Thursday, April 14, 2011

Meracik Portofolio Reksa Dana

Reksa dana merupakan alternatif investasi di pasar modal bagi kalangan yang tidak ingin membeli langsung saham maupun obligasi, baik karena alasan keterbatasan dana maupun alasan-alasan lain. Pada hakikatnya, reksa dana merupakan suatu keranjang yang berisi surat berharga, baik itu saham maupun surat utang, yang dikelola oleh manajer investasi dan kemudian dijual kepada investor.

aat ini di pasar ada sekitar 700 produk reksa dana dengan berbagai jenis. Total dana yang terkandung di dalamnya, per Desember 2010, mencapai sekitar Rp 171 triliun. Jelas ini bukan angka kecil. Artinya, reksa dana memang sudah menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi investor, khususnya investor ritel.

Jika hendak berinvestasi dalam reksa dana, ada beberapa hal yang pantas dipertimbangkan. Pertama, reksa dana mesti diperlakukan sebagai salah satu bagian investasi saja. Artinya, jangan menempatkan semua uang Anda dalam bentuk reksa dana. Ini terkait dengan filosofi investasi, yakni sebagai sarana untuk mencapai tujuan keuangan. Anda tentu sudah memiliki tujuan keuangan ketika memilih instrumen investasi, di mana reksa dana sebagai salah satunya.

Kedua, reksa dana mesti dibuatkan portofolio tersendiri, sebagai turunan dari portofolio investasi secara menyeluruh. Katakanlah, portofolio investasi Anda terdiri atas deposito berjangka, instrumen pasar modal, tanah, dan atau emas. Di dalam instrumen pasar modal itu ada saham, obligasi, dan juga reksa dana. Sebagaimana dipaparkan di atas, mungkin Anda enggan membeli saham dan obligasi secara langsung, maka pilihannya adalah reksa dana.

Untuk itu, reksa dana mesti dipilah lagi: mana yang akan Anda beli dan apa tujuannya. Konkretnya Anda mesti menentukan apakah reksa dana yang Anda beli dalam bentuk reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap (fixed income), reksa dana pasar uang, atau reksa dana campuran. Selain itu, ada pula yang disebut dengan reksa dana penempatan terbatas.

Ketiga, mengalokasikan dana secara proporsional pada setiap jenis reksa dana sesuai dengan tujuan dan karakteristik personal Anda. Ini penting karena risiko yang melekat pada reksa dana juga berbeda. Kalau Anda bertipe penghindar risiko, jenis reksa dana fixed income akan lebih tepat. Akan tetapi, kalau Anda tergolong investor agresif, pilihan yang paling sesuai adalah reksa dana saham atau reksa dana campuran.

Di luar itu, jika dana investasi cukup besar dan Anda sudah tergolong investor yang mumpuni, maka reksa dana penempatan terbatas adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan. Reksa dana penempatan terbatas memang belum banyak ditawarkan, sebab selain hanya diperuntukkan bagi investor profesional, pengembalian modalnya juga cukup lama, tapi menjanjikan return yang besar.

Memilih produk reksa dana

Alokasi baru tahap awal. Langkah berikutnya adalah memilih produk reksa dana itu sendiri sekaligus memilih manajer investasi yang akan mengelolanya. Kendati Anda sudah menentukan bahwa pilihan Anda adalah reksa dana saham, dalam realitasnya di pasar ada puluhan atau bahkan ratusan jenis reksa dana saham, dengan komposisi yang berbeda-beda.

Ada reksa dana saham yang fokus adalah saham-saham blue chip atau masuk dalam kategori saham yang market kapitalisasinya besar. Tetapi, ada juga saham-saham yang tergolong jenis growth stock. Kemudian ada juga reksa dana yang isinya adalah saham-saham pada sektor tertentu. Nama reksa dana tersebut biasanya mencerminkan isi keranjangnya. Dalam memilih reksa dana itu, Anda mesti meneliti lebih dulu, apa saja saham-saham yang terkandung di dalamnya.

Tidak kalah pentingnya adalah memilih manajer investasi yang mengelola reksa dana. Saat ini ada puluhan manajer investasi yang menjual reksa dana. Mereka biasanya mempromosikan imbal hasil reksa dana sebagai alat promosi.

Imbal hasil reksa dana diperlihatkan dengan pergerakan dari NAV (nett asset value) atau nilai aktiva bersih. Ada yang menyebutkan NAV-nya mencapai puluhan persen, bahkan ratusan persen. Namun, jangan dulu terkecoh. Anda mesti lihat NAV yang disebutkan itu untuk kurun waktu berapa lama. Apakah sejak awal tahun atau sejak produk reksa dana itu diluncurkan?

Manajer investasi

Soal lain apakah manajer investasi yang mengelola reksa dana tersebut sudah berpengalaman? Berapa tahun pengalamannya? Berapa dana kelolaannya? Siapa saja orang-orang yang mengelola dana tersebut? Hal-hal ini bahkan jauh lebih mendasar ketimbang produk reksa dana itu sendiri. Kenapa? Karena kalau isi keranjang reksa dana yang dijual adalah saham-saham blue chip, sebagai contoh, maka ketika indeks bergerak ke atas, otomatis NAV reksa dana tersebut juga meroket. Jadi, tanpa perlu bersusah payah nilai reksa dana akan meningkat dengan sendirinya.

Dengan kata lain, tidak perlu keahlian dalam memilih saham. Sebab, pergerakannya tergantung pasar. Oleh karena itu, agar Anda tidak terkecoh, sebaiknya pilih manajer investasi yang memiliki dana kelolaan besar.

Dalam praktiknya, beberapa investor besar hanya membeli reksa dana yang dikeluarkan oleh manajer investasi yang memiliki dana kelolaan di atas Rp 1 triliun. Kenapa Rp 1 triliun? Karena jika sudah mengelola reksa dana sejumlah tersebut, berarti sudah mulai dipercayai oleh banyak investor.

Selain besarnya dana kelolaan, ”jam terbang” dari manajer investasi juga merupakan faktor yang dijadikan pertimbangan. Secara umum, investor besar mempersyaratkan 5 tahun bagi pengelola reksa dana untuk dianggap sebagai sudah berpengalaman. Bagaimana dengan Anda?

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog