Tuesday, April 5, 2011

Dongeng Global Warming

Itu adalah sebuah contoh konkrit dari rentannya penularan penyakit menular yang mewabah baik dikalangan pejabat tinggi hingga kelapisan bawah masyarakat. Nama penyakitnya wabah Otak instant malas cukup dengan meniru tak perlu mengolah.

Hingga saat ini bahkan orang yang mengaku sebagai intelektual masih saja memasukkan issue Global Warming, Climate Change seenak perutnya bahkan untuk kepentingan bisnis pribadi. Padahal Yvo De Broer director UN FCCC telah mengumumkan pengunduran dirinya sehungungan dengan skandal Global warming.

Dari awal saya yakini bahwa issue ini tak lain adalah “ladang duit” yang dikreasikan oleh para pejabat UN dan di sambut oleh Al Gore. Di Eropah itukan banyak org tak punya kerjaan, sekolah terus dan untuk membiayai proyeknya harus mengembangkan sebuah proyek salah satunya Global Warming ini. Datanya dimanipulasi bagaimana mungkin bumi yang terbentuk tak usah jauh-jauh dari data arkeolgy saja bisa kita sebutkan jutaan tahun dibandingkan dengan data yang nggak jelas seratus tahun. Dulu katanya polusi udara dari asap kendaraan tak ada…. yah tentu …dulukan kendaraan bermotor belum ada, adanya unta, gajah…….dan konon malah pada abad 14 gas yang dihasilkan para binatang tsb cukup banyak dan berbahaya yang sama dengan dibicarakan di Green House tsb.

Kalau ada org Amerika yang menantang dengan data langsung dibantai dimaki-maki……begitu sekarang terbukti palsu…..nah kemana tuh orang-orang hilang ditelan KENTUT kah?

Biji mata rekan-rekan semuanya akan berputar-putar melihat jumlah uangnya. Ratusan Milyyar Dollar uang masuk ke Al Gore. Inilah yang disebutkan Obama akan menyerap “tenaga kerja” ..”ecek-ecek” yang banyak ditentang. Orang-orang yang mengutamakan ketenaran, acting akan dengan sangat mudah melompat ke berbagai issue dan tak perlu dibuktikan dahulu bukan hanya di Indonesia bahkan kepala negara USA juga ikutan…menempatkan Van Jones yang komunis sebagai Green Job Czar yang ahirnya harus dipecat.

Didunia ini kan penyakitnya begitu kalau kita tak ikut-ikutan di hujat habis-habisan……celakanya tak banyak orang yang teguh pendiriannya dan tak memerlukan popularitas….

Coba saja anda lihat itu para aktifis Climate Change yg ngumpul di Kopenhagen pada naik private jet….bandingkan polusinya bila mereka menumpang commercial jet, First classlah bandingannya. Kita di minta untuk tidak membuang energy jangan pakai listrik banyak-banyak….lha kita sdh berhemat-hemat dengan tingginya tarif listrik bahkan penduduk desa kita malah masih banyak yang belum kebagian listrik. Sebaliknya malah mereka yang jor-joran listriknya bahkan hingga ruang W/C pun ber ac ajubile…lalu kita diminta naik sepeda sementara mereka naik kendaraan mewah yang dibeli dari uang rakyat…..

Tak usah jauh-jauh bicara badai salju yang menyerang USA dan bahkan kami yang di Dallas saja mendapat kirimian salju setinggo 12” tapi lihat saja di Jakarta yang diliputi hujan melulu. Jadi tak salah kalau saya katakan “debu diseberang lautan kelihatan tapi gajah atau mamouth berdiri didepan mata tak kelihatan”.

Papan Go Green bertebaran lalu bagaimana dengan sampah……yang bertebaran juga ……

Daging …lha org Indonsia masih banyak yang malah mengkonsumsi daging setahun sekali itupun kalau lebaran dapat jatah saja…..makanya jangan salahkan kalau IQ nya pada jongkok semua alias yang anda sebutkan tempe itu……..

Sekarang RRC giat memasarkan susu kacangnya ke Indonesia…maka diadakanlah seminar akan baiknya susu kedele…….lha logis saja pakai otak uraikan sendiri sumber protein yang terkandung didalamnya dan bandingkan dengan yang lain………

Tapi kalau kita persoalkan bercuma juga membuang energy…… biarkan saja berlomba kedunguan….

From: Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com [mailto:Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com] On Behalf Of Win Wan Nur
Sent: Saturday, April 03, 2010 4:43 PM
To: IACSF
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Dongeng Global Warming dan Kampanye Anti Daging

Belakangan ini Global Warming benar-benar telah menjadi isu dunia dan dengan sukses telah menyebarkan ketakutan yang mendalam bagi penduduk planet ini.

Kampanye besar-besaran yang sedemikian massif tentang tema ini dengan sukses menjadikan tema Global Warming ini sedemikian seksi dan menarik, sehingga isu ini pun menjadi barang dagangan yang sangat laku. Ketakutan manusia yang begitu besar terhadap tema isu pemanasan global ini membuat kampanye apapun mengenai tema ini begitu laku dijual. Begitu menakutkannya tema ini sampai bahkan ada yang menolak pembangunan PLTA di kampung saya, karena ditakutkan akan mempercepat terjadinya global warming.

Contoh lain tentang betapa menarik dan seksinya tema Global Warming ini saya saksikan beberapa waktu yang lalu, ketika saya beserta anak dan istri saya berbelanja di Carrefour. Saat itu, di sana saya menyaksikan sebuah counter WWF (World Wide Fund), sebuah NGO lingkungan yang sangat gencar mengkampanyekan bahaya Global Warming. Di counter tersebut, WWF menempatkan personelnya yang bersikap seperti pengemis dan bertindak seperti SPG rokok mendekati setiap pengunjung pusat perbelanjaan ini yang terlihat perlente, untuk dimintai uang sebagai yang katanya akan digunakan untuk menanam pohon sebagai usaha untuk mencegah terjadinya Global Warming.

Gencarnya kampanye pencegahan Global Warming ini tampak begitu menginternasional sampai terkadang terlihat konyol, karena isu yang mereka usung seringkali tidak sesuai dengan keadaan di tempat dimana isu tersebut dikampanyekan.

Seminggu yang lalu saya mendarat di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta.

Seperti biasa turun dari pesawat saya masuk ke ruang klaim bagasi, dan di sana, seperti biasa ada banyak papan reklame yang mempromosikan berbagai produk atau ide.

Salah satu papan reklame itu sangat menarik perhatian saya, karena berisi kampanye pencegahan Global Warming. Papan reklame ini menarik bukan karena isinya yang cerdas, tapi sebaliknya karena konyol.

Reklame ini mengusung tema, Be Veg, Go Green yang dikampanyekan oleh SOS, yang sepertinya adalah sebuah NGO.

Dalam papan reklame ini dengan gaya komunikasi yang provokatif, orang yang membaca papan reklame ini digiring perhatiannya untuk mengkhawatirkan global Warming. Di papan ini dengan mencolok digambarkan bahwa jauh lebih banyak polusi yang diakibatkan perilaku mengkonsumsi produk dari hewan ternak dibandingkan polusi yang dihasilkan oleh semua moda transportasi yang digabungkan secara keseluruhan.

Papan reklame ini sangat cocok kalau dipasang di bandara yang terletak di sebuah kota di Eropa Barat atau Amerika Utara, karena pada kenyataanya mereka di sana memang mengkonsumsi banyak sekali daging yang dihasilkan oleh industri peternakan. Pada tanggal 25 Mei 2009, seorang pemerhati masalah global Warming bernama Meg Wolff menulis sebuah artikel http://www.fencevie wer.com/site/ index.php? option=com_ myblog &show=Help-Stop- Global-Warming- By-Decreasing- Animal-Consumpti on.html&Itemid= 81 berjudul "Help Stop Global Warming By Decreasing Animal Consumption"

Dalam artikel ini Meg Wolff mengutip ucapan Kathy Freston dari Quantum Wellness Cleanse yang menyebutkan kalau kita bisa membuat sebuah efek besar (mengurangi Global Warming) dengan meninggalkan perilaku mengkonsumsi makanan hewani.

Kathy mengatakan “lebih dari 90% lahan Amazon yang ditebangi sejak 1970 digunakan oleh industri daging. Oleh pelaku industri daging, lahan Amazon yang ditebangi itu digunakan sebagai lahan penggembalaan atau ditanami rumput sebagai pakan ternak. Ketika pohon ditebang dan kemudian dibakar untuk membersihkan lahan, ada sejumlah besar karbon dioksida yang dilepaskan ke udara yang berkontribusi terhadap pemanasan global".

Kemudian sebuah penelitian yang dilakukan oleh T Collin pada tahun 2009, menemukan bahwa 50% gas rumah kaca diproduksi di lahan peternakan. Sekitar 2/3 produk pertanian dikonsumsi oleh hewan ternak, sementara yang dikonsumsi manusia hanya 1/3 nya saja.

Untuk mengatatasi masalah itu, Quantum Wellness Cleanse menyarankan orang-orang untuk tidak mengkonsumsi daging selama 21 hari selama sebulan, atau setidaknya tidak mengkonsumsi daging dan produk susu sekali atau dua kali seminggu.

Jadi berdasarkan pada penjelasan ini, memang masalah daging dan produk hewan ini adalah masalah besar di negara-negara maju yang tingkat kesejahteraannya sudah tinggi.

Tapi benarkah konsumsi daging dan produk hewan juga merupakan masalah di nusantara ini?...Ternyata jawabannya tidak.

Di Indonesia peternakan sapi belum menjadi Industri, penggemukan sapi masih menjadi usaha rumahan. Ayam memang sudah mulai diternakkan secara besar-besaran. Tapi secara umum, bagi kebanyakan orang Indonesia, produk daging, susu dan segala turunannya seperti keju, mentega dan yoghurt bahkan ikan segar pun masih dipandang sebagai makanan mewah. Sehingga masalah yang dialami oleh masyarakat Indonesia soal konsumsi produk hewan ini justru berkebalikan dengan apa yang dialami oleh negara-negara maju.

Alih-alih terlalu banyak mengkonsumsi daging dan produk asal hewan lainnya, Indonesia malah termasuk negara yang sangat rendah tingkat konsumsi daging dan berbagai produk asal hewan lainnya.

Dalam sebuah artikel di republika, http://www.gizi. net/cgi-bin/ berita/fullnews. cgi?newsid112780 3684,20317, Rochadi Tawaf, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen daging sapi dan Fitlot Indonesia (APFINDO) mengatakan bahwa konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih di bawah standar yang ditetapkan oleh FAO.

Menurut Rochadi Tawaf, standar yang ditetapkan oleh FAO, konsumsi protein hewani bangsa Indonesia minimal sebesar 6 gr/kapita/hari. Namun, saat ini masyarakat di Indonesia baru mengonsumsi protein hewani sebanyak 4,19 gr/kapita/hari. ''Karena baru mencapai 4,19 gr/kapita/hari, itu artinya berdasarkan norma gizi minimal bangsa ini baru mengkonsumsi 69,8 persen protein hewani.

Bahkan kalau konsumsi daging itu lebih dikhususkan lagi menjadi daging sapi, maka konsumsinya hanya 1,7 kg/kapita/tahun.

Padahal seharusnya standar konsumsi protein hewani minimal sebesar 6 gr/kapita/hari itu, setara dengan konsumsi daging sebanyak 10,1 kg, telur 3,5 kg, dan susu 6,4 kg/kapita/tahun.

Saat ini, masyarakat Indonesia baru bisa memenuhi konsumsi daging sebanyak 5,25 kg, telur 3,5 kg, dan susu 5,5 kg/kapita/tahun. ''Protein hewani itu dibutuhkan manusia dan tidak bisa digantikan fungsi maupun perannya oleh jenis protein lain, sebab protein hewani memiliki asam amino esensial.

Protein hewani itu, diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang cerdas dan sehat dan hanya dengan memenuhi standar norma gizi minimal (yang artinya cukup mengkonsumsi protein hewani) akan terbentuk masyarakat yang sehat dan cerdas.

Lalu bagaimana dengan masalah Global Warming?.

Akibat banyaknya berita dan informasi soal global warming yang ditampilkan media, banyak orang yang menduga kalau panasnya suhu belakangan ini disebabkan oleh terjadinya Global Warming. Padahal faktanya panasnya suhu Bumi belakangan ini ternyata disebabkan oleh meningkatnya aktivitas matahari (baca: http://id.news. yahoo.com/ dtik/20100304/ tpl-lapan- badai-matahari- terjadi-antara- b28636a.html).

Di dunia para ilmuwan, sebenarnya sudah banyak yang mencurigai kalau isu Global Warming ini tidak lain hanyalah dongeng yang diciptakan sebagian orang karena alasan uang. Ketakutan orang soal Global Warming ini telah dijadikan peluang bisnis yang besar bagi sebagian orang lain yang punya naluri bisnis yang luar biasa.

Salah seorang yang terang-terangan menyatakan kecurigaan tentang isu Global Warming ini adalah Claude Allegre, seorang ahli geofisika paling terkemuka di Perancis anggota partai sosialis Perancis yang pernah menjabat sebagai menteri ministre de la recherche et académicien.

Allegre yang merupakan anggota Akademi Sains Perancis dan sekaligus Amerika telah menulis lebih dari 100 artikel ilmiah, menulis 11 buku yang mendapat berbagai penghargaan ilmiah di bidang sains, termasuk salah satunya Goldschmidt Medal dari masyarakat Geokimia Amerika.

Pada tanggal 21 September 2006, Claude Alegre menulis sebuah artikel http://www.fahayek. org/index. php?option= com_content &task=view&id= 1179&Itemid= 1 di koran Perancis L'Express yang dia beri judul "Neiges du Kilimandjaro" .

Dalam artikel yang dia tulis ini Claude Allegre mengatakan kalau penyebab sebenarnya dari perubahan iklim sama sekali belum diketahui (tidak seperti yang selama ini diyakini orang bahwa perubahan iklim itu disebabkan oleh gas rumah kaca), apakah itu disebabkan oleh alam ataukah disebabkan oleh manusia.

Tulisan ini muncul sebagai reaksi atas foto terkenal yang dipotret oleh Yann Arthus-Bertrand yang menggambarkan menyusutnya lapisan es di puncak gunung Kilimanjaro yang langsung diikuti dengan berbagai cerita klise tentang Global Warming. Padahal pada saat yang sama di berbagai majalah dan jurnal ilmiah, dimuat artikel yang ditulis oleh banyak ahli Glaciologi (ahli tentang es) menunjukkan kalau massa glasier di antartika tetap seimbang dan sama sekali tidak berubah selama 30 tahun terakhir.

Ada satu poin yang menjadi konsensus bersama di antara para ahli, bahwa jika Global Warming memang terjadi, maka efeknya akan lebih banyak terjadi di kutub dibandingkan di Khatulistiwa.

Jadi kalau ingin mengetahui apakah Global Warming itu ada atau tidak, maka yang perlu diteliti adalah wilayah kutub bukan Khatulistiwa. Karena itulah para ahli klimatologi banyak melakukan penelitian di daerah kutub.

Ketika para ahli yang menulis berbagai jurnal ilmiah ini meneliti kawasan kutub, mereka memang menemukan fakta banyaknya es yang mencair di antartika, tapi pada saat bersamaan ada lapisan es yang bertambah tebal di tempat lain.

Karena fakta itulah, bukan tanpa alasan ketika di bagian akhir artikelnya ini Claude Allegre mengatakan "Toutefois, comme ce n'est pas à la mode, on reste passif. En attendant, l'écologie de l'impuissance protestataire est devenue un business très lucratif pour quelques-uns! ", yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti, " Ketika ini (penyebab terjadinya perubahan iklim) tidak menjadi trend, kita tetap bersikap pasif. Sementara itu (di luar sana), (ketika marak) Protes tentang Lingkungan yang tidak tertolong lagi, (isu ini) telah menjadi sebuah bisnis yang menggiurkan bagi sebagian orang"

Jadi, karena itulah kalau ada orang yang demikian ketakutan dengan isu global warming, saya menganggap itu sekedar sebuah kepercayaan, dan yang namanya kepercayaan itu adalah hak asasi.

Cuma jangan karena mentang-mentang punya kepercayaan seperti itu lalu latah membuat berbagai kampanye untuk menakut-nakuti orang dengan tema yang di copy-paste dari barat, karena kenyataannya, masalah yang kita hadapi di sini sangat berbeda, bahkan berkebalikan dengan masalah yang ada di barat.

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog