Friday, August 26, 2011

How Washington F**k*** the budget, RI harus belajar mencegah defisit.

Bush tax cuts: 2001, 2003 and 2006

Bush tax cuts: 2001, 2003 and 2006

After a brief few years of budget surpluses at the end of the Clinton administration, lawmakers opened the new century by blowing a hole in the budget with major tax cuts.

The Bush tax cuts carried an initial 10-year cost estimate of $1.35 trillion, according to the Congressional Budget Office. They were reauthorized and expanded in 2003, and then again in 2006. In 2010, President Obama signed another extension.

The cost of the latest two-year extension? $544.3 billion.

Proponents argued that the tax cuts would spur economic growth. But Democrat Tom Daschle, then the Senate majority leader, warned in 2001 that the cuts were too large and too expensive. "I just know that at some point that reality is going to come crashing down on all of us and we're going to have to deal with it," Daschle said.

AS-Eropa di Ambang Krisis

Hutang AS 100% PDB. Defisit anggaran 5%/tahun, sedangkan pertumbuhan ekonominya hanya 2% s.d 3%. Artinya masih ada defisit 2% a/d 3%/tahun antara defisit anggaran dan pertumbuhan ekonomi. Seperti mustahil AS bisa lunasi hutangnya, karena defisit anggaran pastinya ditutupi dengan utang baru bukan oleh aktivitas ekonomi akibat adanya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonominya belum cukup mampu mengongkosi defisit anggaran. Andaikan rata-rata AS surplus 1%/tahun, maka hutang AS baru lunas 100 tahun.

Eropa juga setali tiga uang. Hutang antara 80% s/d 100% PDB namun dengan pertumbuhan ekonomi yg lebih rendah hanya 1% s/d 2%. Darimanakah mereka bisa melunasi hutang dengan kondisi perekonomian seperti itu ? Cara cepatnya dengan mencetak uang.

War funding: 2001 to present

War funding: 2001 to present

In order to fund wars in Iraq and Afghanistan, Presidents Bush and Obama have spent more than $1 trillion on direct costs alone. On top of that, annual defense spending has just about doubled since 2001, rising to almost $700 billion in 2010. Military spending now accounts for more 20% of the entire federal budget.

Obama ordered more troops to Afghanistan in 2009, while he has simultaneously drawn down forces in Iraq. Costs are still sky-high. In February, Obama requested $118 billion to fund the wars just for fiscal year 2012.

TARP bailouts: 2008

TARP bailouts: 2008

In October 2008, Congress authorized the Treasury Department to spend up to $700 billion to help stabilize financial markets.

The money would be used to bail out banks and Wall Street firms, finance General Motors and Chrysler's trips through bankruptcy and help homeowners modify mortgages they could no longer afford. When lawmakers authorized Treasury Secretary Henry Paulson (right) to tap the aid, it was unknown how much would ever be returned to the Treasury. Turns out, the bank bailouts have turned a small profit, while taxpayers are still holding the bag for bailouts for the auto industry and AIG.

According to the latest CBO estimate, TARP -- the whole program -- will ultimately cost taxpayers $19 billion.

Pekan-pekan gejolak di pasar saham telah membuat para pemimpin Eropa dan AS semakin terbuka pada kemungkinan untuk mengeluarkan pernyataan soal resesi. Para analis sudah lebih dulu menyatakan resesi akan terjadi. Ekonom menyatakan negara maju belum stabil.

Kepanikan masyarakat umum dan kepanikan di pasar finansial soal potensi resesi telah membuat konsumen dan pebisnis menghemat pengeluaran. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi AS dan Eropa akan kembali anjlok setelah tertimpa resesi pada 2008.

Pemerintahan juga mendapatkan tekanan dari pasar dan dari sisi politik untuk mengurangi pengeluaran. Pada saat keuangan negara tertimpa utang, pemerintah sulit menangkal krisis dengan menggelontorkan dana sebagai stimulus ekonomi.

Pekan lalu, angka sudah berbicara. Pertumbuhan ekonomi di zona euro—17 negara pengguna mata uang euro—hanya 0,2 persen pada kuartal kedua. Ekonomi Jerman, mesin pertumbuhan nomor satu di zona itu, juga hanya tumbuh 0,1 persen.

Morgan Stanley telah memperingatkan AS dan Eropa sedang memasuki masa resesi. Pertemuan antara pemimpin Jerman dan Perancis juga tidak berhasil meyakinkan bahwa mereka dapat menyelesaikan masalah utang di zona euro.

Kombinasi kabar-kabar buruk itu membuat harga saham global jatuh lagi. Indeks S&P 500 di AS turun 4,7 persen dalam satu pekan dan turun 15,3 persen dalam satu bulan belakangan ini. Indeks FTSE 100 Inggris turun 12,5 persen dalam sebulan, CAC 40 Perancis melemah 18,4 persen, bahkan DAX Jerman melorot 23,8 persen hanya dalam satu bulan.

Nilai aset sebesar triliunan dollar AS lenyap dalam sekejap akibat penjualan saham. Para investor mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman, yaitu obligasi Pemerintah AS, franc Swiss, dan yen Jepang.

Ekonom dari AS dan Eropa memangkas proyeksi pertumbuhan. "Kami merevisi perkiraan pertumbuhan AS dan Eropa karena sedang mendekati resesi berbahaya, julukan bagi kontraksi pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut, yang diperkirakan akan terjadi selama 6-12 bulan mendatang," demikian dikatakan Morgan Stanley.

Kurang senjata

"Kebijakan intervensi dari Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral AS, dan Pemerintah AS tidak tepat," ujar John Silvia, ekonom di Bank Wells Fargo, AS. Bagi Eropa dan AS, tak ada ruang lagi untuk menurunkan suku bunga untuk menstimulasi pertumbuhan. Bank sentral dapat menekan perbankan agar mengucurkan lebih banyak lagi uang ke pasar komersial, tetapi tidak jelas apakah hal itu dapat menstimulasi perekonomian.

Di Eropa, negara yang lebih kaya juga mulai mengalami gangguan keuangan karena telah memberikan dana talangan ke Yunani, Portugal, dan Irlandia. "Kami masih memerlukan solusi yang berarti di Eropa. ECB tampaknya tidak dipersenjatai untuk memecahkan krisis," ujar Chris Low dari FTN Financial.

Di AS, beberapa ekonom menyerukan agar ada program pembangunan industri seperti yang pernah dilakukan sehingga negara itu dapat bangkit dari Depresi Besar tahun 1929.

Dalam beberapa pekan ini, Presiden Barack Obama diharapkan mengungkapkan inisiatif untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Bank Sentral AS sudah menyiratkan masih memiliki senjata untuk meningkatkan pertumbuhan. Dalam pidatonya Jumat mendatang, diharapkan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke akan mengungkapkan apa yang akan dilakukan.

Goldman Sachs juga telah memeringkatkan program pengurangan anggaran akan menurunkan pertumbuhan ekonomi AS lebih dari 1 persen.

Debt at the breaking point

Debt at the breaking point

There is plenty of blame to go around for the nation's current budget troubles. Democrats and Republicans alike pushed major legislation that increased government spending, without corresponding increases in revenue.

Of course, there was also the deep recession, which started in 2007 and caused tax revenue to plummet.

Today, the national debt stands at more than $14 trillion, and Washington is gearing up for a brawl over the debt ceiling, which will have to be raised sometime in the next month or so. Both sides agree the debt must be addressed, though there's little agreement on how to get there. Stay tuned!


Indonesia, Ekonomi Kuat dengan Karakter Unik "Saya rasa tidak ada negara yang bisa menyamai karakteristik ini". (CEO Standard Chartered Indonesia, Tom Aaker)

Gejolak yang terjadi di pasar saham beberapa waktu lalu menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan ekonomi global. Penurunan rating AAA menjadi AA+ oleh Standard & Poors menimbulkan spekulasi kemampuan Amerika mengelola anggarannya.

Krisis di Amerika itu berdampak terhadap pasar saham global, yang mengalami koreksi cukup tajam. Pasar saham di Indonesia beberapa hari ikut terpengaruh, meski saat ini mulai mengalami kenaikan.

Dikhawatirkan Indonesia juga ikut terkena dampak seperti krisis finansial 2008, meski tak separah negara lain. Indonesia dinilai memiliki banyak kekuatan seperti permintaan domestik yang cukup tinggi, dan persentase ekspor ke Amerika yang tidak terlalu besar dibanding negara tetangga seperti Singapura.

Apakah gejolak kali ini akan berdampak besar ke Indonesia? Berikut wawancara VIVAnews.com dengan CEO Standard Chartered Bank Indonesia, Tom Aaker, mengenai seputar hal tersebut, Senin, 15 Agustus 2011.

Menurut Anda, gejolak yang terjadi di Amerika akan berdampak besar terhadap Indonesia?

Saya pikir tidak terlalu berdampak secara langsung secara keseluruhan. Indonesia memiliki perekonomian yang kuat, dan peringkatnya akan segera naik tahun depan. Investor akan melihat ke Indonesia. Mereka tidak peduli dengan peringkat Amerika, tapi lebih ke bagaimana perekonomian Indonesia. Jadi saya berpikir ini tidak akan berdampak secara langsung.

Namun, banyak investor khawatir gejolak di Amerika akan merembet ke Eropa, seperti Prancis, yang dikhawatirkan bisa memicu krisis global seperti yang terjadi pada 2008. Bagaimana menurut Anda?

Pertama saya tidak setuju Prancis akan ambruk. Prancis negara dengan rating AAA, jauh dari kondisi itu. Meski jika ratingnya diturunkan, masih AA. Indonesia hanya BB. Jadi ada perbedaan besar, mereka mungkin peringkatnya turun, namun Indonesia akan mengalami kenaikan rating. Bank sentral di Eropa juga pasti akan melakukan sekuat tenaga untuk membantu negara yang bermasalah.

Apakah gejolak yang terjadi di AS akan berdampak pada likuiditas di pasar keuangan internasional yang pada akhirnya akan mempengaruhi Indonesia?

Saya rasa tidak. Perekonomian di Indonesia sangat kuat, tidak terlalu bergantung negara lain untuk ekspor , permintaan domestik besar ini menjadi kunci pertumbuhan utama.

Indonesia tidak terlalu bergantung dengan negara lain seperti Amerika dibanding negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia. Ekspor mereka ke Eropa dan Amerika cukup besar, sehingga jika Amerika terkena resesi, akan merusak ekspor mereka. Di Indonesia persentase lebih rendah, sehingga masih kuat.

Jadi menurut Anda Indonesia memiliki ekonomi yang lebih kuat? Ya. Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang paling kuat di dunia. Prediksi kami pada 2012, pertumbuhan ekonomi (GDP) akan tumbuh 6,5 persen. Ini pertumbuhan yang kuat.

Menurut Anda apa potensi besar yang dimiliki Indonesia? Saya pikir Indonesia memiliki banyak populasi muda atau SDM yang usianya masih produktif. Mungkin 51 persen di Indonesia terdiri dari kalangan muda. Ini adalah hal yang positif, karena pada 20 tahun lagi mereka akan memasuki dunia kerja.

Mereka akan menjadi pribadi yang produktif, dan berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini sangat menarik bagi kami. Sekitar 15-20 tahun lagi dari sekarang, mereka akan memiliki pekerjaan, memiliki rekening, membeli rumah, membutuhkan pinjaman, kartu kredit. Ini menguntungkan bagi dunia perbankan, termasuk Standard Chartered Bank. Jutaan orang berpendidikan di Indonesia.

Di negara lain seperti di Jepang memiliki populasi masyarakat dengan usia tua. Mereka membutuhkan pelayanan kesehatan, jaminan sosial. Sementara Indonesia memiliki produktivitas pekerja karena memiliki demografi yang positif (usia produktif).

Negara mana yang karakteristiknya mendekati Indonesia? Saya pikir Indonesia itu unik dan mempunyai ekonomi yang besar. Pertumbuhannya PDB diperkirakan bisa mencapai hampir US$1 triliun [pada 2014], ini sangat besar, ditambah dengan populasi penduduk usia muda, defisit APBN yang rendah, utang pemerintah tidak terlalu tinggi, saya rasa
tidak ada negara yang bisa menyamai karakteristik ini.

Ini profil yang bagus untuk sebuah negara. Mungkin negara yang hampir sama itu India, negara demokrasi dengan pertumbuhan kelas menengah yang bagus. Namun, India memiliki masalah dengan angka kematian yang tinggi. Indonesia tidak memiliki masalah itu. Indonesia memiliki profil yang lebih bagus. Ini menarik perhatian saya.

Apa yang perlu dibenahi untuk meningkatkan potensi Indonesia? Saya pikir ada dua hal penting yang harus dibenahi untuk negara yang tengah tumbuh seperti Indonesia.

Pertama, pendidikan. Saya rasa ini harus menjadi prioritas utama, bahwa anak muda di Indonesia mendapatkan pendidikan yang bagus, meningkatkan produktivitas.

Kedua, infrastruktur yang selama ini masih lemah. Tidak ada jalan tol baru, bandara, pelabuhan, pembangkit. Ini menghilangkan kesempatan. Kita lihat ekonomi Indonesia tumbuh 6,5 persen dan jangan sampai momentum ini hilang karena lemahnya infrastruktur. Jika Indonesia memperbaiki kedua hal ini, akan menjadi negara lebih besar dan lebih sukses.

Saat ini beberapa negara di Asia, seperti Cina, diramalkan mengalami overheating. Apakah Indonesia akan mengalami hal yang sama? Banyak orang memang membicarakan inflasi di China. Namun saya rasa inflasi di Indonesia bisa dikontrol. Prediksi kami inflasi tahun ini 5 sekitar persen, ini masih wajar.

Saya rasa bank sentral memiliki banyak alat untuk meredam inflasi agar tetap rendah. BI memiliki cara untuk meredam overheating. Saya rasa sedikit risiko Indonesia untuk mengalami overheating.

Apa strategi Standard Chartered di Indonesia? Ini menarik untuk kami saat ini. Standard Chartered sudah cukup lama di Indonesia. Banyak sejarah. Yang paling menarik adalah kondisi saat ini. Untuk kami, ini berarti percepatan bisnis, ekspansi bisnis, kami akan terus tumbuh.

Tahun lalu kami banyak membuka cabang, karyawan. Kami ingin terus tumbuh untuk menjadi bank yang besar. Kami ingin terus menambah nasabah, karyawan, memperluas kredit, dan menambah kesempatan karena Indonesia adalah pasar yang atraktif. Kami juga ingin meningkatkan pangsa pasar.

Kelas menengah Indonesia meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini potensi besar? Tentu saja. Populasi muda, banyak membutuhkan produk perbankan. dengan kelas menengah yang terus akan lebih besar ini kesempatan bagi kami.

Saat ini berapa pangsa pasar Stanchart? Pangsa pasar kami masih kecil yaitu 2 persen. Meski pangsa pasar naik menjadi 3 persen, itu bisnis yang besar sekali. Kalau itu tercapai kami sangat senang sekali, karena pasar di Indonesia sangat besar.

Apa fokus bisnis Stanchart? Di Indonesia kami fokus di wholesale banking atau corporate banking. Kami memiliki dua bisnis yaitu corporate banking dan consumer banking seperti kartu kredit. Wholesale banking lebih dari 50 persen, dan consumer banking kurang dari 50 persen.

Apa tanggapan Anda terkait rencana BI yang akan membatasi kepemilikan saham perbankan? BI belum mengeluarkan peraturannya secara resmi. Selama ini kami hanya
mendenger rumor, kemungkinan. Sejauh ini kami tidak tahu. Kami hanya bisa mengatakan jika aturan itu nanti dikeluarkan, kami akan mengikuti aturannya.

Bagaimana dengan rencana BI untuk mengubah status bank asing menjadi perseroan terbatas? Sekali lagi saya tidak tahu peraturan itu, saya tidak bisa komentar sebelum
ada regulasinya.

Alasan BI agar bank asing mengubah status cabang menjadi PT untuk menghindari gejolak jika terjadi krisis di kantor pusat. Pengalaman krisis 2008, Stanchart Indonesia terkena dampak besar? Tidak, kami memiliki dampak minimal. Pada saat krisis 2008, StanChart membuktikan kami tetap dapat tumbuh, kami bank kuat, likuid. Fokus kami Asia dan Timur Tengah saat ini. Pada saat krisis, fokus kami ke Indonesia, Cina, India, negara dengan pertumbuhan ekonomi yang bagus. StanChart group memiliki kinerja yang kuat.

Secara umum, apa pendapat Anda tentang regulasi perbankan di Indonesia? Saya rasa regulasi bank saat ini cukup fair, dan bagus. Jika melihat krisis finansial 2008 lalu, bank di Amerika banyak berjatuhan, Eropa juga sama. Tapi di Indonesia tidak, bank di Indonesia tetap kuat dan terhindar dari krisis. Bank Indonesia menjalankan aturan dengan baik.

Bagaimana kesan Anda bekerja di Indonesia? Saya sangat bangga menjadi CEO Standard Chartered Bank Indonesia, terutama kami telah berdiri 148 tahun, ini warisan dan sejarah panjang. Banyak orang bekerja di bank ini, dan saya sebagai CEO sangat bangga. Karena kami memiliki banyak peluang di pasar, wholesale banking dan consumer banking. Karena pangsa pasar kami masih kecil, kami berpotensi untuk menjadi lebih besar, dan kami memiliki pondasi yang bagus.


 
Jorganizer Hamdani
024-7060.9694 (flexy)
hope 4 the best n prepare 4 the worst
knowing is nothing without applying

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog