
Ria Hardianti - Amerika Serikat

Saya terkadang suka takjub sendiri jika sedang mengunjungi Jakarta, Indonesia? Mengapa? Karena biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Malah lebih mahal jika dibandingkan biaya hidup di Kansas.


Sebagai contoh, jika makan di salah satu mall terkenal di Jakarta, untuk empat orang, bisa menguras kantung sekitar Rp.400,000. Sedangkan, jika makan di salah satu mall terkenal di Kansas, biayanya tidak lebih dari Rp. 250,000.

Untuk transportasi, jika naik taxi di Jakarta dari Sudirman menuju Bintaro, argo akan menunjuk kepada harga Rp.2220,000. Sedangkan jika naik taxi dari Jamaica, Queens ke China Town, argo taxi di New York akan menunjuk ke pada harga Rp.170,000. Belum lagi, harga sebuah baju merek Mango, di Jakarta bisa dihargai Rp.500,000. Sementara di JC Penney, baju mango hanya dibandrol seharga Rp.200,000.

Tingginya biaya hidup di Jakarta membuat saya tidak habis berpikir, bagaimana caranya penduduk di Jakarta bisa survive? Walaupun dengan gaji 5 juta pun, belum tentu bisa hidup mapan. Unbelievable. Darimana ya bisa bertahan hidup seperti itu?

Setelah sekian lama berbincang dan mengamati cara survive orang Jakarta, saya bisa mengambil kesimpulan pribadi yaitu:

Credit Card
Mudahnya proses persetujuan aplikasi credit card mengacu kepada gaya hidup besar pasak daripada tiang. Proses aplikasi credit card di Jakarta hanya dengan menggunakan nomor KTP dan surat keterangan gaji. Ada juga konon, beberapa instansi bank mengambil foto lokasi rumah calon pengguna credit card.

Di sejumlah kantor swasta, bagian personalia bekerja sama dengan karyawan/karyawatin ya untuk membuat surat keterangan gaji abal-abal, yaitu menaikkan gaji karyawan/karyawati tersebut.
Si pengguna credit card secara berlebihan menggunakan credit cardnya untuk menikmati kehidupan mewah diatas. Ketika tagihan datang, si pengguna hanya membayar dengan jumlah minimum. Bahkan beberapa orang yang saya tanyakan, memiliki 5 â€" 6 buah credit card, dan melakukan aksi balance transfer antar credit card, atau terkenal dengan istilah gali tutup lubang.

Pinjam Uang
Gaya hidup yang mewah ditunjang dengan atraksi pinjam uang ke orang tua atau kerabat yang kaya. Kultur orang di Indonesia, orang tua masih mau menafkahi dan meminjamkan uang kepada anaknya, dan mengiklhaskan anaknya jika mereka tidak sanggup mengembalikannya.

Ada salah satu keluarga yang cukup mapan di Indonesia, anaknya, sebut saja namanya B, dari kecil hingga dewasa dimanja dengan uang dan fasilitas. Akibatnya si anak menjadi malas bekerja, sampai dia menikah, istri dan ketiga anaknya hidup dari menadahkan tangan.

Si B, setiap bulan rajin menyetor muka ke orang tuanya, untuk meminta uang. Bahkan, ketika ayahnya wafat pun, B masih tega meminta uang kepada ibunya, walapun harta warisan sudah diberikan ke B.

Istrinya yang juga tidak berkerja, rajin pula meminta uang kepada keluarga adiknya yang kebetulan mapan. Mereka sekarang berusia 58 tahun dan istrinya 53 tahun. Seumur hidupnya, tidak pernah bekerja. Namun bisa menikmati jalan-jalan ke luar negeri, membeli rumah dan mobil, anak-anaknya pun bisa menikmati pendidikan gratis. Kesemuanya itu diperoleh dari hasil meminta-minta ke orang tua dan kerabatnya.

Saya sempat terkejut, ketika pergi bersama keluarga B karena mereka memiliki kartu kredit Citibank. Saya sempat bertanya, darimana mereka bisa memperoleh kartu kredit tanpa bekerja? Mereka menjawab, bahwa adiknya yang istri pengusaha membantu mereka mengeluarkan surat keterangan bekerja dan gaji palsu, seolah olah mereka bekerja di perusahaan suaminya.
Dan, dengan modal credit card tadi, mereka belanja kebutuhan sandang dan pangan hingga batas limit karttu kredit.

Membayarnya? Jika tidak membayar dengan jumlah minimum hasil todong kanan kiri, mereka tidak membayarnya sama sekali. Dan, kemudian mengajukan aplikasi kartu kredit ke bank lainnya.

Satu rumah 10 keluarga
Di Indonesia, saya sering juga menjumpai, satu rumah diisi lebih dari 2 â€" 3 keluarga. Banyak muda mudi yang menikah, tapi masih tetap tinggal bersama orang tua atau mertuanya. Bahkan hingga pasangan itu memiliki anak, mereka tetap tinggal bersama orang tua mereka. Banyak pula wanita atau pria dewasa yang sudah bekerja tetapi belum menikah, tetap tinggal bersama orang tuanya.

Di Amerika, jarang sekali ada keluarga yang masih mau menampung anaknya setelah lulus SMA. Biasanya anak-anak mereka, setelah lulus SMA, kemudian pindah mengontrak kamar atau apartemen bersama teman-temannya. Mereka hanya pulang ketika liburan thanksgiving, natal, atau Independence Day.

Lalu, apakah mereka akan urunan membayar biaya tagihan listrik, air, gas, dan makan sehari hari jika tinggal bersama orang tuanya? Tergantung kondisi keuangan orang tuanya. Jika orang tuanya berada, mereka tetap dibiayai, tanpa dipungut biaya sepeser pun. Dan mereka pun memiliki keleluasan untuk menikmati gaya hidup mewah dan mahalnya Jakarta. Jika orang tuanya dalam kondisi biasa-biasa saja, umumnya mereka ikut urun bantu untuk membayar biaya di atas.

Korupsi
Ini cara hidup yang sudah sangat biasa di Indonesia. Mulai dari tingkat kelurahan hingga tingkat pejabat teras pemerintahan. Mulai dari perusahaan swasta nasional hingga perusahaan swasta asing.

Sebagai ilustrasi, ada seorang kenalan yang bekerja sebagai purchasing manager di sebuah hotel terkenal di Jakarta. Beliau mendapatkan tips dari seluruh supplier yang menyuplai kebutuhan hotel. Mulai dari supplier bahan pangan hingga supplier kontruksi bangunan.

Gajinya sudah cukup besar, kurang lebih 15 juta. Tetapi uang tipnya berkisar antara 50 hingga 100 juta sebulannya. Kebetulan jabatan saya di Amerika kurang lebih sama dengan beliau. Dengan entengnya beliau bertanya kepada saya, “Wah, uang tipsmu pasti lebih banyak dari aku yah. Sudah dibayar dollar, dapatnya dollar pula�.

Saya kaget dan menjelaskan bahwa di Amerika, tidak pernah sepeser pun saya mendapatkan uang tips. Apabila perusahaan tempat saya bekerja mengetahui, sudah pasti saya akan dipecat. Paling hebat, saya hanya dikasih permen coklat atau cookies pada saat natal dan tahun baru. Itupun, harus saya bagi dengan seluruh anggota tim di departemen tempat saya bekerja.

Contoh lain, salah seorang kerabat yang bekerja di pemerintahan, gajinya tidak lebih dari sepuluh juta per bulan. Tetapi memiliki rumah lebih dari 12 buah, dan keluarganya selalu berkunjung ke luar negeri 2 - 3 kali dalam setahun. Karena beliau bekerja sebagai pimpinan proyek. Beliau pun mendapat tips dan bonus dari supplier dan kontraktor yang beliau pekerjakan. Besarnya, lebih dari 1 milyar perbulannya.

Jadi, dari ketiga survey pribadi yang saya lakukan, saya merasa bahwa pendapatan saya di Amerika tidak akan pernah bisa menunjang gaya hidup saya di Jakarta. Karena itu saya memutuskan hanya akan berkunjung ke kota kelahiran saya apabila saya sudah benar-benar menabung selama tiga tahun. Kalau tidak, selamat gigit jari jempol, karena kekurangan uang ketika berada di sana.

Saya juga jadi teringat sindirian salah seorang kerabat saya, “ Kamu itu bule kere . Gayamu saja yang sudah jadi warga Negara Amerika, paspor biru, dan gaji dollar, tapi tiap pulang ke Indonesia tidak pernah bisa memanjakan keluargamu atau membantu ekonomi saudara- saudaramu�

…Saya hanya terdiam dan terpekur…

Tabik

[Non-text portions of this message have been removed]

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog