Wednesday, January 9, 2013

Perenungan Bonsai Versi Utsubo Monogatari

Dikenal sejak abad ke-6, namun baru menjadi lebih populer pada tahun 97 melalui "The Tale of the Hollow Tree" Utsubo Monogatari memperkenalkan bonsai sebagai keindahan natural yang menjadi lebih bermakna ketika dapat dimodifikasi untuk ada bersama-sama dengan manusia secara harmonis.

Nilai estetis dari bonsai adalah menggambarkan unsur tidak abadi, tidak sempurna, dan belum selesai sebagai proses iman penganut Buddhis sebelum mengalami "satori" atau pencerahan.

Pehobi tanaman meluangkan waktu untuk mewakili sisi melankolis dirinya melalui praktik bonsai, untuk mengekspresikan perasaan yang bersimpati atas kesedihan atau kemalangan seseorang. Yang dapat kita nikmati kemudian adalah sebuah "wabi sabi" atau hikmat di dalam kesederhanaan, serta "mono no aware" atau ketidakabadian yang memperkuat dorongan hati untuk menghargai keindahan atas hal yang tidak abadi tersebut sebelum dia hilang atau mati.

Bagi penyuka tanaman, bonsai dapat digunakan sebagai sarana perenungan atau kontemplasi, bagi pembuatnya bonsai adalah cara yang menyenangkan untuk
berlatih kerja keras dan kesungguhan yang sekaligus menggambarkan kuasa dari kreativitas.

Saya mempelajari informasi seputar bonsai ini sepulang dari sebuah perjalanan kunjungan kekerabatan yang melalui jalur Puncak, Bogor. Karena keindahan dan keunikan tanaman bonsai memang memancing inspirasi yang dalam tentang kehidupan, saya pun merenungkan makna jabatan, status, pangkat, gelar, keberhasilan, atau ketenaran dalam konteks perenungan bonsai.

Kita mungkin beranggapan semua yang pernah kita capai adalah hasil final yang layak dinikmati, dan mungkin tanpa sadar kita hendak langsung berbangga diri bahwa kita sudah mencapainya. Namun, sadarkah kita bahwa semua pencapaian itu tidaklah lagi bermakna pada hari ini?

Bukankah setiap hari kita harus memulai sesuatu yang baru, yang harus kita nikmati, dan kita resapi sebagai hal yang bermakna. Yang kemarin sudah usang. Yang baru belum lagi datang.

Sering kali keindahan nilai dari suatu peristiwa, --kesedihan atau kemalangan sekalipun-- membuat kita masuk dalam euphoria berlebihan bahwa kita paling berbahagia, atau nelangsa berkepanjangan seolah-olah kita adalah orang yang paling hina, paling jelek, paling malang, dan menyebalkan.

Ah... itu kan kata Anda.

Tak ada seorang manusia pun yang paham hati manusia lainnya, selain Tuhan. Malah, diri sendiri pun sering kali tidak paham "isi hati"-nya... . bagaimana kita memberikan suatu justifikasi tentang seseorang sebagai final, kalau kehidupan masih berjalan? Bagaimana kita menghakimi diri sendiri atas tuduhan seseorang, kalau kita sendiri tidak yakin bahwa kita seperti yang disebutkan orang itu?

Perenungan bonsai mengajak kita untuk mengevaluasi diri bahwa ketidaksempurnaan dan ketidakabadian, juga artinya belum selesai, adalah bagian dari suatu proses sehingga kita harus terus berjuang atau berusaha keras agar pada setiap proses tersebut kita menikmati keindahannya. Disitulah pembelajaran atas kehidupan terjadi. Maka pada setiap waktu kita bertumbuh menjadi baru kembali... dan itulah keindahan hidup yang dimaknai dalam rentang waktu yang harus kita lalui.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog