Sunday, May 6, 2012

Soal Memberi pelajaran damai bagi Malaysia

"Apakah kebaikan berbanding lurus dengan keburukan? Saya rasa, tidak. Jika, mereka berbanding lurus,manusia dan Tuhan tak usah bersusah-payah mengangkat-ngangkat kebaikan [Sorga] dengan menunjuk NabiNya, beramal setengah mati, berjuang susah-payah melawan kejahatan dan dosa,  menumpuk amal, dst. Tetap saja yang dilakukan manusia, pada umumnya buruk adanya, termasuk negeri tetangga kita, terhadap 3 TKI NTB yang ditembak mati oleh 3 polisi Malaysia secara brutal, di kepala dan dadanya.

Pengalaman membuktikan kepada kita semua, kejadian-kejadian yang merugikan Indonesia, karena ulah Malaysia ini, terus berulang-ulang, tak putus-putusnya, setiap tahun, ada saja, seperti secara sistematis. Tetangga yang tak kooperatif dan tak tahu diri. 

Pelajaran bagi Indonesia sendiri, rupanya belumlah cukup. Indonesia, masih dipandang sebagai negara lemah, mudah disepelekan, dan diperlakukan tidak adil.

Sejarah membuktikan, Indonesia tak pernah "galak" seperti Soekarno, sejak peristiwa "konfrontasi" Indonesia melawan Malay tahun 1962-1966, dengan kasus dekolonisasi Brunei, Sarawak dan Sabah. Tepatnya setelah Soeharto, berkuasa di akhir 1965 setelah G30S/PKI. Ketika itu, 3 Mei 1964, Soekarno memberi perintah "Dwikora" [dwi komando rakyat] dan diikuti oleh "ganyang Malay" tgl 27 Juli 1964 dan peperangan fisik yang mengorbankan, paling tidak 2000 nyawa rakyat/tentara Indonesia. Malay, dibantu Inggris dan temannya, Australia, melalui gurkha dan special air service.

Konferensi Bangkok, 28 Mei 1966, mengakhiri kekerasan fisik Indonesia-Malay. Sejak itu, Malay jadi "berani" ke Indonesia, sebaliknya Indonesia jadi "takut" ke Malay. Kebijakan "stel kalemnya" Soehartolah yang membentuk kultur lemah dan penurutnya Indonesia terhadap Malay.

Tetapi, pengalaman membuktikan, perang fisik tsb., adalah "emosi-nasionalisme " yang meledak-ledak yang dibakar oleh "kemarahan harga diri" pemimpinnya. Perang fisik, tetap bukanlah solusi terbaik dan bukan tindakan yang bijak. 

Lawanlah Malay dengan 3 kecerdasan
Jika ingin "membalas keburukan" Malay atas Indonesia yang terus-menerus itu, kita harus meninggalkan konsep "jahat balas jahat", "mata balas mata", "nyawa balas nyawa", atau cara-cara fisik 3 kekerasan DOT "dengkul, otot, dan tombak."  Lawanlah Malay dengan IQ, EQ dan SQ. Bagaimanakah itu? Lawanlah Malay dengan damai, janganlah dendam, janganlah sakit hati, tetapi dengan 3 kecerdasan.

Kecerdasan intelektual, lawanlah Malay dengan kepandaian. Berjuanglah sangat keras, agar TKI yang dikirimkan ke Malay "berkualitas" atau jangan mengirimkan TKI yang bodoh, lalu bisa "diakali" majikannya, diperkosa atau dibunuh. Janganlah pakai produk Malay yang masuk ke Indonesia, seperti CIMB Niaga, BII Maybank, XL, Air asia, Petronas, mobil Proton, Sime Darby [perkebunan besar di Sumatera]. Jadilah bangsa yang cerdas, agar jangan sampai Malay bisa membeli saham perusahaan di Indonesia dan berkuasa [meski saat ini ke 7 usaha besar itu memberi lapangan kerja bagi rakyat Indonesia]. Jadilah seperti Abu Dhabi yang menciptakan alat penurun hujan di gurun pasir sendiri. Jadilah bangsa mandiri dan kuat. Atau, perbesarlah brand quality & image bangsa sendiri, lalu loyallah pada produk dalam negeri sendiri, bukan ke produk Malay. Misalnya, jika pilih operator, pilihlah telkomsel atau telkom, jika pakai bank, pilihlah Mandiri, BRI, BNI atau BCA, jika pakai mobil, pilihlah non-Malay, jika beli bensin pergilah ke Pertamina, dst. Itu melawan Malay dengan cerdas, bukan membakari Petronas atau memusnahkan tower XL, misalnya.

Kecerdasan emosional, lawanlah Malay dengan senjata pertemanan dan persahabatan sebagai tetangga. Kemarahan emosional yang disalurkan lewat teguran dan peringatan sebagai "teman", lebih masuk, ketimbang mengutuki mereka sebagai musuh bebuyutan. Sebagai tetangga dekat, kita tentu tidak mau kedutaan KBRI kita [yang meski payah kinerjanya dalam kaitan dengan perlindungan 3 TKI NTB yang mati baru-baru ini], dibakar warga Malay, dan sebaliknya, kita juga tidak mau menjarah dan membakar kedutaan Malay di Jakarta, seperti zaman "ganyang Malay."

Melalui jendela kerjasama bisnis to bisnislah, Indonesia harus bisa masuk ke wilayah Malay, membeli saham dan menguasai XL di Malay, Pertamina membeli saham Petronas, Bank Mandiri atau Astra membeli saham CIMB Niaga, dst. Harus lebih banyak mahasiswa Malay yang belajar di tanah air, seperti tahun 1970-1980an, jangan sebaliknya. 

Depnakertrans dan BNP2TKI, harus lebih tegas kalau perlu marah konstruktif dan punya "taring perkawanan" melawan keangkuhan kerajaan Malay, termasuk mendorong Malay meratifikasi komitmen perlindungan tenaga kerja via konvensi PBB tahun 1990 tentang hak buruh, dst dst. Itu bisa dilakukan jika tetangga mau berteman, bukan bermusuhan.     

Kecerdasan spiritual, lawanlah Malay dengan senjata keimanan dan kedamaian. Kebetulan 2 tetangga ini, agamanya dan suku bangsanya serumpun mirip sama, khas melayu, bercorak mayoritas Islam. Dengan pendekatan ke-Islam-an, melalui kerjasama MUI dan Majelis Ulama Malay [mufti di 13 negeri dan 1 wilayah persekutuan] , tentu sinergi kerohanian akan lebih "dingin." Kesejukan hubungan tetangga yang sama kepercayaannya ini, akan menjamin hubungan bilateral ke 2 negara, lebih indah, tidak saling menyakiti dan merugikan satu sama lain, justru menjaga harmonisasi dan rasa keadilan di 2 negeri agamis ini. Itulah manfaat beragama.   

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog