Monday, February 18, 2013

Belajar dari Lee Kuan Yew, Sosok Pembaharu Singapura

Pada tahun 1959, *People's Action Party* (PAP) pimpinan Lee Kuan Yew berhasil memenangkan pemilu di Singapura dengan menguasai 41 dai 53 kursi diparlemen. Ketika Lee diangkat sebagai perdana menteri, kas negara dalam keadaan kosong. Lee sendiri belum tahu apa yang bisa ia lakukan karena kondisi negaranya masih carut marut. Penerapan hukum buruk, konflik antar etnis biasa terjadi, masyarakatnya jorok dan sampah bertebaran dimana-mana, pengangguran mencapai angka 14%, sedangkan kekayaaan alam tidak ada. Luas lahan Singapura hanya 400KM persegi. Andalannya Cuma padi. Tapi sekalipun semua lapangan sepak bola di dikonversikan menjadi sawah, ia hanya bisa menyajikan beras untuk 40.000 orang. Kalau masyarakatnya jorok, membangun tourism juga tidak mudah. Singapura tak punya pantai yang bagus.

Lee Cuma punya impian dan beberapa orang pemikir. Tak ada cara lain Singapura harus berubah. Ia menampilkan sebuah negara kecil yang bersih, disiplin, memegang kuat tradisi penghormatan kepada orang tua, dan tentu saja, kaya, sama seperti anda, Lee juga juga mempunyai pertanyaan yang sama : harus dimulai dari mana ? kalau negara tidak bisa memberikan lapangan pekerjaan maka Singapura akan menjadi sasaran agitasi komunis. Maka mulailah pekerjaan besar itu digulirkan. Ia menugaskan Dr. Goh Keng Swee untuk merancang pembangunan ekonomi yang agresif. Goh segera bertindak. Industrialisasi adalah pilihannya. Cuma masalahnya singapura tak mempunyai bahan baku, tak ada keterampilan industri, dan yang memalukan, tak punya
pasar yang cukup besar. Itulah sebabnya mereka menjalin kerjasama dengan membentuk common market dengan Malaysia. Tapi itu belum cukup.

Untuk memajukan perekonomian, pemerintah Lee meminta bantuan bantuan PBB agar mengirim ahli ekonominya. PBB pada tahun 1960 segera mengirim misi survei industrial, yang dipimpin Dr. Albert Winsemius, yang dibantu oleh pria keturunan China I.F Tang. Dengan bantuan keduanya, Lee merumuskan strategi pembangunan ekonomi globalnya yang berorientasi pada keunggulan daya saing dan produktivitas lewat pemerintah yang bersih, masyarakat yang disiplin, dan induatrialisasi yang dikawal oleh tenaga-tenaga profesional. Pemerintah Lee tidak anti asing maka setiap bangsa boleh ikut membangun Singapura asal betul-betul profesional. Ada dua badan yang jadi andalan Lee saat itu yaitu HDB (Housing Development Board) dan EDB (Economic Development Board).

Pada saat perubahan mulai dilakukan, tentu saja banyak pihak yang tidak siap. Bahkan Lee sering disebut sebagai salah seorang diktaktor asia yang anti demokrasi, HAM, dan kebebasan berserikat. Ia memang sangat tegas. Orang yang membuang sampah sembarangan, melakukan vandalisme, membuang permen karet, berambut gondrong, atau tidak tertib dijalan, dikenai denda sangat besar. Seorang remaja amerika pernah dihukum cambuk gara-gara melakukan vandalisme di negeri singa ini, dan itu sungguh menggemparkan Amerika. Tapi ia tidak goyah satu milimeterpun. Ia juga membatasi ruang gerak pers dan mengendalikan oposisi. Baginya, semua harus berorientasi pada kedisiplinan dan satu kepemimpinan yang diwadahi oleh nilai-nilai
confucius.

Pada tahun 1990-an, ketika sistem kesejahteraan sedang mengalami ujian dan ancaman kebangkrutan di barat, pemerintah Singapura mengeluarkan Parent's Bill. Sebuah UU yang dipercaya sangat kental dengan nilai-nilai confucius. Melalui UU itu, orang tua berhak menuntut anak-anaknya kalau tidak merawat mereka dihari tuanya. Dengan demikian, mereka tidak menjadi beban negara.

Perubahan yang digulirkan oleh Lee tentu tak akan berhasil kalau ia hanya berfokus pada wacana politik dan nilai-nilai belaka. Atas nilai-nilai ini, Lee Memanggil para "dokter" untuk bergerak bebas mengeksekusi gagasan-gagasan kreatif mereka. Dr. Goh Keng Swee, dengan dibantu oleh Dr. Albert Winsemius dan IF Tang, punya peran penting untuk mempercepat proses industrialisasi.

Ketika mengangkat kepala perwakilan EDB di New York pada tahun 1960-an, misalnya, mereka lebih memilih seorang top salesman dengan pengalaman bisnis, street smart, sabar, jujur, dan pekerja keras, ketimbang seorang birokrat, akademisi, atau politisi yang biasa berkantor diruang tertutup. Pilihan jatuh Chan Chin Bok, seorang mantan Salesman mobil yang juga kolumnis bisnis. Berkat bantuan chan, singapura menjalin kerja sama dengan produsen-produsen otomotif detroit. Ford, Misalnya memilih singapura sebagai lokasi assembly part-nya  di Asia, setelah Singapura menjalin kerjasama dengan Malaysia dalam sebuah common market. Tapi kisah dibalik hubungan Singapura-Malaysia dalam memperebutkan lokasi ini sungguh menarik. Deal antara keduanya lebih merupakan Bussienss Deal seperti pemain catur ketimbang pembicaraan antara dua orang negarawan.

Tentu saja itu berlaku pada masa-masa awal. Pada tahap awal, negara membutuhkan dua tangan sekaligus; yang satu tangan pemikir (Thinker) dan satu lagi tangan pelaku. Sekarang kedua-duanya menuntuk kecerdasan intelektual.

Dimasa pemerintahannya, Lee sangat konsisten menata pemerintahannya. dalam setiap tahap ia selalu merumuskan langkah-langkah konkret yang harus diambil para anggota kabinetnya. Tak disangka, Singapura yang tak punya apa-apa sekarang malah menjadi negara terkaya di dunia. Pada saat Lee melepaskan jabatannya (1990), GDP parkapita Singapura telah menjadi U$$ 14.000 dan masih akan terus bertumbuh (ed: Boy 024-7060.9694)

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog