Wednesday, September 19, 2012

Demokrasi yang Tergerus Superkapitalisme

Perlu digarisbawahi, demokrasi oligarkis yang mulai menggejala di Indonesia sebagai akibat dari terjebak dalam kapitalisme politik itu, bukan hanya terjadi dalam kehidupan politik kita, melainkan telah menjadi gejala umum di negara-negara demokratis.

Amerika Serikat sendiri yang selama ini dapat dikatakan sebagai sokoguru demokrasi modern, ternyata masyarakatnya sedang kehilangan kepercayaan terhadap demokrasi seperti itu.

Setidaknya, itulah Robert B Reich, seorang pemikir dan ahli ekonomi Amerika Serikat dalam bukunya Supercapitalism (2008), bahwa demokrasi saat ini seperti di Amerika, sesungguhnya sedang meratapi demokrasi yang menurutnya telah mandul karena gerusan superkapitalisme, yang membuat demokrasi tidak lagi setia pada misi pokoknya mendorong kesejahteraan rakyat.

Mengapa? Karena kultur kebebasan dan kesetaraan yang dipromosikan demokrasi yang diyakini dapat mendobrak ekonomi negara, ternyata kini hanya menghasilkan pemerintahan yang dijalankan berdasarkan kapentingan besar segilintir orang yang sedang mengejar kepentingan dan keuntungannya sendiri, tanpa memedulikan kepentingan masyarakat dan bangsa. Kesejahteraan rakyat kian terkubur dalam makam-makam kapitalisme politik.

Pertanyaan yang layak teradopsi di sini, apakah wajah demokrasi seperti ini layak dipertahankan dan dikembangkan? Atau, apakah ke depannya, kita akan terus mengalami demokrasi seperti ini? Kita tegaskan bahwa ini bukan salah demokrasi.

Baik buruknya demokrasi tergantung pada bagaimana kita menyikapi, mengelola dan mengembangkan demokrasi sesuai dengan hakikat dan prinsip demokrasi itu, yang sesungguhnya bukan untuk kepentingan para kapitalis politik, tetapi semata untuk kesejahteraan rakyat.

Karena itu, demokrasi harus terus-menerus dicermati, diwacanakan secara kritis, didiskusikan secara jernih untuk kemudian dikelola secara tepat sesuai dengan hakikat demokrasi dus budaya peradaban bangsa, agar tidak berbalik merusak dan meremukkan peradaban politik bangsa sendiri.

Kini, kita harus sadar bahwa dengan terus merebaknya kapitalisme politik, demokrasi itu sendiri telah tergusur dari hakikat dasarnya. Kita harus berjuang mengembalikannya ke ranah demokrasi yang beretika, bermoral dan berbudaya sesuai dengan budaya dan peradaban bangsa. Jika tidak, demokrasi kita tinggal puing dan kita kian terperangkap, bingung dan tak berdaya dalam puing demokrasi itu.

Krisis global pun tampaknya masih akan mengiringi kehidupan dalam waktu lama. Dampaknya, masyarakat semakin jauh menjangkau produk-produk. Dunia juga masih merasakan efek destruktif krisis finansial dunia akibat bunga pembelian rumah yang tinggi untuk nasabah subprima beberapa waktu lalu, khususnya mereka yang berpenghasilan cekak.

Krisis pun meluas, merentang dari Amerika Serikat hingga Eropa. Indonesia terus berjaga-jaga, terutama terkait volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan. Tak ayal, situasi tersebut kembali memunculkan kritik pada kapitalisme karena dianggap menjadi biang krisis dunia.

Kalau ditilik sejarahnya, agama memiliki peran dalam kelahiran kapitalisme. Setidaknya, ada empat agama besar dunia yang langsung atau tidak berkaitan dengan meluasnya paham tersebut. Sosiolog Max Weber (1864-1920), dalam The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism (1904), menjelaskan bahwa etika Protestanlah yang membidani lahirnya sistem ekonomi yang rasional dan modern. Etika tersebut berasal dari sekelompok orang Eropa dan Amerika yang melahirkan sistem usaha bebas dalam bentuknya yang modern dan efi sien, sebuah sistem yang disebut kapitalisme.

Sebelumnya, dalam sejarah memang sudah ada pertukaran bebas barang dan jasa serta usaha meraih laba. Akan tetapi, sistem usaha bebas yang menjalankan mekanisme rasional seperti pembukuan, organisasi impersonal, dan sebagainya baru terbentuk setelah revolusi protestantisme yang meyakini bahwa keberhasilan dalam urusan duniawi, termasuk memenuhi hajat ekonomi, cerminan dari terwujudnya kehendak Tuhan.

Oleh karena itu, bekerja keras, menabung, dan berhemat dikategorikan sebagai ibadah yang bernilai etis dan moral. Apalagi jika kekayaan itu kemudian dimanfaatkan untuk menolong sesama manusia. Etika itu juga "mengajarkan" seseorang telah ditentukan di dalam hidup. Mereka yang sukses menggambarkan bakal menikmati hidup abadi. Maka dari itu, orang Amerika lalu bekerja keras agar sukses karena tidak mau dinilai gagal yang berarti jauh dari hidup abadi. Itulah sebabnya Amerika maju, begitulah tesis Weber.

Sebagaimana dikemukakan Weber dalam bukunya yang lain, Ancient Judaism (1921), alasan doktriner di balik pengutamaan sistem kapitalisme oleh Yahudi pun setali tiga uang dengan justifi kasi etika protestantisme terhadap kapitalisme. Penganut Yudaisme sebagai manusia berakal harus berusaha sebisa mungkin mewarnai dan bahkan menaklukkan dunia demi mengatasi segala kekurangan di muka Bumi.

Meski sempat dikritik Weber sebagai etika yang menghalangi perkembangan kapitalisme, fakta sejarah saat ini membuktikan hal sebaliknya. Konfusianisme justru mampu merevisi kapitalisme yang limbung di era krisis global sekarang. Sebab, China sebagai negeri asal Konfusius (551-479 sebelum Kristus) kini justru mengalami pertumbuhan ekonomi impresif.

Pertumbuhan itu terjadi karena China menerapkan kapitalisme negara yang digerakkan etika konfusianisme. Etika itu mengajarkan negara harus dibangun berdasarkan negara-keluarga serta dijalankan secara hierarkis dalam satu organisasi sosial yang otokratis.

Konfusianisme sangat mengutamakan kolektivisme. Maka itu, siapa pun harus mengedepankan kepentingan orang lain di atas keinginan pribadi serta menekankan kerja sama. Singkatnya, spirit konfusianisme adalah gotong-royong dan ini melahirkan kapitalime negara seperti disebut Ian Bremmer (1969) - dalam The End of Free Market (2010).

Kapitalisme versi China memanfaatkan BUMN dan swasta yang loyal secara politik untuk mendominasi sektor-sektor strategis seperti penerbangan, telekomunikasi, dan produksi senjata.

Selain itu, China menggunakan BUMN untuk mengeksploitasi sumber daya seperti migas demi menciptakan lapangan pekerjaan. Berdasarkan skema ini, negara menjamin pengejaran kepentingan pribadi (swasta) asalkan ikhtiar itu untuk kepentingan masyarakat.

Dawam Rahardjo dalam Etika Ekonomi dan Manajemen (1990) mengatakan, teologi Islam menganut pandangan egalitarian. Oleh karena itu, umat manusia harus melepaskan segala belenggu yang memperbudak dirinya. Islam mengkritik masyarakat Mekah yang cenderung bercorak kapitalistis yang kental. Masyarakat Mekah gemar mengakumulasi kapital. Maka itu, perisitiwa hijrah dari Mekah ke Madinah dapat diartikan sebagai keinginan Islam membangun masyarakat baru nonkapitalistis.

Berbeda dengan Mekah, Madinah waktu itu belum membentuk formasi sosial ekonomi yang baru. Lembaga pemilikan perorangan pada umumnya tak dikenal. Dengan kata lain, struktur so sial Madinah memungkinkan tumbuhnya nilai-nilai egalitarian. Tugas umat atau manusialah untuk membongkar segala struktur alias bangunan infrastruktur ekonomi dan suprastruktur ideologi yang menghambat realisasi masyarakat egaliter tersebut.

Namun, di sisi lain, ciri umum kapitalisme adalah pemilikan perorangan atas alat-alat produksi, kebebasan berusaha, pe ngejaran laba, produksi untuk pasar, ekonomi uang, mekanisme persaingan, dan rasionalitas dalam perilaku usaha. Pendeknya, saripati kapitalisme adalah rasionalitas. Sebab, dengan rasio itulah manusia melakukan kalkulasi untung-rugi.

Kesejahteraan

Pertanyaannya kemudian, jika kapitalisme memiliki kaitan dengan agama, mengapa manusia kini terbelit krisis finansial global yang demikian berat? Jawabannya, manusia telah menanggalkan spirit agama dari kapitalisme. Aki batnya, kapitalisme mengalami per ubahan dari kesejahteraan yang ber sendikan agama dan berwajah kemanusiaan menjadi hanya bertujuan menumpuk modal pada segelintir orang saja.

Meminjam tamsil Michel Wieviorka, kapitalisme berwajah kesejahteraan dicederai superkapitalisme pemegang saham di mana perusahaan tidak lagi mengenal batas kedaulatan negara dan mengontrol hampir semua sektor ekonomi dunia. Tujuan perusahaan dalam sistem kapitalisme baru yang kosong dari etika agama ini memuaskan dahaga para pemegang saham akan efi siensi demi mendapat keuntungan sebear-besarnya. Parahnya, upaya tersebut sering harus merusak lingkungan, berkongkalikong dengan birokrat, bekerja sama dengan preman, dan sebagainya.

Akhir kata, krisis global saat ini janganlah disimpulkan sebagai senjakala kapitalisme. Sebaliknya, krisis seyogianya menjadi peringatan bagi dunia untuk memutar haluan kapitalisme dari superkapitalisme pemegang saham menuju fitrah awalnya sebagai kapitalisme kesejahteraan yang memiliki etika agamis. Itulah jiwa asli kapitalisme yang ingin mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog