Tuesday, May 24, 2011

Liem Siok Lan Mohon Maaf: SMI tidak pantas disebut SPG IMF

Beberapa waktu lalu, saya menyampaikan di seminar SMC (Sabang Merauke Circle) soal SMI sebagai SPG IMF, yang kemudian segera setelah itu Kubu SMI merilis artikel panjang lebar yang intinya mendaftar hutang Indonesia dari jaman ke jaman untuk menunjukkan bahwa tidak hanya SMI yang menjadi SPG IMF.

Tahun 2005. Pada tanggal 15 Juni, Sri Mulyani Indrawati (SMI) selaku Menteri Keuangan R.I. mengumumkan adanya defisit anggaran. Media ramai sekali memperbincangkannya. Berbagai pengamat dan ekonom sibuk memberikan kecaman, komentar, saran, dll. Pada tanggal 1 agustus 2005, Indonesia melunasi hutang IMF. Hanya satu setengah bulan dari pengumuman defisit anggaran yang dibuat oleh SMI.

Anehnya kejadian spektakuler semacam ini tidak diramaikan oleh media, bahkan cenderung ditutupi. Hanya Harian Kompas waktu itu memuat dengan ukuran 1 kolom dengan panjang 10 cm saja. Itupun berisi jawaban Wapres Jusuf Kalla, atas pertanyaan, bagaimana bisa melunasi hutang IMF secara tiba-tiba sementara 15 Juni 2005 SMI mengumumkan defisit anggaran, darimana sumber dana buat pelunasan itu. Jawaban JK enteng saja, yaitu karena adanya lonjakan ekspor dari produk dalam negeri.

Mau tahu yang sebenarnya? Dari mana asal muasal dana tersebut? Tidak lain dan tidak bukan berasal dari pledge sumbangan untuk tsunami Aceh Nias yang berasal dari negara-negara di seluruh penjuru dunia, yang tidak terserap, karena persyaratan ”transparansi” dan ”tepat sasaran” menjadi kendala karena pemerintah Indonesia masih menerapkan prosedur normal yang dianut oleh Bappenas dan Departemen keuangan, yakni skema hibah atau softloan.

Prosedur yang jelas sarat intervensi birokrasi dan sudah terbukti rawan korupsi. Sehingga negara-negara pemberi hibah ”tidak rela” apabila tidak kena sasaran dan di kemudian hari akan menjadi ”musibah” kepada si pemberi dana karena sorotan lawan politiknya serta rakyatnya sendiri. Dikira ikut-ikutan bancakan bersama pemerintah Indonesia. Maka dana itu lalu dititipkan kepada PM Thaksin, sementara saat itu 2005 PM Thaksin nya mau lengser. Maka, ”kehabatan” pemerintah SBY melunasi hutang IMF tidak diekspose besar-besaran sebagaimana layknya prestasi yang luar biasa. Ya, karena ceritanya tidak cocok dengan realita unsur-unsur perekonomian yang melandasi kesuksesan tersebut.

Tahun 2008. Pertengahan tahun USA dilanda badai ekonomi dengan rontoknya pasar-pasar uang disebabkan oleh skandal subprime mortgage. Solusinya, pemerintah USA mengajukan kepada kongres untuk membail-out hingga ratusan miliar USD. Model ini yang kemudian dicontek persis oleh SMI dkk untuk membail-out skandal Bank Century. Padahal, bedanya jelas sekali. Realitanya, 60% rakyat USA menaruh uangnya di pasar-pasar modal yang rontok tersebut, kalau tidak di bail-out maka USA akan mengalami kelumpuhan total karena 60% rakyatnya jatuh miskin. Semengtara relaita di Indonesia sama sekali berbeda.

Pemain pasar uang/ modal di Indonesia hanya sekitar 20 ribu fund managers. Itupun mayoritasnya adalah fund managers asing dan konglomerat pribumi maupun non-pribumi. Sementara itu, 99.8% pelaku bisnis di Indonesia adalah UMKM (Usaha Mikro Kecil Menegah) yant tidak ada urusan sama sekali dengan permainan di pasar modal. Dimana dampak sistemiknya? Dengan dalih yang masih sama, SMI melalui kebijakan yang dibuatnya, berhasil menyedot cadangan devisa Indonesia menurun sekitar USD 10 Milyar dalam waktu kurang dari 2 minggu saja.

Caranya dengan dua hal. Pertama, menugaskan Bank Indonesia untuk menahan jatuhnya nilai rupiah terhadap USD. Kedua, mem “buy-back” saham-saham BUMN agar nilainya tidak terlalu jatuh. Disini jelas sekali bahwa para fund managers diuntungkan dalam dua hal, ketika menjual sahan-saham BUMN harganya tidak terlalu jeblok, dan ketika menukar rupiah ke dolar (karena mereka memerlukan untuk menarik sebanyak mungkin dolar) nilainya juga masih bagus. Enak lah konco-koncomya SMI itu bisa memasang SMI, yang “sales girl” nya Grup IMF ini, menjadi Menteri Keuangan sebuah negara kaya bernama Indonesia.

Lalu dimana salahnya Indonesia? Mengapa negara kaya raya ini demikian terpuruk? Mengapa Thailand yang tidak punya tambang, tidak sekaya Indonesia, bisa bangkit dan menjadi “tradehub agribisnis” dunia? Berapa kontainer durian monthong yang diekspor ke seluruh dunia? Apakah demikian itu saja? Mengapa Malaysia yang hanya sebesar satu provinsi nya Indonesia berhasil menggeser posisi Eropah sebagai investor rangking 4 di Indonesia, setelah Jepang, USA dan China?

Indonesia terjebak
atas pilihannya sendiri, karena sistem lama yang digunakan adalah jebakan internasional ala IMF. Sebetulnya Dunia mau indonesia lebih baik, tetapi IMF dkk ingin bertahan, menjadi satu-satunya lembaga yang masih bercokol di Indonesia, saat di negara lain IMF sudah diusir. Sementara di Indonesia, IMF sudah dilunasi tapi kroni-kroninya makin merajalela. Hutang yang diciptakan oleh pemerintahan SBY jumlahnya lebih besar dari jumlah hutang yang dibuat dari jaman Bung Karno plus hutang jaman Pak Harto plus hutang jaman Habibie plus hutang jaman Gus Dur dan hutang jaman Megawati.

Hutang Luar Negeri Indonesia (Pemerintah dan Swasta) sebesar dua ribu lima ratus trilyun rupiah (2.500.000.000.000.000) diantaranya dibuat selama 5 th pemerintahan SBY sebesar 450an trilyun. Bunga dan cicilan pokok 650 trilyun. Sri Mulyani Indrawati (IMF), selaku Menteri Keuangan R.I. merangkap sebagai “sales girl” nya IMF berhasil menjual produk perbankan Grup IMF berupa
”loan” sebesar itu kepada Indonesia. Di dunia pasar keuangan global, layaknya SMI mendapatkan ”success fee” sebesar at least 1% dari nilai pinjaman yang berhasil dijualnya atau sekitar 4.5Trilyun. Sebagai contoh, Februari 2009 Menteri Keuangan R.I. menjual Global MTN (Medium Term Notes) semacam SUN (Surat Utang Negara) di pasar global, sebesar USD 3 miliard dengan bunga 11.75% (sementara di pasaran interest rate dalam USD hanya sekitar 2-3%). Ini hanya salah satu modus yg belum tersentuh oleh KPK.

Pertanyaan para ekonom klasik: Lantas modal uang dari mana agar Indonesia bisa membiayai rencana ”Corporate Restructuring” tersebut? Jawaban saya: Uang itu hanya sarana. Contohnya Thailand yang tidak punya tambang dan sumberdaya sebanyak kita terbukti bisa bangkit dari keterpurukan dan melunasi hutang2nya (mengusir IMF) hanya dalam waktu 6 bulan. Berarti ada caranya. Itu hanya bagian sebuah model, China misalnya mengambil satu model yang awalnya tidak menganut hukum ”supply and demand” sebagaimana sistem kapitalisme, yang penting dia mengatur bagaimana rakyatnya semua bekerja dari jam tujuh sampai jam lima. China pun terbukti bisa memproduksi barang apa pun mulai dari peniti sampai satelit dengan tidak ikut model mekanisme pasar. Rakyatnya lebih dari 1.5 miliar makan semua. Kesehatan ditanggung negara, pendidikan semua gratis semua anak sekolah, semua kerja.

Kalau china menerapkan sistem kompetisi bebas, seperti negara-negara Barat, rakyat China bisa mati bunuh-bunuhan hanya untuk sekedar cari makan. Coba lihat, 86% perusahaan yang terdaftar di 10 besar pasar uang dunia dibanjiri oleh perusahaan-perusahaan China yang terdaftar di berbagai negara. Dengan cara ini, China berhasil mengeruk devisa hampir 2 trilyun dolar AS. Jadi jangan tanya soal uang. Uang itu hanya alat. Apa susahnya membikin satu dolar itu sama dengan satu rupiah kalau disepakati modelnya. Contohnya, Malaysia saja bisa bikin 1 dollar senilai 3,8 ringgit. Itu kan hanya soal modelling.

Praktek penguasaan ekonomi melalui pasar uang dunia ini kemudian melahirkan model “Kapitalisme Malas”. Disebut “Kapitalisme Malas” karena dengan permainan “Uang Beranak Uang” (money makes money) di pasar uang tanpa kegiatan ekonomi secara riil. Mereka hanya memperdagangkan uang dan kertas-kertas berharga dengan berbagai turunan dan ikutannya (derivatifnya). Dengan cara ini mereka tidak perlu repot-repot menghadapai masalah sosial sebagaimana dalam bisnis dibidang sektor riil, seperti repotnya perijinan, pemogokan buruh, dan lain-lainnya.

Hal inilah yang membuat perekonomian dunia dewasa ini terbelah menjadi 2 (Dua) yaitu sektor riil dan sektor moneter. Perkembangan sektor moneter begitu pesatnya, empat puluh kali bila dibandingkan sektor riil, sebagai contoh perdagangan Valuta saja tiap hari mencapai 2, 4 Tilyun USD, sementara keseluruhan sektor riil hanya mencapai 4 Trilyun USD per hari.

Artinya dari 1 (Satu) cabang saja dalam hal ini Valuta asing (Money Changer) sudah mencapai 54 % (Empat Puluh Enam Persen), belum lagi dari penjualan saham, aneka Bonds, dan Surat-surat berharga lainnya. Model perokonomian yang demikian ini melahirkan gelembung ekonomi (Bubble Economy), akibat yang diperdagangkan adalah kertas, berbeda dalam sector riil yang dikelola benar-benar ada barangnya. Sejumlah ahli bahkan menyimpulkan bahwa sector moneter dewasa ini menguasai 76 % (Tujuh Puluh Enam Persen) kehidupan dunia, sisanya baru tersebar pada aspek kehidupan lainnya.

Lengkap sudah penjajahan baru telah mereka wujudkan secara paripurna, tidak hanya terhadap negara-negara bekas jajahan, tapi juga kepada semua negara yang masuk menjadi bagian, sebagian lagi malah menjadi pemain dalam sistem perokonomian dunia dewasa ini. Tanpa nama mereka muncul dipermukaan, dunia kini mereka dikuasai. Maka kejadian besar dari soal perang dan gejolak politik serta urusan social, utamanya di negara-negara berkembang dan terlebih pada negara yang elit politiknya “nggeragas” (rakus) dan “cerongohan” (penampilan orang lapar yang tidak lagi terkendali) seperti di Indonesia, tidak bisa lepas peran mereka. Sudah barang tentu dalam prakteknya ditempuh secara legal konstitusional, kelihatannya alami, segalanya penuh kewajaran sampai-sampai sang penguasa sendiri tidak merasa kalau dirinya tak lebih adalah boneka yang mereka mainkan.

Dalam proses pengelolaan ekonomi yang demikian itu semuanya berjalan natural dan juga kontitusional, semuanya kelihatan tanpa paksaaan dari pihak manapun. Waktu terus berjalan, kegagalan demi kegagalan perekonomian sejumlah negara silih berganti. Dampak ikutan berupa pada krisis social akhirnya pun terjadi dibanyak negara. Batas lentur gelembung ekonomi (“Bubble Economy”) berulang kali terlewati, maka terjadinya krisis yang menimpa lembaga-lembaga keuangan dunia papan atas sekalipun tidak bisa dihindari. Sistem perekonomian dunia yang tergelar juga telah melahirkan ketimpangan sosial yang luar biasa tidak hanya dilingkungan negara masing-masing, tapi juga antar negara dan kawasan. Dan dampak sampingan berupa rusaknya lingkungan hidup pun akhirnya melewati ambang batas kewajaran, akhirnya kini dunia terancam kepunahan akibat kenaikan suhu bumi yang dikenal dengan issue “Global Warming”.

Sebagai bangsa kita juga harus bisa memanfaatkan globalisasi, sehingga tidak terus kehilangan momentum seperti yang dicontohkan negara tetangga. RRC umpamanya, ia berhasil mengeruk devisa yang sangat besar (Lebih dari 2 Trillyun USD). Ternyata 86 % perusahaan yang terdaftar dalam 10 (Sepuluh) besar Monney Market dunia adalah milik perusahaan RRC yang didaftarkan melalui perusahaan negara-negara lain. Thailand berhasil menjadi pintu masuk perdagangan Agro Bisnis seperti Durian, Klengkeng, Pepaya, dan lain lainnya.

Padahal asal usul buah-buahan tersebut adalah kenang-kenangan Bung Karno kepada Ratu Sirikit. Klengkeng yang berasal dari Indonesia kini membanjiri dunia, termasuk ke Indonesia tempat asal klengkeng tersebut.

Begitu juga Malaysia, kini menjadi penentu harga minyak kelapa sawit (CPO) dunia, sementara kebonnya sebagian besar berada di Indonesia. Kini Malaysia mencanangkan sebagai pintu masuk Pariwisata Asia. Perusahaan Penerbanagan BUMN Malaysia Air Asia kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan berkah yang didatangkan adanya Pasar Uang. Setiap uang yang masuk ke Kas Air Asia langsung menaikkan harga sahamnya. Kini Jaringan penerbangan Air Asia sudah memasuki hampir seluruh kota besar Asia, bahkan juga ke Eropah.

Dengan slogan Trully Asia, Malaysia dalam reklamenya kemudian menampilkan sejumlah kesenian negara tetangga sesuai jaringan penerbangan Air Asia. Salah satu diantaranya adalah tarian Reog Ponorogo dan tarian Pendhet dari Bali. Reaksi publik spontan dikembangkan sejumlah elit berupa kemarahan rakyat kepada Malaysia, bendera Malaysia dibakar oleh demontran dibeberapa daerah. Sementara pemerintahan kita selama ini diam tidak melihat bahwa kearifan dan keunggulan lokal kita begitu banyak bisa dijual kepada dunia untuk mendatang rezeki bagi rakyatnya.

Ini bukan cuma wacana. Kalau kita perhatikan dunia sekarang dihebohkan dengan krisis ekonomi secara bergantian, serta perang dunia ketiga dalam bentuk ”currency war”. China bermaksud menggeser peran US dollar sebagai matauang yang diakui dunia. Artinya apa? Bentuk-bentuk matauang adalah kesepakatan adanya negara-negara dan merupakan diplomasi formal antar negara, yang merupakan bentuk formal perantara tukar menukar komoditi antar negara. Keberadaan negara diatur melalui eksistensi matauangnya dan untuk itu dibuat aturan main pertukaran barang antara negara melalui diplomasi matauang. Kesepakatan ini kini menjadi sumber pertikaian yang
dianggap sebagai potensi perang dunia III.

Saya teringat akan pidato seorang pelacur yang terpilih menjadi pemimpin Gerakan Feminis di Amerika Utara, yang mengatakan bahwa ”................Para pelacur yang sering dijuluki ’menjual diri’, setidaknya komoditi yang dijualnya jelas, berbeda dengan kaum politisi dan para menteri yang komoditinya berupa kebohongan publik, yakni menjual janji janji indah namun kenyataannya menyengsarakan rakyat. Kami para pelacur adalah korban dari kebijakan kaum politisi, menteri dan partai yang tidak berpihak kepada rak’yat. Maka sejatinya yang pantas disebut pelacur adalah mereka-mereka kaum politisi dan para menteri yang menjual diri dengan komoditas palsu dan merugikan rakyat tersebut. Maka rekan-rekan para pelacur jangan kuatir, karena Tuhan Maha Adil, maka kita ini dijamin masuk surga, sementara para pelacur yang sebenarnya itulah, yakni para politisi dan partai-partai itulah, yang pantas menjadi
penghuni neraka jahanam. Dan para pemuka agama yang tidak menyetujui pernyataan ini berarti mereka adalah penjual ayat-ayat..................”

Jadi kalau menurut pemimpin gerakan feminis, idola saya tersebut, memang benar SMI bukanlah SPG IMF, namun dia leboh tepat disebut sebagai pelacur, yang telah menjual harga diri bangsa kepada rentenir (IMF WB grup) sehingga sang rentenir yg sudah diusir dr negara2 lain masih bisa bercokol di Indonesia berkat tandatangan SMI. Hidup SMI, sang Pelacur sesungguhnya. Jadi saya mohon maaf kalau menyebut SMI hanya sbg SPG IMF. Kurang tinggi donk jabatannya, kan sebentar lagi dicalonkan Presiden RI. Kapan lagi seorang PELACUR bisa jadi presiden???? Hanya ada di Indonesia. Orang Buta pernah, Ibu Rumah Tangga pernah, Si BuaYa pernah, cocoklah sebentar lagi giliran Si Pelacur.

Liem Siok Lan
Disampaikan dlm SMC dialog
Hotel Sahid, Maret 2011
liemsioklan@yahoo.com

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog