Friday, June 24, 2011

Perencanaan Keuangan Pribadi | Cerdas Mengatur Keuangan

Ditengah hiruk pikuk kehidupan, beberapa orang diluar sana dalam beberapa kesempatan khusus, jika mulai berbincang mengenai Personal Financial Planning atau Perencanaan Keuangan Pribadi, mendadak bisa diam seribu kata dan Mulailah bertanya-tanya dalam hati mereka sendiri, “Asset apa yang [sudah] saya miliki saat ini?”.

Mungkin itu juga yang terjadi dengan anda saat ini.

Beberapa diantara mereka, dan mungkin anda tentunya, patut bersyukur bahwa mereka sedikit mulai atau bahkan telah memiliki beberapa asset tangible [asset berwujud] dalam hidup mereka seperti kendaraan bermotor, perhiasan, dan bahkan rumah pribadi. Terlepas dari ukuran besar kecil dan nilai gengsinya tentunya, karena semua berasal dari pencapaian pribadi.

Kalau dulu kata-kata, “Wah, saldo tipis nih.
Musti hemat sampai gajian bulan depan” diucapkan pada saat ‘tanggal tua’, kini kata-kata itu malah bisa didengar sesaat setelah menerima transfer gaji, karena gajinya keburu [hampir] habis untuk bayar cicilan ini itu. Mungkin hal ini terjadi kepada kerabat anda atau bahkan kepada anda sendiri, saya kurang tahu. Tapi saya mungkin sedikit tahu kenapa banyak orang tidak bisa mengatur keuangannya sendiri dan hal tersebut secara berseri akan saya bahas satu persatu…

Saat saya menghadiri seminar in-house yang dibawakan oleh Safir Senduk dengan sedikit bercanda Ia mengatakan, “Tanggal 25
diperingati sebagai hari Cash Flow, karena pagi CASH INdan siang CASH FLOW”. Tentunya itu adalah sindiran bagi kebanyakan orang. Sejak saat itu saya semakin intens Ikuti atau follow Twitter @safirsenduk untuk mendengar kicauan beliau tentang perencanaan keuangan.

Tidak lama setelah sesi tersebut, saya pun mulai memperdalam mengenai Financial Planner dari Universitas Indonesia, namun saya sadari bahwa memiliki pengetahuan dan memegang gelar Certified Financial Planner® tanpa diaplikasikan kepada diri sendiri dan dibagikan kepada sesama sama saja pengetahuan itu tidak akan berbuah, setidaknya itu menurut saya…

Sebelum kita membahas mengenai merencanakan keuangan pribadi, mari kita cek adakah yang salah dengan pola pikir kita selama ini? Tunggu, mungkin anda bertanya apa hubungannya pola pikir dengan perencanaan keuangan pribadi? Jelas ada, karena pola pikir kita yang [mungkin]
tidak tepat bisa menjadikan kita juga tidak tepat melakukan beberapa tindakan yang berkaitan dengan finansial pribadi.

Mari kita mulai…

Silahkan jawab beberapa pertanyaan ini, “Dimanakah anda harus menabung?”, lalu lanjutkan dengan, “Mengapa harus menabung disana”, maka seperti kita ketahui bahwa umumnya jawaban pertama adalah “Bank” dan jawaban kedua adalah “Agar aman dan berbunga”.

Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal tersebut, karena beberapa orang yang bertanya tentang hal perencanaan keuangan pribadi kepada saya, saat ditanyakan pertanyaan diatas hampir sebagian besar menjawab dengan jawaban yang sama,mungkin juga lagi-lagi hal ini bisa terjadi kepada anda. Kabar baiknya, tidak ada yang salah dengan jawaban itu. Sayangnya, kita tidak bisa mengandalkan “bunga bank” yang memang tidak semerbak, kecuali semerbaknya tebar harapan untuk
memenangkan undian-undiannya.

Banyak orang sampai dengan saat ini tahu tentang jenis investasi tapi tidak mengerti secara jelas investasi itu sendiri apa saja. Diperparah dengan tidak ingin mencari tahu karena lebih percaya dengan instrument perbankan. Bahasa halusnya, “Mau main aman saja”, yang penting ada saldo yang bisa dilihat dan tentu saja bisa diambil setiap saat.

Ya, bank adalah tempat yang setidaknya sedikit lebih aman untuk menyimpan uang daripada menyimpan dibawah bantal atau celengan ayam sekalipun. Karena itu,gunakan bank sesuai peruntukannya, untuk menyimpan dana-dana untuk kebutuhan sehari-hari dan dana darurat.

Tentunya anda menginginkan tabungan atau dana tunai anda, yang biasanya berasal dari penghasilan bulanan, bisa berkembang jumlahnya setelah beberapa kurun waktu,biasanya disebut investasi, benar?! Apakah tepat jika anda memilih bank sebagai tempat parkir dana anda? Silahkan anda hitung sendiri nantinya…

Kini,selain investasi riil seperti emas, tanah, properti kita pun diberikan pilihan untuk berinvestasi di saham, obligasi dan atau di reksadana. Pun beberapa orang alergi dengan tiga jenis investasi yang saya sebut terakhir. Konon banyak yang tertipu. Ya jelas saja tertipu, karena mereka berinvestasi di tempat yang mereka tidak tahu dan anehnya mereka juga tidak mau tahu terlebih dahulu.Pokoknya dengan iming-iming investment return [tingkat pengembalian keuntungan] yang besar mereka ikut-ikutan berinvestasi.

Jelas sekali, bahwa High Retrun akan selalu diikuti oleh High Risk. Karena itu kita harus mengerti dengan baik dimana dan bagaimana berinvestasi yang baik.

Saya pun dulu begitu apatis terhadap investasi saham ataupun reksadana sekalipun,namun lingkungan professional saya sangat kondusif untuk belajar tentang investasi menjadikan saya mengerti, mengapa kini dana sebesar [hanya] Rp.2.500.000,- yang saya parkir di sebuah reksadana sejak akhir Desember 2009 saat ini telah memberikan return dan menjadi kurang lebih diatas Rp. 3.800.000,-
Kini, di rekening reksadana lainnya angkanya pun sudah bergerak lagi.

Anda bisa bandingkan dengan dana Rp. 3.500.000,- yang saya parkir di salah satu rekening bank saya sejak kurun waktu yang sama, tanpa diambil sepeserpun dengan tujuan memperbandingkan, hasilnya saat ini sudah hampir menyentuh angka Rp. 3.300.000,- “Lho, kok malah turun?”
Ya, itulah perbedaan secara kasat mata. Perbedaan mencolok ini mungkin akan membuat anda semakin cepat, Sadari sekarang bahwa investasi pun bisa membawa kebaikan jika dilakukan dengan tepat.

Gimana mau investasi, lha wong ngatur uang bulanan ‘aja kembang kempis?! Ya, ini jeritan beberapa orang yang mungkin juga anda rasakan. Karena itu untuk menjawab penasaran anda, dan agar anda selalu update dengan artikel ini dan artikel lainnya, anda bisa klik
RSS FEED di kanan atas dan secara otomatis anda akan selalu mendapat update artikel saya melalui email.

Karena itu, hal mengenai investasi akan saya lanjutkan di seri berikutnya. Jika anda membaca bukan di weblog saya, maka silahkan berkunjung dulu ke www.perdanwanpane.com

Balik ke permasalah yang timbul diawal adalah, kebanyakan orang tidak bisa mengatur keungannya sendiri, beberapa disebabkan pola didik sedari kecil. Contoh yang sudah disebutkan tadi adalah tentang pemahaman bank sebagai tempat ‘aman’ menyimpan uang, sebenarnya adalah tempat yang diam-diam dan pelan-pelan membuat keuangan anda tidak aman. Mudahnya untuk semakin anda pahami, “Bahwa terlalu
banyak parkir dana dalam tabungan bank, maka anda sendiri yang dalam hitungan menit bisa menarik ludes dana anda, entah untuk apa?” Masih cukup aman?!

Memangnya kalau investasi di saham aman?!
Tergantung tujuan anda, namun bagiamana pun juga perlu anda Ketahui bahwa investasi itu adalah untuk tujuan jangka panjang, sedangkan menabung, dalam hal ini parkir uang di bank, adalah untuk tujuan jangka pendek.

Selain itu, sebagian masyarakat masih melakukan pola menabung berikut ini, “Penghasilan - Pengeluaran = Tabungan”.
Jelas-jelas ini menjadikan kita tidak memprioritaskan menabung. Kalau kita tidak memprioritaskan menabung, bagaimana mau investasi? Sebuah pertanyaan sederhana, bukan?

Lalu bagaimana seharusnya menabung itu? Baiknya rumusnya adalah sebagai berikut, “Penghasilan – Tabungan – Pengeluaran = 0” Lho, kok jadi NOL? Ya, karena komponen tabungan telah dikeluarkan duluan sebelum pengeluaran. Karena itu angka NOL menunjukkan anda telah berhasil menyeimbangkan menabung dengan pengeluaran, dan [mungkin] secara perlahan dan pasti anda bisa mulai berinvestasi. Dengan rumus ini anda wajib menentukan target persentase menabung anda berbanding dengan penghasilan dan mungkin akan sedikit memaksa anda mengurangi pengeluaran, yang kurang penting tentunya.

Percayalah,cara ini menyelamatkan saya sejak 2010 awal dan tepat di tahun ini saya melengkapi impian saya memiliki rumah dengan cara yang paling sederhana ini. Sebelum membahas Management By Envelope alias pengaturan keuangan dengan amplop setiap bulannya, tentu anda ingin tahu berapa target persentase antara tabungan dengan pengeluaran yang berbanding dengan penghasilan.

Bayangkanlah anda miliki penghasilan 100 juta -Amin-,maka berikut adalah beberapa perhitungan persentase pengeluaran anda;

Tabungan berbanding penghasilan = 10% s/d 30%
Cicilan berbanding penghasilan = ≤35%
Pengeluaran tetap berbanding penghasilan = 20% s/d 40%
Pengeluaran pribadi berbanding penghasilan = 20%

Artinya adalah, dengan penghasilan bulanan 100 juta anda minimal menabung 10 juta. Selain itu anda bisa memiliki jumlah cicilan sampai dengan, setidaknya, dibawah atau sama dengan 35 juta. Sisanya adalah untuk pengeluaran tetap seperti biaya sekolah anak, langganan TV kabel atau majalah sebesar 20 juta, begitu juga untuk pengeluaran pribadi seperti mengikuti klub kebugaran atau keanggotaan klub eksklusif.

Mari kita hitung, “Penghasilan 100 juta –
Tabungan 10 juta – Cicilan 35 juta – Pengeluaran Tetap 20 juta – Pengeluaran Pribadi 20 juta = Lebih 15 juta” Dan 15 juta itu pun bisa dimasukan kembali ke komponen tabungan atau investasi.

Sesederhana itu?

Tidak,tidak sesederhana itu, jika saat saya minta anda bayangkan berpenghasilan 100 juta, tiba-tiba kepala anda dipenuhi keinginan liar, hehehe. Sengaja saya menggunakan angka 100 juta, selain sebagai afirmasi buat anda sekaligus sebagai shock therapy untuk anda. Jika angka penghasilan itu saya turunkan menjadi 10 juta, tentu impian liar anda saat melihat angka 100 juta mendadak buyar, bukan?

Sudah saya katakan diawal, jika pola pikir kita tidak tepat, maka hasilnya juga akan tidak tepat. Sudah menjadi hal umum sekalipun gaji dinaikan dua kali lipat,jika seseorang tidak mampu mengatur
keuangan pribadinya maka sampai sepuluh kali lipat kenaikan gaji pun tidak akan pernah cukup.

Rumus diatas, “Pemasukan – Tabungan/Investasi – Pengeluaran = 0 adalah jawaban kenapa beberapa orang sudah bisa mengatur keuangannya sendiri” Tentunya anda sekarang semakin mengerti bahwa anda harus berlatih minimal memaksa 10% dari penghasilan menjadi tabungan/ investasi di awal sebelum dipoting pengeluaran.

Kuncinya adalah, “Seberapa besarpun penghasilan anda, selama anda tidak memiliki kesadaran, target dan disiplin mengatur keuangan, maka cepat atau lambat anda akan terseret dalam arus orang-orang yang tanggal tua saldo tipis, wajib hemat hingga gajian berikutnya”.

Tentunya anda lebih menginginkan memiliki kesadaran dan kendali penuh untuk, Tentukan arah keuangan pribadi anda, bukan? Saya pun percaya anda tidak ingin dikejar tagihan-tagihan dan mungkin ingin lepas dari jeratan kredit yang tiada henti mengejar. Terlebih anda pasti ingin, Realisasikan impian anda memiliki rumah, sekalipun kecil, namun bisa anda pandang dengan bangga serta anda rasakan kehangatannya, karena itu adalah karena usaha anda mengatur keuangan pribadi anda.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog