Monday, October 19, 2009

Pemuda Pemimpin

"Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia."
(Dikutip dari "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" karya Cindy Adams)

Rengasdenklok, 1945. Sekelompok pemuda memutuskan untuk menculik Soekarno dan Hatta, tokoh utama Indonesia pada saat itu, untuk segera memproklamasikan Indonesia. Dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB. Mereka dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi. sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Akhmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan. Pada akhirnya, peristiwa tersebut menghantarkan kita kepada hari besar Indonesia, hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.

***
Lebih 50 tahun kemudian, Jakarta, tahun 1998. Sekelompok besar pemuda, sebagian besar adalah mahasiswa, menduduki Gedung MPR/DPR selama beberapa minggu menuntut dilakukannya reformasi total pemerintahan serta penurunan Presiden Republik Indonesia saat itu, H.M. Soeharto. Meski ditandai dengan gugurnya sejumlah mahasiswa, peristiwa tersebut berhasil mengantarkan bangsa Indonesia menuju gerbang reformasi, yang menjanjikan perubahan-perubahan mendasar pada kehidupan bernegara. Melalui kedua peristiwa berbeda zaman tersebut. sejarah membuktikan, bahwa , tanpa mengesampingkan peran-peran pihak lain, saat itu peran para pemuda teramat besar. Dengan "hanya" berlandaskan idealisme dan nilai-nilai moral yang belum terkikis oleh kepentingan- kepentingan pribadi, para pemuda memperjuangkan hak-hak serta nilai-nilai yang diyakini patut untuk diperjuangkan demi kepentingan orang banyak. Saat itu para pemuda membuktikan bahwa dalam diri mereka masing-masing terdapat jiwa-jiwa kepemimpinan yang berpotensi untuk dapat membesarkan bangsa Indonesia.

***
Kondisi Pemuda Saat IniSejarah memang membuktikan bahwa pemuda memegang peranan yang tidak kecil dalam tiap-tiap perjuangan dan pembangunan bangsa. Sehingga, sempat muncul suatu trust pada masyarakat untuk lebih menggantungkan cita-cita dan harapan mereka di pundak para pemuda dibandingkan pada pemerintah yang berkuasa. Bagi mereka, pemuda adalah agen perubahan, dan satu-satunya elemen di masyarakat yang masih dapat dipercaya untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warga negara. Akan tetapi, masih adakah trust itu saat ini? Masih tepatkah apabila masyarakat memberikan harapan mereka kepada pemuda?. Patut disayangkan bahwa nampat ada kecenderungan bahwa semakin banyak orang yang pesimis terhadap peranan pemuda dewasa ini. Mereka yang pesimis melihat pemuda bukan lagi sebagai agen perubahan bagi negara. Serbuan kapitalisme dalam wujud 3F (food, fashion, and film) membuat kaum muda tergiring ke dalam dunia konsumerisme dan materialisme. Seperti yang terungkap pada hasil penelitian lembaga riset Surindo (dalam http://www.republik a.co.id%29/ yang mengamati tingkah laku remaja di sembilan kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya. Gaya hidup mereka banyak dipengaruhi gemerlapnya kota besar yang serba glamour. Penelitian tersebut dilakukan sejak Januari hingga akhir September 2000 di berbagai mal dan sekolah. Beberapa tingkah laku mereka antara lain "cuek bebek", asyik ngerumpi sembari merokok, dan bergerombol. Situs yang sama menyebutkan bahwa hasil penelitian tersebut tidak mengejutkan karena sebetulnya gaya hidup mejeng di mal, lebih spontan, merokok, dan sebagainya telah lama berlangsung di kalangan remaja. Jadi bukan fenomena baru bagi remaja tahun 2000.

Pada situs lain, http://kapmi. tripod.com/ artikel/dakwah_ sekolah.htm mengatakan bahwa dalam sepuluh atau lima belas tahun terakhir ini, remaja-remaja kota besar di Indonesia menampakkan berbagai penyimpangan perilaku sosial dan seksual yang semakin mengkhawatirkan. Budaya tawuran, perkelahian pelajar, seolah merupakan penyakit warisan yang sulit disembuhkan. PaNdangan negatiF terhadap generasi muda oleh masyarakat kemudia semakin diperparah dengan lebih banyaknya porsi yang diberikan oleh media pada kegiatan-kegiatan pemuda yang dinilai kurang bermanfaat dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Pemuda tidak lagi dikenal dengan keidealismeannya memperjuangkan hak-hak rakyat. Pemuda tidak lagi dikenal sebagai agen perubahan yang tak kenal lelah memberikan kritik konstruktif kepada pemerintahan yang berkuasa. Pemuda hanya dikenal sebagai generasi santai yang terbuai arus konsumerisme dan materialisme.
***
Pemuda sebagai Calon Pemimpin BangsaPandangan- pandangan pesimis terhadap generasi muda tidak akan pernah berubah dan terus menuju degradasi yang semakin tajam apabila tidak segera diubah oleh para pemuda itu sendiri. Kini saatnya bagi kaum muda untuk tampil kembali sebagai pemimpin guna mengembuskan angin perubahan. Tidak hanya dengan memberikan kritikan-kritikan, namun dengan tindakan-tindakan konkret yang dapat menyentuh akar rumput masyarakat. Suatu kondisi yang sebaiknya dipahami oleh para generasi muda adalah bahwa tidak ada kondisi ideal yang ada hanya kondisi aktual. Kondisi aktual saat ini adalah bangsa Indonesia sedang terpuruk akibat krisis multidimensi. Indonesia membutuhkan sokongan darah-darah baru untuk dapat kembali bangkit. Namun, di sisi lain, seperti telah dijabarkan di atas, kondisi aktual pula bahwa masyarakat Indonesia, mungkin, saat ini tidak lagi memandang pemuda sebagai elemen yang dapat diharapkan dan dibanggakan untuk memperjuangkan cita-cita negara. Mereka telah terlanjur pesimis dengan perilaku-perilaku generasi muda yang dipandang lebih mengarah ke hal-hal negatif. Meski ada aneka tantangan, kaum muda harus terus maju karena bangsa ini terus membutuhkan pemimpin baru yang memiliki semangat, idealisme,integrita s,dan terutama komitmen moral untuk membangun bangsa. Langkah awal dapat berupa penyampaian visi dan misi yang dipunya dan ingin diperjuangkan Dalam hal ini kita dapat belajar dari calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Barack Obama yang melalui penyampaian visi dan gagasan pembangunan bangsa, dia semakin memikat hati masyarakat AS, bahkan masyarakat dunia. Melalui Obama pula kita dapat belajar bahwa kredibilitas seseorang untuk menjadi seorang pemimpin bukan melulu dipandang dari segi usia. Layak atau tidak layaknya seseorang untuk memimpin akan lebih objektif apabila dilihat berdasarkan sudut pandang seberapa tinggi integritas, berkomitmen, serta pemahaman mengenai masyarakat yang ia pimpin beserta individu-individu di dalamnya. Para generasi muda harus berani dan percaya diri bahwa mereka mempunyai kelebihan-kelebihan seperti kompetensi, integritas, kapabilitas, kreativitas, progresivitas, idealisme, dan terutama komitmen moral untuk membangun bangsa, yang dapat dijadikan modal untuk menjadi seorang pemimpin. Dengan modal demikian, dan tanpa melupakan untuk selalu menghormati orang-orang yang berusia lebih tua sebagai guru, sebagai orang yang patut kita contoh dan jadikan teladan, maka menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mustahil. Generasi muda pasti bisa!

"Ketahuilah, bahwasanya pemuda itu adalah tumpuan suatu bangsa, bukan untuk masa lalu, melainkan untuk masa yang akan datang" (Mahmoud Ahmadinejad, Stadium Generale at University of Indonesia)


Hamdina Organizer

024-7060.9694
johamdani@yahoo.com

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog