Friday, December 21, 2012

Ikujiro Nonaka : Inisiator Knowledge Management

Guru Manajemen satu sekaligus Professor Emiritus S-3 Corporate Strategy dari Hitotsubashi University ini memang mempunyai sederetan karier cukup mengkilap di bidang manajemen. Tulisan berulang kali mampir di Wall Street Journal. Kalau ada yang mempelajari dan mendalami tentang Knowledge Management, acuan buku Professor senior ini merupakan acuan yang wajib untuk dibaca. Tidak salah di tahun 2008, Wall Street Journal menjulukinya sebagai "The Most Influential Person on Business Thinking", The Economist memasukkannya dalam list "Guide to Management Ideas and Gurus" atas sumbangan ide-ide jenialnya di bidang manajemen dan bisnis. Di samping perihal Knowledge Management, tulisan-tulisan lain menarik  Prof.Ikujiro Nonaka yang perlu disimak antara lain Ba Concept, The Essence in Innovation (yang ditulis bersama Katsumi). Tapi tulisan kali ini mencoba sedikit mengulik SECI approach yang ditulis bersama Hirotaka Takeuchi, yang sering dibahas dalam perbincangan manajemen.

Prinsipnya, Nonaka hendak menyorongkan arti penting "knowledge creation" dalam organisasi (khususnya bisnis). Ada 2 pendekatan didalamnya, yakni explicit knowledge yang merupakan pengetahuan yang tertulis, ter-record, bisa ditelusuri dengan dengan bahasa lugas dan jelas. Sementara itu, tacit knowledge, merupakan kumpulan pengetahuan yang tidak tertulis, tapi melekat erat. Biasanya tacit knowledge berbasis pada observasi, pengalaman, kebiasaan yang tidak tertulis tapi melekat,tapi sesungguhnya melekat pada pikiran dan badan manusia. Oleh Nonaka, tacit knowledge ini merupakan key component dalam inovasi. Meremehkannya adalah sebuah kesalahan besar. Karena sumber kemenangan dalam kompetisi bisnis ada pada hal ini.
Nonaka dan Takeuchi memaparkan 4 model utama dari konversi informasi dan pengetahuan yang berbasis pada tacit dan explicit knowledge tadi:

Pertama, tacit to tacit yang sering disebut Socialization. Menurut Nonaka socialization disini termasuk menggalang pertemuan face to face secara intense, diharapkan dari pertemuan face to face akan didulang mekarnya empati yang diajak bertemu sehingga muncul rasa empati. Sebagai contoh, ketika tim Honda sedang mengembangkan Honda Fit di Eropa. Tim Honda mengirim misi tim-tim yang menyambangi kota-kota di Eropa untuk menelisik lebih lanjut gaya urban masyarakat kota Eropa. Dengan ditemani sekeranjang makanan dan beberapa botol wine dalam sebuah area parkir yang luas. Obrolan tentang "mobil masa depan" yang sesuai dengan harapan para kaum urban di Eropa pun berlangsung dengan nyaman. Beberapa masukan menarik dari obrolan itu jadi masukan menarik pengembangan Mobil Honda yang akan panetrasi ke Eropa.

Kedua, tacit to explicit, yang sering disebut Nonaka sebagai Externalization. Penekanan di titik ini adalah pentingnya menerjemahkan beberapa "tacit experience" dalam kata-kata atau gambar-gambar yang nantinya akan di-share ke dalam lingkup yang lebih luas. Misalnya, seorang service adviser di sebuah bengkel kendaraan bermotor ketika menjelaskan fungsi teknis alat di dalam mesin dengan menggunakan metafora barang yang gampang dipahami sehingga konsumen yang mendengarkan penjelasannya (yang notabene tidak berlatar belakang teknik) mampu mencerna dengan lebih cepat.

Ketiga, combination tacit and explicit, yang sering disebut Nonaka sebagai Combination. Pada level ini pengembangan tacit knowledge dapat mulai disebarkan ke seluruh lingkup organisasi (perusahaan) secara luas. Jadi pengetahuan yang tidak kelihatan yang samar dan sedikit dipahami orang akan menjadi informasi yang lebih luas sehingga akan lebih banyak orang dalam organisasi tersebut "dipersenjatai" dengan informasi yang sebelumnya tidak diketahui. Kombinasi ini kalau diulang berkali-kali dalam skala lebih luas akan menjadi sebuah "kekuatan" tersendiri ke depan. Banyak perusahaan Jepang menjadi maju dan leading karena tradisi ini terus terjaga dan berkembang dalam lingkup yang lebih luas.

Keempat, explicit to tacit, yang sering disebut Nonaka sebagai Internalization. Pada level ini penyerapan kembali explicit knowledge dalam daily practice merupakan kata kunci. Dalam hal ini, kesadaran akan penyerapan explicit knowledge yang lebih komplek dan luas menjadi pegangan utama. Misalnya, beberapa karyawan R & D diberi waktu off untuk mengamati barang yang dia design di tingkat konsumen. Mencoba mengamatinya, melihat plus-minus-nya di lapangan, kalau perlu mengobrol langsung dengan penggunanya. Sekembali dari waktu off-nya di lapangan, pengalaman melihat dan memahami tadi menjadi sebuah pengetahuan "baru" bagi dia dan organisasi, yang kemudian melekat menjadi kekuatan yang tidak disadari dalam organisasi.
Perputaran proses dalam SECI ini (Socialization, Externalization, Combination dan Internalization) kalau dilakukan secara berkesinambungan akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri dalam memenangkan persaingan di era "informasi" yang kian mengetat. Meminjam kata-kata Katsuki Watanabe, presedir Toyota "It is the continual dynamic synthesis of actual experience and abstract expertise [meaning tacit and explicit knowledge, respectively] that enables an organization to sustain innovation." Ya….penggulangan dalam SECI ini sesungguhnya sebuah inovasi menggelinding dalam organisasi.

Pendekatan SECI-nya Ikujiro Nonaka secara luas sudah dijadikan bahan rujukan. Menurut saya "kelemahan" mendasar dari pendekatan SECI di Knowledge Management ini adalah asumsi dasar organisasi perusahaan berbasis budaya Jepang yang masih menggenggam erat Long Life Employement secara ketat. Karena kalau karyawannya masih terlampau sering pindah, proses SECI itu akan sedikit tersendat. Perusahaan dengan frame of thinking barat (baca Eropa dan Amerika Serikat) akan sedikit kesulitan menerapkan hal itu sepenuhnya.

Sudahkan SECI diterapkan di perusahaan Anda?

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog