Monday, September 17, 2012

S&P: risiko resesi ganda AS meningkat tahun 2013

Peluang AS akan tergelincir kembali ke dalam resesi pada tahun depan telah meningkat, lembaga pemeringkat Standard & Poor`s mengatakan, mengutip risiko dari krisis utang Eropa dan pengetatan anggaran pada akhir tahun.

Perusahaan pemeringkat AS itu mengangkat kemungkinan AS jatuh ke dalam resesi menjadi 25 persen, naik dari kemungkinan 20 persen yang diperkirakan pada Februari, karena ekonomi terbesar dunia itu berjuang untuk pulih dari kemerosotan yang parah 2008-2009, lapor AFP.

Pihaknya juga menunjuk kemungkinan pemerintah dipaksa oleh hukum yang ada untuk memotong pengeluaran secara keras dan meningkatkan pajak pada 1 Januari, yang disebut `fiscal cliff` (jurang fiskal) yang akan menyumbat perekonomian.

"Kegiatan ekonomi telah menurun tajam dari awal tahun ini," kata S&P dalam sebuah laporan tentang kondisi kredit Amerika Utara di tengah ketidakpastian global, pada 20 Agustus. Pada saat yang sama, kemungkinan penularan dari krisis utang Eropa, potensi yang disebut `fiscal cliff`, dan risiko perlambatan ekonomi China telah menambahkan ketidakpastian yang lebih besar untuk prospek ekonomi AS," katanya.

Pada kuartal kedua, ekonomi terbesar dunia itu tumbuh 1,5 persen tingkat tahunan, penurunan tajam dari akhir tahun lalu sehingga pengangguran tetap terjebak di atas 8,0 persen. S&P menggarisbawahi kekhawatiran tentang dampak resesi di 17 negara zona euro, yang ekonominya mengalami kontraksi 0,2 persen pada kuartal kedua. S&P memproyeksikan sebuah kontraksi 0,6 persen tahun ini.

"Sebuah resesi ganda di Eropa yang mentransmisikan gejolak keuangan kepada AS bisa mendorong ke dalam resesi," kata lembaga itu. Namun, S&P mengatakan skenario untuk ekonomi AS itu - tetap "tumbuh moderat," memproyeksikan ekspansi produk domestik bruto sekitar 2,1 persen untuk tahun ini.

S&P juga mengatakan, pihaknya memperkirakan bahwa politisi akan setuju sebelum akhir tahun untuk mengubah pemotongan anggaran saat ini yang tajam dan mandat kenaikan pajak untuk menghindari nasib fiscal cliff. Namun, katanya, "Kami tidak yakin ekonomi AS dan Eropa akan meningkat secara substansial pada tahun depan.


Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia:

Harga tiga komoditas ekspor unggulan, yaitu batubara, karet, dan minyak kelapa sawit mentah, yang tahun lalu menyumbang devisa 32,80 miliar dollar AS, atau lebih dari 16 persen dari total ekspor nasional, terus berjatuhan. Dampak krisis ekonomi global mulai memukul petani dan petambang kecil.

Laporan dari sejumlah daerah, Minggu (9/9/2012), menunjukkan, petani karet, petani sawit, dan perusahaan tambang batubara menyatakan dampak krisis itu sudah terasa sejak beberapa bulan lalu. Harga ketiga komoditas yang merupakan tulang punggung ekspor Indonesia itu terus menurun di pasar internasional.

Penurunan harga yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah penurunan harga batubara. Harga di pasar internasional untuk kualitas 6.322 kilokalori per kilogram, yang pada Maret lalu mencapai 112 dollar AS per ton, kini hanya 84 dollar AS per ton. Harga saham perusahaan tambang, yang didominasi batubara, juga anjlok sekitar 25,03 persen dibandingkan awal tahun.

Di Provinsi Jambi, ekspor batubara Jambi yang selama ini hanya mengandalkan tujuan China dan India mengalami penurunan hingga 75 persen akibat anjloknya harga batubara dunia. Sejumlah kalangan usaha menyetop sementara aktivitas tambang batubara sambil berharap harga kembali normal.

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Provinsi Jambi, volume ekspor saat ini diperkirakan di bawah 100.000 ton per bulan, atau turun drastis dibandingkan tahun lalu yang masih 400.000 ton per bulan. "Pertambangan batubara Jambi sedang lesu," ujar Mirza, Direktur Eksekutif APBI Provinsi Jambi, di Jambi.

Kepala Kantor APBI Nur Hadi mengatakan, di Jambi ada sekitar 150 izin eksploitasi batubara, tetapi tidak sampai 10 usaha yang aktif beroperasi. Selain mengalami kekurangan modal investasi, sebagian pengusaha memilih berhenti beroperasi untuk menunggu kondisi harga batubara dunia membaik.

"Untuk sementara, pengusaha batubara hanya melakukan penambangan untuk menyelesaikan kontrak-kontrak lama, tetapi menyetop atau menunda pembuatan kontrak baru dengan importir sampai harga dunia membaik," ujar Nur Hadi.

Di Sumatera Selatan, para sopir angkutan batubara juga mengeluhkan sepinya pengguna jasa karena sejumlah perusahaan tambang batubara swasta di Kabupaten Lahat, Sumsel, mengurangi produksinya. Ketua Forum Transportasi Batubara Sumsel Tirta Jaya Wiharman mengatakan, setidaknya 500 sopir angkutan batubara di Lahat sudah beralih ke pengangkutan galian C sejak sebulan terakhir. "Pendapatan kami jelas turun drastis karena hanya mengantar galian C," ucapnya.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, kelesuan tambang batubara menjadikan sejumlah perusahaan mengurangi produksi. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Kalsel Heryozani Dharma mengatakan, krisis yang terjadi di Eropa berimbas ke Asia dan Amerika. Banyak industri di sana yang mengalami penurunan produksi sehingga kebutuhan batubaranya berkurang.

Data Distamben Kalsel memperlihatkan, produksi batubara tahun 2012 mencapai 61,34 juta ton. Jumlah ini separuh dari angka produksi tahun 2011 yang mencapai 138,78 juta ton. Dari angka produksi 2011, yang terjual (termasuk ekspor) mencapai 123,84 juta ton.

Direktur APBI Supriyatna Suhala di Jakarta menyatakan, harga komoditas batubara di pasar internasional sedang anjlok sejak beberapa bulan terakhir. Penurunan harga itu disebabkan China, yang merupakan negara tujuan utama ekspor batubara, mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi. Penyebab lain adalah terjadi kelebihan produksi batubara, terutama dari Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, dan Mongolia.

Karet

Komoditas karet juga terkena dampak krisis ekonomi. Di Sumatera Selatan, pendapatan petani karet mengalami penurunan hingga separuh dibandingkan pertengahan tahun lalu. Pertengahan 2011, harga karet di tingkat petani Sumsel Rp 13.000-Rp 22.000 per kilogram tergantung kualitasnya. Namun, kini, harganya anjlok hingga sekitar Rp 7.000 per kilogram.

Para buruh sadap kebun karet mengaku hasil dari menyadap getah karet tak memadai lagi untuk kebutuhan sehari-hari. "Pendapatan saya sekarang ini sekitar Rp 500.000 sebulan, beda sekali dengan tahun lalu sekitar Rp 1 juta sebulan. Utang menumpuk untuk makan sehari-hari," kata Amriyadi (63), buruh sadap di Kabupaten Musi Banyuasin.

Harga karet di Provinsi Jambi terus melemah bersamaan dengan kondisi pasar internasional. Tidak hanya itu, hasil panen yang menurun sepanjang musim kemarau ini membuat petani karet semakin lesu.

Pekan ini, harga getah karet di tingkat petani anjlok menjadi Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram untuk kualitas karet 50-55 persen. Padahal, harga karet masih menyentuh Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram pada Januari lalu.

Menurut Darmi, petani karet di kawasan perkebunan rakyat Ness, Kabupaten Muaro Jambi, penurunan harga terus terjadi khususnya sejak akhir Mei lalu. Petani sulit mengendalikan harga karena perkembangan mengacu pada kondisi pasar dunia. "Harga yang ditetapkan pabrik terus turun, katanya karena pasar global sedang lesu," ujarnya.

Hal senada dikemukakan pengurus Koperasi Tani Karet Budi Utomo, Karyadi. Menurut dia, penurunan disebabkan melemahnya permintaan pasar yang terdampak oleh krisis ekonomi, khususnya di wilayah Eropa. Banyak pabrik di Jambi kini kesulitan order sehingga hasil karet tidak terserap.

Sawit

Harga jual tandan buah segar (TBS) sawit di Kalimantan Selatan cenderung fluktuatif. Ketua Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia Kalsel Untung Joko W mengatakan, fluktuasi harga TBS tahun ini 10 persen lebih, padahal tahun lalu hanya sekitar 5 persen. "Penurunan tajam terasa Juni lalu. Saat itu harga di bawah Rp 1.500 per kilogram," ucapnya.

Menurut Untung, setelah turun pada Juni-Juli, harga TBS sempat naik pada Juli-Agustus. Namun, pada Agustus-September harganya diperkirakan akan turun lagi.

Untuk kondisi di lapangan, kata Untung, sejauh ini belum ada pengusaha atau petani yang mengurangi produksi karena panen TBS tidak bisa ditunda.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog