Wednesday, September 30, 2009

Save The Earth, get the money.

In here you can know oil scond if procees will oli new and than use your mobile or motorcycle. And you can find oil scond and than you can sell for company that to procees oil scond for make oil new. So you get money and save the earth.

Kebutuhan pelumas bekas di Indonesia cukup fantastik, hingga puluhan juta setahun. Ini jelas sebuah peluang usaha sekaligus pemberdayaan perekonomian masyarakat yang bisa dikembangkan hingga ke desa-desa di seluruh Indonesia.

Derajat oli bekas tampaknya akan terus meningkat. Jika sebelumnya cairan kotor ini hanya diminati para sindikat pemalsu oli dan para pembakar kapur, atau dibuang begitu saja, kini sejak ditemukan teknologi muthakhir pemurnian oli bekas melalui proses lima tahap dari Mohawk-CEP (Kanada), pamor oli bekas sudah masuk ke dalam jajaran industri skala besar.

Tak kurang PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) yang memproduksi pelumas merk Pennzoil dan Evalube di Indonesia, contohnya, menjadikan oli bekas sebagai tumpuan produksinya sebanyak 75 juta liter setahun. Suatu jumlah yang terbilang fantastis. Tapi, itu wajar. Sebab, sejak beroperasi 4 tahun lalu, WGI yang telah memproduksi 45 item pelumas berbagai keperluan seperti otomotif, industri, alat berat dan perkapalan ini, WGI telah berhasil menempatkan dirinya pada peringkat teratas perusahaan pelumas swasta terbesar di Indonesia, bahkan di kawasan Asia Pasifik.

Kiprah WGI sebagai perusahaan pemurnian pelumas yang mutu produknya diakui lembaga internasional seperti American Petroleum Instituea (API) juga Legimas jelas amat bergantung pada besar dan lancarnya pasokan pelumas sebagai salah satu bahan baku produknya. Paling tidak, seperti dikemukakan Vice President/CEO WGI AP Batubara, “Kebutuhan kami sangat besar.”

Sayangnya, kendati secara tetap WGI dipasok Perhimpunan Pengumpul Pengelola dan Pengguna Minyak Pelumas Bekas (P4MPB) yang beranggotakan lebihd ari 5.000 pengumpul oli bekas dari seluruh Indonesia, kebutuhan oli WGI tetap saja belum terpenuhi. Dari 1000 drum yang harus dipasok kepada WGI setiap hari, 2.000 pengumpul yang tersebar di seluruh Jabotabek, menurut bendahara P4MPB Bambang S. Santoso, “Baru memasok 400 drum. Sisanya dari berbagai daerah, namun jumlahnya kecil.


Belum Banyak yang Mengetahui

Besarnya jumlah yang belum bisa terpenuhi itu tentu saja merupakan peluang usaha yang menggembirakan. Hanya saja, belum banyak yang mengetahui potensi bisnis yang kini makin terkuak ke permukaan ini. Para pemilik bengkel kendaraan bermotor yang akrab dengan oli bekas, baik di Jakarta apalagi di berbagai daerah, nyatanya juga banyak yang tidak mengetahui pemanfaatan oli bekas untuk di daur ulang.

Alosius Pakpahan pengelola Maranatha Oil di bilangan Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, bahkan bukan sekadar tak mengetahui. Lebih dari itu justru merasa tidak enak terhadap masyarakat bila ia menampung oli bekas. Jika dibuang juga takut menimbulkan dengan masyarakat sekelilingnya. Akhirnya, Pakpahan memuituskan untuk menampung. Namun, ketika datang pengumpul yang membeli oli bekas yang ditampungnya, pengumpul tidak banyak menjelaskan untuk apa oli bekas tersebut. “Katanya, sih, untuk dipanaskan, kemudian diendapkan dan disaring,” jelas Parulian, rekan sekerja Pakpahan.

Tak hanya Pakpahan dan Parulian saja yang merasa gelap terhadap pemanfaat oli bekas. Bahkan, informasi seputar daur ulang oli bekas dengan menggunakan teknologi mutakhir pun tak banyak dipahami. Semuanya seakan serba samar-samar. Bahkan, sewaktu berbagai kasus pemalsuan oli ramai diungkap di perbagai media massa, banyak bengkel yang menjual oli bekas lebih memilih berdiam diri. Ada ketakutan mereka dianggap membantu sindikat pembuat oli palsu. Padahal, dengan teknologi mutakhir, mendaur-ulang oli bukanlah persoalan luar biasa. Bukan pula bentuk pemalsuan oli.

Kenyataan inilah yang terkadang membuat pemilik bengkel kendaraan bermotor serba salah. “Dibuang begitu saja, bingung. Ke mana mesti membuang? Ditampung juga tidak ada tempat penampungannya,” ucap Pakpahan berterus terang. Akhirnya, diputuskan untuk dijual dengan harga Rp 60 ribu tiap drum, tanpa banyak bertanya untuk apa oli itu kelak akan digunakan. Yang jelas, kata Pakpahan, “Hasil penjalan oli itu lumayanlah untuk menambah penghasilan.

Potensi dan Peluangnya Besar

Ketidak tahuan bukan saja patut disayangkan, tapi juga bisa merugikan. Betapa tidak, dengan menyimak potensi bisnis oli bekas yang ada, salah satunya dengan mernujuk besarnya kebutuhan WGI untuk memproduksi pelumas melalui proses pemurnian dengan teknologi mutakhir, para pengelola bengkel kendaraan bermotor ataus iapapun yang berminat menerjuni usaha oli bekas ini bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Bahkan, yang cukup menggembirakan, hampir pada setiap pelosok negeri terdapat bengkel, dan di masa mendatang jumlah kendaraan bermotor akan semakin bertambah. Itu artinya, kebutuhan terhadap pelumas pun bertambah, dan jumlah oli bekas akan banyak juga. Itulah sebabnya, AP Batubara yang mengaku telah merintis usaha pemurnian oli bekas sejak 1985 tak ragu menyatakan, “Penanganan terhadap oli bekas secara resmi dan legal ini bisa mendatangkan banyak manfaat.”

Selain bisa ikut mengatasi pemalsuan pelumas yang hingga kini bagai tak bisa diberantas, mengurangi pencemaran lingkungan, menciptakan lapangan kerja, memberdayakan perekonomian masyarakat secara nyata, juga bisa menghemat devisa negara. Perlu disadari, minyak mentah Indonesia tidak termasuk jenis parafinik, sehingga tidak mungkin bisa diolah menjadi minyak pelumas. Jadi, tandas AP Batubara, “Untuk memenuhi kebutuhan minyak pelumas yang lebih dari 500 juta liter setahun, bahan baku berupa minyak mentah yang sesuai harus diimpor.”

Itu jelas menjadi masalah tersendiri. Untunglah, katanya, dengan menerapkan teknologi mutakhir melalui proses lima tahap Mohawk yang dikembangkan di kanada, yang direkomendasi Laboratorium Chevron yang menyatakan bahwa proses itu telah terbukti selama lebih dari 10 tahun di Amerika Utara, WGI telah tampil sebagai pelopor di kawasan Asia Pasifik dalam proses pemurnian minyak pelumas bermutu internasional. Bahkan, pada September 1999 lalu WGI berhasil memproduksi pelumas mesin diesel Pennzoil Long Life EF yang memiliki API Service tertinggi di dunia saat ini, yakni CH-4.

Berbagai prestasi internasional yang selama ini telah dicapai WGI itu, tegas AP Batubara, merupakan jawaban nyata terhadap keraguan masyarakat terhadap kualitas oli daur ulang yang selama ini mutunya disangsikan. Pandangan dan citra semacam itu, menurut AP Batubara, “Jelas keliru. Terbukti, mutu produk WGI berhasil melampaui kualitas minyak pelumas dasar yang diproses dari minyak mentah. Jadi, sepenuhnya kami berani menjamin.”

Terlepas dari penilaian masyarakat terhadap oli daur ulang, satu hal yang jelas, potensi oli bekas tampaknya tak boleh disepelekan oli bekas. Bukan saja jika tertumpah membasahi bumi, apalagi bila jumlahnya ratusan hingga jutaan liter, akibatnya bisa dibayangkan, tapi juga bila oli bekas ini dimanfaatkan para sindikat pemalsu oli, masyarakat—terutama para pemilik kendaraan bermotor—akan banyak dirugikan. Langkah yang terbaik, menangani usaha pengumpulan oli bekas ini secara resmi dan legal untuk memberdayakan perekonomian masyarakat di seluruh Indonesia. Dan, jangan lupa, kebutuhan hingga puluhan juta liter oli bekas itu jelas merupakan peluang tersendiri.


Potensi Bisnis Oli Bekas

Tanpa banyak yang menyadari potensi bisnis oli bekas ternyata luar biasa. Bisa dikatakan memang demikian. Sebab, dari tetesan limbah pelumas ratusan ribu mobil dan motor, kapal dan pesawat terbang, serta lainnya yang ada di seluruh Indonesia, jika dikumpulkan jumlahnya sungguh mencengangkan.

Sepuluh tahun lalu, sebelum oli bekas bisa didaur ulang dengan teknologi mutakhir sehingga bisa menghasilkan pelumas berkualita prima yang bisa mengalahkan pelumas murni (virgin crude oil), oli bekas selalu menjadi masalah. Jika tidak dimusnahkan, bisa menimbulkan pencemaran lingkungan. Atau, yang juga tidak kalah menimbulkan dampak buruk, yakni memunculkan tindak kriminal pemalsuan oli yang tak hanya bisa merusak mesin, juga merusak perekonomian. Perdagangan terganggu, dan pajak tak bisa dikutip.

Berbagai inovasi dengan memanfaatkan teknologi tinggi pemurnian oli bekas yang dikembangkan Mohawk (Kanada) dan Evergreen (Amerika Serikat), penanganan limbah pelumas bekas seakan mendapatkan solusi. Setidaknya sejak 1995, dan terutama sejak PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI) yang memproduksi pelumas merek Pennnzoil (Amerika) di Indonesia, pada 1996, jutaan liter oli bekas kian mendapatkan nilai ekonomis yang memadai.

Terbukti, kini WGI yang tampil sebagai produsen pelumas swasta terbesar di Indonesia mampu mematok kapasitas produksi 75 juta liter minyak pelumas setahun. Jumlah ini tidak terlalu istimewa jika WGI memproduksi minyak pelumas murni. Tapi justru memurnikan kembali (refinery) pelumas bekas yang bahan bakunya berasal dari para (terutama) pemilik kendaraan bermotor di Indonesia. Dan, satu hal yang terpenting, untuk mendapatkan pelumas bekas sebagai bahan baku produksinya tersebut teryata tidaklah mudah.

Sebab, kendati WGI sangat didukung Perhimpunan Pengumpul, Pengelola, dan Pengguna Minyak Pelumas Bekas (P4MPB) yang beranggotakan lebih dari 5.000 pengepul oli bekas di seluruh Indonesia, nyatanya P4MPB kesulitan untuk memenuhi permintaan WGI untuk memasok 1.000 drum oli bekas sehari. Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan, peluang usaha oli bekas ini terbuka lebar mulai dari (bengkel dan pengumpul) di desa hingga ke kota. Di sisi lain, sejalan dengan rencana pengembangan WGI—terutama untuk memenuhi keperluan ekspor—permintaan terhadap oli bekas ini tentu saja akan ikut meningkat pula.

Besarnya potensi usaha oli bekas inilah yang ingin disampaikan kepad apembaca. Setidaknya, laporan utama yang diperasiapkan Agung Firmansyah, Ali Akipin, Yanti Prasetyo, Zakiya Lifa Sakura, Diana Gafar, Yosal Iriantara dan fotografer Eko Sigit ini bisa dipandang sebagai upaya menambah khasanah pemberdayaan perekonomian masyarakat secara nyata. Lebih dari itu, juga terkandung semangat untuk ikut memerangi pemalsuan oli yang sangat merugikan masyarakat. Dan, satu lagi, ikut menyelamatkan bumi dari tetesan-tetesan pelumas bekas.

Alamat Korwil P4MPB se-Indonesia

Jabotabek
Jl. Raya Kalimalang I No.20 Sumber Arta, Bekasi Barat
Telp. (021) 8646470


Korwil Jawa Barat
Jl. Sunda No. 76 Bandung.
Telp. (022) 4203946


Korwil Jawa Tengah
Jl. Pangeran Diponegoro 110 Salatiga, Jawa Tengah
Telp. (0298) 23457


Korwil Jawa Timur
Perum Permata Inti Juanda Blog G 12 Surabaya.


Korwil Lampung
Jl. Hasanudin no. 87 Ps. Kangkung, Teluk Betung, Lampung.
Telp. (0721) 489304 / 487863


Korwil Sumatera Selatan
Jl. Kacapiring No. 1 Angkatan 45, Palembang.
Telp. (0711) 362655


Korwil Sumatera Utara
Jl. Yos Sudarso No. 73 D, Gelugur Kota Medan.
Telp. (061) 619113


Korwil Kalimantan Timur
Jl. Basuki Rahmat No. 26 Samarindah.
Telp. (0541) 37077


Korwil Semarang
Djoko Hamdani
Hamdina Organizer
024 - 7060.9694

No comments:

Post a Comment

Tak ada gading yang tak retak, saran dan kritik akan kami terima dengan senang hati. Anda sopan kami segan.

Followers

Networked Blog