Saturday, December 8, 2012

Tuluskah kita dalam Berbagi?

Akhir-akhir ini, istilah "sharing" sudah sangat populer di kalangan masyarakat. Di seminar, di kopdar, di radio, di TV, di blog, serta di milis pun, kita sering membaca atau mendengar kata "sharing". Bahkan tidak jarang kita baca kalimat seperti: "Saya ingin men-share pengalaman
saya,,," Atau: "Kalau Anda berkenan dengan artikel ini, silahkan di-share.."

Dilihat dari kaidah Bahasa Indonesia, kata "men-share" atau "di-share" sudah pasti salah. Karena kata "share" adalah kata Bahasa Inggris. Dilihat dari kaidah Bahasa Inggris pun, pasti salah juga, karena tidak
ada kata dalam Bahasa Inggris yang perlu ditambahkan awalan "me" atau "di".

Tapi, ya sudahlah. Bahasan ini hanya ingin menunjukkan bahwa istilah "sharing" saat ini sudah begitu akrab di teling kita, sehingga saking populernya, orang cenderung menggunakannya sesuai selera masing-masing saja. Sekarang kita sedang membahas soal kewirausahaan. Bukan soal bahasa. Nah, karena "sharing" diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan kata "berbagi", maka pertanyaan saya menjadi: "Seberapa tuluskah kita dalam berbagi?"

Kalau program-program CSR (Corporate Social Responsibility) dianggap sebagai perwujudan dari keinginan berbagi dari perusahaan-perusaha n besar dalam tanggung jawab sosialnya, maka pertanyaan di atas mengacu pada kesiapan kita sebagai pribadi yang terlibat dalam kegiatan bisnis untuk berbagi dengan orang lain. Dalam hal ini, kita akan lebih spesifik bahwa pengertian berbagi adalah berbagi ilmu pengetahuan, baik yang ditulis di blog, buku, artikel dan lain-lain atau yang disampaikan secara lisan dalam seminar, pelatihan, workshop dan lain sebagainya termasuk dalam pergaulan sehari-hari.

Ada 3 tipe kepribadian yang melekat pada masing-masing orang dalam hal berbagi:

1. Tipe Tertutup.

Orang-orang dengan tipe Tertutup adalah mereka yang secara sadar atau tidak, secara terang-terangan atau diplomatis, selalu menabukan yang namanya berbagi. Menurut mereka,ilmu pengetahuan adalah modal untuk bertahan hidup, atau bahkan kalau bisa, menaklukkan kehidupan ini. Ilmu-ilmu tersebut mereka dapatkan dengan pengorbanan yang tidak kecil, baik secara finansial, waktu, mau pun energi. Jadi, bagi orang-orang ini, kenapa juga harus berbagi dengan orang lain, yang ingin mudahnya saja memperoleh ilmu secara gratis? Bukankah ada kemungkinan, kalau sudah mendapatkan ilmu yang diinginkan, kelak orang-orang lain itu justru akan menjadi rival berat mereka sendiri dalam kancah persaingan?

2. Tipe Setengah Terbuka.

Sesuai dengan namanya, tipe Setengah Terbuka berbagi ilmu pengetahuan secara setengah-setengah. Mereka membagikan artikel-artikel dan tulisan-tulisan yang cukup bagus, juga mengajarkan strategi, teknik-teknik atau kiat-kiat tertentu secara gratis. Tapi pada umumnya, apa yang mereka bagikan secara gratis itu bersifat common-sense saja, pengetahuan umum, atau teknik-teknik yang sudah tidak terlalu baru. Untuk mendapatkan pengetahuan yang mutakhir, atau jurus-jurus ampuh tertentu, biasanya orang perlu membayar sejumlah uang. Itu sebabnya, kita mengenal istilah "free-member" (anggota gratisan) dan "premium member" (anggota berbayar) pada situs-situs atau blog-blog yang diselenggarakan orang-orang Tipe Setengah Terbuka.

3. Tipe Terbuka.

Kelompok Tipe Terbuka terdiri dari orang-orang yang mendasari bisnisnya dengan kepercayaan penuh akan berlakunya "Hukum Tanam Tuai" serta "Hukum Tarik Menarik" yang populer disebut dengan "Law Of Attraction". Ini merupakan cerminan dari keyakinan bahwa semakin banyak mereka memberi, makin banyak pula mereka akan menerima, yang semuanya sudah diatur oleh Alam Semesta. Bukan oleh si penerima jasa.

Dalam berbagi, orang Tipe Terbuka tidak pernah tanggung-tanggung. Mereka membuka semua rahasia mulai dari kiat-kiat menjual yang sukses sampai rahasia teknologi canggih paling mutakhir. Seluruhnya dibagikan apa adanya, dan "free"! Mereka tidak pernah kuatir bahwa tindakan seperti ini akan menjadi bumerang bagi bisnis mereka sendiri. Mereka juga tidak memisahkan audiens dalam kotak-kotak "free-member" dan "premium-member" .

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan ketiga jenis gaya berbagi di atas. Semua sah-sah saja, karena tidak ada fihak mana pun yang bisa memaksa orang untuk berbagi atau tidak berbagi. Di pihak pelaku bisnis pun semua itu hanya soal pilihan. Setiap pilihan tentu memberikan
manfaat dan mudaratnya sendiri.

Orang Tipe Tertutup mungkin merasa aman dan nyaman karena merasa bisa meminimalisir persaingan dengan tidak pernah membagikan sesuatu pada orang lain. Namun, ada konsekuesi mereka akan terkucil dari pergaulan bisnis, atau justru terbebani oleh ilmu yang dimilikinya sendiri. Seorang pemilik restoran besar berusia 50-an tahun di daerah Sunter, Jakarta Utara, pernah mengeluhkan kehidupannya yang terasa sangat-sangat jenuh dan melelahkan. Ternyata, ia sukses karena resep masakannya yang memang super lezat, tapi tidak pernah dibagikan pada siapa pun juga, termasuk anggota keluarganya. Akibatnya, karena tidak ada orang lain yang mengetahui resep makanannya, selama berpuluh tahun, ia harus bekerja 7 hari seminggu selama puluhan tahun tanpa pernah libur!

Orang Tipe Setengah Terbuka mungkin saja gembira karena memperoleh cukup banyak pengunjung, pengikut, fans, prospek atau pelanggan yang mau dipancing dengan hal-hal yang gratis. Tapi ada risiko bahwa sebagian orang yang berharap banyak pada keampuhan produknya, menjadi kecewa dan kehilangan simpati ketika diharuskan membayar dengan harga tinggi tepat di saat-saat mereka membutuhkan produk dimaksud.

Di lain pihak, orang Tipe Terbuka mungkin akan dengan serta merta mendapatkan popularitas tinggi, karena sangat bermurah hati dalam memberikan ilmu pengetahuan secara gratis. Pengunjung dan penggemar membludak, dan sebagian di antaranya dengan sukarela membeli produknya meski harga tinggi karena sudah percaya penuh terhadap si penjual. Mereka pun tanpa diminta membantu pemasaran dengan melakukan promosi mulut ke mulut. Tapi, sebagian pengunjung lainnya merupakan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan situasi. Orang-orang tersebut selalu dan berulang kali berkunjung minta dukungan ini-itu, konsultasi atau minta dukungan teknis dengan pemikiran mumpung gratis! Sangat menggangu dan merusak bisnis orang lain.

Nah, apa komentar Anda tentang gaya para pebisnis dalam berbagi?

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog