Saturday, December 8, 2012

Quo Vadis Strategi Perindustrian Indonesia?

"Dalam abad global ini dibutuhkan industri yang tangguh dan kompetitif. Hanya industri demikianlah yang dapat menjadi pendorong tumbuhnya perekonomian, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan akhirnya mengurangi kemiskinan." – Airlangga Hartarto, 2004.

***
Paling tidak ada tiga fenomena bisnis global yang terjadi baru-baru ini dan menarik untuk dicermati. Dikabarkan (The Jakarta Post, 20 Nov 2010) bahwa LG group bakal meningkatkan investasinya di Indonesia demi memperkuat dominasinya di pasar elektronik lokal. Presdir LG Electronic Indonesia, Kim Weon Dae, menegaskan komitmennya, "We'll focus on creating a longterm portfolio and financial policies to become the number one electronic brand in this country." Dan menurut  GFK (Growth for Knowledge) sebuah lembaga riset independen berbasis di Jerman, di tahun 2009 LG telah mendominasi pasar elektronik Indonesia di 9 kategori: AC, mesin cuci, monitor LCD, TV LCD,  TV Plasma, Audio home-system, home-theaters, DVD players, dan Blue-ray DVD players. Untuk kesembilan kategori produk itu (dengan mempekerjakan 4500 karyawan, 22 kantor cabang yang disertai 174 pusat layanan purna jual yang tersebar di seantero Indonesia)  LG telah meraup lebih dari 30 persen dari total pasar elektronik di Indonesia. Kedua pabriknya di Indonesia selain berperan sebagai basis produksi untuk pasar lokal juga melayani  pasar global (diekspor). Bahkan kontribusi ekspornya adalah yang terbesar dalam porsi keseluruhan ekspor barang elektronik Indonesia yang tahun 2010 ini bakal berkisar sekitar USD$10 milyar, dimana porsi LG adalah sekitar USD$1,3 milyar atau 13 persennya.

Fenomena kedua adalah Garuda Indonesia (flag carrier kita) bakal beraliansi dengan SkyTeam, sebuah aliansi perusahaan penerbangan internasional. Dengan bergabung dalam aliansi ini Garuda  bisa menerbangkan penumpang dari para mitra yang tergabung dalam SkyTeam,
dan sebaliknya para penumpang Garuda pun bisa diterbangkan oleh airlines lainnya. Dengan demikian frekuensi penerbangan Garuda bisa lebih optimal.

Perusahaan penerbangan yang tergabung dalam SkyTeam ada 13, yaitu: Aerosoft, Aeromexico, AirEuropa, Air France, Alitalia, China Southern, Czeh Airlines, Delta Airlines, Kenya Airways, KLM, Korean Air, TAROM, dan Vietnam Airlines. Tentunya untuk bergabung dalam
aliansi ini Garuda perlu meningkatkan kualifikasinya dulu, misalnya: punya terminal yang dedicated, serta masih ada 29 kriteria lainnya yang mencakup jumlah pesawat, ketepatan waktu dan akses bagi para penumpang menuju bandara. Dan untuk itu, tim Garuda yang dipimpin sang CEO Emirsyah Satar, telah menjalin kesepakatan dengan PT Angkasa Pura II yang mengelola bandara antarbangsa SoeTa untuk meningkatkan segala fasilitasnya di terminal 2E dan 2F.

Fenomena ketiga, adalah terobosan grup Bakrie yang melakukan tukar guling sahamnya (di BUMI dan BRAU) dengan Vallar Plc, sebuah perusaaan investasi yang baru saja mencatatkan sahamnya di bursa London. Di belakang Vallar Plc ternyata ada nama besar dalam dunia
bisnis yaitu Rothschild (Nathaniel Rothschild – yang jadi Co-Chairman Vallar Plc pasca tukarguling bakal mendampingi Indra Bakrie yang didapuk jadi Chairman – adalah anak bungsu Jacob Rothschild generasi keempat keluarga Rothschild). Yang menarik, Nathaniel Rothschild lewat Vallar Plc yang baru saja (bulan Juli lalu) menjual sahamnya ke public (IPO) di bursa efek London, berhasil meraup dana US$ 1,07 miliar (laporan Tabloid Kontan, edisi 22-28 Nov 2010). Bahkan, dalam laporan keuangan periode enam bulan yang berakhir Sept 2010, Vallar hanya memperoleh revenue sebesar 772ribu poundsterling, dan lantaran mesti mengeluarkan biaya sebesar 20,75 juta pound maka perusahaan ini menanggung rugi bersih sebesar 21,54 juta poundsterling. Luar biasa sekali, hanya dengan nama besar Rothschild, ia mampu meraup dana sedemikian besar walau secara relatif perusahaannya belum punya aktivitas bisnisnya! Sebuah model bisnis yang semata-mata menjual citra-merek (brand image) Rothschild. Namun bagi grup Bakrie, kepemilikan di Vallar Plc (yang bakal diubah namanya jadi Bumi Plc) adalah sekaligus membuka akses – lewat teknik back-door listing ini – ke sumber-sumber pendanaan di London yang sangat kaya raya.

***
Memang, segala daya upaya akan dilakukan oleh korporasi(misalnya LG, Garuda & Bakrie/Vallar) – dari mana pun mereka berasal – untuk senantiasa menjaga business model-nya. Namun yang juga perlu diingat bagi kita di Indonesia saat ini adalah adanya masalah besar pengangguran yang sangat urgent untuk dicari solusinya. Pengangguran adalah soal ekonomi (produktivitas dan daya beli) serta sekaligus masalah sosial (kriminalitas) .

Penyediaan lapangan kerja – pada fase ini – adalah dengan jalan perindustrian. Karena itulah, investasi sektor perindustrian perlu segera – secara menyeluruh dan koheren – dikerjakan oleh Indonesia Incorporated. Namun sayangnya kita juga mendengar tentang cukup banyak korporasi yang merelokasi pabriknya ke luar Indonesia (lantaran hambatan-gangguan di pelbagai aspek, termasuk ekonomi biaya tinggi). Terjadi semacam gerak deindustrialisasi! Untuk itu kita mungkin perlu merenungkan kembali apa yang pernah dilansir oleh Airlangga Hartarto
(bukunya: 'Strategi Clustering dalam Industrialisasi  Indonesia', 2004), "Agaknya deindustrialisasi di Indonesia bukanlah proses alami dari majunya perekonomian. Ini lebih merupakan gejala memburuknya dunia industri, hancurnya daya saing serta pengelolaan kebijakan industri yang buruk dan tanpa arah." Quo Vadis?

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog