Friday, December 21, 2012

Stephen Covey : Penulis The Seven Habits itu Telah Tiada


"Habit is the intersection of knowledge (what to do), skill (how to do), and desire (want to do)."
(Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People)

Agak sedikit terhenyak ketika surfing di internet mengabarkan maestro manajemen ini dikabarkan meninggal dunia. Sepertinya belum lama membolak-balik buku master piece-nya yang dikenal di banyak pojok dunia waktu masih mahasiswa dulu. Dari sederetan bukunya yang monumental, barangkali buku berjudul The Seven Habits of Highly Effective People merupakan buku yang paling populer. Sejak dipublikasikan pertama kali di tahun 1989, tercatat lebih dari 25 juta kopi tersebar di seluruh dunia. Ketika itu belum banyak buku manajemen yang dialih bahasakan ke bahasa Indonesia di awal 1990-an, tapi saking populernya buku ini termasuk yang dialih bahasakan. Pelatihan "Tujuh Kebiasaan Efektif" laris bak kacang goreng khususnya di kota-kota besar yang diikuti banyak eksekutif perusahaan di kala itu.

Disamping menulis ini, almarhum Covey yang sampai saat meninggalnya masih tercatat sebagai dosen sekaligus Professor di Jon M.Huntsman School of Business di Universitas Negeri Utah, merupakan penulis buku yang lumayan produktif. Buku bertajuk First thing First yang ditulis bersama Roger dan Rabecca Merrill di tahun 1994 juga tidak kalah populer, disamping  buku The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness di tahun 2004, dan buku 6 Events: The Restoration Model for Solving Life's Problems di tahun yang sama.

Maestro bernama lengkap Stephen Richards Covey ini dikenal sebagai motivational speaker, selain sebagai dosen serta pebisnis ulung minggu ini meninggal dalam usia 80 tahun (24 Oktober 1932 – 16 Juli, 2012) meninggalkan seorang istri, 9 anak dengan 49 cucu. Covey meninggalkan sebuah warisan yang tidak ternilai di dunia manajemen dan bisnis, yang buku-bukunya merupakan rujukan penting dalam topik manajemen waktu. Kalau Anda pernah mengikuti pelatihan manajemen waktu, warisan pemikiran beliau akan menjadi rujukan yang sering disebut.

Untuk memperingati jasa beliau, akan sedikit kita ulas sumbangan Begawan "Time Management" ini. Prinsipnya, Covey menekankan pentingnya kebiasaan berperilaku efektif untuk memenangkan "persaingan hidup" yang kian mengetat. Sehingga untuk memilahnya, Covey membaginya perilaku dalam 4 kuandran utama yang disebutnya sebagai "Time Management Activities", yakni kegiatan yang important sekaligus urgent yang merupakan prioritas pertama yang perlu dilakoni (kuadran 1), ada juga kegiatan yang penting tetapi tidak mendesak (kuadran 2) seperti melakukan temu bisnis, perencanaan , rekreasi adalah contoh-contoh di kuadran 2. Di Kuadaran 3, adalah kegiatan mendesak tapi sesungguhnya tidak penting, misalnya ada telpon, email yang harus ditanggapi, menghadiri pertemuan. Terakhir, kuadran 4 yang gak penting dan juga gak mendesak yang merupakan aktivitas yang perlu dihindari, seperti bersantai-santai, membuang-buang waktu dls. Kemampuan untuk memilah sederetan aktivitas inilah yang merupakan kata kunci untuk menempatkan kita berperilaku yang efektif dalam hidup.

Kemudian lebih lanjut, Covey menurunkan 7 rambu-rambu perilaku kebiasaan efektif yang menjadikan namanya melambung dan disegani sebagai pembicara motivasi kelas dunia :

Perilaku pertama, Be Proactive. Disini, Covey menekankan dasar yang melambari hal ini adalah kebebasan memilih adalah milik kita pribadi, dan seyogyanya kita bertanggung jawab terhadap pilihan yang kita pilih. Untuk mengefektifkan langkah ini, Covey menggarisbawahi perlunya kita "memfokuskan" energi dan waktu kita terhadap target yang hendak kita rengkuh. Kemauan untuk melangkah dan inisiatif mengambil bola untuk hal itu merupakan kata kunci untuk one step ahead comparing the others.

Perilaku kedua, Begin with the End in Mind.  Disini, Covey menitikberatkan pada setiap langkah efektif dasarnya dimulai pada kekuatan pada pikiran. Kekuatan pada pikiran yang membawa perilaku orang tersebut untuk merengkuh yang ada dalam pikiran tersebut. Jadi menurut Covey, mental creation precedes physical creation.

Perilaku ketiga, Put First Things First. Disini, Covey hendak mengingatkan kata kunci kemenangan berperilaku efektif ada pada titik kemampuan untuk mengelola waktu. Mengklasifikasi segala aktivitas dalam skala-skala prioritas yang jelas adalah hal yang penting. Prioritas penting dalam hidup ditempatkan pada Kuadran 1 seperti apa yang saya singgung di atas. Integritas dalam penentuan mana yang penting mana mendesak merupakan kata kunci. Tak heran, judul buku seri selanjutnya dari Covey ada yang diambil dari perilaku ketiga ini : First things First.

Perilaku keempat, Think Win-Win. Di sini Covey sungguh-sungguh mengingatkan bahwa hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan adalah selalu berpikir "menang-menang" dalam membina hubungan dengan siapa saja. Berpikir untuk "memanfaatkan" sebuah hubungan akan mengakibatkan salah satu "terluka". Sehingga secara jangka panjang hubungan baik akan susah dibangun lagi (kalau toh bisa membutuhkan waktu yang notabene tidak efektif).

Perilaku kelima, Seek First to Understand, Then to Be Understood. Hal ini mungkin sudah banyak yang tahu dan menyadarinya. Tapi kenyataan di lapangan, keinginan untuk dimengerti lebih dulu lebih meraja ketimbang mencoba untuk mengerti orang lain. Orang lebih lihai berorasi dan mengoceh tentang dirinya ketimbang belajar mencoba mendengarkan dengan seksama dalam komunikasi. Karena sama-sama ngotot minta dimengerti. Komunikasi saling pengertian yang seharusnya lebih singkat dan efektif menjadi lebih lama dan sama sekali tidak produktif.

Perilaku keenam, Synergize. Berperilaku ini amat mendukung perilaku efektif. Kemenangan kolektif akan lebih berharga ketimbang kemenangan parsial perseorangan. Menggapai sinergi itu bak menghargai perbedaan dengan lebih menghargai, membangun kekuatan bersama sekaligus "mengkompensasikan" masing-msing kekurangan yang kita miliki. Orang gagal berperilaku efektif gara-gara mengedepankan kekuatan yang dimiliki secara individu, serta meremehkan kelebihan orang lain.
Perilaku Ketujuh, Sharpen the Saw. Berperilaku ini  mengingatkan perlunya selalu ingat untuk "mengasah" kembali dan selalu memperbaharui  apa yang melekat pada diri kita (Fisik, hati, pikiran). Istilah yang pas yang dipakai saat ini adalah perlunya selalu men-charge baterai yang kita punyai agar selalu fresh dan tanggap. Hal ini bisa contoh literalnya bisa dilihat dari kuadran ke 2 (perilaku penting tetapi tidak mendesak) seperti selalu menyediakan waktu untuk mengenalkan bisnis yang kita miliki kepada orang lain (prospect) walaupun kita belum tentu tahu apakah langkah itu akan diterima atau tidak. Tapi untuk "memperbaharui" kesempatan, langkah ini tetap diambil bukan.

Demikian sekilas poin-poin yang disampaikan almarhum Stephen Covey. Ada pepatah "Harimau mati meninggalkan belang", Covey telah meninggalkan sebuah koin mata uang yang berlaku dimana-mana. Yakni poin-poin pengetahuan yang teramat berguna dalam memperkaya khazanh dunia manajemen dan bisnis. Rest in peace Prof.Covey……..

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog