Sunday, January 27, 2013

Langkah Menuju Perdagangan Internasional

Pada Februari 2012 lalu saya menghadiri seminar Steps to International Trade di Napa Valley, Kalifornia di Tanah Seberang, suatu kota mungil romantis yang dikelilingi oleh perkebunan anggur yang namanya telah mendunia. Seminar ini menghadirkan pembicara dan dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah Paman Sam, pihak swasta dan perwakilan atau konsul dari negara-nergara sahabat, seperti Mexico. Tuan rumahnya adalah Napa Valley College yang menuntun arah seminar ini. Ternyata sangatlah menarik menyaksikan bagaimana usaha pemerintahan di Tanah Seberang ini mendukung para pengusahanya untuk mengembangkan bisnis yang bersifat export oriented.

Secara garis besar instansi-intansi pemerintah Amerika Serikat (AS) memaparkan apa yang bisa mereka perbuat untuk membantu para pebisnis yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan kemakmuran ekonomi negaranya. Bank Export Import (EXIM) dan Overseas Private Investment Corporation (OPIC) misalnya, memaparkan program mereka yang antara lain menyediakan financing, asuransi resiko politik dan mendukung dana investasi equity swasta. Yang menggiurkan adalah jika ada pebisnis dari Tanah Seberang yang menang tender di luar negeri, maka kedua instansi ini akan segera mengucurkan dana dengan persyaratan yang oleh mereka katakan sangat minim.

Instansi lain seperti Bureau of Industry and Security (BIS) juga memaparkan bagaimana pemerintahan di Tanah Seberan ini bisa membantu memperlancar negosiasi bisnis dengan pihak luar negeri antara lain bahwa staf kedutaan besar AS bersedia mendampingi dan menjadi tuan rumah untuk setiap business event bagi warganya. Menarik bukan? Jika demikian, mari kita lihat lebih rinci apa saja inti langkah menuju perdangan internasional yang saya rumuskan dalam 10 langkah sebagai berikut:

Pertama, menentukan jenis produk atau jasa yang berpotensial untuk diexport. Dalam menentukan produk dan jasa yang akan diexport umumnya dilihat need (kebutuhan) dan want (keinginan) dari suatu market yang dibidik. Selain itu, juga terdapat paham bisnis lain, bahwa banyak konsumer yang sebenarnya tidak mengerti apa yang mereka butuhkan dan atau inginkan. Di sinilah seorang businessman mempunyai peran untuk mensosialisasikan produk dan jasa sehingga konsumer bisa mengerti
mengapa mereka sebenarnya membutuhkan atau menginginkan produk dan jasa yang ditawarkan.

Kedua, menentukan target market atau negara sasaran export. Dalam menentukan target market atau negara yang menjadi sasaran export, selain melihat pada buying power and demand, sangatlah penting untuk melihat kondisi hubungan bilateral. Hubungan ini menentukan kelancaran proses international trade. Contohnya, hubungan AS antara Mexico dan Kanada dalam North American Free Trade Agreement (NAFTA) sangat memudahkan perdagangan internasional karena hampir semua peraturan ketat yang mengikat ditiadakan. Pada saat ini NAFTA telah menciptakan wilayah free trade yang terluas yang meliputi 450 juta penduduk dan menghasilkan produk dan jasa yang bernilai USD 17 triliun. Sebaliknya, jika hubungan bilateral negara tidak harmonis, seperti AS dan Korea Utara, maka International Trade akan sulit dilakukan.

Ketiga, merumuskan International Marketing Plan dan Export Strategy. Adalah hal yang lazim untuk merumuskan business plan dalam kegiatan berbisnis. Dalam kaitannya dengan International Trade adalah penting untuk secara khusus merumuskan International Marketing Plan dan Export Strategy. Seorang businessman perlu mengerti dan bisa menerapkan Marketing Plan yang meliputi Price, Product, Place dan Promotion (4P) dan Export Strategy yang mencakup antara lain motode pembayaran, cara pengiriman, penerimaan yang dilihat dari segi cost effective dan waktu yang efisien.

Keempat, mengetahui dan memahami regulasi mengexport barang dan jasa. Beberapa negara mempunyai regulasi yang ketat untuk menerima jenis produk dan jasa dari negara lain. Contohnya, AS dan China melarang untuk menerima produk yang berkaitan dengan unggas karena dikaitkan dengan penyakit Flu Burung. Ada juga negara yang sengaja menaikkan standar kualitas produk sehingga mengurangi import dari luar dan merangsang produksi dalam negeri. Hal ini pernah terjadi dengan China yang mengeluarkan regulasi import mobil dengan menaikkan standar penggunaan bensin yang lebih sedikit untuk daya tempuh yang lebih jauh.

Kelima, memahami dan menyesuaikan diri dengan keaadaan sosial dan kultur lokal. Poin ini penting untuk menciptakan bisnis yang sustainable atau berkesinambungan, hal ini terutama penting untuk bisnis yang bersifat antar negara seperti international trading. Dengan memahami dan menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan kultur diharapkan bisa mengurangi dan mengatasi konflik atau potensi konflik baik dengan internal (karyawan) maupun dengan external perusahan (komunitas sekitarnya).

Keenam, memilih local trade partner yang terpercaya. Partner lokal yang dipercaya bisa menjadi jembatan antara berbagai pihak dengan pebisnis. Selain itu, biasanya ia lebih mengetahui hukum, norma, dan standar industri lokal sehingga bisa memberi masukan yang sangat berarti kepada seorang pebisnis.

Ketujuh, membuka channel yang luas untuk kelancaran komunikasi. Kesalah-pahaman dalam International Tade bisa terjadi karena komunikasi yang terbatas antara bisnisman, partner dan customer untuk itu perlu dibuka channel komunikasi yang seluas-luasnya seperti melalui video conference.

Kedelapan, pendanaan. Semua kegiatan tidak akan berjalan jika International Trade ini tidak mendapatkan dana. Umumnya dana diperoleh dari businessman itu sendiri, institusi keuangan seperti bank dan private venture capital. Dana akan dikucurkan jika suatu prospek bisnis dinilai akan menguntungkan dalam jangka waktu tertentu.

Kesembilan, menerapkan metode pembayaran yang tepat dan asuransi kerugian. Metode pembayaran yang tepat dan asuransi kerugian sangatlah penting untuk mendapat kepastian bahwa produk dan jasa yang dikirim mendapatkan imbalan sesuai dengan persetujuan. Tahapan ini sangat menentukan untuk menghindari kecurangan dalam International Trade yang sering terjadi akhir-akhir ini.

Kesepuluh, constant presence. Walaupun komunikasi teknologi telah menungkinkan hampir semua pihak berhubungan di hampir semua belahan dunia, tetap saja kehadiran dan interaksi secara face to face sangat menentukan keberhasilan business deal karena kehadiran fisik akan memperlihatkan body language yang menjadi faktor yang menimbulkan kepercayaan bagi pihak lain.

Semoga Napa Valley yang indah dan pernah dijadikan tempat setting film romantis Walk in the Cloud menginspirasi Anda untuk memulai melakukan business International Trade.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog